POSESIF NATHAN

POSESIF NATHAN
Bagian X


__ADS_3

-revisi-


Seperti hari-hari biasa, Nathan dan Hana selalu bertemu didepan asrama saat menuju sekolah. Sedangkan Mary sengaja menunggu mereka diparkiran sekolah. Akhir-akhir ini mereka menjadi dekat karena Hana selalu mengajak Mary kemanapun dia pergi apalagi ada Nathan. Tak ada alasan Mary untuk menolak ajakan Hana. Baginya ini kesempatan yang bagus untuk memata-matai Hana dan Nathan.


"Nanti istirahat ketemu di kantin ya..." ajak Mary ke Hana dan Nathan.


Hana mengangguk sedangkan Nathan tak merespon. Dia hanya berjalan sambil memasang earphonenya menuju kelas membiarkan Hana ketinggalan dibelakangnya.


"Kapan sih Nath, lo mau sejajarin jalan lo dengan gue. Huh." keluh Hana dalam hati.


Kelas pertama harusnya sudah dimulai. Namun sudah lewat sepuluh menit guru belum juga datang. Tiba-tiba Mira dengan wajah kesalnya mendatangi Hana dan menggebrak meja dengan tangannya. Membuat seisi kelas terkejut.


"Lo anak baru! Gausah belagu!" bentak Mira


"Mira gak boleh gitu!" Ucap Tifanny.


"Jadi lo belain anak baru itu?"


"Bukan gitu, Mira. Tiffa ga suka berantem-berantem." Tiffa menghela nafasnya. "Apalagi berantemnya sama orang baru, gak baik." nada suara berubah tegas.


Mira sebagai sahabat Tiffa ikut sakit hati dengan kejadian beberapa hari yang lalu. Ditambah lagi Tiffa selalu mencurahkan kesedihannya kepada Mira. Sebenarnya Mira itu baik, hanya saja dia gampang terprovokasi dan sensitif dengan hal seperti itu.


Mary tiba-tiba muncul dan memukul meja dimana Hana di bully.


"Terus kalo anak baru kenapa?" pekik Mary.


"Eh, Mary. Bukan bilangin lo kok." kata Tiffa.


"Gue juga anak baru!" pekik Mary.


"Kan bukan dikelas kita." Mira berdalih.


"Gue juga anak baru! Masalah lo dimana?" Mary bertanya lagi.


"Jangan sampe lo bedua jadi anak baru disekolah lain." ancam Mary.


Gema yang baru saja kembali dari kantor guru memberikan kabar kalau guru Geografi mereka sedang berhalang hadir dan kelas dibebaskan, membiarkan para wanita itu bertengkar dan memilih kembali duduk dikursinya. Selain karena ia sakit hati dengan penolakan Hana tempo hari, ia juga sedang berusaha untuk tidak perduli terhadap Hana lagi.


Nathan juga hanya pura-pura tak mendengar. Dia masih menyumbat telinganya dengan earphone. Sedangkan Hana membungkam. Matanya sudah berkaca-kaca namun masih bisa dibendungnya. Dia pun beranjak dari kursinya dan pergi keluar kelas sendirian.


"Berhenti disitu." saut seseorang dari belakangnya.


Hana langsung berhenti seketika tanpa tau siapa yang menyuruhnya. Dia memutar balik kepalanya dan mendapati Deryl sedang berjalan menuju kearahnya.


"Kebiasaan..." katanya sambil mengikatkan tali sepatu Hana.


"Eh kak gak perlu diikatin juga. Gue bisa sendiri." kata Hana.


"Abis nangis apa baru mau nangis?" tanya Deryl.


"Ha?" Hana terheran.


"Nih, buat jaga-jaga." Deryl memberikan sapu tangan miliknya lalu berjalan melewati Hana menuju kelasnya.


...


"Lo kenapa disini? Memangnya gak ada kelas?" tanya Nathan ke Mary yang duduk disampingnya.


"Tadi gue mau ketoilet lewat sini dan gak sengaja denger. " jawab Mary.


"Jadi nama lo Mary? Bukan Susan?"


