POSESIF NATHAN

POSESIF NATHAN
Bagian XV


__ADS_3

"Kak... Pinjem dress lo dong..." kata Hana saat mata kakaknya masih terpejam.



Sudah selama ini Hyuna menginap di asrama bersama Hana. Dia tak kunjung kembali kerumah orang


. Dia benar-benar jatuh cinta dengan Revan dan tidak ingin buru-buru meninggalkannya.



"Dohh... Lo pilih aja itu dikoper gue yang warna pink. Isinya dress semua." Hyuna melanjutkan tidurnya.



Hanapun dengan segera membongkar koper pink milik kakaknya. Dia mencoba satu persatu dress dan gaun yang akan dia pakai keacara prom nanti malam.



"Kak ini baju apaan?" Hana menunjukkan gaun coklat dan gaun biru muda.



"Oh... Itu gaun bekas gue tampil teater di amrik."



"Kalo aku pake ini cocok ga?"



"Emang tema prom lo apaan dek?" Hyuna bangun dari tidur dan duduk di ujung kasur.



"Vintage simmering splending..." kata Hana sambil mengayunkan tangannya.



"Udah kayak sountrack film aja..."



Hyuna pun langsung membantu adik kesayangannya itu menemukan baju yang cocok dengan tema promnya. Dia bahkan kehilangan kantuknya karena merasa gemas kalau sudah soal pilah memilah pakaian.



"Ini aja dee!!! Bagus banget di kamu!! Sumpah!! Udah ini aja!!" pekik Hyuna.



"Hana!!! Cakep banget, Han!!!" tiba-tiba Yura datang dari luar.



"Ah... Jadi malu ni gue..." Hana menutupi wajahnya karena malu.



"Nanti lo dijemput Nathan kan?" tanya Yura semangat.



"Nathan siapa dek?! Pacar ya?!" suara Hyuna membesar. "Woah... Adek gue udah besar..."



Hana tersenyum malu.



•••



Jam sudah menunjukkan pukul lima sore. Para murid dan guru sudah mulai masuk kedalam gedung acara. Pertama-tama mereka akan berjalan di red carpet dan berfoto bersama. Terlihat pasangan Gilang dan Yura sudah berdiri didepan backdrop foto untuk mengabadikan moment. Dilanjutkan Deryl dan Susan. Tidak terlihat Andre dan Haris.



Sudah setengah jam Nathan menunggu Hana didepan gedung asrama putri dengan setelan jas kotak-kotak yang senada dengan bawahannya. Hana pun muncul bersamaan dengan Hyuna. Betapa terkejutnya Hyuna saat mengetahui pacar adiknya sangat tampan.



"Wahh... Kamu yang namanya Nathan, ya?" sapa Hyuna.



"I...iya kak..."



"Kita pergi dulu ya kak." Hana langsung menarik tangan Nathan untuk segera pergi sebelum kakaknya bertanya lebih dalam.



Baru selangkah berjalan keluar, tiba-tiba Revan muncul dengan mobilnya. Membuat Nathan membalikkan badanya.



"Loh bang? Ngapain?" tanya Nathan heran.



"Jemput pacar. Emangnya kamu aja yang mau punya pacar." celetuk Revan.



Nathan terdiam melihat wanita yang dikencani abangnua adalah kakak dari pacarnya sendiri. Bagaimana mungkin ini terjadi? Yang Nathan tau, abangnya sedang mencari wanita untuk dinikahi bukan sekedar pacaran.



Sepanjang perjalanan Nathan hanya menyetir mobilnya tanpa suara. Bahkan saat Hana bertanya atau memulai suatu obrolan, Nathan hanya merespon dengan singkat sehingga obrolan tak berlanjut.



Sesaat sampai diparkiran gedung acara, Nathan bahkan membiarkan sebuket bunga mawar merah yang dia bawa untuk Hana duduk dikursi belakang. Membiarkan Hana membuka pintu mobilnya sendiri dan berjalan sendiri meninggalkan Hana dibelakang, membuat gadis itu harus berlari agar bisa sejajar dengan Nathan.



"Nath!Nath!Tunggu!!"



"Gue lagi ga mood."



Hana terdiam ditempatnya. Dia benar-benar tak mengerti dengan pria satu itu. Sesaat dia bersikap sangat cinta, sesaat lagi berubah menjadi sangat benci.



"Salah gue apa sih, Nath..." ucap Hana saat Nathan mulai menghilang dari pandangannya.



Hari sudah mulai gelap. Hana duduk dikursi taman yang berada dirooftop gedung. Angin mulai menusuk kulitnya ditambah lagi baju yang diapakai terbuka dibagian bahunya. Dilihatnya ponselnya berkali-kali namun Nathan tak kunjung menghubunginya. Tanpa sadar air matanya menetes membasahi ponselnya.



"Nathan!! Ishh!" sesalnya.


__ADS_1


"Bukannya lo harus tampil sama Nathan nanti?" ucap Mary yang tiba-tiba muncul.



Hana sedikit terkejut tapi dia dapat mengatasinya.



"Lo udah pernah liat Nathan gila ga?" tanya Mary.



"Maksud lo?"



"Mabuk—"



"Apa??!!" pekik Hana.



Dia langsung berlari telanjang kaki menuju tempat acara berlangsung. Berlari seperti orang gila dan mencari-cari Nathan disetiap sudut hall.



