poor child fate

poor child fate
(+21)Menyadari namun tak mempedulikannya


__ADS_3

Waktu yang begitu lama terasa, berbaring di rumah sakit dengan tubuh setengah tak berdaya. Akhirnya semua itu dapat dilepas oleh Galvin, setelah seorang dokter menyatakan bahwa Galvin sudah pulih total. Setelah mengganti pakaiannya, serba hitam, dari kaus, celana panjang, sampai sepatu. Beranjak pergi mengambil mobil-nya yang berada di halaman parkir, depan rumah.


Sementara mobil keluar dari dalam bagasi, di sela pintu pembatas bagasi, melihat spion seorang wanita dengan pakaian gaun lateks berwarna hitam, berdiri di belakang mobil, terlihat berusaha menghalangi jalan. Tersenyum Lorenza dengan sendirinya melihat mobil didepannya, menduga bahwa Galvin mengerti yang diinginkannya saat ini. Terpaksa sejenak Galvin memberhentikan mobilnya, membiarkan wanita tersebut menghampiri dirinya.


Sedikit wajah Lorenza ke arah Galvin, setelah jendela mobil setengah terbuka. "Kamu ingin pergi kemana?" tanya Lorenza dengan kedua alis yang mencuat.


"Pas, kamu sudah ada, mari naik ... aku minta tolong untuk menunjukkan tempat dimana mendiang sahabatku dimakamkan." Ajak Galvin pada Lorenza sekalian meminta.


"Dengan senang hati, tuan kecil-ku ... ." Jari telunjuk Lorenza menyentuh batang hidung mancung Galvin sesaat, lalu pergi masuk kedalam mobil, duduk samping Galvin.


Kurang lebih lima belas menit perjalanan, akhirnya sampai juga ketempat tujuan. Di depan sala satu liang kubur, setelah menabur bunga bersama dengan Lorenza, Galvin sujud berlutut. Terpejam erat mata Galvin, menahan air mata yang hampir saja meleleh, pedih mendalam mulai terasa saat Galvin memeluk erat batu lisan yang bertuliskan nama sang sahabatnya Thomas. Merekah kembali peristiwa kematian Thomas yang begitu tragis, menjadikan sebuah pelajaran kehidupan yang begitu indah dalam kesedihan.


Kembali menegakkan kedua lutut yang tertekuk, mata Galvin tak henti menatap kuburan Thomas. "Kamu pernah punya sahabat?" tanya Galvin spontan, sekilas melirik matanya ke arah Lorenza.


Dalam diam Lorenza hanya menganggukkan kepalanya saja. Dengan lembut Lorenza mengelus punggung Galvin, Lorenza memilih untuk menutup mulutnya. Membiarkan Galvin untuk mendapatkan ketenangan dirinya yang merasa berduka sangat dalam. Sekaligus Lorenza mengerti, bahwa Galvin butuh tempat bersandar, bukan tempat untuk menggantung diri.


"Aku menyesal, namun semua tak dapat di ulangi kembali. Seandainya aku tau bahwa balas dendam, bukanlah jalan terbaik untuk kehidupan kedepannya, dan apabila aku tau penyesalan akan datang ke-belakangan. Mungkin aku tak akan mengajak Thomas, sewaktu itu untuk ikut terlibat ego-ku yang sangat ambisius ingin membalas dendam."


Mendengar isi hati Galvin, turut membuat hati Lorenza terharu. Perlahan Lorenza memberanikan diri memberi pelukan hangat pada Galvin, dari samping tubuh Galvin. Mengelus bahu Galvin dengan anggun, lebih dalam Lorenza turut merasakan kehilangan yang dirasakan Galvin. Suasana angin menerpa di hari petang seperti ini, membuat hati yang menderita perlahan mulai sejuk.


