
Bel istirahat sekolah berbunyi. Nathan duduk bersebelahan dengan Dio dan kawan-kawan untuk menghabiskan semangkuk bakso. Kalau bukan karena sangat kelaparan, dia tidak akan makan dikantin karena ada yang mengusik pemandangannya. Deryl dan Haris kedapatan berkali-kali mencuri pandangan kearah Nathan. Dia tau betul kalau mereka sedang membicarakan dirinya.
Tak butuh waktu lama untuk Nathan menghabiskan semangkuk bakso. Merasa dirinya sedang diperhatikan dia langsung membayar baksonya dan pergi dari kantin menuju ruang rahasianya.
Tiba-tiba seseorang mendatanginya.
"Nath, pas banget Agatha nelfon nih." Ola memberikan ponselnya ke telinga Nathan.
"Ya?" Nathan berbicara di telefon.
"..."
"Oh gitu. Okelah."
"..."
Nathan pun menutup telfonnya dan langsung bergegas menuju parkiran mobil. Dia masih ingat dengan jaket jeans yang biasa Agatha gunakan. Itu juga jaket pemberian Nathan saat ulangtahun Agatha yang ke 16.
Kedatangan Agatha kesekolah ini untuk mengurus beberapa berkas kepindahannya yang belum lengkap. Agatha terpaksa pindah dari SMA Adiyaksa saat kenaikan kelas sebelas karena bertengkar dengan teman sekelasnya. Saat itu didalam tasnya terdapat senjata tajam yang diduga akan ia gunakan untuk menyakiti fisik lawannya. Setelah hampir sebulan menetap disekolah baru, akhirnya terungkap kebenaran kalau Agatha hanya dijebak dan yang menjebak sudah diproses dikepolisian karena sudah mencemar nama baiknya.
"Hai, Nath." sapa Agatha dari kejauhan sambil melambaikan tangan.
Nathan yang tak suka terlihat akrab saat diarea sekolah pun langsung mengajak Agatha keruang rahasianya.
"Kamu benar-benar serius dengan tempat ini, ya?" tanya Agatha.
"Aku selalu serius dalam segala hal."
Agatha memandangi setiap sisi ruangan yang sudah semakin rapi dan sedikit lagi akan rampung. Dinding berwarna putih dan coklat membuat ruangan ini tampak luas dan minimalis. Warna itu juga permintaan Agatha saat dulu.
"Kamu ngapain kesini?" tanya Nathan.
"Aku mau minta pendapat kamu, Nath."
"Soal apa?"
"Ada cowok yang bilang suka sama aku."
"Terus?"
"Apa aku terima atau ngga?"
"Kalo suka terima, kalau ngga suka ya jangan."
"Aku gak suka."
Tiba-tiba seseorang membuka pintu. Ya, itu Hana. Dia bolos pelajaran pak Rocky demi menemui Nathan.
"Hana?!"
"Nath... Eh sorry gue balik deh." Hana membalikkan badannya dan melangkah keluar ruangan.
Agatha memandangi wajah Nathan yang sedikit berubah setelah melihat seorang wanita bernama Hana datang. Nathan sudah melangkahkan satu kakinya untuk mengejar Hana, namun lengannya ditahan oleh Agatha.
"Nath..." Agatha memelas.
"Kalo kamu gak suka, gak usah diterima. Sudah jelas kan jawabannya."
"Iya karena aku-"
"Agatha... Kamu yang menentukan hidup kamu. Bukan aku." tukasnya. "Sama kayak aku, akulah pemilik hidupku. Sekalipun aku dan kamu masih pacaran, aku gak akan halangi apapun keputusan kamu." jelasnya.
Baru saja ia sampai didepan pintu ruangan, ia behenti.
"dan aku minta maaf, perasaan aku ke kamu itu udah hilang. Itu keputusanku." lanjut Nathan.
...
Saat Hana kembali ke UKS dilihatnya Tiffany sudah duduk disofa dengan seragam olahraganya. Sangat jelas terlihat wajah kesal Tiffany.
"Dari mana aja lo? Katanya di uks?" ujar Tiffany yang menunggu Hana di uks sejak tadi.
"Ehm... Gue..."
"Gila lo ya, manfaatin Gema banget. Kurang ajar banget."
