POSESIF NATHAN

POSESIF NATHAN
Bagian XII


__ADS_3

REVISI


Malam sebelum Nary dan Hyuna ke Indonesia.


Langit mulai gelap namun Mary masih dengan seragam sekolah yang ditutupi sweater merah tua duduk manis dikursi pengemudi mobilnya sambil menunggu Nathan keluar rumah bak mata-mata profesional. Sudah hampir sejam dia berada didalam namun tak menemukan tanda-tanda Nathan keluar rumah. Dilihatnya satu-persatu lampu mulai dinyalakan dan seorang wanita tua menutup pintu gerbang rumah.


"Lo ngapain?" tanya Nathan mengetuk kaca mobil Mary.


Mary terkejut setengah mati. Dia nyaris lompat dari kursi pengemudi. Jantungnya berdegub tak beraturan. 


"Gu... Gue... Mau ngajak lo jalan." ucap Mary spontan.


"Oh..." Nathan berfikir sejenak.  "Naik mobil lo aja, ya? "


"Boleh banget!"


Ini bukan rencana awal Mary. Dia tak bermaksud mengambil kesempatan didalam kesempitan ini. Hanya saja dia merasa ini peluang yang baik untuknya agar dapat menggali informasi lebih dalam lagi mengenai perasaan Nary terhadap Hana.


"Mau kemana emang?" tanya Nathan yang duduk dikursi penumpang.


Mary menyetir sambil berkutat dengan ponselnya. Dia berusaha membuka google mencari tempat terbaik untuk dikunjungi saat malam. Nathan melihat Mary kesusahan pun menawarkan bantuan.


"Lo mau nyari apa di hp lo?" tanya Nathan. "Kalau boleh gue aja yang cariin." sambung Nathan.


"Em... gue... sebenarnya gue gak tau mau jalan kemana." ucap Mary dengan menyesal.


"Lagi males pulang ya lo?" Nathan menebak.


Mary mengangguk. 


Nathan membawa Mary ketaman bermain ditengah kota.  Disana mereka bermain wahana kecil seperti family coster dan komedi putar mini.  Mereka juga bermain mesin boneka capit beberapa kali.


"Nath!!  Itu bagus!!" seru Mary menunjuk boneka anjing warna coklat.


Nathan berusaha meraih boneka itu dan berhasil mendapatkannya dari sepuluh kali mencoba.  Lalu memberikan boneka itu kepada Mary. Setelah itu mereka berkeliling pasar malam dimana banyak sekali orang yang menjual beberapa pernak-pernik maupun souvenir murah.


"Ini bagus gak?" tanya Nathan menunjukkan gantungan kunci berbentuk kunci hati. 


"Bagus!" jawab Mary semangat.


Nathan tersenyum bangga dengan barang pilihannya. Melihat itu Mary ikut tersenyum.


"Weekend ini lo kemana?" tanya Mary.


"Gue... Eum... Gak ada sih. Kenapa?"


"Ada film baru dibioskop. Lo mau nemeni gue ga?" tanya Mary sedikit ragu.


"Nonton, ya?" Nathan diam sejenak.  "Boleh deh..."


Setelah sampai diparkiran mobil, Mary melempar sembarang boneka pemberian Nathan kekursi belakang. Lalu ia mengantar Nathan kembali kerumahnya.


"Nath... Thankyou for today. " ucap Mary.


"Sama-sama." balas Nathan tersenyum.


Mary melajukan mobilnya diiringi dengan lambaian tangan Nathan yang masih terlihat jelas dari kaca spion. Sesaat setelah Nathan menghilang dari pagar rumahnya, Mary mendadak menghentikan mobilnya. Dia berteriak kecil didalam mobil lalu bergegas mengambil boneka yang telah ia lempar kebelakang.


"Sorry ya boneka." ucapnya sambil mendudukkan boneka itu dikursi belakang.


Baru saja ia kembali duduk dikursi pengemudi dia teringat sesuatu dan kembali kekursi belakang mendatangi boneka itu. Dipasangkannya sabuk pengaman agar boneka itu tak terjatuh.


"Duduk tenang disini ya." Mary tertawa.


•••


Sudah hampir sejam lebih Nathan menunggu Hana didepan asramanya pagi ini.  Dilihatnya mobil Revan berhenti tepat didepan asrama dan Hana keluar dari sana dengan beberapa koper yang ditentengnya. 


"Butuh bantuan?" pekik Nathan.


"Nathan..." Hana berlari memeluk Nathan membuat pria itu heran.


