poor child fate

poor child fate
Hari yang kacau


__ADS_3

Suara genangan air, dari suatu ruangan, membuat Thomas yang kini berada di dapur sedang memanaskan air di dalam sebuah wadah, di atas penggorengan dengan api menyala tenang. Setelah air mendidih, Thomas perlahan berjalan menyelusuri ke arah sumber suara. Memastikan objek apa yang sebenarnya yang sedang terjadi di suatu ruangan. Terhenti kaki Thomas, mematung dirinya tertarik melihat sosok wanita mengenakan bikini menampilkan lekuk tubuh yang indah sesungguhnya, sedang lihai bergerak di dalam air.


Ketika melakukan renang gaya bebas dengan jarak sepuluh meter, bagi manusia tanpa pelatihan khusus bernapas, membuat udara keluar dari tubuh begitu sesak. Sesaat Lorenza naik ke tepi kolam, melihat seseorang pria dari balik dinding kaca, mengharuskan dirinya untuk berhenti melanjutkan rutinitasnya tersebut. Mengeringkan tubuhnya dengan handuk, setelah tubuhnya merasa sudah sedikit kering, Lorenza memberanikan diri menghampiri pria yang masih tetap berdiri di sana.


"Hallo, selamat pagi ... ." Wajah penuh ramah Lorenza menyapa tamunya tersebut.


Menelan saliva kedalam leher yang begitu keras, Thomas tak tahan melihat Lorenza beberapa senti di depannya. "H--hai, pagi juga ... ." Dipaksa mulut oleh Thomas agar mau terbuka, memberi kesan begitu ramah.


"Anda ingin berenang?"


"Memang boleh, jika saya berenang di kolam renang anda ... apakah tidak menganggu anda berenang?"


"Tentu tidak menganggu, kok, lagipula saya sudah selesai berenangnya. Jadi, jika anda ingin berenang, silahkan."


"Baik, terimakasih tawarannya ... ."


Membalas Lorenza dengan kepala mengangguk dengan pipi melempar senyuman. Merasa dirinya sebagai tuan rumah, Lorenza mengalah terhadap tamunya, Lorenza segera pergi meninggalkan Thomas di tempat, ke arah kamarnya untuk mengganti pakaiannya, dan mempersiapkan sarapan pagi untuk dirinya beserta kedua tamu spesialnya tersebut.


Tersenyum miring Thomas, melihat beberapa meter punggung Lorenza yang mulai menjauhinya. Mulai bergerak kaki Thomas, bukannya menuju kedalam kolam renang, Thomas malah pergi membuntuti Lorenza dengan super hati-hati. Sesudah Lorenza memasuki kamar mandi yang ada di dalam kamarnya, tanpa ijin terlebih dahulu, Thomas masuk ke dalam kamar Lorenza.


"Sedang apa lu di sini?"


Mendengar bisikan suara di telinga kirinya yang bertanya suatu hal, membuat mata yang berusaha mencari celah pintu kamar mandi, mulai teralih ke arah suara yang menganggu dengan ekspresi terkejut. Naik-turun dada Thomas, saat mendapati persis samping kirinya sosok sahabatnya. Tak ingin berdebat untuk saat ini, Thomas langsung menghindar dari pandangan sahabatnya, keluar dari kamar milik Lorenza, di ikuti oleh Galvin.


Setelah menutup pintu kamar Lorenza, Galvin berdiri tegap menghadap sahabatnya tersebut. "Apa yang barusan lu lakuin, itu perbuatan salah, Man, bagi kita kaum laki-laki kepada wanita." Nasihat Galvin yang mengetahui gerak-gerik barusan di lakukan Thomas.


Percuma menurut Thomas, jika berurusan dengan pria yang tak memiliki hasrat normal seperti dirinya, lebih baik Thomas terus menggerakkan kedua kakinya, menghindari kontak mata dengan sahabatnya tersebut. Ketika berada di dapur ingin menyalin air yang tadi dipanaskan, ke dalam cangkir berisi biji kafein. Mendengus napas Thomas, saat menoleh ke samping bahunya, melihat sahabatnya dengan mata menatap terlihat sedang marah dengan dirinya.

__ADS_1


"Yah ampun, Vin, gue ngaku gue salah, deh, soal barusan yang barusan gue buat." Ucap Thomas sembari mengaduk-aduk kopi hitam agar rata dengan air panas. "Lagi, pula, kan ... gue laki-laki, Vin, jadi maklum, lah."


"Gua juga laki-laki, Thom, gue normal tapi enggak seperti itu cara untuk mendapatkan kepuasan di dunia ini." Balas Galvin dengan dahi mengerut.


"Lalu bagaimana caranya, dong?"


"Yah kalau lu laki-laki, lu aturan langsung masuk kedalam kamar mandi tadi, minta ijin buat mandi bersama ... siapa tau di kasih bonus, kan, sama Lorenza, lumayan aja." Mencuat kedua alis Galvin, setelah memberi sebuah solusi pada sahabatnya.


"Yah, enggak gitu konsepnya ngaco, bisa-bisa Lorenza ilfil sama gue ... gue sama dia bukannya dekat, malah tambah jauh nantinya."


Mendengar hal tersebut, membuat Galvin terkekeh bersamaan dengan Thomas. Akhirnya Thomas bisa berdamai dengan dirinya agar tetap menjadikan Galvin sebagai seorang sahabat yang super pengertian terhadap dirinya. Merasa bersalah Thomas terhadap dirinya sendiri, atas sikap kecil jutek, barusan dirinya tunjukan pada Galvin, akan tetapi semua itu dilupakannya sesaat dengan minum kopi bersama dengan Galvin, di kamar mereka.