"Eh bukan gitu, Fan. Gue di toilet dari tadi."
"Halah! Alasan! Gue laporin pak Rocky lo." goda Tiffany.
Tiffany pun keluar dari uks dan tak berniat memberitahu pak Rocky. Tiffany tak cukup jahat untuk itu. Hana kembali merebahkan dirinya dikasur. Entah kenapa dia sama sekali tak memperdulikan perkataan Tiffany maupun hukuman yang akan diberikan pak Rocky kali ini jika Tiffany benar-benar memberitahunya.
"Duh...aku ini kenapasih? Suka juga ngga. Kenapa sakit banget liat si Nathan sama cewe lain. Ditempat itu pula."
"Fokus Hana... kau cuma penasaran sama Nathan. Kau masih cinta sama Nary."
"Nary... Aku rindu kamu. Kalo kamu nelfon sekarang aku pasti angkat." Hana mencoba mengalihkan perasaannya.
__ADS_1
Sedangkan Nathan terlihat tergesa-gesa menuju kelas untuk memastikan Hana ada disana. Namun kelas masih kosong, para murid masih di lapangan. Nathan pun berlari kelapangan namun tidak melihat Hana disana. Pak Rocky dan murid lain hanya melihat Nathan dari kejauhan namun tak ada satupun yang berani memarahi Nathan. Bukan karena takut, namun ayahnya Nathan merupakan donatur utama disekolah ini. Kepala sekolah berharap semua guru dapat memakluminya.
"Nathan, kemana aja kamu?" tanya pak Rocky dengan nada biasa.
"Maaf pak, saya tadi mules."
Mata Tiffany terbelalak seketika mendengar alasan Nathan. Pasalnya Hana juga beralasan yang sama.
"Gem, Hana mana?" tanya Nathan mencolek Gema.
"uks." jawabnya singkat.
"Ngapain lo sama Hana di toilet? Hayo ngaku lo!" goda Tiffany.
"Oiya, dia dari toilet juga? Berarti gue bukan dari sana. Soalnya gue ga liat dia." Nathan menjulurkan lidahnya kearah Tiffany.
...
Sebagai ketua PMR yang akan diganti, Andre berkeliling kelas ke kelas memberi kabar kepada anggota baru untuk datang sabtu besok kesekolah. Andre singgah ke uks untuk mengambil beberapa berkas dan data anggota pmr baru. Dia melihat Hana yang terbaring di kasur.
"Sakit apa?"
"sakit hati..." jawab Hana spontan. "Eh... Kak! Sorry..."
"Kamu Hana kelas sebelas ips kan?" tanya Andre.
"Iya kak."
"Kamu tau genk hitam?"
"Tau kak. Ada apa ya?"
"Kalau diantara kami ada yang mendekati kamu, jangan langsung percaya. Oke?"
Hana terdiam, ia masih bingung dengan maksud perkataan seniornya itu. Tak ada satupun dari anggota genk hitam yang sedang mendekatinya sekarang. Kalaupun ada, dua bulan lalu Gilang berusaha mendekatinya dan ia gagal.
Hana Olivia : Yur, minta tolong bawain tas gue pulang dong.
Yuranata: Emang lo dimana? Oke ntr gue ambil kekelas lo. Tapi lo baik-baik aja kan?
Hana Olivia: Gak apa Yur. Thanks ya.
Tak lama bel pergantian pelajaran dimulai. Hana tak kembali kekelasnya. Dia diam-diam menuju ruang rahasia Nathan lagi dan bersembunyi disana sampai sekolah berakhir. Dia juga menghindari Gema yang mengajaknya pulang bersama. Dalam hati kecilnya dia juga berharap Nathan ke ruangan itu.
Guru matematika memasuki kelas dengan muka yang tidak enak. Dia selalu merasa sial saat masuk kekelas sebelas ips 3 pada hari jumat karena sebelumnya pelajaran olahraga. Bau kelas seperti ini yang membuat Buk Sondang tak ingin berlama-lama dikelas. Ia langsung membagikan sekaligus tugas yang ia minta selama setengah semester ini.
"Luar biasa sekali kelas kalian anak-anak." pekik buk Sondang.
"Iya buk" murid-murid barisan belakang serempak.