"Lo gak apa-apakan?"


"Ha? Sorry..." Hana pun melepas pelukan itu.


Nathan mengambil yang ditenteng Hana dan menderek koper kuning milik Hyuna. Ia tak membiarkan Hana kelelahan.


"Cowok gak boleh masuk tau..." kata Hana.


"Liat aja..." ucap Nathan. "Pak!" serunya.


Dengan santai ia menyapa satpam seolah sudah sangat kenal. Benar saja, satpam itu malah tersenyum dan berbalik menyapa Nathan. Mereka juga berpapasan dengan Yura dan Gilang saat baru saja sampai dilantai 10.


"Cie... Yang berdua..." ledek Yura ke Hana.


"Apaan sih lo!"


Nathan dan Gilang saling melirik satu sama lain. Mereka sadar betul kalau tidak boleh ada pengunjung pria disini.


"Gue agenda mingguan dulu ya sama Gilang.  Hati-hati lo berdua." kata Yura sambil tertawa.


Hana membuka pintu kamarnya dan tak membolehkan Nathan masuk. Namun dengan santai Nathan menerobos masuk dan matanya menyusuri setiap sudut kamar.


"Dih, Nath! Liat apaansih?" 


"Aura kamar lo gak bagus."


"Maksud lo apaan ih. Jangan bikin takut."


"Ini kasur lo?" Nathan menduduki kasur Hana.


"Iya." jawab Hana sambil merapikan barang.


"Empuknya..." Nathan malah selonjoran dikasur Hana.

__ADS_1


Hana menggeleng kepala.


"Tadi malam lo pergi sama siapa?" tanya Hana.


Nathan langsung bangkit dari kasur Hana.


"Sama......adadeh... Jadi pacar gue dulu baru gue kasih tau." tawar Nathan.


"Yaelah,  Nath.  Gitu amat." sesal Hana. "Lo pergi sama cewe kan tadi malam?"


"LO CEMBURU YA?" Nathan menedekatkan tubuhnya ke Hana sehingga Hana dapat melihat wajah Nathan dengan jelas.


"Ha?  Narsis banget lo!" Hana mendorong tubuh Nathan.


"Ikut gue yuk." ajak Nathan.


Hana pun bersiap-siap dikamar ganti sedangkan Nathan menunggu dilobby asrama. Tak lupa juga dia memakai kalung pemberian Nathan. 


Saat baru saja mereka berdua keluar dari pintu asrama terlihat Nary dan Mary berdiri menunggu didepan mobil merah milik Mary.


"Nary..." ucap Hana.


"Kok lo bisa disini?" tanya Nathan ke Mary.


"Gue nganterin abang gue buat ketemu sama pacarnya." kata Mary.


"Oh ini kembaran lo itu?" tanya Nathan.  "Kenalin,  gue Nathan temen sekolahnya Mary.  Dan ini pacar gue,  Hana." kata Nathan sengaja.


"Mary? Nary? Gue gak paham." ucap Hana.


"Han... Aku mau ngomong sama kamu." pinta Nary.


Nary membawa Hana kedalam mobil dan berbicara empat mata disana. Nary benar-benar patah hati karena Hana. Namun Hana lebih sakit hati karena Nary tak pernah memberitahu kalau dia punya kembaran.


"Hana,  Mary itu kembaran aku. Selama ini dia tinggal di Amerika nemenin nenek aku. Dan dia kesini buat gantian—"


"Cukup Nar..."


"Hana, i miss you." mata Nary ada bendungan. Dia memeluk Hana dengan erat dan Hana membalas pelukan itu.  "Aku balik buat lepas rindu kekamu."


"Kamu berapa lama disini?" tanya Hana yang masih memeluk Nary.


"Aku bakal sebulan penuh disini ngabisin liburan musim panas sekolah." jelas Nary.  "Aku bakal antar jemput kemanapun kamu mau pergi." lanjutnya. "Tapi... Kamu beneran pacaran sama dia?" Nary menunjuk Nathan.


"Dia Nathan sahabat aku disini. " kata Hana.


Nathan dari luar jendela dapat dengan jelas Hana memeluk Nary. Dia langsung pergi darisana dengan keadaan marah dan kesal. Melihat itu Hana langsung keluar dari mobil dan mengejar Nathan.


"Nath!!  Tungguin. " teriak Hana.


Nathan tak menggubris.  Dia hanya pergi menuju ruang rahasianya disekolah.


