poor child fate

poor child fate
Kehendak yang tak bisa di lawan


__ADS_3

Melewati tahap penyeleksian ujian yang begitu sulit untuk ke terima di sala satu universitas dengan akreditas 'A,' tak sia-sia belajar dengan sungguh, membuahkan hasil sesuai yang di harapkan. Penuh antusias, satu pekan akhir ini, Galvin menghabiskan waktu untuk pergi ke kampusnya, setelah dirinya ke terima di jurusan olahraga, ingin meraih sebuah impian yang sudah dari kecil yaitu menjadi guru olahraga tinju.


Makanya saat pelatihan 'MMA' berlangsung, begitu semangat Galvin untuk segera pergi menuju kelas. Setiap gerakan yang di beritahukan oleh pelatih, pasti Galvin menerapkannya dengan baik. Sehingga membuat seorang pria yang satu kelas dengannya, sangat iri hati, saat Galvin di puji selalu oleh pelatih.


Usai jam istirahat, Galvin pergi ke ruang ganti. "Ada apa?" terangkat wajah Galvin pada seorang pria bertubuh kekar di depannya sedang menghalangi jalan.


"Gue peringati sama lu, yah, lebih baik lu keluar dari kelas ini ... atau nyawa lu akan terancam." Ancam Pria asing tersebut.


Tersenyum kecut Galvin mendengar hal yang keluar dari mulut pria asing yang berani mengatur hidupnya. "Memangnya lu pikir, diri lu itu Tuhan ... ." Melanjutkan langkah Galvin, menyelonong dari samping orang di depannya.


Bug!


Terbanting Galvin di atas lantai, merasa kerak kaus kutang yang di kenakan-nya di tarik kuat oleh seseorang dari belakang. Melihat kaki pria asing yang menghalangi barusan ingin menginjak wajahnya, refleks Galvin menggulingkan badannya sendiri kesamping, sebelum benar-benar wajahnya terinjak. Dengan lincah bangkit berdiri dari tempatnya, mengambil sebuah alat pel berada di samping pintu.


Prak! Tongkat pel patah, setelah Galvin membenturkannya ke kepala pria asing tersebut.


"Berani-nya main benda, dasar pengecut ... tangan kosong kalau memang lu hebat dalam memukul seperti, pak pelatih bilang barusan ke lu."


Mendengar kalimat yang merendahkan dari pria asing tersebut, membuat Galvin terkekeh di tempat. "Lebih baik lu belajar dulu untuk mengontrol emosi, dan jangan pernah iri sama orang." Balas Galvin melepas tongkat pel dari genggamannya.


"Baik kita lihat siapa sesungguhnya yang hebat dalam hal meninju ... ." Pria asing tersebut, melenturkan kepalanya dengan tangannya sendiri, mulai menampilkan ekspresi serius layaknya seorang petinju di atas ring menatap lawannya.


Ukuran, serta bentuk tubuh bukanlah masalah dalam menyatakan kemenangan maupun kekalahan dalam perkelahian. Terpenting bagi Galvin adalah mental yang kuat untuk melawan orang di depannya ini, mengambil tindakan untuk menghindar setelah mendapat tiga pukulan yang membuat tubuh menjadi lemah. Mendapat kesempatan keluar dari pintu ruang ganti, Galvin dengan segera berlari ke arah luar kelas.


Di depan kelas latihan tinju, melihat sebuah batu kecil yang kokoh, langsung di ambil oleh Galvin, memutar tubuhnya kembali Galvin untuk menghadapi pria asing tersebut. "Njing, bbi, mati lu ... ahg!" napas terengah-engah, Galvin mendesah setiap memukul kepala pria asing tersebut dengan batu di tangan.

