
Seperti ada suatu benda begitu berat berada di atas kepala milik Lorenza saat ini, tiada ketenangan dalam dirinya untuk memejamkan kedua bola matanya langsung, di atas ranjang. Menghembus napas dengan sangat kuat, Lorenza pergi beranjak keluar kamar, mencari udara segar di pinggir halaman kolam renang. Duduk di atas kursi panjang dengan kaki lurus ke depan, menyandarkan punggung pada punggung kursi, merasakan sensasi kedamaian malam hari.
Telinga yang begitu tajam mendengar suara mobil datang kemari, sontak dengan tubuh penuh rasa semangat, Lorenza pergi ke halaman parkir mobil. Senang rasanya, melihat bahwa mobil yang di dengar tadi adalah mobil milik Galvin. Sedikit bingung Lorenza di tempat, otaknya mulai mencari solusi membuka pembicaraan terhadap Galvin, saat turun dari dalam mobil.
"Hai, selamat malam, habis dari mana kamu?" suara lembut Lorenza menyapa Galvin.
Dengan sikap acuh disertai dengan wajah yang begitu jutek, membuat Lorenza semakin tertantang dirinya untuk mencari obrolan agar Galvin mau berbicara padanya. "Kamu habis ngapain di luar sana?" sekali lagi Lorenza mencoba untuk mencairkan suasana.
Tak mempedulikan orang yang mengikutinya terus, berbicara di samping, Galvin mencoba untuk mempertahankan hal tersebut demi kesadaran dari Lorenza. Akan tetapi sikap Galvin, membuat Lorenza tak lelah sedikitpun, kini dirinya masih terus mengikuti Galvin hingga sampai kamar. Saat di kamar, Galvin langsung membaringkan tubuh-nya di atas ranjang. Sedangkan Lorenza duduk di sebuah kursi, dekat ranjang yang Galvin tempati saat ini.
Dalam ruangan yang bergeming, seketika membuat dada Lorenza sesak, kedua mata Lorenza mulai berkaca-kaca. Merasa sebagai seorang wanita lemah, Lorenza gagal dalam menyalin hubungan dekat dengan Galvin, kini tak peduli lagi Galvin ingin berbicara padanya atau tidak. Terpenting saat ini yang Lorenza hanya ingin lakukan mengeluarkan air mata rasa kepedihannya di depan Galvin saat ini juga.
"A--aku jahat, hingga ... kamu tidak ingin lagi berbicara denganku. Aku bodoh, hingga aku tak me--mengerti bagaimana cara membuatmu berbicara kembali." Dengan air mata yang mulai mengalir deras, Lorenza mencurahkan seluruh isi hatinya yang menganggap dirinya sebagai orang yang bersalah.
Merasa tak enak hati Galvin, mendengar serta melihat langsung Lorenza terisak-isak di dekatnya. Bangkit berdiri Galvin, datang memberi pelukan hangat kepada Lorenza. Mendapatkan pelukan darinya, membuat Lorenza perlahan bangkit berdiri membalas hangat pelukan tersebut, menyembunyikan wajahnya yang basah di dada bidang milik Galvin. Sedikit tenang diri Lorenza dalam pelukan Galvin, dan merasakan kepalanya di belai oleh tangan Galvin dengan lembut penuh kasih sayang.
"Kamu kenapa, sih, tidak mau berbicara dengan-ku, apa salah-ku?" mendongak kepala Lorenza, menengok wajah lawan bicaranya.
__ADS_1
"Tidak, kok, kamu tidak salah ... sebenarnya ini adalah kesalahanku yang sakit hati mendengar kabar dari orang lain mengenai orang yang kucintai sedang hamil tanpa memberitahu padaku, sehingga aku yakin bahwa dia tidak mencintaiku." Dengan intens kedua bola mata Galvin menatap mata lawan bicaranya.
"Aku mencintaimu dengan tulus, aku tak ingin kehilanganmu, aku mohon jangan jutek lagi padaku, dan aku minta maaf karena tak memberitahumu secara langsung mengenai kehamilanku ini. Apakah kamu masih belum menerimanya?" Ucap Lorenza dengan dada sedikit terasa sesak. "Aku mencintaimu Galvin, lebih dari rasa cinta seorang ibu."
Tersenyum tipis Galvin mendengarkan ungkapan yang menurutnya cukup tulus. "I love you to, honey." Bisik Galvin, lalu menghembuskan napasnya di setiap sisi leher Lorenza.
Dengan kedua mata terpejam, Lorenza sedikit menikmati setiap helaan napas yang melewati kulit lehernya. Kedua tangan Lorenza mulai melingkar di leher Galvin, pasrah bibir Lorenza yang mulai di sergap oleh bibir Galvin dengan rakus. "bawa aku ke atas ranjang bersamamu, Sayang!" pinta Lorenza di sela adegan ciuman.
"Dengan senang hati ... ."
