
Sepasang kaki menyentak beberapa meter ditengah hutan gunung, begitu jauh dari tempat tenda, sesaat menengok kanan-kiri. Sebelum benar-benar pinggul bersandar di atas tanah yang dipenuhi oleh rumput yang menyapu membentuk angin, wajah Galvin begitu terlihat memastikan sekitarnya, menengok kanan-kiri. Setelah merasa keadaan benar-benar sudah begitu nyaman, Galvin langsung membakar satu batang tembakau dari dalam saku celananya.
Wajah penuh kecemasan begitu tampak, seperti seseorang yang sedang kehilangan arah, atau seseorang yang sedang gelisah memikirkan sesuatu. Berjalan dengan insting, kini Lorenza tak peduli dengan dirinya yang sudah tersesat ditengah hutan gunung, demi mendapatkan sosok laki-laki yang dicarinya. Sakin semangatnya berjalan, Lorenza yang tak melihat jalan di bawah kakinya, saat sedang berjalan seketika kakinya tergelincir.
"Awhgg ... ihsstt!" Histeris Lorenza berteriak, lalu mendesah kesakitan ditempat, tangannya mengelus-elus kakinya yang kesakitan
Mendengar suara seseorang yang dekat di sekitarnya, membuat Galvin segera pergi ke arah sumber suara tersebut. Melihat sosok Lorenza dengan ekspresi sedang menahan rasa sakit, terpaksa harus membuat Galvin mematikan putung tembakau miliknya yang menyala. Sebelum benar-benar menghampirinya, dua kali lipat Galvin berpikir, sesaat ditempat hati nuraninya mulai tergerak.
"Sedang apa kamu disini?" nada begitu datar Galvin bertanya kepada Lorenza.
Mendengar suara Galvin, sekilas mencuat kedua mata Lorenza memandangi Galvin yang berdiri di depannya. Seketika terdiam Lorenza ditempat, saat sala satu kakinya yang terluka di raba oleh Galvin begitu lembut. Secara manusiawi terlihat Galvin begitu khawatir dengan Lorenza yang saat ini hanya bisa berdiam diri, dia masih heran saja, bisa mendengar suara Galvin secara langsung memberi pertanyaan padanya. Dengan segera Galvin mengobati luka Lorenza dengan obat merah yang sedari tadi dibawah Galvin dalam tas-nya.
Beberapa menit berdiam diri, Galvin menoleh ke arah Lorenza. "Bagaimana, apa sudah lumayan membaik luka-nya?" sekali lagi Galvin bertanya, setelah merasa cukup mengobati luka goresan kaki milik Lorenza.
Mengangguk sekali kepala Lorenza dengan tegas kepada Galvin, sedikit menghindari kontak mata dari lawan bicaranya. "Terimakasih, yah, telah menolong-ku, aku masih belum menyangka ternyata kamu itu masih punya jiwa penyelamat, yah ... ." Tersenyum Lorenza dengan mata mengada tanah, rasa puas hatinya yang gelisa muncul, setelah mendapatkan sosok Galvin bagaikan seorang pahlawan dirinya.
"Sama-sama."
Seperti biasa Galvin, sebagai seorang lelaki yang malas sekali berdekatan dengan seorang wanita, selain mantan pacarnya, serta mendiang ibunya. Setelah melihat kaki Lorenza mulai pulih, segera Galvin mengemas barangnya seperti kotak pengobatan untuk dimasukkan kembali kedalam ranselnya. Beranjak pergi Galvin dari hadapan Lorenza, tanpa ada rasa peduli lagi dengan kondisi Lorenza kedepannya nanti yang tak tau arah balik ke tenda. Bagi Galvin liburan seperti ini, seharusnya mendapatkan momen dimana dirinya dapat menikmati asap tembakau begitu tenang, di bawah pohon beringin.
Sebelum Galvin menghilang dari pandangannya, Lorenza memaksa kedua kakinya yang masih sedikit merasa nyeri untuk berdiri. Sekitar dua meter dari belakang Galvin, Lorenza berjalan tanpa Galvin sadari, bahwa Lorenza mengikutinya hingga di suatu tempat. Sedikit bersembunyi Lorenza, dibalik pohon besar, matanya melotot heran mendapati sosok Galvin sedang menghembus asap tembakau di sana. Ini akan menjadi momen menurut Lorenza, penuh keberanian Lorenza mendekati Galvin yang ada di sana.
Betapa terkejutnya Galvin menengok kearah sumber suara kaki yang menyentak mendekatinya. "Mengapa kamu mengikuti aku?" muka jengkel Galvin mulai tertera, tangannya lekas mematikan ujung putung lintingan tembakau yang terbakar api, hingga padam.
"Maaf, telah menganggu suasana ketenangan-mu, sekali lagi aku minta maaf. Sebenarnya aku bingung arah balik ke tenda dari sini, maka dari itu aku mengikuti kamu, kuharap kau bisa membantu ... ." Ucap Lorenza memberi suatu alasan kepada Galvin.