__ADS_1


Puas rasanya Galvin, melihat pria yang menantangnya barusan terbaring dengan kepala membengkak, dan kelopak mata yang mengeluarkan darah. Semua belum berakhir, saat Galvin melihat sekitar yang begitu ramai, seseorang melaporkan langsung kepada Dekan, mengenai peristiwa yang melanggar peraturan fakultas. Mengharuskan Galvin menerima kenyataan keputusan dari sang Dekan, saat nanti mengenai masalah tersebut.


***


Perasaan senang bisa bertemu dengan sang sahabat, pudar seketika mendengar sebuah informasi mengenai temannya yang sedang terbaring kritis di sebuah rumah sakit. Di depan sebuah pintu ruang tindakan, seorang pria dengan penuh perhatian mengelus punggung sang sahabat yang sedang terasa sangat rapuh dengan ekspresi mata terpejam, duduk mereka, di atas sebuah kursi. Dapat merasa Galvin dengan yang di rasakan Thomas saat ini sedang menanti kabar kekasihnya yang sekarat di dalam sana.


Beberapa menit di depan ruangan, seorang pria dengan mata yang mengenakan kacamata, keluar dari dalam ruang tindakan. Lekas membuat Galvin dengan Thomas menegakkan lututnya, menghadap pria yang berstatus sebagai dokter tersebut. Di buat heran kedua pria bersahabat tersebut melihat wajah begitu kecewa dari seorang Dokter, membuat mereka sangat berat sekali untuk bertanya.


"Maaf, kalian keluarga dari nyonya Monica?" tanya Dokter dengan suara terdengar sangat berat.


Mengangguk kepala Thomas, tak ingin berlama lagi untuk mendapat jawaban sebenarnya terjadi. "Saya suaminya Monica, Dok, bagaimana keadaan isteri saya?" sedikit berdusta Thomas memberi keterangan, sebelum bertanya.


"Maaf, Tuan, kami para team medis sudah bertugas semaksimal mungkin, akan tetapi ... isteri anda yang memiliki arteri koroner yang sudah sangat parah, membuatnya tidak dapat tertolong lagi." Terang Dokter dengan wajah sangat berduka, terlihat sangat menyesal karena tak bisa menolong pasiennya. Pergi Dokter dari hadapan kedua pria bersahabat tersebut setelah memberi keterangan.


Terasa sangat keras suatu denyutan di kepala dengan sendiri setelah mendengar hal penjelasan sebenarnya pada sang kekasih, mematung Thomas di tempat. Mengerti yang di maksud dari sang dokter membuat Thomas sangat terpukul hatinya, maupun pikirannya saat ini. Tubuh begitu lemas, bersandar Thomas di dada Galvin yang setia berada di sampingnya.


"Enggak, gue masih enggak terima dengan pernyataan Dokter barusan ... enggak mungkin sosok Monica yang kuat tiba-tiba harus tertidur untuk selamanya." Terang Thomas dengan dada yang naik-turun tak beraturan.


"Jika Tuhan sudah berkehendak, orang sekuat apapun juga akan tunduk dengan kehendaknya, Thom."


"Tapi kenapa musti pacar gue duluan yang di kehendaki, kenapa enggak gue duluan. Atau setidaknya kita berdua bersama di kehendaki untuk pergi meninggalkan dunia ini?"


"Gue akui dunia memang begitu tak adil, tapi Tuhan punya maksud di balik semua." Balas Galvin berusaha untuk menenangkan Thomas yang sedang sedikit dirasuki oleh iblis. "Jadi, alangkah baiknya kita mendoakan Monica agar tenang di sana. Gue bisa merasakan, bagaimana rasanya melihat atau mendengar orang yang kita cintai meninggal. Tapi bukankah, masih ada orang yang berharga di dunia ini selain dia?"


Terbuka kedua bola mata Thomas, setelah beberapa lama terpejam dengan erat, sadar jika masih ada seseorang yang perlu dia beri perhatian sebelum tiada. Menjauh kepala Thomas dari dada Galvin, menoleh tegas Thomas kepada Galvin yang barusan bertanya di akhir kalimatnya, membuat Thomas terkesan sebagai seorang sahabat.

