
Minggu ujian telah berlalu. Tinggal menuju hasil kelulusan para siswa kelas 12 SMA Adiyaksa School. Demi merayakan berakhirnya ujian, Gema mengundang seluruh teman sekelasnya untuk datang kerumahnya.
"Untuk merayakan berakhirnya ujian kita, gue mau ngundang temen-temen semuanya kerumah gue. Tanpa terkecuali." kata Gema.
Semua murid berteriak kegirangan.
"Boleh bawa pilox sama spidol kan Gem?" tanya Ute.
"Gak boleh."
"Ah...payah lu Gem." kesal Dio.
"Yang mau coret-coret kerumah gue aja." saut Nathan.
Awalnya semua berteriak, setelah tau pemilik suara itu Nathan mereka langsung mereda. Bagaimana tidak, Nathan hampir tak pernah perduli dengan keputusan apapun dikelas.
"MOMENT LANGKA!!!" teriak Mira sambil bertepuk tangan.
"SERIUS LO NATH?" pekik Dio.
"Iya... Serius..." jawab Nathan.
Terlihat wajah Gema yang kesal dengan Nathan. Dia sudah mengepalkan tangannya bersiap untuk memukul meja atau apapun yang berada didekatnya. Namun saat mengayunkan tangannya, Tiffany datang dan pukulan itu mengenai tepat di pelipis Tiffany.
"LO KALO ADA MASALAH BILANG GEM!" teriak Dio. Dia sangat marah karena wanita yang dia sukai terluka.
"Tiffa... Lo gak apa kan?" kata Gema sambil memeriksa wajah Tiffany. "Gue anter ke uks ya..."
Gema pun membantu Tiffany menuju uks untuk memeriksa bekas pukulannya. Dio dan Mira pun serta merta mengikuti dari belakang Gema.
"Di, lo tunggu dimobil aja. Biar gue sama Gema yang urus. Nanti kita bareng ke rumah Nathan. Ini kunci mobil gue." kata Mira.
Setelah melihat Dio pergi, Mira pun berhenti mengikuti Gema ke UKS. Dia sengaja karena tau yang diinginkan Tiffany adalah saat-saat seperti ini berasama Gema.
"Tif... Gue minta maaf ya. Seriusan gue gak sengaja." kata Gema.
"Iya Gema... Tiffa ga apa..."
"Lo tunggu disini gue ambilin kompresan ya."
Saat Gema pergi mencari es ke kantin sekolah, Tiffany bersorak kegirangan karena untuk pertama kalinya dia mlihat wajah khawatir Gema untuknya. Pertama kali dalam kurun waktu 3 tahun lamanya, Gema memegang wajahnya.
"Ini kado terindah sebelum kelulusan." katanya sambil tersenyum.
....
Lagi-lagi Hana menampakkan wajah tak enaknya. Dia sudah punya rencana mengadakan perayaan kecil-kecilan diruang rahasia. Dia bahkan sudah membeli perlengkapan dekorasi dan beberapa camilan karena yakin Nathan tak akan mau bergabung dengan yang lain.
"Yuk..." ajak Nathan.
"Aku pulang aja..."
"Gak! Kamu harus ikut." paksa Nathan.
"Aku gak enak badan." kata Hana sambil berjalan mendahului Nathan.
"Apa lagi sekarang?" tanya Nathan sebelum Hana jauh.
Hana menoleh.
"Aku gak enak badan sayang." ucap Hana lembut.
Nathan pun berjalan cepat menyusul Hana. Dia menggapai tangan Hana lalu menggenggamnya. "Aku anterin, ya."
Hana mengangguk.
"banyak minum air putih, istirahat, tapi jangan lupa makan dulu. Oke?" kata Nathan sambil mengusap kepala Hana. "Aku izin pamit dulu takut yang lain sampai dirumah gak ada aku."
"Iya..." Hana pun masuk keasramanya.
Nathan tau persis pasti ada sesuatu sehingga Hana tak ingin ikut kerumahnya. Namun dia enggan bertanya karena takut semakin membuat Hana tak enakan. Ia juga tak ingin terlalu membesarkan hal kecil lagi semenjak pertengkaran mereka waktu itu.
"Bik... Tolong bikinin minuman dingin sama cemilan yang banyak ya. Temen sekelas Nathan mau datang." kata Nathan saat baru saja memasuki rumah.
