
Dua pasang kaki berjalan bersama-sama, mengikut sepasang kaki seorang wanita yang menguasai gedung yang mewah, berisikan gaun serta tuksedo. Betapa senangnya hati Lorenza, bisa memiliki waktu saat ini memilih pakaian bersama seseorang lelaki tunangannya, tepat kini senang menggandeng tangannya, menyelusuri tempat butik, berisi pakaian persiapan untuk calon pasangan pernikahan.
Sangat di manja sekali sepasang mata hitam kecoklatan milik Lorenza, melihat gaun-gaun yang indah di hiasi sebuah permata. Ingin sekali mengetahui gaun model apa yang berada di balik kotak kaca sana, membuat Lorenza malas mendengar suara pramuniaga sedang menerangkan sebuah gaun berwarna ungu, serta tuksedo hitam. Salah satu jari Lorenza menyentuh pundak milik Ghali yang berada di sampingnya saat ini.
Menoleh Ghali kepada Lorenza. "Ada apa, apa kamu suka dengan gaun ungu itu?" tanya Ghali dengan suara pelan, tak ingin mengganggu seorang pramuniaga sedang menerangkan sebuah pakaian, wajah penuh antusias di depan mereka.
Menggeleng kepala Lorenza, membuat dahi Ghali mengerut seketika. "Lalu apa?" lanjut Ghali bertanya, mencari jawaban pasti dari kekasihnya.
"Bagaimana Tuan, dan Nyonya, apakah tertarik dengan gaun serta tuksedo yang berasal dari filipina ini?" sambar sang Pramuniaga dengan wajah ramah, bertanya pada pelanggannya.
"Euhmm ... saya, sih, kurang tertarik dengan gaun itu, entah dengan tunangan-ku." Terangkat kedua bahu Lorenza, menoleh sekejap ke arah pria yang berada di sampingnya.
"Jika kekasihku, tidak tertarik ... maka begitu pula denganku." Terang Ghali dengan pipi membentuk senyum kepada Lorenza. "Apa kita perlu mencari tempat lain, Sayang?"
Mendengar panggilan dari Ghali yang bertanya pada dirinya, membuat Lorenza agak terkesima. Sekian lama dirinya, kurang lebih tujuh tahun hidup menjomblo fokus pada pekerjaan, membuat Lorenza menjadi agak canggung wajahnya menerima panggilan tersebut. Hanya bisa menggeleng kepala Lorenza sembari menahan pipinya memerah, melirik ke arah seorang pramuniaga di depannya, sedang memerhatikan mereka berdua.
Dalam diam, seorang Pramuniaga agak ada rasa jengkel mendengar sepasang yang sedang bertunangan di depannya ini. Apalagi dengan pertanyaan pria yang dari tadi memintanya untuk menjelaskan satu per satu pakaian yang ada di butik ini, dan dengan santainya bertanya pada kekasihnya untuk pindah tempat.
"No, aku ingin tertarik dengan pakaian yang sana ... ." Ucap Lorenza dengan jari menunjuk ke arah sebuah lemari kaca berisi dua patung hias berbentuk manusia.
"Tolong jelaskan pada kami pakaian yang ada di balik lemari kaca, barusan di tunjuk oleh kekasihku." Pinta Ghali kepada pramuniaga.
__ADS_1
"Baik Tuan, dan Nyonya ... saya akan jelaskan."
Setelah menanggapi perkataan dari customer, Pramuniaga, pun, senantiasa menuntun keduanya ke depan sebuah tempat yang mereka inginkan. Seperti sebelumnya, saat sampai di depan sebuah kotak kaca, berisi gaun berwarna putih dengan motif bungan mengitari kain. Seorang Pramuniaga mulai menerangkan secara terperinci mengenai gaun tersebut terbuat dari kain apa, produk asal mana, dan cocok dengan tuksedo seperti apa.
"Bagaimana, Nyonya, dan Tuan ... apakah anda tertarik dengan gaun serta tuksedo di balik lemari kaca tersebut?" mencuat kedua alis sang Pramuniaga pada kedua customernya.
Mengangguk kepala Lorenza, menatap gaun begitu indah terbayang jika di pakai pernikahannya nanti esok. Di sebelah, Ghali memerhatikan Lorenza, membuatnya mengulum senyum, mengambil sebuah pernyataan dengan sendirinya bahwa Lorenza sudah pasti menginginkannya, namun malu untuk mengatakannya. "Baik, saya akan mengambil dua pakaian yang ada di dalam lemari kaca itu, berapa harganya?" pernyataan Ghali yang langsung bertanya harga.
"Karena ini bahan terbuat khusus dari sebuah kain yang sangat awet hingga sepanjang hidup Tuan dengan Nyonya nanti, serta barang impor dari Amerika. Maka dari harga sepasang pakaian yang ada di balik lemari kaca tersebut, 150 juta saja."