Menjelang beberapa jam, mempersiapkan segala macam lauk pauk, hingga menata segala macam peralatan makanan di meja makan. Setelah semua makanan telah masak terletak di atas sebuah meja, Lorenza segera pergi menghampiri kamar saat ini di tempati oleh calon anak tirinya beserta sahabatnya yang begitu akrab. Berharap keduanya mau menyantap hidangan yang ada di ruang makan saat ini, terutama pada Galvin.


Setelah mengetuk pintu, Lorenza memasuki ruangan kamar. "Ayok, kita sarapan bersama, sudah kubuatkan hidangan spesial untuk kita santap bersamaan di ruang makan." Ajak Lorenza kepada dua orang yang berada di balkon kamar.


Berbeda hal dengan Galvin, hanya berdiam saja, tanpa sepatah kata, pun, sebagai basa-basi menerima ajakan dari Lorenza. Dikarenakan Galvin yang masih kurang menerima keberadaan Lorenza yang baginya sudah berani mempengaruhi ayahnya, dan merusak hubungan rumah tangganya bersama sang ayah. Akan tetapi saat sahabatnya begitu penuh antusias menerimanya serta perut kosong perlu di isi, Galvin ikut sarapan bersama sahabatnya beserta Lorenza di ruang makanan.


***


Setelah mendapat kabar dari sebuah komunikasi melalui ponsel oleh calon isterinya, bahwa Galvin sedang berada dirumahnya saat ini. Membuat Ghali tersenyum lega menghadap cermin, sekian seminggu setelah awal dirinya berkencan bersama calon isterinya tersebut. Bergegas Ghali merapikan dirinya dengan mandi, dan mengganti pakaian, sebelum benar-benar pergi mendatangi anaknya. Di dalam mobil yang di kemudikan olehnya, sepanjang perjalanan Ghali dengan kuat pikirannya mencari solusi terbaik agar anaknya mau kembali pulang kerumah.


Setelah sampai di depan sebuah rumah yang begitu megah, Ghali langsung berjumpa dengan Lorenza. "Hai, sayang ... ." Sapa Ghali dengan suara lembut, memberi pelukan pada Lorenza


"Hai," balas Lorenza, "Terlihat bergembira sekali hari ini wajah kamu, Sayang?"


"Tentu karena sudah satu minggu Galvin yang tak pernah pulang ke rumah, akhirnya bisa mengetahui keberadaannya saat ini. Di mana sekarang dia?"

__ADS_1


"Dia berada di kamar tingkat dua, bersama sahabatnya, kami barusan selesai sarapan."


"Baiklah, jika begitu bolehkah aku berjumpa dengannya saat ini."


"Tentu, apa perlu aku antar?"


"Biar aku sendiri saja, Sayang, kamu di sini saja."


"Baiklah ... ."


Betapa terkejutnya Galvin, melihat seorang pria dengan tubuh kekar sedang berdiri, di sela dinding antara balkon dengan kamar tidur. Tentunya membuat suasana hati Galvin yang tadinya sangat ceria bersama dengan sang sahabat di tempat ini, sekarang berbanding jauh terbalik.


"Gimana kabar kamu?" tanya Ghali dengan suara yang tenang kepada Galvin.


"Sehat, tumben anda menanyakan kabar saya ada apa?"


"Tidak apa-apa, sekarang kita pulang, yuk. Terus siap-siap, besok hari gembira, aku ini akan menikahi calon ibu tiri-mu yang sudah memberimu penginapan di rumah ini."


Tersenyum miring Galvin, mendengar hal yang begitu ringan sekali, seakan-akan tak perlu ada yang di pikirkan lagi dari perkataan Ghali pada Galvin. Jujur, sebenarnya berat sekali untuk Galvin menerima sosok Ibu baru dalam hidupnya untuk saat ini, pasalnya belum ada satu tahun mendiang Ibu kandungnya meninggal.


Bangkit berdiri Galvin dari tempat, berdiri di hadapan sang Ayah dengan napas yang sangat berat menghembus. "Masih belum sadar juga ternyata, memang dasar manusia tak memiliki adab." Sesaat dengan intens Galvin menatap ke arah Ghali.


"Jaga mulut kau yah, dasar anak kurang tau di untung ... sekarang ikut dengan-ku pulang!"


Untuk kali ini Galvin memberanikan dirinya untuk menepis tangan Ghali yang akan menampar dirinya. "Jangan pernah menyentuh dengan kasar pada anakmu sendiri ... ingat anakmu sudah besar, sudah mengerti jalan mana yang harus di lalui." Ucap Galvin sedikit geram.


"Baiklah, jika kamu sudah merasa hebat ... jangan harap kamu bisa menikmati fasilitas dariku lagi." Sedikit Ghali memberi tersenyum sinis dengan kepala mengangguk.

__ADS_1


Jika ada di taruh kedalam sebuah rumus, mungkin akan menjadi sangat panjang yang akan di bahasa, jikalau Galvin harus tetap di tempat. Lebih baik menghindar langsung, tak peduli dirinya di masa depan nanti jika terus masih belum menerima Ghali sebagai ayahnya. Melihat sahabatnya pergi keluar, Thomas langsung mengikutinya. Di tengah perjalanan, di dalam sebuah bus, Thomas memberi pelukan hangat sebagai seorang sahabat yang mencoba menenangkan sahabatnya sedang galau.


__ADS_2