POSESIF NATHAN

POSESIF NATHAN
Bagian XXII


__ADS_3

[Jangan lupa untuk like dan komen serta follow akun aku ya... Terima kasih sobat.]


Hana membaringkan tubuhnya dikasur saat tiba diasrama. Tubuhnya tak lelah, hatinya yang lelah. Ada rasa kecewa yang mendalam saat mengetahui Nathan lebih memilih bersama teman sekelas ketimbang bersamanya. Bukan...bukannya Hana tak suka. Hanya saja dia tidak mengira kalau Nathan mau bergabung dengan yang lain.


Tiba-tiba dia merasa tak ingin semuanya menjadi sia-sia. Hana memutuskan untuk pergi ke ruang rahasia dan tetap menjalankan rencananya sendirian dan akan memberitau Nathan saat semuanya sudah selesai.


Namun saat diperjalanan, ibunya menelfon.


"Halo ma..."


"Anakku yang cantik gimana kabar kamu?"


"Sehat ma... Mama apa kabar? Maaf ya Hana gak ngasih kabar belakangan ini."


"Mama sehat banget semenjak ada Hyuna. Soalnya dia yang ngerjain pekerjaan rumah jadi mama bisa santai."


"Kayak mama ngerjain pekerjaan rumah aja. Ada si embak juga..." ledek Hana.


"Pulang kampung dia, menikah katanya. Tapi gak balik-balik sampai sekarang."


"Oh ya? Jadi mama dong yang beberes rumah?"


"Gak sih... Ada si ujang. Hihihi..."


"Yey dasar mama."


"Gimana ujian kamu?"


"Lancar ma... Pengumuman 2 minggu lagi."


"Langsung pulang kesini atau bagaimana?"


"Rencananya sih pulang, cuma mau liat kampus disini dulu."


"Loh! Kan kamu mau nyusul mas Hendi ke Amerika. Kan mau kuliah disana. Mas Hendi juga mau ambil gelar profesor disana jadi kamu bisa tinggal disana sama dia."


"Tapi maa..."


"Nary kan juga disana. Kata Hyuna apartementnya deketan sama rumahnya Nary."


"Ma... Hana kuliah di Indo aja deh ma..."


"Yaudah nanti pas kamu disini kita bicarai lagi ya."


"Iya ma..."


"Oiya... Hyuna lamaran tanggal 23 bulan depan."


"Ha? Serius? Sama siapa?"


"Mama lupa lagi namanya siapa."


"Yah mamah. Revan bukan?"


"Ipan apa Revan ya? Gitu deh pokoknya. Lupa mama. Yaudah... Mama mau liatin si Hyuna ngurus bunga diluar. Sambil nyari-nyari tugas apa lagi yang harus mama kasih ke dia. Hukuman udah bohongin mama."


"Jangan terlalu keras ya ma. Nanti dia kurus. Kan mau dilamar."


"Bodo amat. Hahaha"


Hana kini sadar hal apa yang waktu itu ingin dikatakan Nathan. Memang tak seharusnya ikut campur dalam masalah orang lain sebab mereka punya alasannya masing-masing. Sama seperti saat Hana melihat Revan makan berdua dengan seorang wanita. Mungkin Revan punya alasan sendiri kenapa sampai menemui wanita itu.

__ADS_1


(Ini nanti kalian bisa baca di novel ASMARALOKA DAN REVAN)


Hana memulai menyiapkan makanan. Dia memasak makanan kering dan menghidangkannya dimeja. Menunggu dingin, Hana menyusun dekorasi seperti balon dan rumbai-rumbai di dinding. Tak lupa juga dia menaruh 2 gelas lucu untuk dia dan Nathan.


Panggilan masuk dari Nathan.


"Kamu dimana?! Nomor sibuk selama itu telfonan sama siapa?"


"Nath... Aku tadi telfonan sama mama."


"Kamu jangan bohong!"


"Aku gak bohong."


"Aku keasrama kamu sekarang."


"Aku lagi gak diasrama."


"Jadi dimana? Kalau mau pergi itu bilang dong. Oh! Diem-diem jalan sama orang lain ya?"


"Nath!! Aku lagi males berantem ya!"


"Oh!! Okay. Sorry!" Nathan nenutup telfonnya.


Hana terduduk lemas disofa. Rasa semangat yang baru saja timbul itu hilang. Berulang kali Hana mencoba berfikir kalau Nathan hanya sedang mengkhawatirkannya namun kali ini sudah kelewat batas. Kali ini dia tidak bisa berfikir seperti itu lagi. Baginya, Nathan bukanlah seperti yang dia kenal lagi.


Pada awalnya Hana dapat menerima keposesifan Nathan dengan positif. Dia bahkan ingin menseimbangi Nathan agar hubungan mereja tidak berat sebelah. Namun pada akhirnya Hana lelah. Dia kehilangan dirinya sendiri.


"Nath... Kenapa sih kamu sekarang?" Hana menyeka air matanya.


...


