
**Hai guys... terima kasih masih lanjut baca sampai kesini. Aku sudah memutuskan untuk melanjutkan cerita Posesif Nathan walaupun sangat sulit sekali. Jadi bagian ini adalah bagian penentuan kalau kalian rasa bagian ini sangat maksa atau kurang bagus kalian wajib komen dibawah yaa....
terima kasih.
sebelumnya aku minta tolong beri rating bintang 5 novel ini ya...
caranya ada aku kasih emote tunjuk. dan jangan lupa juga klik profil aku terus follow kalo bisa hehehe
(banyak maunya ni orang😂?)?
**
6 bulan kemudian...
Nathan baru saja pulang dari kegiatan ekskulnya sedangkan Revan sudah siap dengan kopernya untuk pergi urusan bisnis ke Manila. Bik Disa terlihat gelisah lantaran malam ini Ayah Nathan dan Revan beserta istri dan anaknya akan datang mengunjungi kedua anaknya.
"Mas Revan... Bapak bilang jangan kemana-mana dia mau datang. Nanti bi Disa yang dimarahin." mimik wajah bi Disa ketakutan.
"Bilang aja bi, aku ada urusan kantor." jawab Revan santai.
"Bang, Nathan ikut dong." pinta Nathan.
"Apalagi ini minta ikut."
"Bilang aja bantuin bang Revan, gitu."
"Haduh... Matilah bibi..." Bi Disa menepuk jidatnya.
Bukan karena sengaja Revan tak dapat hadir dipertemuan kali ini. Bahkan ada hal yanh sangat ingin dia bicarakan dengan ayahnya. Namun selalu tidak kesampaian ditengah sibuk urusab politik ayahnya.
Malam pun tiba, semua makanan sudah tertata rapi dimeja makan. Klakson mobil pun sudah berbunyi pertanda ayahnya sudah tiba. Dan langsung menuju meja makan.
"Nathan... Gimana sekolah kamu?" tanya ayahnya sambil menotong bagian steak.
"Sekolah aku? Baik-baik aja tuh." jawabnya slengekan.
"Ayah bangga sama kamu, kata pak Rocky dan bu Marti kamu dapat nilai paling tinggi dikelas." terlihat raut wajah bangga ayahnya.
"Tuh Dimas... Kamu harus rajin belajar biar pinter kayak kak Nathan." kata wanita muda yang menjadi ibu tiri Nathan.
"Iya, Dimas mau dong diajarin sama kak Nathan."
"Kamu mau diajarin sama kak Nathan? Beneran?" tanya Nathan.
"Beneran, kak." jawab anak umur 10 tahun itu polos.
"Kalau gitu kamu harus pindah kesini sendiri." ucap Nathan.
"Emang boleh?" tanya anak itu polos.
Nathan tak tau kalau anak itu benar-benar menanggapi candaannya dengan serius. Bagaimana bisa dia membiarkan anak kecil itu tinggal bersamanya.
"Oiya, nak..." ayahnya mulai serius. "Setelah lulus sekolah, kamu mau lanjut kemana?"
"Kuliah, mungkin." jawab Nathan singkat.
"Ayah udah belikan kamu apartement. Nanti setelah lulus kamu bisa pindah kesana buat belajar mandiri."
"Ha? Kenapa gitu? Ayah mau jual rumah ini?" Nathan kesal.
__ADS_1
"Bukan Nathan..." ibu tirinya menenangkan.
"Ayah mau kasih rumah ini buat Revan. Dia akan menikah." tegas ayahnya membuat Nathan terdiam.
Nathan terdiam sejenak.
"Kalau gitu Nathan mau rumah mama aja."
"Rumah itu udah gak keurus, nak."
"Ah... Nggak...nggakk... Rumah itu terlalu besar untuk kamu sendiri." saut ibu tirinya.
"Biar Nathan yang urus."
•••
"Kamu dimana?" tanya Nathan melalui telfon.
"Lagi di asrama ngerjain makalah tugas, nih."
"Kirim foto kamu sekarang..."
"Oh...oke.."
Nathan pun menutup telfonnya.
Pesan masuk dari Hana:
"Kenapa sih ngerjain makalah aja harus pakai lipstik semerah itu..." kata Nathan sambil melempar ponselnya kekasur.
