
-----------------REVISI ALERT-------------
Langit semakin gelap namun tak mematahkan semangat seorang gadis dengan koper dan beberapa tas jinjing yang dibawanya. Sudah setengah jam ia mengelilingi gedung asrama. Entah apa yang merasukinya hingga ia tak sadar kalau ia sudah salah arah berkali-kali.
Ada tiga gedung asrama milik sekolah Adiyaksa Internasional School. Gedung A menjadi tempat tinggal para guru dan karyawan sekolah, gedung B khusus untuk anak laki-laki, sedangkan gedung C khusus untuk anak perempuan.
"Huah!! Akhirnya sampai juga!" Ujar Hana saat baru saja menemukan gedung C.
Dia menderek kopernya yang berat dengan seluruh tenaganya. Tiba-tiba seseorang memanggilnya dari arah jalanan.
"Hei... butuh bantuan?" Tanya seorang pria dengan earphone yang menyumbat telinga sebelah kanannya.
Hana menoleh dan melihat darimana suara itu berasal. Dia tertegun melihat pria itu. Dalam hati dia bergumam, ingin sekali menerima pertolongan itu namun mengingat mereka tak saling mengenal, Hana pun menolaknya.
"Ah... gak usah. Makasih mas..." jawab Hana sambil melemparkan senyuman palsu.
Namanya Hana Olivia. Murid pindahan dari salah satu desa di Sumatera yang akan mulai sekolah disekolah ternama di Kota Jakarta. Hana merupakan anak angkat. Dia memiliki dua orang saudara, Hyuna dan Hendi yang sedang berkuliah di Amerika bersama. Orang tua angkatnya merupakan konglomerat didesanya. Memiliki rumah gedongan yang tak kalah dengan rumah besar di Jakarta. Ayahnya mengelola ladang sawit sedangkan ibunya mengelolah toko penjualan alat dan bahan keperluan utuk pohon sawit. Tak jarang mereka mendapat pembeli dari luar kota bahkan luar negri.
"Sorry!" Bisiknya.
Hana perlahan keluar dari kamar yang baru saja ia masuki. Dia keluar karena tanpa sengaja melihat teman satu kamarnya sedang bermesraan dengan seorang pria. Hana memilih untuk menunggu didepan pintu.
Tak sampai sepuluh menit menunggu, seorang wanita membuka pintu dan mempersilahkan Hana masuk. Wanita itu tampak ramah dan selalu tersenyum.
Bukannya langsung masuk, Hana malah melihat sekeliling. Ia seperti mencari seseorang.
"Maaf ya udah nunggu lama... pacar gue udah pergi kok. Masuk aja." Ujarnya. "Bu Restu bilang, temen sekamar gue besok baru datang. Sorry ya gue gak nyiapin apa-apa."
"Ah.. gak apa-apa. Gausah repot-repot." kata Hana.
"Lo pasti capek banget ya? Udah makan belum? Gue cuma punya mie instan. Kalau mau gue pesenin GaFood. Mau apa?" Cerocos teman sekamarnya itu.
"Ah... makasih— "Hana memotong kalimatnya karena tak tau nama teman sekamarnya siapa.
"Haa... Yuranata Anjani. Lo bisa panggil gue Yu–Ra. Yura. Inget jangan lupa. Dan lo?"
"Aku Hana. Salam kenal, ya."
Hana masih belum terbiasa mengikuti gaya bahasa di Jakarta. Dia berharap Yura dapat membantunya untuk bisa membiasakan diri di kota ini.
"Lo dikelas berapa?" Tanya Yura.
"Kelas sebelas IPS. Yura?"
"IPS berapa? Gue juga sebelas, tapi di IPA."
"Belum tau aku. Besok pagi harus ketemu sama guru BK dulu."
"Oh..." Yura mengangguk kecil.
Ponsel Yura berbunyi. Panggilan masuk dari GaFood memberitahu kalau makanan mereka sudah datang.
"Gue kebawah dulu ya. Lo istirahat aja dulu." ucap Yura.
