
Seorang gadis berpakaian midi dress berwarna biru muda, terlihat sangat sibuk sekali mencari sesuatu di toko perhiasan. Merasa suatu benda berbentuk lingkaran dengan lubang di tengahnya, akan dia berikan benda tersebut pada seseorang. Segera gadis tersebut meninggalkan toko perhiasan dengan wajah penuh antusias, berharap jikalau cincin emas yang dia beli akan di terima.
Tak ada lagi tempat yang sering di kunjungi oleh Galvin, selain ke rumah sahabatnya, pikir Rihanna, setelah mengetahui bahwa pria yang di cari tidak ada di tempat. Kembali Rihanna menaiki kendaraan roda empat berwarna biru muda miliknya, melajukan mobil lebih cepat dari yang biasanya. Menampilkan senyum Rihanna di balik spion mobilnya untuk lebih percaya diri, sebelum benar-benar keluar dari dalam mobil, menghampiri sebuah pintu rumah.
"Hai, Hanna, sudah lama sekali kita tidak bertemu, ku dengar dari Galvin, kamu sudah putus dengannya, yah?" sambut Thomas selayak tuan rumah.
Mendengar pertanyaan yang sepertinya mengejek tersebut, membuat ekspresi Rihanna penuh semangat, kini berubah drastis. "Yah, seperti yang kamu ketahui itu, Thomas." Balas Rihanna dengan berat hati menerima kenyataan yang ada.
"Btw, ada apa kamu tumben-tumbenan kesini, pas, banget lagi, sih, Galvin, ada di dalam."
Mendengar hal itu, sontak membuat wajah semangat Rihanna kembali. "Benarkah, sih, Galvin ada di dalam sekarang?" terbuka lebar kelopak mata Rihanna, merasa bahagia.
Mengangguk kepala Thomas dengan cepat.
Melihat Thomas merespons, menandakan bahwa Galvin sungguh ada di dalam rumahnya. Tanpa perlu ijin atau mendapat ijin dari sang tuan rumah, Rihanna dengan cepat menyelonong masuk ke dalam sana. Tepat dirinya mendapatkan Galvin di atas sebuah sofa hitam, di sana, hanya mengenakan celana pendek menutupi setengah tubuhnya, membuat kedua bola mata yang memiliki lensa hitam kecoklatan tersebut terpanah.
Melihat sosok gadis berkulit putih, berdiri dengan mata kagum di depan pintu sana, Galvin sontak membuang wajahnya. Mengingat kejadian ringan perihal keputusan dari Rihanna yang salah di saat Galvin sedang termenung duka atas meninggal ibunya, dari situ Galvin memutuskan malas untuk menunjukkan wajah tampannya lagi padanya.
Memberanikan diri Rihanna untuk duduk di sebelah Galvin. "Vin, aku minta maaf atas kejadian sewaktu itu, yah ... sebenarnya waktu itu aku benar-benar diluar kendali memutuskan kamu." Mengaku Rihanna atas kesalahannya.
"Ini sudah kedua kalinya kamu datang kepadaku, dan berbicara seperti itu." Balas Galvin dengan nada yang dingin.
Perlahan Rihanna mengangkat tangan Galvin, tak peduli Galvin yang masih memalingkan wajahnya. "Aku punya sesuatu untuk kamu ... aku mohon jangan di lepaskan dari jarimu, Vin, biarkan itu menjadi tanda bahwa kamu mau memaafkan- ku." Dengan lembut Rihanna mengenakan sebuah cincin yang barusan di belinya.
Perasaan yang masih belum menerima kenyataan untuk saat ini, menjauh tangan Galvin dari genggaman tangan mungil seorang gadis. Sedari tadi Galvin masih berpaling wajah darinya, membuat Rihanna putus asa untuk berada di samping Galvin. Beranjak Rihanna memasuki mobilnya kembali dengan perasaan sedikit kecewa karena mendapati sikap kurang baik dari Galvin, sedikit senang Rihanna karena Galvin dapat mau menerima cincin darinya. Sangat berharap Rihanna, suatu saat nanti dirinya bertemu Galvin, cincin pemberiannya masih terikat pada jari Galvin.
***
__ADS_1
Suara dentuman beberapa kali berulang begitu keras, dari sebuah ruangan kamar, membuat Ghali yang berada di kamar mandi yang masih satu dinding dengan kamarnya, dapat mendengarnya. Seperti kebanyakan manusia yang mendengar suara panggilan dari ponselnya berturut-turut, segera Ghali mempercepat durasi mandinya. Menutupi tubuh bagian bawahnya dengan sebuah handuk berwarna putih, Ghali segera mengambil ponsel miliknya yang berada di atas sebuah meja.
"Hallo, Ali ... ."
Suara yang begitu sangat di kenal oleh Ghali, saat seseorang dari seberang sana menyapanya terlebih dahulu. "Ternyata lu, toh, nelepon gue ... ada apa nelepon sore hari seperti ini?" tanya Ghali dengan dahi mengerut.
"Temannya Magda yang perempuan yang gue bilang waktu itu sama lu, mau datang ke rumah gue. Nah, lu pasti tau, tindakan apa yang musti lu ambil." Ucap Bonifacio dengan suara penuh antusias.