__ADS_1


***


Seorang pria gemuk, setelah membangunkan isterinya untuk membuatkan sarapan, sebelum benar-benar mempersiapkan diri untuk berangkat kerja. Duduk melamun pria berjanggut tersebut, di atas kursi, seketika mata terpancing untuk menyorot kearah isterinya yang berada di dapur sana, sedang memasak dengan lihai. Menggeleng kepala Bonifacio, mengingat sebentar lagi dirinya harus bekerja, jadi, bukan untuk saatnya menggoda sang isteri untuk bercinta dengan penuh kehangatan.


Tercium sebuah asap dengan aroma khas dari sebuah ayam yang di balut tepung, di atas penggorengan dengan kompor api menyala sedang. Tersenyum kecil seorang wanita merasa tugas awalnya dapat berjalan dengan baik, lekas mematikan kompor. Segera mengantarkan makanan yang sudah di sajinya, kehadapan sang suami tercinta.


"Silahkan di makan, honey ... habis itu kamu nilai, gimana rasanya dari angka terendah yaitu satu, hingga tertinggi yaitu sepuluh." Begitu anggun Magda menyodorkan sebuah piring berisi sepotong ayam tepung goreng kepada suami tercintanya.


Menghembus asap yang keluar dari sebuah ayam tersaji di depannya untuk sesaat, lalu melempar senyum manis Bonifacio kepada isterinya. "Dari aromanya saja, memungkinkan rasanya tidak akan mengecewakan yang menikmatinya." Wajah berbinar Bonifacio, memuji masakan isterinya.


"Makasih, tapi makan dulu, dong, baru nilai ... ."


Dengan segera keduanya bersamaan, menikmati hidangan yang ada di atas meja secara bersamaan. Di tengah acara makannya, teringat suatu hal Magda pada seseorang sahabat Bonifacio yang sebulan lalu isterinya meninggal. Walau pada waktu itu Magda tidak sempat untuk mengikuti acara duka dari sahabat sang suami, akan tetapi rasa simpatik Magda muncul seketika pada Bonifacio.


"Bagaimana keadaan sahabat kamu yang isterinya meninggal satu bulan lalu?" sekilas Magda matanya melirik ke arah suami, lalu fokus melanjut mengunyah makanan yang ada dalam mulutnya.


"Maksudnya?" dengan dahi mengerut Bonifacio penuh kebingungan ingin menjawab.


Sedikit mendengus Magda, harus menghentikan sesaat makannya untuk berfokus pada suaminya yang kurang menanggapi. "Yah, maksud aku, apa sahabat kamu masih galau dengan isterinya atau dia sudah tidak galau, dan yang lain menyangkut diri dia setelah isterinya meninggal satu bulan lalu?" jelas Magda kembali mengeluarkan pertanyaan.


"Oh, masalah itu dia malah meminta tolong padaku."


"Meminta tolong apa?"


Suasana serius setelah tangan Bonifacio menangkup kedua tangan isterinya di atas meja. "Aku meminta tolong padamu, Honey untuk mencarikan sahabatku kekasih." Dengan serius Bonifacio menatap lawannya.

__ADS_1


Sebagai seorang suami yang hidup bersama isterinya yang sudah melewati satu tahun lebih, membuat Bonifacio peka terhadap apa yang barusan di ucapkan-nya. Dengan segera Bonifacio memberikan isterinya beberapa lembar uang merah kepada isterinya agar mau mengabulkan permintaannya. Di tempat Magda tersenyum dengan penuh kegembiraan mendapatkan sebuah bayaran sebelum menjalankan tugas dari sang suami, mendorong dirinya sendiri untuk cepat mencarikan jodoh untuk sahabat dari suaminya tersebut, berharap setelah itu, mendapatkan uang lebih dari suaminya.


__ADS_2