Hana membaringkan tubuhnya dikasur. Bunyi kretekan dari tulangnya sampai kedengaran. Melakukan perjalanan sendiri cukup melelahkan. Bukannya orang tuanya tak mau mengantar, tapi Hana bersikeras untuk pergi sendiri.
"Belum dua jam udah kangen Nary." Ucapnya dalam hati.
Jelas Hana merindukan sahabat sekaligus kekasihnya yang sudah bersamanya sejak masuk kelas tujuh. Namanya Hansol Nary Chwe, blasteran latin Amerika dan ayahnya orang Indonesia. Rumahnya tak jauh dari rumah Hana. Ayahnya Nary merupakan orang kepercayaan keluarga Hana. Saat Hana diminta untuk bersekolah di ibukota, Nary pun pindah ke Amerika untuk memenuhi keinginan orangtuanya dan menjaga neneknya.
Hubungan Hana dan Nary berakhir saat malam sebelum keberangkatan Hana. Nary mendatangi Hana dirumahnya dan membantu Hana berkemas.
"Harus pergi ya?" Nary menampakan wajah murung.
"Semuanya udah dijadwalin. Kamu juga minggu depan pergi ke Amerika."
"Maaf ya..."
"Maaf kenapa?"
"Maaf gak bisa ikut kamu ke Jakarta."
"Mau gimana lagi, ini udah jalannya." kata Hana. "Nary... hubungan kita sampai sini aja ya..."
Nary terdiam. Ia langsung menatap Hana.
"Kenapa? Ada apa?"
"Aku takut menyakiti kamu, dan aku gak siap untuk disakitin sama kamu." jelasnya. "Kita bakal beda negara, perbedaan waktunya juga jauh. Aku yakin lambat laun kita bakal tersakiti satu sama lain. Dan aku gak mau kita berpisah nantinya dalam keadaan sakit."
"Hana...itu bukan sebuah alasan. Kita bukan baru setahun dua tahun pacaran. Hana aku-..." dia memeluk tubuh Hana dan menyembunyikan air matanya.
"Ketika kita nanti bertemu dalam keadaan aku masih sendiri dan kamu juga, aku berjanji akan kembali bersamamu. Aku janji aku akan menjaga hatiku semampunya."
Tanpa sadar, air mata menetes membasahi bantalnya. Mengingat betapa cerobohnya ia memutuskan hubungannya dengan Nary hanya karena tak sanggup dengan hubungan jarak jauh yang bahkan belum pernah ia rasakan.
__ADS_1
Terlalu banyak pengalaman orang lain yang ia ketahui. Hubungan jarak jauh bukanlah pilihan yang baik. Jarang sekali berhasil dengan mulus. Hana hanya tak ingin merasakan luka yang terlalu dalam dari Nary karena ia terlalu menyayanginya.
"MAKANAN DATAANG~" pekik Yura.
Hana dengan sigap menyeka air matanya. Ia bergegas kekamar kecil untuk membasuh wajah, tangan dan kakinya.
"Gue seneeeeeng banget. Akhirnya gue gak makan sendirian lagi." Tutur Yura.
"Emang gak makan bareng pacarmu?" tanya Hana.
"Kadang-kadang kalau lagi bisa aja."
•••
Bangun pagi dengan kondisi tubuh terasa kaku akibat dari membawa koper berat tadi malam membuat Hana enggan beranjak dari kasurnya. Sedangkan Yura sudah rapih dengan seragamnya.
"Hana, ini hari pertama lo kan? Jangan telat beb. Aku berangkat duluan ya. Bye..." Yura meninggalkan Hana.
Hana melihat jam didinding masih menunjukkan pukul enam pagi dan Yura sudah pamit kesekolah. Padahal kelas pertama dimulai jam setengah delapan.
Setelah satu jam bersiap-siap, Hana pun berangkat. Ketika baru saja keluar dari gedung asrama dia melihat lelaki yang tadi malam menawarkan bantuannya. Dia memakai seragam yang sama dengan Hana. Dia juga menggunakan earphone untuk menyumbat telinganya dan ada batang permen dimulutnya. Hana pun berjalan tepat dibelakang lelaki itu.
