
Sudah beberapa hari kelas tak pernah kedatangan guru. Minggu ini disebut minggu tenang karena minggu depan sudah ujian. Melihat Nathan duduk seorang diri, Tiffany langsung mendatanginya.
"Katanya gak cemburu. Cih..." ledek Tiffanya.
Tiffany sadar Hana menghindar bukan hanya kepada Gema tapi seluruh siswa laki-laki dikelas.
Tiba-tiba Hana datang dengan wajah kesalnya. Tiffany langsung berpura-pura tak melihat lalu kembali kekursinya. Membuat Hana bertanya kepada Nathan namun jawaban Nathan masih seperti biasanya.
...
Hana merampas ponsel yang ada di tangan Nathan walaupun dia tau Nathan tidak menyukai itu.
"Hana! Kamu aku kan bilang paling gak suka hp aku dipegang orang!" Nathan kesal.
Hana masih terus memeriksa dan mencari sesuatu yang sesungguhnya tak ingin dia ketahui.
"Nath..." panggil Hana dengan mata yang berkaca-kaca.
"Udah puas?"
Hana memandangi wajah Nathan. Terlihat raut wajah yang tak biasa disana. Wajah yang penuh dengan amarah dan penyesalan.
Diponsel Nathan, Hana mendapati video dan foto dirinya sejak pertama kali berkenalan. Video dan foto yang diambil oleh Nathan secara diam-diam saat dia mulai tertarik dengan Hana. Itu alasan mengapa Nathan selalu memakai penyumbat ditelinganya dan berpura-pura mengotak-atik ponselnya. Itu juga alasan kenapa Nathan diam saja saat Hana menghadapi masalah dengan Gema ataupun Tiffany dikelas.
Bukan hanya itu, Nathan juga meng-stalking sosial media milik Hana sampai bagian akhir dan menyimpan percakapan mesra Hana bersama mantan kekasihnya saat masih berpacaran. Kontak diponsel Nathan juga cuma ada abangnya, Hana dan bik Disa.
Hana merasa menyesal dengan kecurigaannya.
"Maaf, Nath." kata Hana.
"Iya." kata Nathan singkat.
Nathan masih terlalu kesal dan menyesal. Dia kesal karena Hana tak mempercayainya dan menyesal tak bisa membuat Hana percaya kepadanya.
"Semuanya udah boleh pulang." kata Gema saat baru saja masuk kekelas.
Para murid berhamburan keluar kelas dengan tasnya. Sedangkan Hana dan Nathan masih diposisinya. Saat kelas kosong barulah Nathan mengambil tasnya dan mulai berjalan meninggalkan Hana.
"Apa gak ada sedikitpun rasa penasaran kenapa aku bersikap begini, Nath?" pekik Hana saat Nathan sudah berada di ambang pintu keluar.
"Keatas." Nathan memberi kode dengan jari telunjuknya.
Hana langsung membereskan bukunya dan membawa tasnya menuju ruang rahasia Nathan. Dia sudah bertekad untuk mengakhiri semua yang menjadi kegelisahannya hari ini.
"Kamu kenapa? Ada masalah apa? Ngomong." tanya Nathan saat Hana baru saja sampai diruang rahasia.
"Aku gelisah."
"Gelisah kenapa?"
"Aku liat kamu diam aja dideketin Tiffany, belum lagi aku lihat kamu senyumin Marry dari balik jendela. Dan..." Hana menelan ludahnya. "Apa memang kamu sebaik itu sama semua cewek sampai-sampai mereka mengira kamu suka sama mereka?" lanjutnya.
"Kamu ngomongin apa sih, Han?"
"Kamu jelasin ke aku biar aku gak gelisah lagi!" teriak Hana.
Nathan melemparkan senyum kekesalannya. Dia bahkan tak mengira kalau akan ada masalah seperti ini.
"Pertama, Tiffany yang datangin aku dan aku sama sekali ngga menggubrisnya. Kedua, aku sama sekali gak pernah senyumin Marry atau siapapun lewat jendela kelas. Ketiga, aku gak tau orang yang kamu maksud tapi aku gak akan mau terlihat manis didepan perempuan yang aku suka!" jelas Nathan.
Hana tak bergeming. Dia berjalan mendekati Nathan dan meraih lengan Nathan lalu menjabatnya.
"Baikan, ya?" pinta Hana dengan mata berbinar.
"Hem..."
"Kalau gitu... Nonton yuk?"
"Nonton apa?"
"Toy Story. Yuk." jawab Hana sambil menggandeng tangan Nathan keluar.
"Yang lain?"
"entar kita liat disana aja."
"Yaudah..."
"Tapi makan dulu deh..." "Nanti sampai mall ke toilet dulu ya." "Nanti beli minumnya satu aja." "popcornnya yang manis, ya."
Nathan hanya mengangguk saja mendengar banyaknya permintaan Hana.
Saat baru saja sampai di mall, Hana melihat Revan sedang makan disalah satu restaurant bersama seorang perempuan.
"Bang Revan." kata Hana.
"Mana?"
"Tuh." tunjuk Hana.
"Yaudah yuk gausah disamperin."
"Kenapa?"
"Ya...biarin aja dia."
"Kenapa dibiarin? Dia kan masih pacaran sama kak Hyuna."
__ADS_1
"Hana... Aku minta sama kamu buat gaperlu ikut campur urusan orang lain." ucap Nathan.
"Orang lain?" Hana sedikit kecewa. "AKU GAK MOOD. AKU MAU PULANG. KAMU NONTON SENDIRI" gas nya.
...
Hana melemparkan tasnya kekasur dan langsung berbaring tanpa melepaskan seragam dan sepatu sekolahnya. Lagi-lagi Yura mengejutkannya dengan masker **** diwajahnya.
