poor child fate

poor child fate
Berusaha menjadi sosok ibu baru


__ADS_3

Salah satu tangan Lorenza menggenggam sebuah pisau, sedangkan tangan sebelahnya sedang menahan bawang putih yang siap untuk diiris. Usai bumbu dapur siap semua, saatnya menyalakan api sedang di kompor yang di duduki sebuah penggorengan. Sementara memanaskan minyak, mengingat kemungkinan jam suaminya bangun sebentar lagi, lekas Lorenza menyaring ampas kopi hitam kedalam sebuah gelas, dan memasak air panas dengan segera.


Aroma tongseng yang begitu khas, sangat sedap, menusuk ke dalam kedua rongga lubang hidung Ghali, membuat Ghali rasanya ingin lebih dekat menciumnya. Beberapa meter di depan ruangan dapur, kedua bola mata Ghali yang sayup seketika terbuka lebar menatap sosok Lorenza yang mengenakan daster merah muda, dari arah belakang, Ghali sangat terpesona dengan pemandangan tersebut.


Mendekat Ghali ke arah Lorenza, menautkan kedua telapak tangannya di pinggang milik Lorenza, mengerat wajah Ghali di tengkuk belakang leher Lorenza. "Kamu sedang memasak apa, sayang, sepertinya begitu enak aromanya?" bisik Ghali memberi pertanyaan.


"Hari ini, aku akan membuat sayur tongseng dengan ayam krispi."


Dengan kedua kelopak mata tertutup, seakan tak peduli Ghali dengan jawaban sang istri. Begitu posesif hidung Ghali menghirup aroma tengkuk milik Lorenza, sehingga membuat tangan Lorenza yang sedang mengaduk sayuran dalam sebuah penggorengan begitu kaku bergerak.


"Bolehkah, pagi ini kita sedikit mengadakan olahraga, Sayang?" bergerak sala satu tangan Ghali, mematikan kompor yang ada di depan istrinya. "Soalnya, kamu kali ini terlihat begitu berenergi."


Sebagai seorang wanita yang begitu naif, mengenai hal berhubungan intim dengan lawan jenisnya, membuat Lorenza ditempat hanya terdiam dengan perasaan penuh keraguan, sedikit menggigit bibir bawahnya tanpa sadar. Kedua mata Lorenza terpejam, perlahan merasakan hangat napas milik sang suami yang singgah di jenjang batang lehernya. Menghembus napas begitu berat Lorenza, membalikkan tubuhnya, berpandangan lurus dengan Ghali.


Saling bertaut dahi, mereka memejamkan matanya, merasakan hangatnya napas dari lawannya yang menusuk begitu bergelora kedalam otak. Semakin erat Ghali mengeratkan tubuh Lorenza, sejenak berdiam diri, Ghali menunggu Lorenza yang akan menghampiri terlebih dahulu bibir tebal miliknya. Akan tetapi, hasrat diri yang semakin memuncak, membuat Ghali harus melepas kesabarannya, memberi serangan terlebih dulu pada bibir Lorenza.


"Apa kamu bisa melakukan suatu hal terindah di pagi ini, Sayang?" lekat mata Ghali yang penuh gairah menatap ke arah lawannya.


Tak mengerti dengan yang dimaksud oleh Ghali, Lorenza menggelengkan kepalanya. "Jujur, aku tak mengerti sama sekali bagaimana membuat kamu senang pagi ini." Balas Lorenza dengan jujur kepada suaminya.


"Sungguh, kau tak mengerti sama sekali maksud dariku ini?"


Mengangguk kepala Lorenza, menjawab pertanyaan suaminya tersebut.

__ADS_1


"Baiklah jika begitu, kali ini biar aku beri pemahaman pada kamu ... ." Dengan teliti tangan Ghali melepas tali celemek yang berada di belakang leher Lorenza, setelah terlepas kembali Ghali menyerang bibir merah menggoda milik pasangannya.


Di tengah asmara, gairah yang begitu memuncak tinggi dari sepasang kekasih di dapur sana. Terhenti seketika mereka berdua, di saat seorang pria dengan wajah tirus yang begitu datar, tanpa ada rasa bersalah, menyelonong ke dapur. Membuka rak piring, Galvin mengambil sebuah toples plastik berisikan sebuah kopi hitam didalamnya. Tak peduli dengan kedua orang sepasang kekasih yang terkejut akan kehadirannya di tempat, Galvin tetap santai menyaring sebuah kopi kedalam gelas.


"Dimana kopi milikku, Sayang?" wajah tegang Ghali menahan rasa kesal terhadap anaknya yang menganggu ditengah acara bertempur bibir.


"Ini, kopi milik kamu ... ." Dengan anggun Lorenza menyerahkan cangkir berisi kopi kepada Ghali.


"Terimakasih ... ." Setelah mengecup dahi Lorenza, Ghali beranjak pergi keruang tamu untuk menenangkan dirinya yang masih belum menerima dengan kenyataan barusan.


Di dapur tersisa Galvin dengan dirinya, suasana yang hening membuat Lorenza seketika terpukau melihat wajah lancip Galvin yang tengah menatap jendela dengan pandangan kosong, terlihat Galvin menunggu air yang sedang direbus dalam sebuah mesin presto kopi. Mengalihkan pandangan Lorenza kearah lain, saat melihat Galvin melirik ke arahnya.


"Apakah kamu sudah tau kabar tentang piknik kita hari ini?" tanya Lorenza yang menyibukkan dirinya dengan tangan memotong seekor ayam.