"Nama gue Mary Susan Chwe."


"Chew?"


"No! Chwe."


"Oh, Cuwe?"


"Nathan! Ce Ha We E."


"Bercanda gue..." Nathan tersenyum tipis.


Mary merasakan setruman dijantungnya setelah melihat senyuman Nathan. Nathan mulai mengakrabkan diri dengan Mary semenjak gadis itu membela Hana.

__ADS_1


"Gue balik dulu ya." Mary pun buru-buru meninggalkan kelas itu.


...


Bel istirahat berbunyi, seperti biasa genk Hitam sudah duduk dikursi kerajaan mereka. Celotehan gak jelas dari Andre selalu menjadi pembukaan.


"Ada cerita lucu guys sumpah ngakak banget gue pagi-pagi dibikin ade gue." kata Andre.


"Males cerita lo basi mulu." pekik Haris.


"Yee... Dengerin dulu."


"APAAN BURU!" Paksa Gilang.


"Gue lagi ribet nih ya mau berangkat. Bisa-bisanya si Aboy nangis datang kekamar gue. Sedih banget lagi nangisnya."


"Kenapa nangis si Aboy?" tanya Gilang penasaran.


"Jadi dia ngomong gini, 'Bang, Aboy baru tau kalau kita ini cuma berak nya mama. Pas mama berak, kita hidup. Aku jadi takut berak. Kalau aku berak terus ada yang berkembang gimana kak?' gitu."


"DIH LO NDRE LAGI MAKAN JUGA GUE" hardik Susan.


"Mampus." Kata Andre.


"Ya Lord... maafin Andre ya Susan. Nanti kalau udah selesai makan Andre lanjutin ceritanya." Gilang duduk perlahan.


"Der, ada yang mau lo bilang ga kekita?" tanya Haris.


"Memangnya apa?" Deryl balik nanya.


"Yah, gue sih yakin ada." Ucap Haris.


"Menurut lo apa? Kayaknya lo nih yang mau ngomong."


"Lo ada apa sama Hana?" tanya Haris langsung.


"Memangnya gue sama Hana ada apa?" Deryl balik bertanya.


Haris melirik kearah Deryl seakan matanya berbicara. Begitu pula dengan Deryl.


"Susah banget ya ngerjain lo." Haris melemparkan kerupuk kulit yang ada ditangannya ke Deryl.


Haris tau Deryl menyimpan sesuatu namun tak ditanyanya karena dia mengerti kalau Deryl pasti akan memberitahu sendiri nantinya. Ditambah lagi Hana baru saja tersenyum menyapa Deryl saat berjalan kekantin bersama Mary.


...


Saat kelas berakhir, Mary sudah berdiri didepan kelas ips 1 menerjang arus keluarnya murid yang ingin segera pulang bak banjir bandang untuk menunggu Nathan dan Hana. Namun ia hanya melihat Nathan yang sedang memiliki tugas kebersihan kelas dan Hana sudah tak ada.


"Hana mana, Nath?" tanya Mary.


"Gak tau. Pulang duluan kali." jawab Nathan sambil menghapus papan tulis.


"Oh... Tadinya gue pengen ngajakin makan."


"Oyaudah, sebentar lagi gue kelar kok."


Mary masuk kedalam kelas dan menaikkan kursi keatas meja dalam keadaan terbalik. Dia ingin membantu Nathan membersihkan kelas agar bisa selesai lebih cepat. Melihat itu langsung saja Nathan mengambil kursi yang sudah hampir diangkat Mary.


"Lo tunggu diluar aja."


"Gak apa gue bantu aja. Biar cepat."


"Nih... hapus papan tulis aja." kata Nathan sambil memberikan penghapus.


Setelah selesai membersihkan kelas, Nathan dan Mary pergi meninggalkan sekolah. Nathan berkali-kali menghubungi Hana namun tak mendapat jawaban. Akhirnya mereka makan berdua dicaffe yang tidak jauh dari sekolah.


"Lo kenapa pindah kesini?" tanya Nathan disela menunggu makanan datang.