"Mas Nathan... Anu... Bapak katanya mau—"
Suara motor yg ramai memutus kalimat bik Disa. Langsung saja Nathan menuju gerbang rumahnya. Dia tak menyangka hampir satu kelas datang kerumahnya. Dan ada Gema juga disana.
"Masuk aja..." kata Nathan.
"Nih Nath... Gue udah beli pilox 12 warna. " seru Dio.
"Dapur lo mana? Gue biar siapin makanan sama minumannya." Mira menyerobot masuk bersama Tiffany.
Terlihat juga Ute yang sibuk menjadi juru parkir dihalaman rumah Nathan.
__ADS_1
"Motor warna merah sebelah sini, motor hitam disebelah sana. Harus rapi." perintah Ute. "Motor lo warna pink bikin ditengah." "Ini warna motornya merah tua. Geser ke paling ujung."
Sebagian orang sudah duduk diruang tamu membentuk grupnya masing-masing. Mulai mengobrol dan menggosip sambil menunggu makanan dan minuman dihidangkan.
"Gue bawa kartu Truth or Dare edisi terbaru. Lets go kita main." kata Saripah.
"Coret-coret dulu dong. Gue udah bawa pilox 12 warna." pekik Dio.
"Nanti aja. Main dulu." kata Saripah.
"Lagian apaan sih mainan lo!"
"Kalau ngga suka gausah ikutan!" bentak Saripah.
"Cie... Saripah udah move on nih ceritanya dari Dio." ledek Hanny.
"Apaan sih lo, Han!" kesal Dio.
Nathan duduk disofa ruang TV sambil mengirim pesan text kepada kekasihnya.
Nathanku💕:
Aku sampai... Yang lain juga udah datang.
Kamu istirahat ya...
Hana Olivia:
Iya...
Have fun!💜
Nathanku💕:
Pap dong.
Hana Olivia:
Aku mau keluar sebentar beli obat ya.
Nathan terkekeh melihat Hana menggantungkan kunci ruang rahasia di ikatan rambut berbentuk kabel telefon yang diletak dipergelangan tangannya.
Semua sudah berkumpul di ruang tamu. Mereka akan memulai permainan kartu Truth Or Dare milik Saripah. Hanya Tiffany, Mira, Dio, Ute, Gema dan Nathan yang dipaksa ikut oleh Tiffany. Saripah sebagai wasitnya.
"Keputusan besar apa yang dulu kamu ambil, dan sekarang kamu sesali?"
Gema langsung menjawab pertanyaan itu dengan cepat karena hanya ada satu hal yang terlintas dibenaknya.
"Menerima perintah orang lain demi menutupi kesalahan untuk mendekati seorang wanita. Dan gue sangat menyesal karena pada akhirnya gue benar-benar menyukai wanita itu." jelas Gema.
"Waoww... Jujur sekali..." kata Dio sambil bertepuk tangan.
Berlanjut ke orang yang berada disebelah kanan Gema yaitu Tiffany karena dia menang hompimpa pada kali ini. Dia mendapatkan koin bergambar yang artinya harus memilih kartu Dare.
"Gendong dipunggungmu teman yang ada disebelah kirimu sambil jalan 10 langkah lalu kembali."
Tiffany melirik Gema yang juga sedang menatapnya. Dia bingung apakah harus benar-benar melakukan perintah itu atau tidak.
"Gendong! Gendong! Gendong! " teriak Mira yang semangat.
"JANGAN! JANGAN! BIAR GUE AJA GANTIIN TIFFA." teriak Dio.
"GAK BOLEH!" saut Saripah sebagai wasit.
"Kasian itu masa Tiffa disuruh gendong cowok." Dio beralasan.
"Kalau gitu biar gue aja yang gendong Tiffa." kata Gema.
Gema pun bangkit dan langsung menggendong Tiffany mengelilingi ruang tamu sebanyak 10 putaran.
"10 langkah bambhank!! Disini ditulis sepuluh langkah kenapa pada diem aja sih!! " pekik Dio yang baru sadar dengan kartunya.
Semuanya tertawa melihat reaksi Dio. Giliran Dio yang berada disamping kanan Tiffany memainkan koin. Dia mendapat koin bergambar.
"Peluk erat teman sejenis disampingmu dan bilang Aku Sayang Kamu!"