***


Sepulang dari pemakaman, mereka segera menuju kamar masing-masing untuk mengganti pakaiannya. Merasa kulit gatal-gatal, Lorenza segera mengisi air hangat kedalam bathub yang begitu besar, diperkirakan memuat dua orang didalamnya. Beberapa menit menunggu air penuh, Lorenza pergi ke dapur untuk membuat jus mangga. Kembali kedalam kamar, belum saja meneguk jus yang ada pada tangannya tersebut, seketika suara air dalam bathub tumpah ke atas lantai, membuat Lorenza memilih untuk meminumnya dikamar mandi.


Menaruh cangkir berisi gelas, di atas kepala bathub, menjelang menggantung gaun lateks yang dikenakannya. Dengan tubuh tanpa sehelai kain, pun, menutupinya, segera Lorenza merendamkan dirinya. Saat diambang ketenangan, seketika dibuat terkejut Lorenza saat pintu kamar mandinya terbuka. Terbengong Lorenza melihat sosok pria disela pintu sana hanya mengenakan celana pendek saja yang menutupi setengah tubuhnya, sedang menatap merona ke dirinya.

__ADS_1


Tanpa ada keraguan dalam diri, Galvin mendekati Lorenza. "Apa kau akan menggigit-ku atau kamu akan melaporkan ku kepada ayah, mengenai keberadaan-ku, tanpa sopan memasuki kamar mandi, saat ini?" tanya Galvin dengan mata lekat menyorot ke arah Lorenza, berjongkok di tepi dinding bathub.


Merasa ini peluang emas bagi Lorenza, bisa berendam bersama dengan pria lebih muda darinya yang begitu tampan, membuat Lorenza menganggukkan kepalanya. "Apa kau berpikir aku akan melakukan hal tersebut?" mengernyit dahi Lorenza, kedua matanya dengan intens menatap serius ke arah Galvin.


Mendengar kalimat pertanyaan yang seakan-akan memberi kode untuk mempersilahkan dirinya masuk, segera Galvin merendamkan dirinya ke dalam bathub. Duduk berhadapan Galvin dengan Lorenza, keduanya saling menatap, sekilas saling melempar senyum satu dengan yang lainnya. Mendapat lampu hijau tersebut, Galvin memindahkan posisi kepalanya, tepat bersandar didinding bathub, di samping kepala Lorenza.


Deg! seketika jantung Lorenza berdetak begitu kencang dari sebelumnya, seketika bibirnya diterpa oleh Galvin.


"Apa kamu masih menganggap diri-ku adalah ibu tiri-mu?" tanya Lorenza disela nikmatnya adegan saling menyerang bibir, matanya lurus menatap Galvin.


"Jujur, aku mencintai kamu lebih dari rasa seorang anak kepada ibu-nya."


Seakan tak peduli dengan jawaban dari, bangkit berdiri Lorenza, mengambil gelas berisikan jus mangga tersebut, meneguk habis jus tersebut, sembari matanya dengan lekat menatap Galvin. Beberapa detik saling menatap dari kejauhan, Lorenza menaruh gelas kosong ke atas wastafel kamar mandi, mengambil handuk kimono-nya yang berwarna merah untuk menutupi tubuhnya. Di tempat Galvin terdiam dengan muka tertekuk, merenung dirinya sesaat di dalam bathub, merasa telah salah melontarkan kalimat.


Setelah Lorenza keluar dari dalam kamar mandi, Galvin lekas bangkit berdiri. Meninggalkan kamar mandi, melintasi kamar Lorenza terlebih dahulu, menatap Lorenza yang sedang duduk di tepi ranjang tampak begitu mempesona. "Maaf, jika aku telah salah berbicara pada-mu, aku tau kamu tak bisa menerimanya." Ucap Galvin, perlahan melangkahkan kakinya ke arah pintu keluar.


"Maksud-nya?" mengkerut bingung wajah Galvin, kurang memahami kalimat yang keluar dari Lorenza.


"Jika yang kamu katakan saat dikamar mandi itu benar, sekarang buktikan, jangan cuman mulut saja bergerak."