"Ada yang liat Nathan gak?" pertanyaan yang berulang kali ditanyakan Hana saat bertemu dengan orang lain.



"Nathan... Lo dimana?" batin Hana.



•••



Mc mulai mengumumkan kandidat King and Queen Adiyaksa School. Semua kandidat berasal dari kelas dua belas termasuk Susan dan Deryl. Para penonton mulai mendekat kearah panggung kecuali Hana. Matanya masih menyusuri setiap sudut demi menemukan Nathan.



"Dingin kan abis dari atas?" Gema memberi jasnya menutupi pundak Hana.



"Eh Gema... Gak perlu..."



"Udah gak apa. Pakai aja."



Tiba-tiba seseorang menarik kencang tangan Hana sehingga membuat jas yang dia kenakan dipundaknya terjatuh. Dan membawanya keluar gedung.



"Siapasih yang nyuruh lo pake baju kebuka gitu?" kata Nathan dengan nada marah. "Dan lo ngapain dekat-dekat sama Gema?" wajah Nathan memerah karena marah. "Hana...dia itu suka sama lo... Jangan kasih dia harapan." lanjutnya.



Hana tak bergeming. Dia menatap dalam-dalam mata Nathan. Terlihat bendungan disana.



"Nath... Kamu kenapa sih?" Hana memegang pipi Nathan. "Aku ada salah ya?" air matanya menetes.




"Hana, maaf." Nathan mendekap tubuh kecil Hana. "Aku gak mau kehilangan kamu."



"Kamu gak akan kehilangan aku, Nath." balas gadis itu.



"Gimana kalau abang sama kak Hyuna nikah? Kita gimana?" tanya Nathan.



"Tunggu...!" Hana melepaskan pelukan Nathan. "Jadi dari tadi kamu jutekin aku karena hal itu?"



"Aku kepikiran terus. Emang salah?"



"Kamu gak perlu khawatir. Hyuna dan aku bukan saudara kandung kok." jelas Hana. "Aku ini anak angkat dari ibunya kak Hyuna. Dari umur sehari aku udah diadopsi karena saat itu untuk bayar biaya rumah sakit aja orang tua kandungku gak mampu. Jadi ya mereka ngasih aku deh..." Hana menyeka air yang sudah dipelipis matanya.



Nathan memeluk Hana lagi. Kali ini lebih erat dari sebelumnya. Lalu mereka kembali ke tempat acara dan menyaksikan Susan dan Deryl menjadi King and Queen tahun ini lalu memberikan pidato singkat.



"Terima kasih udah milih gue dan Susan. Walaupun genk kita selalu dihindari orang-orang, gue gak tau kalau pendukung kita berdua ada."



Terdengar suara tepuk tangan dari para murid.



"Dan yang terakhir, gue udah berjanji sama diri gue sendiri kalau gue terpilih, gue bakal mempermalukan diri gue sendiri disini. Diatas panggung ini."



Teriakan paling kencang berasal dari Andre.



"Susan, gue udah lama suka sama lo." Deryl menyelesaikan kalimatnya dalam satu nafas. "Gak...gak...gue gak minta jawaban sekarang. Gue udah siapin diri buat malu didepan sini. Jadi lo gak perlu khawa—"



"Mau." kata Susan.



Para murid pecah. Semua berteriak dan memberikan tepuk tangan yang meriah. Terlebih lagi jeritan Andre mendominasi.



"Cium!Cium!Cium!" ucap para murid serentak.



"Eh!Eh! Enak aja! Bubar kalian...bubar!" buk Marti membubarkan murid.



Haris berjalan menuju rooftop. Dia tak setuju dengan hubungan Susan dan Deryl mengambil sebatang rokok dan mulai menyalakan koreknya namun terhenti karena melihat Mary yang berdiri memandangi pemandangan kota.


__ADS_1


"Ngapain lo disini?"



"Cari angin." jawab Mary.



"Haris. Lo?"



"Mary."



Haris menyimpan kembali rokoknya dan berdiri disamping Mary sambil melihat kelap kelip lampu jalanan.



"Lagi galau, ya?" tanya Haris.



"I'm not that type." jawab Mary singkat.



"Then... what type of person are you?"



Mary tertawa mendengar pertanyaan Haris. Entah dia serius bertanya atau hanya sekedar menggoda.



"Don't smile!" pekik Haris.



"Why?"



"Because your smile contains alcohol. Uhuy!" kata Haris sambil tertawa.



"Basi lo!! Hahaha"



"Ih udah dibilangin jangan ketawa. Tuh...tuh kan mabuk gue kan..." kaga Haris sambil memperagakan gaya orang sedang mabuk.



.


.


.


.


.


.


.


.


.


.



"Nath..."



"Ya sayang..."



"Tadi emang kamu beneran mabuk?"



"Ha? Mabuk?"



"Iya. Kata Mary kamu mabuk terus gila."



"Menurut kamu aja deh."



"Ya aku kan nanya kamu."



"Iya! Aku mabuk!" jawab Nathan dengan tegas. "Aku mabuk teh pucuk. Hahaha"



Nathan membelai rambut Hana dengan tangan kirinya. Sedang tangan kanan memegang setir.



.


.


.


.


.


.


.


.



Terima kasih masih membaca sampai disini.


Jadi masih ada yang kalian penasarin gak?


Coba komen...


Jangan lupa like juga ya...


Follow instagram @skyhangs.novel

__ADS_1


__ADS_2