"Nathan!!!  Lo kenapa sih?" teriak Hana lagi.


"Nathan!!!" Hana tak segan-segan memeluk Nathan dari belakang agar pria itu berhenti dan mendengarkannya.


"Nathan dengerin gue! Iya dia orang yang gue maksud. Dia orang yang hatinya lagi gue jaga.  Dia pacar pertama gue, Nath. Dia yang ngasih kalung itu juga." Hana masih memeluk Nathan dari belakang.


"Oh... Kalau gitu gue mau bilang makasih kedia."


"soal apa?"


"Karena dia udah buat lo meluk gue dua kali hari ini." kata Nathan.


"Nath... Sebenarnya... Gu—gue..." Hana terbata-bata. "Sebenarnya gue mau lo nembak gue dengan cara yang benar." kata Hana dalam hati.


"Ini buat lo." Nathan memberikan kunci ruang rahasia dengan gantungan kunci hati yang dia beli tadi malam. "Ruangan ini bakal jadi ruangan gue sama elo. Gue harap lo jangan pernah bawa pacar lo itu kesini."


"Nath..." rengek Hana.


"Apa?"


"GUE TUH SUKA SAMA ELO." teriak Hana dalam hati.


"Pergi sana.  Pacar lo udah nungguin." kata Nathan.


"Tadi kan elo yang ngajakin gue pergi."


"Jadi lo lebih milih pergi bareng gue ketimbang pacar lo itu?"


"Nathan... Gue belum pacaran lagi sama dia."


"Oke kalau gitu.  Lo perginya sama gue."


Terik matahari mulai menyengat dikulit. Namun Mary dan Nary masih tetap berdiri didepan gedung asrama Hana. Dari kejauhan Nathan menggenggam tangan Hana dan membawanya menuju mobil Mary.


"Yuk..." kata Nathan.


"Kemana?" tanya Mary.


"Tapi lo ngajakin nonton. Ayuk buruan." ajak Nathan sambil duduk dikursi belakang bersama Hana.


Wajah kesal Mary sangat terlihat dengan jelas. Dia benar-benar menyesal mengantarkan kembarannya menemui Hana kalau tau akan berakhir seperti ini.


Mary menyetir mobil dan Nary duduk dikursi depan. Nathan pun memindahkan boneka milik Mary yang masih terpasang seatbelt ke bagasi belakang. Nathan tiba-tiba berubah menjadi orang paling ceria saat ini.


Saat tiba dimall, Nary turun dan membukakan pintu untuk Hana. Dia bahkan menggenggam erat tangan Hana seakan tidak mau kedahului oleh Nathan.


"Kamu mau ke toilet dulu ngga?" tanya Nary ke Hana. Dia masih hafal betul kebiasaan Hana.


"Boleh..." jawab Hana.


Mary mendekati Nathan.


"Lo pacaran sama Hana?" tanya Mary.

__ADS_1


"Belum... Tapi akan." jawab Nathan santai.


"Tapi Nary sama Hana masih pacaran loh."


"Gue percaya sama Hana. Dia bilang mereka belum balikan."


"Tapi 99% sih mereka balikan." kata Mary.


"Yaudah sih..." respon Nathan datar.


Saat Hana keluar dari toilet dengan segera Mary menggandeng tangan Nathan dan menariknya pergi.


"Yuk..." kata Nary saat melihat Hana melihat Nathan.


"Yuk..."


Mary sibuk mengoceh hal yang tidak penting kepada Nathan. Dia membuat situasi seolah-olah dia sudah sangat akrab dengan Nathan. Dia ingin menunjukkan kepada Hana kalau Nathan sedang dekat dengannya.


"Nathan... Ini mirip boneka yang lo kasih kegue gak sih?" pekik Mary saat melihat boneka anjing yang dipajang didepan toko boneka.


"Nathan... Besok-besok ajak gue lagi main di taman ya..." kata Mary lagi dengan suara agak sedikit besar berharap Hana mendengarnya.


Melihat ekspresi Hana, Nathan justru semakin membuat Mary berada diatas awan. Dia sangat senang melihat ekspresi cemburu Hana padahal dia sedang bersama Nary.


"Iya... Nanti gue ajakin." kata Nathan.


"Laper gak sih?" tanya Hana.


"Iya laper. Tapi belom beli tiket nonton." jawab Mary.


"Yaudah. Gue sama Nary beli tiket kalian cari tempat makan." kata Hana lalu pergi bersama Nary.


