POSESIF NATHAN

POSESIF NATHAN
Bagian IX


__ADS_3

- Revisi-


Hana duduk disofa depan jendela besar sedangkan Nathan duduk dijendela menghadap kearah Hana sambil memakan camilannya disana.


"Nath, lo ama Susan kenapa dah?" tanya Hana saat tiba di ruang rahasia Nathan.


"Kenapa ya... Em..." Nathan memakan camilan.


"Serius nanya gue."


"Janji sama gue jangan sakit hati ya dengernya."


"Dih. Yakali."


"Susan suka sama gue, gue gak suka."


"Udah gitu doang?"


"Iya..." Nathan melahap roti sekaligus.


Dia merogo kantongnya dan mengeluarkan sesuatu dari dompetnya.


"Nih, jangan ditolak ya." Nathan memberikan kalung yang kemarin sempat Hana tolak.


Hana menunjukkan kalung yang terpasang dilehernya. Kalung pemberian Nary saat mereka satu tahun pacaran. Kalung itu sama persis dengan kalung yang akan diberikan Nathan.


"Gue kan udah bilang jangan dibeli. Lo ngotot banget."


"Abis lo nangis."


"Gimana gak nangis. Kalungnya sama persis sama yang dikasih mantan gue, Nath."


"Bukak." perintah Nathan.


"Gak ah." tolak Hana.


"Hana cantik, yang baik hati, tukar kalungnya sama yang ini." Nathan berbicara lembut.


Lagi-lagi Hana mengikuti perintahnya. Dia membuka kalung pemberian Nary dan membiarkan Nathan memasangkan kalung yang baru. Namun belum sempat terpasang, ada seseorang yang membuka pintu ruangan.


Murid baru bernama Susan Mary mengikuti mereka saat jam istirahat. Nathan terlihat sangat marah. Dia tak suka ada orang lain masuk keruangannya tanpa izin darinya.


Akhirnya Hana membawa Mary pergi dan meninggalkan Nathan. Kalung pun belum sempat terpasang. Masih didalam genggaman Nathan. Diapun berdecak kesal.


"Ganggu aja! Sial! " umpatnya dalam hati.


...


Tiffany menggerutu kesal dan sudah mengeraskan kepalan tangannya. Gema, pria yang dia sukai sejak lama menyatakan cintanya kepada murid baru, Hana dan parahnya Hana menolak. Entah dia harus bergembira atau menyumpahi Hana karena sudah merendahkan pria yang dia sukai.


"Tifa, lo gak apakan?" tanya Mira sahabat Tifany.


"Memangnya gue kenapa?" Tifanny memasukkan semua bukunya kedalam tas dan menidurkan kepalanya di meja.


Mira hanya bisa mengelus-elus rambut dan pundak Tifanny. Dia tau betul sahabatnya sangat menyukai Gema. Cinta bertepuk sebelah tangan itu sangat menyakitkan.


...


Setelah bertemu dengan Mary dikoridor sekolah, Hana pergi ke ruang rahasia Nathan. Dia benar-benar gugup saat menerima pesan dari Agatha yang ingin bertemu dengannya. Entah dia harus memberitau Nathan apa tidak. Wajah Nathan saat hendak memasangkan kalung ke lehernya selalu muncul di fikirannya. Wajah yang sangat amat begitu dekat. Bahkan Hana bisa melihat dengan jelas rambut-rambut halus yang ada diwajahnya. Terlebih lagi, tahi lalat di hidungnya yang kecil dapat terlihat dengan jelas. Memikirkannya saja sudah membuat jantung Hana lelah.


Hana kembali lagi kekelas saat ia mendapatkan keputusan. Masih ada satu kelas lagi yang harus dilewatinya sebelum pulang sekolah. Namun langkahnya terhenti saat melihat Gema dan Deryl diujung koridor. Dia sangat jelas dapat melihat Gema akan memukul Deryl. Hana pun berlari menghampiri kedua pria itu. Mencoba untuk menghentikan perkelahian.


"Stop! Stop! Stop!" kata Hana menjauhkan Deryl dari Gema.


"Hana, lo gak usah ikur campur. Balik kekelas gih. " ujar Gema.


Deryl pun juga memberi kode ke Hana agar segera pergi dengan matanya. Namun Hana menolak.

__ADS_1


"Gue bukannya mau ikut campur. Tapi gue gak suka liat ada perkelahian." ucapnya lalu menarik lengan Deryl membawanya pergi meninggalkan Gema.


"Heh! Ngapain sih lo narik gue."


"Hee sorry kak." cepat-cepat Hana melepaskan tangan Deryl.


"Lain kali lo gak usah ikut campur. Ini masalah gue." ujar Deryl lalu pergi meninggalkan Hana.


Gema pun berjalan melewati Hana dengan wajah ketatnya.


"Hati-hati sama dia..." ucapnya.


...


Bel pulang sekolah berbunyi. Semua murid dengan senang bergembira keluar dari kelas masing-masing. Mary sudah menunggu Hana didepan kelas Hana.


"Han... Pulang bareng yuk." ajak Mary.


"Sorry nih, gue ada janji ketemu orang." jawab Hana lesu.


"Siapa?" tanya Nathan dari belakang.


"Ehn anu... Ada... Temen gue." jawabnya.


"Yah... Sayang banget. Oke deh kalau gitu. Gue duluan ya..." Mary melangkah pergi meninggalkan Hana, namun dia kembali. "Nath, bareng yuk."


Wajah Hana berubah. Beraninya Mary mengajak pria yang di sukainya pulang bersama. Tapi Hana yakin, Nathan tak akan menerima ajakan Mary.


"Gue mau ke perpus dulu. Lo luan aja." tolak Nathan dengan nada datar.