Segera Galvin mengangkat tubuh Lorenza, mengantarkannya ke atas ranjang dengan cara di gendong, tak henti-henti mereka saling beradu bibir. Dengan perlahan tangan Galvin mulai melucuti kain yang menghalangi tubuh indah Lorenza yang saat ingin di rasakan Galvin yang kedua kalinya. Setelah semua pakaian Lorenza terlepas semua, kini giliran Galvin dengan mandiri membuka pakaiannya sendiri.
***
Mendapat sebuah informasi dari sebuah media sosial aplikasi berwarna hijau, seseorang mengirimkan sebuah pesan pada Ghali, begitu muram wajah-nya melihat sebuah gambar dari balik ponselnya tersebut. Tangannya yang terkepal menyentak meja besi di depannya begitu kuat, terlihat begitu sangat kecewa wajah Ghali tak menerima apa yang barusan dia lihat. Setelah beberapa lama melampiaskan kekesalan di atas kursi, dalam sebuah gedung kantor, segera Ghali menuju kendaraannya untuk kembali ke rumah.
Tergesa-gesa Ghali keluar dari dalam mobilnya, sesudah mobil terparkir rapi di halaman depan rumahnya, beranjak dirinya untuk pergi ke kamar. Dengan kuat Ghali mendorong pintu kamar, sehingga membuat kedua orang lawan jenis yang sedang di atas ranjang terkejut membuka mata. Menggeleng kepala Ghali dengan kedua kelopak matanya terbuka lebar melihat dua sosok di depannya hanya di balut dengan selimut berwarna putih saja.
__ADS_1
Tak tahan kedua bola mata Ghali melihat kedua orang tersebut, lekas dia menghampirinya. "Cepat kau, bangun, dasar wanita murahan!" tukas Ghali dengan raut wajah penuh amarah membara.
Terdiam Lorenza, merasa benar-benar bersalah atas perkara ini, tak bisa lagi dia cegah. Pasrah Lorenza saat rambutnya di tarik kuat oleh tangan kekar Ghali, tak bisa lagi memberontak. Mata Lorenza mulai berkaca-kaca menatap suaminya tersebut, kini dirinya merasa sebagai seorang pengkhianat sekaligus wanita murahan.
"Hentikan, dasar pengecut, cuma berani lawan wanita ... ." Celetuk Ghali dengan penuh usaha mencoba untuk melepaskan tangan Ghali yang kasar tersebut.
"Diam, kau ... kau dengannya sama saja!" beralih Ghali pada Galvin, kini tangan Ghali menerkam leher Galvin dengan begitu keras.
"A--aku mohon, Sayang, jangan sakiti Galvin, ini semua salahku, aku yang mengajaknya bermain. Aku mohon jangan sakiti dia ... ." Terisak-isak Lorenza memohon pada suaminya tersebut.
Mengingat bahwa hukum HAM berlaku di negeri ini, Ghali perlahan melepaskan cengkeramannya. "Sekarang silahkan kalian pergi dari rumahku ini, dan jangan pernah kembali lagi, aku sudah tak peduli." Berpaling tubuh Ghali dari kedua orang di sekitarnya saat ini.
"Cepat!" cetus Ghali dengan suara lantang.
Terkepal kedua tangan Galvin, rasanya ingin sekali dirinya memukul habis Ghali dari belakang saat ini juga. Akan tetapi saat Galvin ingin berdiri, tangannya di tahan oleh Lorenza, Galvin yang menengok ke arah Lorenza, membuat emosinya reda sesaat. Memilih untuk tetap duduk di tempat, Galvin mengelus kepala Lorenza, berharap Lorenza dapat tenang secepat mungkin.
"Sampai besok pagi aku masih melihat kalian di sini, jangan harap kalian dapat hidup lagi ... ." Ancam Ghali, lalu melangkah kedua kakinya pergi keluar dari dalam kamar. "Ingat, jangan pernah lagi kaki kalian sekali-kali menginjak rumahku ini dasar para pengkhianat!"
__ADS_1
Air mata Lorenza perlahan mulai pudar di dekapan dada Galvin, Lorenza mencoba untuk bangkit berdiri dari atas ranjang, di ikuti oleh Galvin. Segera mereka mengenakan kembali pakaian mereka yang berserakan di atas lantai, mengemas barang-barang yang penting untuk persiapan mereka di luar rumah nanti. Berjalan mereka bersamaan keluar dari dalam rumah tersebut dengan mengenakan kendaraan roda empat.
Beruntung masih ada uang tabungan serta mobil untuk di bawah jalan, jadi tak perlu repot lagi untuk mencari tempat tinggal dalam sementara waktu. Selama dalam perjalanan mencari tempat tinggal, air mata Lorenza kembali pecah tiada henti, membuat Galvin terpukul sendiri, menahan rasa kekesalannya yang merasa telah membuat kekasihnya sedih akibat dari ulahnya. Berhenti Galvin melajukan mobilnya di pinggir jalan, sesaat memeluk Lorenza dengan hangat