Tiba-tiba saja lelaki itu menghentikan langkahnya membuat Hana terkejut dan menghentikan langkahnya juga. Lelaki itu datang menghampiri Hana yang sedang salah tingkah.
"Nathan." dia menyodorkan tangannya.
"Hana." Balas Hana.
Terlihat jelas tag nama yang terpasang dibajunya. Nathan Dermawan, namanya langsung menempel dikepala Hana. Kulitnya bersih dan putih, rambutnya coklat gelap. Hidung bak papan seluncur menambah daya tariknya. Kesan pertama ini sungguh dapat meyakinkan Hana, kalau Nathan adalah murid baik, pintar, ramah dan disenangi banyak orang.
"Sampai ketemu lagi." Nathan melambaikan tangannya kearah Hana.
Hana mengangguk kecil sembari berjalan menuju kantor guru untuk mengetahui dimana kelasnya.
"HANA!" Yura mengagetkan Hana yang sedang duduk diluar kantor guru.
"Astaga!! Bikin tekejut ajalah anak ini!" ucapnya dengan gaya bahasa didaerahnya.
"Sorry... sorry..." Yura tertawa. "Selamat datang di ADS! Adiyaksau School! Gue bakal jadi pemandu lo hari ini. Gimana? Mau?
"Mau-mau aja sih. Tapi aku lagi nunggu guru BK nih."
"Tenaaang~ guru BK kelas sebelas namanya Bu Marti. Dia bakal datang tepat bubaran upacara. Jadi mending sekarang lo ikut gue." Bisik Yura lalu menarik lengan Hana.
Yura memulai dari sisi paling kanan sekolah. Membawa Hana menyusuri koridor dan melihat-lihat kedalam kelas.
"Spesial gimana?"
"Disana banyak spesies cowok ganteng, tajir dan terkenal. Entah kenapa mereka disatuin disana."
"Jadi itu kelas khusus cowok?"
"Nggak... ada perempuan juga."
"Perempuannya spesial juga?" Tanya Hana penasaran.
"Em...Enggak sih." Jawab Yura tak yakin.
"Ooo..." Hana mengangguk.
Lanjut melewati kelas sebelas spesial, ada kantin sekolah. Interiornya tidak kalah dengan sekolah di Jepang. Hanya saja sekolah ini masih memakai sistem jual beli.
"Ini kantin sekolah kita." ucap Yura. "Makanan paling enak masih dipegang sama siomay Pak Dhe. Nanti jam istirahat gue traktir deh..." lanjutnya
"Bener ya!"
"Iya bener!!"
Hana tertawa. Setelah melewati kantin, Yura membawa Hana kebagian tengah sekolah dan berhenti tepat dikoridor tengah. Terdapat kelas yang memiliki dua pintu. Satu menghadap ke arah timur, satunya menghadap kebarat.
"Nah... ditengah ini deretan kelas sebelas ipa dan ips. Kelas gue yang paling depan." Kata Yura. "Disebrang sana baru kelas dua belas." lanjutnya.
Bel masuk sekolah berbunyi. Seluruh murid berhamburan keluar lapangan untuk mengadakan upacara. Sedangkan Hana kembali kekantor guru setelah Yura menyuruhnya menunggu saat jam istirahat.
•••
Bu Marti tiba-tiba masuk kedalam kelas membuat kelas menjadi tenang dan para murid kembali ke tempatnya masing-masing.
"Kita kedatangan murid baru." Bu Marti mempersilahkan Hana menyapa.
"Halo, kenalin nama aku Hana Olivia. Panggil aja Hana. Aku pindahan dari SMA Dinata."
"Duduk dikursi yang kosong, ya." Bu Marti keluar dari kelas.
Mata Hana menyusuri setiap sudut dikelasnya. Ada beberapa kursi dibelakang yang dapat ia tempati. Namun pilihannya jatuh kekursi paling ujung disudut sebelah kanan. Disebelah Nathan.