Tak ada pilihan lagi, tak tega Galvin melihat sosok Lorenza dengan wajahnya yang begitu lemah, kaki yang terluka. "Baik, jika begitu mari kita balik ke tenda." Lagi-lagi membuat rasa iba Galvin terhadap seorang wanita kembali muncul.
"Sabar, sebelumnya kamu tak ingin menghabiskan sisa lintingan tembakau yang kau matikan barusan?"
"Itu tak penting, terpenting sekarang kita balik tenda saja ... lagipula aku sudah puas menikmatinya."
__ADS_1
"Kamu serius?"
Mengangguk kepala Galvin, menanggapi pertanyaan dari Lorenza yang masih meragukannya. Tiada angin, tiada hujan, bagaikan sebuah petir dengan kencang menyambar pintu pagar besi yang sedang terpajang, sekiranya seperti itulah yang dirasakan Lorenza saat ini, dimana Galvin mengait tangannya dengan penuh kehangatan. Sekali lagi dengan penuh kesadaran sebagai seorang ibu tirinya, Lorenza harus menghilangkan perasaan yang belok dari keadaan nyatanya.
Walau, pun, hanya berjalan dalam diam di tengah hutan bersamanya, begitu sangat cukup puas bagi Lorenza merasa dirinya diperlakukan seperti seorang kekasih yang ada di film saat sedang hang out bersama kekasihnya. Dipastikan dapat membuat nanti matanya dapat terpejam dengan erat, saat berbaring di atas ranjang, berharap bermimpi melanjutkan hal yang barusan dirinya di gandeng tangannya oleh Galvin hingga ke tenda. Sesampainya di depan tenda, Lorenza segera menghampiri Ghali, membantu Ghali untuk membakar api unggun, persiapan untuk penerangan saat dimalam hari ini.
***
Tanpa banyak sekitar tenda yang menyadarinya dirinya pergi meninggalkan perkemahan dengan menaruh surat berupa tulisan kata-kata di selembar kertas, diletakan Galvin di depan pintu tendanya. Tanpa kenal lelah, angin begitu kencang menerpa, penuh semangat Galvin untuk selalu berjalan menuju kaki gunung, mengambil mobilnya yang terparkir, dibawah sana. Setelah beberapa jam berjalan dengan senter ditangan, Galvin akhirnya begitu senang saat sampai di tempat mobilnya berada.
Dari yang tadinya langit biru gelap diterangi oleh bulan serta bintang, kini berganti dengan sinar matahari yang baru saja muncul menerangi bumi. Sampai juga Galvin di pekarangan rumahnya, segera dirinya memarkirkan mobilnya di dalam halaman bagasi, sehabis itu memasuki kamarnya. Menyeringai dengan sendirinya Galvin, menatap sahabatnya yang tertidur pulas di atas ranjang dengan nuansa hitam miliknya. Lekas Galvin menarik lengan milik sahabatnya tersebut dengan sangat kuat, sehingga memposisikan Thomas duduk di atas ranjang.
"Weh, lu enggak bisa lihat orang lagi tidur enak, apa, yah ... ." Jengkel wajah Thomas, setengah sadar menatap Galvin, kembali dirinya memposisikan tubuh dengan posisi berbaring.
"Hey, bangun ini udah pagi, kali ... jadi udah seharusnya bangun."
Terbuka mata Thomas, tersadar penuh dirinya di atas ranjang mendengar gerutu suara sang sahabat. "Dih, cepat juga lu pada berlibur ke gunungnya, bokap sama nyokap lu juga udah pulang, bro?" Bangkit berdiri kepala Thomas, sala satu tangannya menyapu kotoran yang telah berani menghalangi matanya yang ingin segar.
"Gue balik sendiri tadi malam, disaat jam tidur mereka, and gue baru tiba saat ini ... perjalanan yang memakan waktu begitu banyak, memungkinkan mereka akan tiba kemari sore nanti."
"Nah, kebetulan gue punya teman yang jago maling, yuk, ikut gue enggak lama ... ."
"Kemana, Vin?"
"Udah ikut aja, ayok. Intinya kita akan maling duit banyak dari orang."
"Tapi lu, yakin maling rumah orang pagi-pagi seperti ini, woy?"
Mengangguk kepala Galvin meyakinkan sahabatnya yang terlihat meragukan dirinya.
"Baiklah, gue akan ikut kemauan, lu, tapi ... tunggu gue cuci muka dulu, biar lebih seger."
__ADS_1
Entah, ingin maling dimana, tapi intinya tumben-tumbenan Galvin mengajaknya di saat matahari baru-baru terbit, demi memenuhi rasa penasaran dalam diri, Thomas segera bersiap diri untuk menerima ajak-kan dari Galvin yang jarang sekali terdengar. Awalnya hanya santai saja di dalam mobil, akan tetapi saat dijalan yang dikenal, pikiran Thomas mulai tak karuan, menduga-duga suatu tempat yang pernah dikunjunginya.