Semuanya berteriak kegelian. Sebab yang ada disamping Dio ada Nathan dan Tiffany. Namun kartu menyatakan untuk memeluk teman sejenis.
"TOLONG SEJENISNYA BISA DIHAPUS AJA NGGA?!" teriak Dio kesal.
"Gak bisa." saut Saripah.
"Pah! Gue tau lo suka sama gue. Tapi plis lah ini demi kelangsungan hidup gue Pah. Gue meluk Tiffa aja, ya?" rengek Dio.
__ADS_1
"Peluk gue aja mau ga lo?!" tantang Saripah.
"Dih!! Mending gue peluk Nathan aja!"
Dio pun dengan terpaksa memeluk Nathan dan mengatakan AKU SAYANG KAMU dengan sedikit geli. Nathan merespon dengan wajah jijiknya.
Giliran Nathan. Dia mendapat kartu Truth.
•"Mimpi apa kamu tadi malam? Jika lupa, ceritakan saja mimpi yang kamu ingat selama seminggu terakhir."•
"Gak pernah mimpi." jawab Nathan singkat.
"Jujur aja! Mimpi ena-ena lo kan??" saut Ute.
"Yang gue ingat cuma mimpiin almarhum ibu gue sebulan lalu." kata Nathan.
Semuanya terdiam dan Ute merasa menyesal.
"Yuk lanjut yuk!!! Giliran lo Mir!" Saripah mencoba menormalkan suasana.
Mira mendapatkan koin angka dan membuka kartu Truth. Diam terdiam sejenak melihat pertanyaan yang ada disana. Mimik wajahnya terlihat ketakutan.
"Apa pertanyaannya?" tanya Dio.
"Ehm... Gue skip aja deh..." kata Mira.
"Gak bisa dong, Mir!" kata Saripah.
"Ehm..."
•"Siapa yang cocok jadi pasangan kamu diruangan ini?"•
Mira sangat tidak yakin untuk menjawab pertanyaan ini. Karena orang yang sangat dia sukai juga berada ditempat ini. Beruntunglah dia karena Revan tiba-tiba datang. Dengan sigap Mira menunjuk Revan.
"Bang Revan?" tanya Nathan.
"Iya. Hehe" jawab Mira.* "Untung banget abangnya Nathan lewat*." batinnya.
Merekapun melanjutkan permainan sampai akhirnya Tiffany memiliki kartu paling banyak dan berhak menanyakan dan meminta yang kalah untuk melakukan sesuatu. Dan yang kalah adalah Dio.
"Gimana reaksi lo kalo salah satu diantara kita ada yang suka sama lo?" tanya Tiffany.
"Gue tau lo pasti ngomongin Saripah kan?" tanya Dio balik.
"Bukan. Gue ngomongin Mira."
Mira langsung meremas paha Tiffany karena merasa malu. Dia tidak menyangka usahanya menutupi rasa sukanya terhadap Dio harus dibongkar disaat seperti ini.
"Tiff... Apaan sih lo. Gak lucu tau." kata Mira.
"Udah mau lulusan juga masih aja dipendam. Gue bantuin nih!"
"Emang bener lo suka sama gue Mir? Gue ganteng ya? " tanya Dio dengan pedenya.
"Ini gak ada yang suka sama gue nih? " tanya Ute. "Pah... Sainganlu nambah!" lanjutnya meledek Saripah.
"Diem dulu kalian!!" teriak Dio. "jawab dong Mir."
"Enggalah. Yakali. Ketiaknya bau gitu." jawab Mira.
"*****!!! Kurang ajar lo ya, Mir!"
Ditengah perdebatan, Nathan mengasingkan diri kekamarnya untuk menelfon Hana. Berkali-kali dia menelfon namun nomor Hana tetap sibuk. Membuat Nathan penasaran dan sedikit kesal.
"Telfonan sama siapa sih sampai selama ini?" tanyanya.
.
.
.
.
.
.
.
***Telfonan sama siapa kira-kira ya si Hana?
Jangan lupa like dan komen ya!!
Sorry buat late updatenya. Author benar-benar banyak kesibukan seminggu kemarin buat bikin sinopsi Posesif Nathan. Doain dipilih ya novelnya buat dicetak.
__ADS_1
🙉🙉🙉🙉🙉***