"Oh, i know ... pokoknya lu jangan kemana-mana, oke ... ."
"Oke my best friend ... jangan lupa bawa anak lu, biar dia kenal lu sebagai sosok lelaki yang hebat sebagai seorang ayah."
"Oke, udah dulu, yah ... gue mau pakai baju dulu."
"Baiklah, sampai jumpa nanti ... ."
"Rapi banget tumben, mau kemana?" Teralih mata Galvin dengan ayahnya, setelah mencium aroma parfum begitu wangi menyelimuti tubuh ayahnya. "Mana wangi banget lagi ... ."
"Oh, iya, Ayah hampir lupa dengan kamu ... sekarang kamu ganti kostum kamu."
"Kenapa memangnya?" Heran Galvin dengan kedua bola mata menyoroti mata lawannya dengan penuh ketelitian.
"Udah kamu turuti aja apa yang ku katakan, sebelum aku berubah pikiran."
"Intinya saja untuk mengapa anda menyuruh saya mengganti pakaian, tumben. Jawab dulu, baru saya akan menuruti permintaan anda."
Mendengus hidung Ghali dengan mata terpejam erat menahan amarah, tak ingin suasana hatinya menjadi rusak karena anaknya yang satu ini. "Oke, fine, aku ingin mengajak anda berbelanja pakaian di suatu tempat." Dusta Ghali agar Galvin segera mau ikut dengannya.
__ADS_1
"Sungguh?"
"Iya, cepat sana, sebelum aku berubah pikiran."
Senang hati Galvin, sekian lama dirinya untuk pergi berbelanja pakaian akhirnya akan berbelanja nanti untuk mengganti pakaian lamanya yang membosankan. Segera Galvin pergi ke kamarnya untuk menuruti perintah dari ayahnya. Tak ingin kalah dari sang ayah dalam memilih style berpakaian, Galvin sebagai pemuda sangat berhati-hati untuk memilihnya sebelum di kenakan- nya. Hingga hampir setengah jam, waktu di habiskan Galvin di depan cermin, hanya untuk mengenakan pakaian untuk memperindah seluruh tubuhnya.
***
"Lah, kok, kita bukannya ingin berbelanja pakaian." Ucap Galvin seketika di buat bingung, saat mobil yang di kendarai ayahnya berhenti di depan sebuah gerbang, rumah seseorang.
"Udah kamu turun aja dulu ... kamu pasti akan tau yang sebenarnya." Segera Ghali keluar dari dari dalam mobilnya dengan semangat tinggi.
Tanpa peduli sang anak menampilkan wajah kecewanya, masih dalam posisi duduknya di dalam mobil. Intinya saat ini Galvin sudah ada, masalah dia turun, Ghali yakin pasti itu akan terjadi ketika nanti sang pemilik sebuah rumah yang ada di depannya keluar menyambutnya. Karena Ghali tau persis sosok orang tersebut, sosok yang mudah untuk membujuk anak-nya, bisa di bilang Galvin lebih menghormati orang tersebut dari pada ayahnya.
"Hai, sob ... ." sapa Bonifacio sembari sibuk membuka pintu pagarnya.
"Lah, lu datang sendirian aja kesini, gak bareng jagoan lu?" lanjut Bonifacio setelah memperhatikan sekitar.
"Dia di dalam mobil, habis gue bohongin. Jadi, dia kecewa gak mau turun dari dalam mobil ... coba lu bujuk." Jawab Ghali dengan suara malas.
Dari balik kaca, di luar sana, Galvin melihat Bonifacio yang menghampiri dirinya. Dengan segera Galvin keluar dari dalam mobil, sebelum benar-benar Bonifacio berada di depan pintu mobil. Memaksa Galvin agar pipinya membentuk sebuah senyuman untuk membalas senyum lelaki lebih tua darinya yang sedang menyambut kedatangannya. Pasrah Galvin saat mendapat ajakan dari Bonifacio untuk masuk ke dalam rumahnya bersama Ghali, mengingat sosok Bonifacio sebagai salah satu orang baik dalam hidupnya.
"Mari duduk sini, kita makan bersama." Ucap Bonifacio dengan tangan sibuk menggeser sebuah kursi. "Kenalkan dia isteri baru- ku, dan dia teman isteri- ku."
Betapa kejutnya Galvin melihat wajah seorang wanita berkulit sawo matang di depannya memiliki status isteri dari Bonifacio, dalam diam teringat suatu kejadian di sebuah tempat. Tak ingin terlihat seperti orang dungu, Galvin menanggapi tangan yang dari dua wanita depannya tersebut dengan anggun, sama seperti ayahnya yang barusan memperkenalkan dirinya.
Usai makan bersama, Bonifacio, Ghali, serta dua wanita bersama mereka, berbincang suatu hal mengenai dunia mereka, tanpa mempedulikan Galvin yang merasa bosan di tempat. Di saat-saat yang tepat, Galvin sesegera mungkin untuk pergi dari tempat, tanpa berpamitan dengan ayahnya. Lebih baik ke rumah Thomas walau jarang di sajikan makanan olehnya, dari pada diam di tempat hanya mendengar obrolan yang tak dapat di mengerti, pikir Galvin sebelum benar-benar meninggalkan tempat.
__ADS_1