Setengah jam berjalan, akhirnya mobil dikendarai Galvin akhirnya berhenti di suatu tempat yang membuat Thomas terkejut. "Kok, kita berhenti dibelakang kantornya Ramli, gak ada tempat lain lagi apa?" terlihat betapa pengecutnya wajah Ramli yang memberi ekspresi ketakutan pada Galvin, membayangkan kedepannya nanti jika di dalam gedung sana.
"Udah, lu pokoknya tenang, ikutin gue aja ... ini semua kita lakukan demi balas dendam kita waktu itu yang belum terpuaskan."
"Sabar ... ." Thomas menggenggam tangan Galvin begitu erat, sehingga membuat Galvin kesulitan bergerak lanjut keluar dari dalam mobil.
Menengok kepala Galvin ke arah Thomas dengan wajah penuh ceria. "Ayo, percayalah kita pasti akan aman-aman saja, lagi pula apa seperti ini namanya seorang jantan, bisanya ditindas orang lain." Mencuat kedua alis Galvin, perlahan tangannya dilepas oleh Thomas, segera Galvin mengenakan topengnya, mengambil anak tangga yang ada bagasi mobilnya.
Melewati dinding pembatas dengan anak sebuah anak tangga besi. Begitu pula dengan Thomas, penuh rasa percaya yang tinggi, menaruh rasa kondisi akan baik kedepannya nanti kepada sang sahabat yang mengajaknya. Sesampai di halaman kantor milik Ramli, berhati-hati mereka menyelusuri gedung, melewati tangga darurat. Menerobos masuk mereka dengan sangat mudah menerobos dua penjaga pintu ruangan khusus Ramli, lalu memasuki ruangan tersebut.
Senyum lebar menghiasi pipi Thomas, napas yang lelah terasa terbayar lebih sudah, sesudah membobol sebuah berangkas uang, hanya bermodalkan linggis ditangan. "Akhirnya kita bisa kaya, Vin." Ucap Thomas membayangkan masa depan dengan uang yang ada didepan mata.
Rasa kepuasan itu hanya sementara sesaat pintu ruangan terbuka oleh seseorang berbadan kekar mengenakan jaket hitam, di ikut oleh beberapa orang bertubuh kekar juga di belakangnya. Mematung ditempat Thomas, wajah penuh ketakutan kembali muncul, merasa dirinya dengan Galvin terpojok.
"Sembunyi!" Teriak Galvin sembari mendorong tubuh sahabatnya hingga terjatuh, setelah melihat musuh mengambil sesuatu dari pinggulnya.
Dor! Suara peluru seketika keluar dari senjata kubu lawan Galvin.
Bruk! suara meja dilempar keras Galvin, mengenai tubuh musuh.
Merasa ini kesempatan yang baik, lekas Galvin berlari menuju lawannya yang menggenggam senjata. Merebut senjata dari tangan musuh. "Ayok, bro ... diam lu pada semua, gerak dikit gue bunuh!" Menodongkan senjata dengan tegas ke arah musuh, berusaha keluar dari ruangan bersama sang sahabat, menghindari musuh.
Dor!
Suara peluru yang membuat perjuangan Galvin dengan Thomas menjadi terasa percuma, saat tubuh Thomas terjatuh di bahu Galvin, menengok Galvin ke arah sumber yang mengeluarkan peluru tersebut. "Siapa kau, kurang ajar?!" Ditambah buat kesal Galvin dengan keadaanya saat ini, seketika peluru senjata di tangannya habis.
"Hahaha ... lebih baik kamu pergi dari sini menguburkan kawan-mu itu, sebelum kalian berdua tiada yang menguburkan kematian kalian disini." Tertawa penuh kemenangan Ramli membuka kerudung jaketnya, menampilkan wajah ganas terhadap Galvin.
"Cepat kau kubur dia, sebelum aku berubah pikiran!" Lanjut Ramli, membuka lebar kedua kelopak matanya.
__ADS_1
Tiada lagi jalan yang harus ditempuh, selain menerima kenyataan agar semua menjadi baik-baik saja. Sadar Galvin tak sanggup melwan Ramli saat ini yang sedang memegang senjata, harus menahan rasa rapuh dalam dirinya melihat sahabatnya terbunuh didepan matanya langsung, menggendong tubuh sahabatnya yang berlumuran darah tersebut menuju mobilnya.
Sepanjang perjalanan Galvin merenung, sedikit kurang fokus mengendarai mobilnya. Memerah seketika bola mata Galvin, sekilas melihat mendiang sahabatnya yang kini berada di sampingnya. Dengan napas tak karuan, Galvin menampar keras setir mobilnya, melampiaskan seluruh yang terjadi dengan air mata yang sudah tak terbendung lagi, benar kini Galvin merasa sesaat lagi dirinya mulai hidup dalam kesunyian. Tanpa ada orang-orang yang menurutnya begitu pengertian terhadap dirinya.