"Jadi my daddy ask me to stay in Indonesia. Karena gue udah lama banget ninggalin dia dan tinggal sama grandma di Amerika. So, daddy nyuruh gue gantian sama abang gue."


"Oh, lo punya abang."


"Punya... We are twins." Ucap Mary bangga.


"Ohh..."

__ADS_1


Pandangan Nathan teralih ketika dilihatnya Hana dan Deryl memasuki caffe bersama-sama. Hana tak menyadari ada Nathan dan Mary disana.


"Itu pacar Hana ya?" tanya Mary dengan suara kecil. "Beberapa kali gue ngeliat mereka berdua." lanjutnya.


Nathan bangkit dari kursinya dan mendatangi Hana. Menarik lengan gadis itu dan membawanya keluar dari cafe.


"Lo ngapain sama dia?" tanya Nathan.


"Lo juga ngapain berdua sama dia disini."


"Makan."


"Sama gue juga."


"Mana hp lo? Kenapa telfon gue gak lo angkat? Buang aja Han hp lo kalo gak bisa ngangkat telfon!"


"Nath? Lo kenapa sih? Udah ah gue belum pesen makan."


"Nih lo pake dulu ini." Nathan mengalungkan kalung inisial N yang belum sempat dia pakaikan. "Abis makan lo pulang sama gue. Jangan sama dia."


"Dih ngapa sih lo? Cemburuan gak jelas!."


"Ada yang mau gue bilang sama lo!" - "Penting!" tegas Nathan.


"Iya! Bawel!" Hana pun pergi mendahului Nathan.


Mary hanya bisa melihat dari jendela cafe. Dia melihat Nathan memasangkan kalung dan juga melihat wajah marah Nathan.


"Nathan suka sama Hana?" tanya Mary dalam hati.


...


Nathan duduk dibibir kasurnya sedangkan Hana duduk di kursi kayu disudut kamar Nathan. Keduanya saling membisu menunggu satu sama lain membuka suara.


"Udah berapa kali lo ketemu Deryl tanpa sepengetahuan gue?" tanya Nathan langsung.


"Sering lah disekolah. Jalan mau ke toilet, diperpus, dikantor guru, terus dimana lagi ya, oiya! Dikantin depan, kantin belakang." jawab Hana polos.


Nathan berjalan mendekati Hana meraih kotak penyimpanan yang bisa dijadikan kursi dan duduk dekat sekali dengan Hana, bahkan kulit tangan mereka bersentuhan. Membuat jantung Hana ingin meledak untuk keseribu kalinya.


"Mulai besok, lo usahain gak ketemu dia gimanapun caranya." titah Nathan.


"Alasannya?"


Cup! Satu kecupan cepat mendarat dipipi kanan Hana.


"karna mulai besok lo jadi pacar gue."


Hana bangkit dari kursinya, berjalan beberapa langkah kedepan Nathan dan membelakanginya.


"Apaansih lo, Nath?" kesalnya.


"Kenapa? Lo nolak gue lagi?"


"Lagi? Kapan lo nembak gue? Gak pernah perasaan." Hana diam sedetik. "Sekarangpun lo gak nembak gue. Lo merintah." ucapnya. "Pokoknya nggak gue gak mau. Gue masih punya hati yang harus gue jaga." lanjut Hana.


Bibirnya bergetar. Padahal ingin sekali dia menerima Nathan. Tapi demi harga dirinya dia menolak mentah-mentah perintah Nathan yang satu ini.


"Okey! Kalo gitu kita bestfriend kan sekarang?"


"Memangnya selama ini lo anggep gua apa, nyet?" Hana menoyor kepala Nathan.


Tiba-tiba ponsel Hana berdering. DEngan sigap ia mengangkat telfon itu dan berjalan menjauhi Nathan.


"Halo kak?"


"..."


"Seriusan?"


"..."


"Huaaa...Love you too."


Mata Hana berbinar-binar saat mendapatkan telfon itu. Membuat Nathan kesal dan mengepalkan tangannya. Dia pikir itu pasti Deryl.

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak. Kasih comment atau vote gitu...


Follow aja ntar aku follow balik.


__ADS_2