"Yang saya panggil adalah murid yang dapat nilai paling rendah. Selamat!" Bu Sondang tersenyum sinis.
"Henny, Fandi, Faisal, Wahyu, Garin, Hana." panggil bu Sondang.
Semua murid yang dipanggil maju kedepan kecuali Hana karena dia tak ada dikelas sejak pelajaran olahraga.
"Kemana Hana?"
"Uks buk, tadi sakit." jawab Gema.
"Semoga kalian malu ya dengan nilai kalian ini."
"Gema bagikan sisanya." bu Sondang memberikan lembaran kertas ke Gema.
"Kok Nathan?" batin Gema heran. Melihat nama Nathan dilembaran pertama. "Diakan gak ada waktu itu." katanya sambil memberikan 3 lembar hasil tugas kepada Nathan.
"Apanih? Kok banyak banget, Gem?" tanya Nathan.
"Tugas lo selama setengah semester." singkat Gema lalu pergi membagikan kertas yang lain.
Nathan memandangi tulisan dikertas itu. Tulisan yang sangat tidak asing baginya. Dia tau ini adalah tulisan tangan Hana. Tulisan yang setiap hari ia lihat. Dipandanginya kertas itu dengan penuh senyuman.
Bel tanda pulang sekolah berbunyi dan Nathan langsung kembali kerumahnya setelah tak melihat Hana di UKS. Abangnya yang setiap jumat libur itu sudah duduk disofa ruang tv, duduk dengans serius dan menyaksikan berita di tv.
"Nath... Ayah beneran mau jadi walikota loh." ujar abangnya melihat Nathan berjalan melewatinya.
"Pembahasan lo gak ada yang lain apa bang?" Nathan jutek.
Nathan tidur dikasurnya. Dia masih memikirkan Hana yang tidak dapat ditemuinya. Nathan telah berkeliling sekolah termasuk uks untuk mengembalikan tasnya, namun ia tak melihat Hana. Ponsel Hana juga tidak aktif. Nathan mulai mengkhawatirkan gadis itu.
Disisi lain, Hana mendapati Yura yang sedang meringkuk dibalik selimut saat ia baru saja sampai dikamar asrama. Terdengar isakan kecil darisana. Langsung saja dia berlari mendekati Yura.
"Yur, lo gak apa kan?" tanya Hana yang duduk dibibir kasur Yura.
"Lo sakit?"
"Yaudah lo tenangin diri ya..."
Hana menepuk lembut punggung Yura dan pergi ketoilet untuk mencuci muka dan mengganti pakaiannya. Dia tau pasti sedang terjadi sesuatu pada Yura. Namun Hana lebih memilih untuk menunggu waktu yang tepat bagi Yura untuk menceritakannya.
"Gilang mutusin gue, Han." suara Yura sengau.
__ADS_1
Hana yang tadinya ingin membaringkan tubuhnya dikasurpun langsung menuju kasur Yura. Yura mengangkat badannya dan duduk menyender di kasurnya.
"Apasih kurangnya gue..." isak tangisnya pun semakin menjadi.
"Bentar lagi dia mau datang, mau balikin handphone dan kartu kredit gue. Gue gak siap ketemu dia dalam keadaan kayak gini." lanjutnya.
"Yaudah, biar gue yang jumpain dia." kata Hana.
Tak lama kemudian, panggilan telfon masuk ke ponsel Yura. Itu dari Gilang yang ngabarin kalau dia sudah berada didepan asrama.
"Lo tunggu sini, biar gue yang turun." kata Hana.
"Jangan... Jangan... Biar gue aja." Yura bangkit dari kasurnya dan bergegas turun menemui Gilang.
Saat Yura pergi, barulah Hana sadar dengan tasnya yang ia titipkan kepada Yura. Dia mencari-cari satu kamar namun tak dapat menemukannya.
"Dimana tas gue??" tanya Hana sendiri. "Kok gak ada disini? Apa Yura lupa ngambil? Eh mampus!"
Yura kembali dengan senyum merekah dibibirnya. Entah apa yang terjadi dibawah saat dia menemui Gilang. Tapi ini benar-benar sudah pasti kalau mereka batal putus alias balikan.
"Dih kok senyum?" tanya Hana.
"Gak jadi putuss... Gak jadi putuss..." Yura bernyanyi sambil berloncat-loncat.