Lagi-lagi tak ada balasan dari Galvin, namun hal tersebut tak membuat semangat Lorenza luntur untuk mencairkan suasana dengan anak tirinya. "Apakah kau akan ikut nanti, Galvin, ku harap kamu akan ikut agar seru ... ." Sekali lagi Lorenza berkata kepada Galvin.


Setelah menyalin air mendidih dari presto kedalam sebuah cangkir, Galvin dengan penuh keberanian mendekatkan dirinya dengan Lorenza. Seketika ditempat Lorenza yang menyadari Galvin beberapa senti disebelahnya, langsung mengarah lurus tubuh-nya menghadap Galvin. Begitu ragu mata coklat milik Lorenza ingin bertemu langsung dengan kedua bola mata lensa berwarna biru milik lawannya.


"Mau ikut atau tak ikut, itu urusanku pribadi. Jadi, tak usah bertanya lagi mengenai hal tersebut." Ucap Galvin dengan nada datarnya, kemudian langsung pergi ke arah kamarnya.


Sedikit dibuat begitu ambigu pikiran Lorenza, setelah mendapatkan sebuah kalimat yang seakan-akan mengintimidasi Lorenza untuk lebih dekat mengenal anak tirinya tersebut. Usai punggung Galvin menghilang dari pandangan matanya, Lorenza kembali beraktivitas memasak, sembari pikirannya tak henti mencari cara agar bisa mengenal dekat Galvin layaknya seorang ibu dengan anak. Harap Lorenza agar piknik nanti, Galvin akan ikut.


***

__ADS_1


Setelah semua barang bawahan begitu siap, didalam bagasi mobil. Segera Ghali mengendari mobilnya bersama dengan anak serta isteri barunya tersebut menuju sebuah tempat yang sudah direncanakan olehnya bersama dengan sahabatnya Bonifacio. Memarkir mobil dengan rapi di depan sebuah vila di bawah kaki gunung, segera keluarga Ghali menemui Bonifacio beserta isterinya, bersama-sama mereka mendaki gunung.


Perjalanan dengan penuh obrolan membuat, tak terasa, kaki menyentak maju sekitar lima kilometer, tepat di atas lereng gunung. Mereka semua segera memasang tendanya masing-masing. Merasa bosan Galvin berada ditempat, segera dirinya beranjak pergi menjauh dari sekitar rombongannya, secara diam-diam, akan tetapi Ghali melihat gerakan Galvin, langsung mendekatinya.


"Mau kemana kamu, kenapa tak memasang tenda?" tanya Ghali, menghalau Galvin untuk lebih bergerak maju.


"Ingin pergi mencari spot bagus untuk berfoto. Tak usah khawatir ... ." Tanpa ingin panjang lebar, Galvin pergi dari hadapan Ghali.


Setelah tenda masing-masing kubu terpasang, Ghali bersama dengan Bonifacio langsung membagi tugas untuk mencari kayu bakar ditengah-tengah hutan bersamaa. Sedangkan untuk kaum hawa hanya cukup berdiam diri saja ditempat untuk beristirahat. Setelah kepergian sang suami, Magda merasa bosan sendiri didalam tenda yang tak memiliki aktifitas sama sekali selain membaca buku yang barusan dibacanya. Segera Magda mendatangi tenda tetangganya tersebut, sekaligus teman dekatnya.


"Hai, sedang apa kau?" sapa Magda kepada Lorenza.


"Seperti yang kamu lihat aku sedang membaca sebuah cerita fiksi yang begitu dramatisnya, membuatku terharu sendiri membacanya." Balas Lorenza kepada Magda.


Melihat Magda yang duduk persis berada disampingnya, Lorenza melepas buku yang ada pada tangannya. "Ada apa?" menengok Lorenza ke arah Magda.


"Aku ingin tanya, hubungan kamu gimana dengan Ghali, apalagi dengan anaknya yang tampan itu?"


Tersenyum Lorenza mendengar pertanyaan yang masuk kedalam telinganya. "Yah, ternyata Ghali itu orangnya dewasa, sih, tapi kalau menurutku Ghali itu terlalu kasar jadi seorang ayah kepada anaknya ... sedangkan Ghali, begitu dingin sekali sikapnya untuk dijadikan seorang anak di dalam hidupku." Terang Lorenza kepada Magda.


Menggosipkan tentang Galvin kepada Magda adalah hal yang sangat diwajibkan sendiri oleh Lorenza, ingin sekali Magda mengetahui lebih dalam mengenai diri Galvin. Walau, Magda tau mustahil sekali untuk mendekati Galvin, akan tetapi dengan adanya Lorenza Magda bisa mendapatkan informasi detail. Namun, patut disayang, begitu cueknya Galvin dengan seorang wanita, membuat Lorenza sebagai sosok ibu barunya Galvin tak dapat beradaptasi cepat dengan anak tirinya.


Setelah beberapa menit bercerita didalam tenda, Bonifacio yang mencari kayu bakar, kembali terlebih dahulu ke depan tenda. Melihat pergerakan suara kaki diluar tenda itu ternyata suaminya, Magda memberhentikan obrolannya dengan Lorenza, pergi keluar tenda menemui suaminya. Begitupula dengan Lorenza, berdiri didepan tenda untuk merenggangkan tubuhnya yang kaku. Selintas setelah melihat sekitar sosok salah satu anggota keluarganya tak terlihat di sekitar, membuat Lorenza segera beranjak pergi dari sekitar tenda.

__ADS_1


__ADS_2