"Eh!Eh!Eh! Udah biar gue aja. Kalian bertiga cari tempat makan." Nathan menghentikan langkah Hana.


Diapun pergi ke bioskop dan memesan tiket untuk empat orang. Lalu kembali menuju tempat makan yang sudah ditentukan.


"Kita punya waktu sejam lagi buat makan. Jadi santai aja ya." ucap Nathan tapi matanya ke arah Hana.


Merekapun melahap makanan mereka masing-masing kecuali Mary. Dia sedang diet.


Saat tiba di bioskop, Nathan memberikan masing-masing tiket. Dia sengaja memberikan tiket satu orang satu, bagaimana tidak, Nathan memesan kursi di dua tempat yang berbeda. Kursi deretan D9-D10 untuknya dan Hana sedangkan A1-A2 untuk Mary dan Nary. Memang ada saja akal makhluk bernama Nathan ini. Hana pun tertawa kecil saat tau Mary dan Nary berada jauh diatas mereka.


"Lo bisa aja sih, Nath!" Hana cekikikan.


"Kan gue udah bilang... Lo perginya sama gue. Jadi lo harus bareng gue." kata Nathan.


"Ya kan itu disebelah lo juga masih kosong.kenapa harus jauh banget gitu sih.hahaha" Hana tidak bisa berhenti tertawa.


"Jadi lo gak mau duduk bareng gue? Biar gue tukeran sama Nary. Biar gue duduk berdua sama Mary." Nathan sudah bangkit dari kursinya namun ditahan oleh Hana


"Duduk! Filmnya udah mulai." kata Hana.


Saat keluar dari bioskop Hana dan Nathan sibuk membicarakan film yang barusan mereka tonton. Mary dan Nary hanya terdiam melihat keduanya tampak senang. Nary menarik tangan Hana dan membawanya pergi jauh dari Mary dan Nathan. Nary hanya ingin berdua dengan Hana.


"Kenapa ninggalin mereka, Nary?" tanya Hana.


"Mary suka sama Nathan. Biarin mereka berdua. Hehe..."


Ucapan Nary menusuk sampai ke ubun Hana. Tanpa sadar karena ucapan Nary dia kehilangan moodnya seharian.


"Nih aku bawain coklat." Nary memberikan sebungkus coklat kesukaan Hana dulu.


Hana meraih coklat itu dan memakannya dengan lahap dengan satu gigitan.


"Memang ya... Coklat itu makanan kamu kalau lagi badmood." Nary tersenyum. "Kamu suka ya sama Nathan?" tanyanya lembut.


Nary memegang kedua pundak Hana. Menatap gadis itu dalam-dalam. Nary tau persis bagaimana mata Hana berbicara.


"Kalau dia nyakitin kamu, jangan sungkan buat bilang ke aku." ucap Nary.


"Nary? Kamu gak apa kan?" tanya Hana dengan wajah menyesal.


"Aku gak apa, Hana. Aku udah bersyukur bisa bareng sama kamu 4 tahun terakhir. Mungkin sekarang udah waktunya orang lain buat jagain kamu." mata Nary sayup. Pipinya basah terkena air matanya.


"Nary kamu jangan nangis. Nanti dikirain orang aku jahatin kamu."


"Kan kamu emang udah jahatin aku, Hana. Hahaha" Nary terkekeh.


Padahal dalam hatinya sudah seperti disayat pisau yang baru saja diasah. Seperti tertusuk benda tajam. Seperti dilempar kedalam jurang terdalam. Namun dengan cintanya yang besar terhadap Hana, Nary mampu merelakan kebahagiannya untuk orang lain. Pria lembut dan baik ini masih tetap seperti dulu walau Hana tidak lagi.


"Soal Mary suka sama Nathan kamu serius?"tanya Hana.


"Iya, serius."


Langit mulai gelap. Tanda hujan akan turun. Entah akan ada pelangi atau malah akan ada badai susulan. Tapi yang jelas saat ini Hana sudah lega. Tak ada hati yang perlu dia jaga lagi. Tinggal soal Nathan. Bagaimana caranya agar Nathan meminta Hana untuk menjadi kekasihnya dengan cara yang benar.


.


.


.


.


.


.


Jangan lupa di like dan comment yaaaa!!!


Bagaimana ya dengan perasaan Nary ketika tau Hana lebih memilih pergi dengan Nathan?


Kalian tim HaNathan atau HaNary nih?


Buat yang pengen tau roleplayernya bisa check instagram: @ skyhangs.novel

__ADS_1


__ADS_2