Sudah enam bulan Hana dan Nathan menjalani hubungan. Bukan tak pernah mereka bertengkar karena hal sepele. Seperti Hana yang mendapat kelompok dengan para lelaki dikelas namun tidak bersama Nathan. Atau Hana yang lebih memilih latihan basket ketimbang jalan dengan Nathan dan sebagainya. Bahkan jika Hana berdandan terlalu cantik saja Nathan bukannya memuji malah mendiamkan Hana.
Walaupun begitu, pasangan ini tidak menjadikan alasan itu untuk tidak bertemu satu sama lain setiap harinya. Bahkan disetiap perjumpaan mereka lebih sering belajar bersama ketimbang pacaran.
"Nath... Besok libur belajar ya... Kita nonton aja." rengek Hana .
"Boleh..."
"Ajak Yura juga gak?"
"Boleh aja..."
"Ajak kakak aku boleh ga?"
"Ya boleh aja."
"Kamu yang bayarin ya?"
"Ya bol— yeee enak aja."
Hana terkekeh. Walaupun Nathan berkata seperti itu tetap saja dia akan membayar tiket nonton orang-orang yang diajak Hana.
•••
Betapa kagetnya Nathan saat sampai di depan gedung asrama melihat Yura bersama kekasihnya, dan Revan yang baru saja datang dari parkiran mobil.
"Ah...memangnya ini family trip atau apa ya?" kata Nathan dalam hati.
"Triple date kita?" pekik Revan serius.
__ADS_1
"Emang abang mau kemana? Ikut kita?" tanya Nathan.
"Abang sih mau ke pantai sama Hyuna." kata Revan polos.
"WAHHH!! IDE BAGUS TUH!" ucap Nathan semangat.
Bukannya pergi berduaan dengan Hyuna, Revan justru malah membawa segerombolan bocah untuk bermain dipantai. Dia tak tau kalau akan berakhir seperti ini. Rencana kencan romantis berdua dengan Hyuna menjadi kacau.
Para bocah sibuk dengan kegiatan masing-masing saat sampai dipantai. Hyuna dan Revan sibuk mengangkat makanan dan minuman yang mereka beli saat diperjalanan. Revan dan Hyuna sudah seperti orangtua saja.
"Ha... Nanti kalau sudah menikah. Anak cukup dua ya." pekik Revan sambil mengangat box minuman.
"Gak lah... Maunya empat." jawab Hyuna.
"Kalo enam kayak mereka gini tamatlah riwayatku." Revan menepuk jidatnya sesaat setelah meletakkan barang.
"Memangnya nikahnya sama kamu?" Hyuna menjulurkan lidahnya meledek Revan. "Kalo kamu maunya cuma dua, cari aja wanita lain yang mau dua anak. Aku maunya empat." sambungnya sambil cekikikan.
"Yaudah... Kalo kamu maunya empat."
Hyuna tersenyum malu. Dia tak tau kalau obrolan menggelikan ini bisa jadi sangat menggemaskan.
Dilain sisi terlihat Hana dan Nathan yang sibuk dengan pasir pantai. Tadinya mereka berencana untuk berlomba membuat rumah pasir namun berujung dengan rumah semut.
"Nath... Fotoin aku deh... Nanti aku fotoin balik..." pinta Hana.
Nathan hanya tersenyum melihat hasil jepretan kekasihnya itu.
Panggilan telfon masuk dari ibunya Hana. Dengan segera dia mengangkat.
"Halo ma—"
"DIMANA KAKAK KAMU HA? BALIK KESINI TAPI GAK NGABARIN SAMA SEKALI. KAMU JUGA KENAPA IKUT-IKUTAN NUTUPIN DARI MAMA HA?!"
Gendang telinga Hana nyaris pecah mendengar teriakan ibunya diponsel. Dia hampir membuang ponselnya.
"Mama tenang dulu yaa... Nanti Hana bicara ke ka—"
"SURUH DIA KERUMAH MAMA SEKARANG JUGAAAAAA!!!!!"
Tut!tut!tut!
.
.
.
.
.
.
.
Hai... Jangan lupa like dan komen yaaaa...
__ADS_1
Karena itunsangat berarti sekali buat aku.
Maaf mungkin bagian yang ini sedikit berlebihan atau maksa. Kritik dan saran kalian sangat dibutuhkan buat cerita yang lebih baik lagi.