Lebih dekat wajah Galvin, sedikit membungkuk Galvin di depan Lorenza, begitu lekat dahinya bertaut dengan dahi Lorenza. Dengan mata terpejam, keduanya saling merasakan hangatnya napas yang menusuk dalam hingga mempengaruhi hormon oksitosin untuk mendapatkan suatu hal yang lebih. Beberapa saat kemudian keduanya saling memberi kecupan hangat dibibir lawan. Bangkit berdiri Lorenza, mengalungkan tangan di leher Galvin, terlihat lebih leluasa melakukan penyerangan bibir.


"Menurut-mu, apa wanita kepala tiga sepertiku, pantas berhubungan intim dengan pria yang hampir menginjak usia dua puluh tahu?" tanya Lorenza sekaligus memberi kode kepada Galvin, disela adegan berciuman tersebut.


"Tentu saja pantas, selama mereka hanya berduaan saja di satu atap yang sama."

__ADS_1


"Kalau begitu aku ingin kamu melakukannya sekarang padaku. Karena kepala rumah tangga sekaligus pemilik dari rumah ini sedang keluar kota, selama tiga hari."


Tanpa berpikir panjang lagi, hasrat yang sudah begitu tinggi, tak tertahan. Sembari saling mengadu lidah yang basah, tangan Galvin secara perlahan melucuti pakaian handuk kimono yang dikenakan oleh Lorenza, sehingga membuat suasana semakin menghangat.


Merasa cukup melakukan adegan saling bertempur lidah, saat ini Lorenza mulai menjauhkan wajahnya dengan Galvin. Mata begitu lekat menatap, telapak tangan Lorenza mengelus lembut rahang tirus milik Galvin. "Memang anak yang pintar, boleh, kah, ibumu ini mengetahui seberapa kuat dirimu soal permainan ranjang." Setelah mengucapkan hal tersebut, Lorenza mulai membaringkan tubuhnya di atas ranjang.


Begitu tergoda Galvin untuk melahap segera tubuh ramping berbentuk jam pasir, tanpa terhalangi sehelai kain sedikit, pun. Merangkak Galvin diatas tubuh Lorenza, menepatkan wajah tepat lurus pada wajah Lorenza yang berada dibawahnya saat ini. Melanjutkan kembali peperangan lidah yang penuh kenikmatan, tangan Galvin begitu lihai bergerak ke alat sensitif milik Lorenza.


"Ihss, ahggg ... aku ingin saat ini, batang-mu yang masuk kedalam sana, bukan sekedar hanya jarimu." Berdesir Lorenza menahan rasa nyeri yang menggelitik pada alat sensitifnya.


"Aku takut jika kelepasan di dalam sana ... ."


"Apa kamu sungguh mencintaiku?" tanya Lorenza untuk memastikan Galvin yang menjawab dengan meragukan dirinya.


Sejenak bangkit berdiri Galvin untuk membuka celana yang dikenakannya saat ini, lalu kembali merangkak di atas tubuh Lorenza. "Baik, lah, akan ku-buktikan pada-mu, bahwa aku sungguh mencintaimu layaknya sepasang kekasih." Dengan segera Galvin memposisikan batang milik tubuhnya, masuk kedalam lubang geliat begitu hangat.


Setiap menit berjalan, semakin cepat Galvin memompa pinggulnya di atas tubuh Lorenza yang hanya bisa pasrah menerimanya. Kenikmatan yang begitu hakiki, membuat keduanya lupa antar ikatan mereka selaku ibu, dan anak. Melupakan hal persetan tersebut, Galvin sebagai pemuda yang masih fresh, begitu bersemangat dalam hal bercinta saat ini, hingga benar-benar membuat Lorenza lemas di tempat.


Setelah kejadian kemarin melakukan hal intim bersama Ghali yang hanya sebentar saja sudah keluar, merasa hal tersebut sangat nikmat, membuat Lorenza ingin mendapat lebih dari Galvin. Dengan tubuh yang menggelinjang, Lorenza membiarkan Galvin membasahi rahim miliknya tersebut, tanpa ada yang dapat melarangnya. Sadar Lorenza mengenai perbuatannya saat ini, tertutup dengan kenikmatan yang dirasakannya.


##visual Galvin##



#Lorenza#

__ADS_1



__ADS_2