Mendengar kalimat terakhir yang barusan di ucapkan oleh Pramuniaga mengenai harga di tawarkan membuat kedua kelopak mata Lorenza terbuka lebar seketika. Pasrah Lorenza, akhirnya harus mengakhiri keinginannya untuk mendapatkan gaun di balik lemari kaca di depannya, tak enak dirinya untuk meminta Ghali membelikannya hanya untuk sebuah pernikahan sekali dalam seumur hidupnya.
"Baik, bungkus dengan rapi kedua pakaian yang ada di lemari kaca itu, aku akan bayar kas, lunas sekarang juga. Sekarang dimana saya harus membayarnya."
"Ayok, sayang, kita bayar sehabis itu kita makan malam ... ." Ucap Ghali kepada Lorenza.
Mengangguk kaku kepala Lorenza, hanya bisa menuruti apa yang Ghali katakan. Masih belum menyangka Lorenza, bahwa Ghali dengan secepat itu menyetujui pembelian pakaian untuk pernikahannya nanti dengan dirinya, seperti seseorang yang tak memikirkan kedepannya saja. Akan tetapi Ghali dengan background seorang pemilik perusahaan ekspedisi utama di kota, membuatnya menyepelekan segala hal harga yang ada di dunia ini.
***
Dua orang pria sedang telanjang dada, di tengah keramaian para lelaki ingin menonton aksi yang akan merela bawakan. Tersenyum miring Galvin menyoroti mata seorang lelaki sebaya dengannya, meremehkan Galvin dengan jari jempolnya. Kaki membentuk diagonal L, sedikit membungkuk, Galvin maju perlahan mendekati pria gemuk, di depannya tersebut. Fokus Galvin untuk menghindari setiap kepalan tangan yang mencoba menubruk pipinya.
__ADS_1
"Tonjok, sudah!" penonton ramai, bersorak-sorak ada yang pro dengan Galvin, dan ada yang kontra dengan Galvin. membuat kedua kubu tersebut saling menaruh taruhan berupa uang untuk jagoannya.
Melihat musuh mulai lengah, terlihat dari gerakan menyerang dari musuh yang mulai terlihat kurang berenergi dari sebelumnya. Di sini, lah, Galvin mengambil sela untuk menyerang balik lawannya. Penuh rasa semangat dalam diri, penuh kekuatan tangan yang mengepal Galvin, menyambar keras kepalan tangannya ke arah wajah musuhnya yang sudah terjatuh.
"Yeay, Galvin menang, Mantab, Vin!" sorak para penonton yang mendukung Galvin bertarung termasuk Thomas sebagai sahabatnya yang selalu mendukung senantiasa dari awal persiapan tanding hingga kemenangan selalu ada.
Sebagai manusia yang tanpa ingin berkenalan dengan orang banyak, jadi, setelah kemenangan dalam pertandingan baku hantam, Galvin menerima uang kemenangannya. Serta penuh rasa syukur Galvin mendengar pernyataan dari Ramli bahwa hutang yang di miliki sahabatnya sudah terlunasi. Kini, saatnya untuk merayakan kemenangan tersebut dengan hanya bersama Thomas seorang saja.
Tak terasa perjalanan memakan waktu setengah jam, menaiki angkutan umum, dari tempat pertandingan ke rumah Thomas. Membuat Galvin langsung membaringkan tubuhnya yang sangat terasa lelah ke atas sebuah sofa panjang berwarna hitam. Terbuka lebar kelopak mata Galvin dengan pandangan kosong, membayangkan jikalau mendiang Ibunya masih hidup di dunia ini, pasti hidupnya tak akan seperti ini.
Sedari tadi memerhatikan Galvin dari sela pintu, berjalan perlahan tanpa terdengar langkah kaku bergerak, Thomas mendekati Galvin, lalu menepuk bahu sahabatnya dengan keras "Oy, bayangin apa lu?" tanya Thomas secara spontan.
menoleh tegas kepala Galvin, sedikit terkejut dengan tepukan yang terasa perih di bahunya. "Enggak lagi bayangin apa-apa, kok, gue ... btw, lain kali bercanda di kira-kira dulu kawan." Sedikit ngedumel Galvin, masih sedikit belum terima dengan tangan yang menepuk keras barusan.
"Kenapa emang?"
"Sakit bodoh .... ."
"Ya, ampun, sang petarung handal Ramli, bisa ngerasa sakit, juga, ternyata, yah ... ."
"Iya, dong, gue juga, kan, manusia." Balas Galvin pada Thomas.
__ADS_1
Selang beberapa lama, muncul ide cemerlang Thomas untuk melakukan sesuatu hal agar membuat hari menjadi penuh warna. Seperti biasa, di setiap kemenangannya dirinya pasti berusaha membujuk sahabatnya agar mau memberinya jajan, di sebuah tempat hiburan malam. Mata masih serasa segar untuk melihat rembulan di luar sana, Galvin menyetujui ajakan sahabatnya.