"Tas gue mana?" tanya Hana.
"Oiya! Tadi pas gue mau ngambil, ada si Nathan. Katanya kalo mau ambil, ambil di dia." jawab Yura santai.
"Terus lo iyain aja, gitu?"
"Iyalah..."
"YURAAAAAA!!" teriak Hana.
...
Hana berdiri tepat didepan gerbang pintu rumah Nathan. Dia masih belum yakin untuk menemui Nathan hanya karena tas nya. Tapi tiba-tiba kak Revan sudah berdiri didepan teras rumah dan melambaikan tangan kearah Hana membuat gadis itu mau tak mau harus masuk dan menemui Nathan.
Sementara REvan memanggil Nathan, Hana duduk diruang tamu. Kedua tangannya saling *** dan kakinya juga bergerak seakan sedang mencemaskan sesuatu. Tapi semuanya terhenti saat Nathan muncul dihadapannya.
"Hana? Lo dari mana aja sih! Gue cariin juga dari tadi."
"Kata Yura, lo bawa tas gue ya?" tanyanya dengan wajah ketat.
"Iya!"
"Mana tas nya?" ketus Hana.
"Dikamar. Ambil sendiri."
Kak Revan hanya melirik kedua sejoli itu berjalan melewatinya diruang tv. Revan memasang wajah heran dan bergumam dalam hati.
"Perasaan pacarnya rambut pendekan mulu dah si Nathan."
Hana pun berjalan menuju kamar Nathan. Dia sudah terbiasa karena selama ini kalau sedang dirumah Nathan mereka selalu berada dikamar Nathan. Sesekali mereka juga mengerjakan tugas disana.
"Han... Gue udah terbiasa sendiri. Sekarang gue udah gak biasa." ucap Nathan sambil merangkul Hana. "Lo tadi kemana aja sih? Gue khawatir." tanya Nathan.
"Gue nungguin lo di ruang rahasia lo!" jawab Hana ketus. "Tadi itu siapa?"
"Itu tadi Agatha. Mantan gue. Tapi gue gak ada perasaan apa-apa lagi sama dia." jelas Nathan. "Kenapa gue harus ngejelasin ke dia sih." gumamnya dalam hati.
Hana mematung. Kali ini tidak bisa dipungkiri lagi kalau dia benar-benar menaruh hati kepada Nathan. Pria itu benar-benar sudah membuatnya jatuh cinta kepadanya.
"Kenapa muka lo?" Nathan menarik wajah Hana kehadapannya.
"Lepasin! Sakit tau!" Hana melempar tangan Nathan lalu keluar dari kamar.
"Hana!" teriak Nathan dari pintu rumahnya.
Hana yang sudah berada di gerbang pun menoleh.
"Thanks ya udah ngerjain tugas matematika gue waktu itu."
Hana tersenyum manis lalu melanjutkan perjalanannya. Memang waktu itu saat tugas matematika, Hana mengerjakan dua lembar jawaban. Satunya untuk Nathan.
"Ya Rab... Ade gue... Udah besar..." batin Revan sambil tersenyum mengelus dada melihat Nathan senyum-senyum sendiri diteras rumah sambil memandangi gadis berambut pendek yang baru saja menghilang dari pagar rumah "Dek... Yang begitu tuh jangan dilepas." kata Revan yang dari tadi berada dibelakang Nathan melihati adiknya tersenyum sendirian.
"Astaga! Ngagetin lu bang!"
"Abis lu senyum-senyum sendiri."
Coba saja tadi Hana yang turun menemui Gilang, pasti Yura tak akan sebahagia ini sekarang. Dan coba aja tadi Yura yang ngambilin tas Hana, pasti sekarang Hana sedang memikirkan bagaimana cara menjelaskan kepada Nathan kenapa dia terburu-buru pergi saat melihat Nathan bersama wanita lain.
"Tunggu! Mana mungkin seorang Nathan kepo samaku. Menyebalkan."
-----------------------------JANGAN LUPA LOVE\, COMMENT\, DAN THUMBS UP.----------------------------------
PEMBACA DARI NOVEL TOON JIKA BERBAIK HATI MOHON VOTE NOVEL INI.
__ADS_1
—Skyhangs.2019
Follow instagram @skyhangs.novel for more update.