Rumah Nathan masih ramai. Yang lain masih bersenang-senang dengan pilox dihalaman rumah Nathan. Hanya Gema yang duduk diruang tamu dan sibuk dengan ponselnya.


"Mau kemana Nath?" tanya Ute. "Woy Nath!" panggilnya lagi karena Nathan tak menggubris.


Nathan menuju asrama putri dan mendapati Yura yang baru saja kembali dari perayaan setelah ujian bersama teman sekelasnya.


"Yur... Suruh Hana turun ya." pintanya.


"Ok."


Namun beberapa saat kemudian Yura turun lagi memberitahu Nathan kalau Hana tak ada dikamar. Lalu meminta Yura menghubungi Hana namun nomornya tak aktif. Hal ini membuat Nathan semakin khawatir. Dia juga merasa bersalah karena tak mendengarkan penjelasan Hana.


Langit sudah mulai gelap pertanda akan datang hujan . Setelah menunggu selama sejam didepan asrama dan Hana tak kunjung datang, Nathan memutuskan untuk keruang rahasianya menyendiri.


"Hana..." panggilnya saat mendapati Hana duduk dipinggir jendela besar. "Aku tungguin kamu didepan asrama. Kamu kemana aja?" Nathan langsung mendekap Hana.


"Aku dari tadi disini..." jawabnya.


"Hana maaf aku bilang kamu bohong."


"Kamu bener kok aku bohong. Aku nggak sakit." katanya.


"Kamu dari tadi disini buat nyiapin ini?" tanya Nathan melihat ruangan sudah penuh dengan pernak pernik.


"Nath..." Hana bangkit dari duduknya dan melepaskan dekapan Nathan. "Aku pengen kamu bebasin aku, Nath."


"Hana, kamu kenapa?" Nathan memegang pipi Hana. "Aku salah apa?"


"Kamu gak salah apa-apa, Nath. Yang salah itu aku."

__ADS_1


Nathan kembali mendekat tubuh Hana. Dia memeluk gadis itu dengan sangat erat.


"Jangan bilang mau pisah ya... Aku gak mau..." ucap Nathan.


Matanya memerah. Ada bulir air membendung dimatanya. Nathan benar-benar takut kehilangan Hana.


Kilat menyambar disusul dengan suara gemuruh petir padahal hujan belum turun. Masih banyak hal yang tidak dapat Hana ucapkan. Dia terlalu takut mengeluh untuk beberapa hal yang menyakiti dirinya sementara lebih banyak hal yang membuatnya bahagia. Namun Hana sudah bertekad tak ingin menjadikan Nathan sebagai mantan kekasihnya yang terekam buruk didalam hati dan ingatannya nanti.


...


2 minggu kemudian...


Setelah pengumuman kelulusan, Hana langsung terbang ke kota asalnya. Hyuna yang masih sibuk dengan gunting tanamannya berlari menghampiri Hana yang baru saja datang.


"Hahaha... Masih aja guntingin tanaman?" ledek Hana.


"Udah keburu janji sama oboss." jawab Hyuna sambil melirik kearah ibunya.


Hana langsung memeluk ibunya yang sedari tadi duduk sambil membaca koran diruang tamu.


"Mama... Hana kangeeeeen banget." katanya.


"Mama enggak tuh." ucap ibunya sambil memeluk Hana dengan erat.


Setelah melepas kerinduannya, Hana merehatkan diri dikamarnya. Membuka kembali kenangan-kenangan lama yang ia tinggalkan dikamarnya. Satu box besar berisi barang pemberian Nary menarik perhatiannya.


"Sebanyak ini ternyata..." ucapnya.


Dia memerikaa satu persatu isi didalam box itu. Dilihatnya album foto yang berisi banyak sekali fotonya bersama Nary.


"Empat tahun bukan waktu yang singkat untuk ngumpulin kenangan sebanyak ini." katanya sambil tersenyum melihat foto-foto itu.


Hana sadar, kenangannya bersama Nathan memang tak selama ia bersama Nary. Bahkan kenangan itu tak sempat tercetak karena sibuk menghabiskan waktu bersama. Kenangan itu akhirnya hanya bisa dikenang dalam ingatannya.  Hanya kunci ruang rahasia yang masih menggantung di pergelangan tangannya.


"Hanaa!!!!!! Siap-siap temenin gue jemput Revan di bandara!!!" teriakan Hyuna membuyarkan lamunan Hana.


"GILIRAN REVAN DIJEMPUT. ADEK SENDIRI KAGAK! PILIH KASIH!" kesal Hana namun tak terdengar oleh Hyuna.


Hana tak tenang saat diperjalanan menuju bandara. Dia tak yakin Nathan akan turut serta mengantar abangnya, namun tetap saja hatinya berdebar. Bagaimana dia akan menghadapi Nathan setelah 2 minggu tak bertukar kabar?


.


.


.


.


.


.


.


.


.


***Hana sama Nathan masih pacaran apa ngga sih sebenarnya?


Ada yang bisa jawab?

__ADS_1


Jangan lupa like dan komen yaa***!!!


__ADS_2