"Perpus? Gue ikut deh kalau gitu." kata Mary.


"Lo mau ketemu siapa dan dimana?" tanya Nathan dengan wajah ketatnya.


Hana tak menjawab, bingung harus berkata apa. Dia sudah memutuskan akan memberitahu Nathan nanti setelah bertemu dengan Agatha.


"Yuk jalan." Nathan dan Mary meninggalkan Hana.


"Nih..." Hana menunjukkan pesan dari Agatha.


Nathan pun berjalan mendekati Hana untuk bisa membaca isi pesan tersebut. Matanya menyipit, dahinya mengkerut. Seperti sedang memikirkan sesuatu.


"Gausah dijumpain." ujar Nathan.


"Kenapa?" tanya Hana.


"Ya gak usah aja." jawab Nathan tanpa alasan.


Hana menyimpan ponselnya dan berjalan melewati Nathan. Untuk kali ini dia tidak menuruti perintah Nathan. Hana juga sedikit kesal, Nathan tak pernah memberikan alasan yang jelas.


...


"Hai..." sapa Agatha saat melihat Hana datang.


"Hai..."


"Sorry ya gue ngajakin ketemuan mendadak. " kata Agatha.


"Lo tau gue siapa ga?" tanya nya.


"Agatha kan?"


"Bukan... Maksudnya tau kan gue siapanya Nathan? Nathan ada cerita ga?"


"Ohh... Ada, Nathan cerita semuanya kok."


"Semuanya?"

__ADS_1


"Iya, hehe"


Hana senyum terpaksa. Nathan padahal tidak ada mengatakan apapun soal Agatha selain memberi tau kalau dia mantannya.


"Han, gue masih sayang banget sama dia. Nyesel banget gue ngikutin kata bokap gue buat jauhin dia." jelas Agatha.


"Ha?" heran Hana.


"Sebenarnya gue malu banget curhat ke elo." ujar Agatha. "Gue mau minta bantuan lo buat bisa balikan lagi sama Nathan."


Dub! Jantung Hana berdetak lebih kencang.


"Nih orang maksudnya apa ya?" batin Hana.


"Han, please..." Agatha memohon.


"Sorry Gata gue gak bisa. Maaf banget ya..."


"Kenapa? Lo suka sama Nathan?" tiba-tiba sikap manis Agatha berubah menjadi menyeramkan.


"Memangnya gue gak boleh suka sama Nathan?"


"Lo kira Nathan bakalan suka sama lo?"


"Setidaknya gue gak minta orang lain buat bikin Nathan nembak gue." Hana bangkit dari kursinya.


Agatha mengambil gelas minumannya lalu menyiram Hana dari belakang. Rambut dan tasnya basah. Hana membalik badannya dan menatap Agatha dengan penuh kemarahan. Diapun mengambil minuman miliknya. Bukannya membalas, Hana meminum habis minuman itu.


"Lo gak punya temen ya sampe harus curhat ke orang yang suka sama mantan lo?" ucap Hana. "HAHA Kasian." lanjutnya lalu pergi.


Semua orang di kafe merekam kejadian itu dan menggosipi mereka.


Hana keluar dari kafe dan menemukan Mary memberhentikan mobilnya tepat didepan kafe dengan bak mobil yang terbuka. Ada Nathan juga disana. Hana mengubah arahnya. Dia benar-benar tidak ingin bertemu dengan Nathan. Dia benar-benar ingin menangis.


Nathan keluar dari mobil dan mengejar Hana. Sedangkan Mary mendatangi perempuan yang keluar dari kafe dengan wajah kesal. Sudah pasti itu orang yang membuat Hana menangis.


"Hai, gue Susan. Kalo boleh tau Hana kenapa ya?" tanya Mary.


"Lo temennya kan? Tanya aja sendiri sama dia!" sentak Agatha lalu pergi meninggalkan Mary.


"Hei... Whats wrong with you? Im not her friend." ujarnya dengan nada kecil.


Tiba-tiba Nathan datang dengan Hana. Mereka seperti tak ada kejadian apapun. Sudah tersenyum dan tertawa seperti biasanya. Membuat Mary heran dengan situasi ini.


"Lo pulang aja... siapa nama lo? Gue lupa." tanya Nathan.


"Susan..." jawab Mary. "Gak jadi ke perpus?" lanjutnya bertanya.


"Lain kali aja. Kita duluan ya..."


"Gue anterin, ya?"


"Gak perlu, itu asramanya deket banget. Rumah gue juga gak jauh dari situ."


"Btw, thanks ya." Nathan tersenyum kepada Mary lalu disusul oleh Hana.


...


"Hanaaaa!!!!" pekik Yura dari dalam kamar saat Hana datang. "GUE..." "BALIKAN!"


Tadinya Hana penasaran dengan berita apa yang akan disampaikan Yura. Wajahnya memelas ketika berita itu ternyata berita yang sama dari sebelumnya.


"Gue kira apaan." ujar Hana.


"Loh loh loh! Ini kenapa basah gini?" tanya Yura saat melihat punggung Hana basah.


Hana pun menceritakan apa yang terjadi barusan kepada Yura. Walaupun tak semuanya tapi sudah cukup membuat Yura paham dan membuat Hana sedikit lega sudah bercerita kepada temannya.

__ADS_1


"DAN LO! GUE GAK MAU DENGERIN CURHATAN LO LAGI SOAL GILANG. BYE!" teriak Hana membuat Yura kaget dan loncat dari kasurnya.


Jangan lupa voment ya teman-teman. Karena notif dari wattpad lebih membuat jantung ini berdebar daripada mantan ngajakin balikan.


__ADS_2