__ADS_1
"Hai... kita ketemu lagi." Sapa Hana.
Nathan sama sekali tak menggubris Hana. Dia asyik dengan ponsel dan earphone ditelinganya.
"Nathan!" pekik Hana.
"Oh... Hai..." Nathan menyapa dengan wajah datar.
Seketika, semua kesan pertama yang Hana dapat tadi pagi menjadi sirna. Nathan hanyalah seorang siswa pendiam, dingin dan tertutup. Saat pelajaran dimulaipun, sedikitpun Nathan tak mengajak Hana berbicara atau berdiskusi. Nathan asyik sedang kegiatannya sendiri.
Hana merasa sedih, ia bahkan tak menemukan teman pertama dikelasnya. Tidak seperti disekolah lamanya, semua orang pasti mendatangi dan mengajaknya berteman.
Nary menelfon Hana berkali-kali namun tak sempat diangkat karena jam pelajaran. Ditambah Hana memang enggan mengangkatnya karena sudah pasti dia akan merasa sedih mendengar suara Nary.
Bel istirahat berbunyi. Hana dengan semangat keluar kelas menunggu Yura menemukannya dikelas ini. Tak butuh waktu lama, Yura menemukan Hana dan langsung berlari menuju kantin.
"Nah!! Siomay Pak Dhe. Selamat menikmati." Yura meletakkan sepiring siomay kehadapan Hana.
"Wah... makasih...." seru Hana lalu melahap siomay itu.
Belum selesai Hana menelan suapan pertama, Yura sudah berbicara lagi. Suaranya lebih kecil sekarang.
"Lo liat cewe cantik berambut panjang, alis tebal tanpa pensil dan duduk bareng cowo ganteng disana." Bisik Yura.
"Semua cowo aja dibilang ganteng. Siapa memangnya?"
"HAHA!! itu namanya Susan, anak kelas duabelas. Mukanya galak banget. Makanya temennya sama lakik. Tuh ketua genknya, namanya Deryl yang pakai jaket hitam. Disamping Deryl ada Haris. Didepan Haris ada Gilang. Nah yang berdiri itu namanya Andre." Jelas Yura panjang lebar.
"Kayaknya ada satu yang gak asing deh."
"Iya... Gilang. Pacar gue."
"Kenapa gak bareng dia sekarang?" tanya Hana mengingat ia bersama Nary selalu bersama saat disekolah.
"Kita backstreet... hehe..."
Yura menarik tangan Hana dan langsung membawanya kekantin halaman belakang. Banyak siswa yang diam-diam merokok disana. Yura membawanya masuk dan menyapa beberapa temannya disana.
"Kak Dilan, kak Milea lagi jalan kesini." Kilah Yura menggoda seniornya.
"Serius lo, Yur! Mati gue kalo ketauan ngerokok dimari."
Yura terkekeh.
"LAN...LAN... SAMA PACAR AJA TAKUT!" pekik teman-temannya.
"Eh yuk keluar... gak tahan gue bau asap." Ajak Yura.
Saat keluar dari sana, terjadi perkelahian didepan kantin. Seseorang jatuh tepat didepan Hana setelah tubuh bagian belakangnya ditendang kuat oleh Deryl, ketua Genk Hitam.
"Nathan!!!!" Teriak Hana.
-------------------------------JANGAN LUPA LOVE, COMMENT, DAN THUMBS UP.
----------------------------------
PEMBACA DARI NOVEL TOON JIKA BERBAIK HATI MOHON VOTE NOVEL INI.
—Skyhangs.2019
Follow instagram @skyhangs.novel for more update.
☆NATHAN DERMAWAN☆
☆HANA OLIVIA☆
☆HANSOL NARY☆
☆YURANATA ANJANI☆
☆DERYL☆
☆SUSAN☆
☆ANDRE☆
☆GILANG☆
__ADS_1
☆HARIS☆
☆TIFFANY☆