"Nih pakai..." Yura melempar masker gambar monyet kewajah Hana.
Tanpa berfikir panjang Hana langsung merobek bungkusan masker dan memakaikannya diwajah tanpa mencuci muka.
"Kenapa lo?" tanya Yura setelah setengah jam terdiam.
"Emangnya salah ya kalau gue ikut campur hal yang menyangkut tentang kakak gue?" tanya Hana.
"Bisa salah, bisa ngga sih. Tergantung masalahnya apa."
"Tadi gue liat bang Revan sama cewe lain padahal yang gue tau dia masih pacaran sama Hyuna."
"Temen kantornya kali."
"Ya makanya itu gue pengen samperin buat mastiin. Emang salah?"
"Terus kenapa ngga lo samperin?"
"Nathan ngelarang gue ikut campur. Sebel banget gak sih."
Yura mendaratkan bokongnya dikasur Hana dan duduk disamping Hana yang berbaring.
"Han... Lo itu pacarnya Nathan. Mungkin kalo lo bukan pacarnya ya sah sah aja lo mau datangin Revan." kata Yura. " Dia cuma gak mau lo jelek dimata abangnya."
"Gue kan bukan mau ngelabrak, Yur."
"Apapun itu, Han..."
Sementara itu Nathan duduk didepan TV sambil menunggu Revan kembali. Dia juga sangat penasaran dengan wanita yang makan bersama Revan tadi siang.
"Eh Nath... Tumben duduk disini." kata Revan yang baru saja kembali.
"Dari mana bang? Bukannya libur ya?"
"Ada rapat dikantor. Bik Disa mana?"
"Gimana kabar lo sama kak Hyuna?" tanya Nathan serius.
"Wah... Kebetulan banget lo nanya dek. Gue mau ngelamar Hyuna bulan depan. Lo libur tanggal berapa?" Revan duduk disebelah Nathan sembari membuka dasinya.
"SERIUS?!" Nathan terkejut.
"Iya. Memangnya tampang gue gak serius?" tanya Revan. "Eh bik Disa mana deh? Gue mau nanyain dia soal lamaran. Hihihi..."
"Punya sih... Tapi gue pengen bandingin sama yang dibilang bik Disa. Kalo temen kantor gue mah semuanya meninggi. Permintaannya kayak gue orang kaya aja."
"Lah kan emang lo orang kaya."
"Apalah arti kekayaan ini dek... Cuma sementara..." ucap Revan membuat Nathan bangkit dan kembali kekamarnya.
Pesan text ke Hana.
Nathankuđź’•:
Sayang...
Maaf ya...
Hana Olivia:
Ya
Nathankuđź’•:
Pap dulu...
Hana Olivia:
Nathankuđź’•:
Lagi dimana?
Hana Olivia:
Diluar. Cari angin.
Kamu pap!
Nathankuđź’•:
Pulang sekarang.
Hana Olivia:
Aku bercanda.
__ADS_1
Aku dirumah.
Nathankuđź’•:
Itu foto kapan?
Hana Olivia:
Foto lama. Sebelum kita kenal.
Nathankuđź’•:
Tapi kenapa aku liat kamu ya sekarang.
Liat kearah jam 10.
Hanapun menoleh dan mendapati Nathan berdiri sambil berpura-pura tak melihatnya. Dia berbohong namun malah balik dibohongi oleh Nathan.
"Dasar pembohong." ucap Nathan dari kejauhan sambil tersenyum.
Hana tak bergerak. Dia tetap diam ditempatnya. Nathanpun berjalan mendatanginya.
"Udah makan malam?" tanya Nathan.
"Belum."
"Makan yuk." ajak Nathan.
"Males."
"Yaudah kamu tunggu sini, aku beliin makan, ya?"
"Enggak usah." ucap Hana ketus.
Tanpa sungkan Nathan langsung menggendong Hana dan membawanya pergi. Membuat Hana meronta-ronta meminta untuk diturunkan.
"Nath!! Ih turunin malu tauk!"
"Abis kamu diajak makan aja susah."
"Iya iya kita makan. Turunin aku." pinta Hana.
"Bener?"
"Iya..."
Nathan pun menurunkan Hana dan mereka berjalan menuju restoran korea terdekat.
"Soal bang Revan..." Nathan membuka obrolan.
"Gausah dibahas lagi."
"Bener gak penasaran?"
"Katanya gausah ikut campur urusan orang."
"Oh... Yaudah kalau gitu..." pasrah Nathan.
Mereka pun mulai melahap makanan yang sudah dihidangkan.
"Kamu tadi kesini sendirian?" tanya Nathan.
"Iya sendi— ASTAGA!! TADI AKU BARENG YURA. AKU LUPA TADI DIA BELI MINUMAN." Hana langsung mengambil ponselnya dan menelfon Yura.
"Eh Yur... Gue lup—a...Yur... Lo kenapa?" tanya Hana ketika mendengar Yura menangis.
"Gu—gue kira lo diculik Hanaaa!!! Gue telfonin tapi lo gak angkat!!!"
Hana tersedak dan terkekeh. Dia tak menyangka Yura yang terkenal dengan sikap tenangnya malah terdengar sangat ketakutan. Hana pun menyuruh Yura untuk menyusulnya ke restoran.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Emang tadi mau ngomong apa?" tanya Hana saat sudah sampai didepan asrama.
"Ngomong yang mana?"
"Yang masalah bang Revan."
"Gak apa. Nanti kamu juga tau sendiri." kata Nathan.
JANGAN LUPA DI LIKE YA GUYSđź’•đź’•
__ADS_1
JANGAN LUPA FOLLOW DAN BERI RATING ya!!!
much loveeeeeeđź’•đź’•đź’•đź’•