
-----------------REVISI ALERT------------------------
Seperti biasa, setiap jam istirahat sekolah, Genk Hitam yang diketuai oleh Deryl duduk dikantin bersama-sama. Biasanya mereka akan mendengar ocehan atau lelucon payah dari Andre. Namun kali ini berbeda. Nathan tak sengaja melewati Genk Hitam. Susan mencoba tersenyum kepada Nathan namun senyumannya tak terbalas.
Deryl yang tak suka melihat sahabatnya diabaikan langsung saja menghantam punggung Nathan dengan sikutnya. Bukannya melawan, Nathan justru tak memperdulikan dan memilih diam. Hal itu semakin membuat Deryl, Haris dan Gilang naik darah.
"Ada apasih Deryl ama Nathan?" Tanya Andre kepada Susan.
Susan tak menjawab.
"Susan lo ada apa sih sama Nathan?" Tanya Andre lagi.
Hanya Andre yang tak pernah mengerti dengan permasalahan yang dialami antara Nathan, Susan dan Deryl walaupun sudah seringkali mereka membicarakannya.
Nathan berjalan menuju kantin belakang. Dia hendak menemui Dio dan Ute disana. Deryl terus memanggilnya dan menyuruhnya untuk berhenti. Hingga amarahnya tak dapat dibendung, akhirnya Deryl menendang tubuh bagian belakang Nathan dengan kuat dan membuat Nathan terjatuh dan terseret kedepan Hana.
"Nathan!!!" Teriak Hana.
Ia membantu Nathan berdiri.
"Nath, lo gak apa kan?" tanya Hana.
Deryl berdiri dua meter tepat dibelakang Nathan. Disusul Haris dan Gilang yang baru saja datang dan masing-masing menyesali kenapa tak mengikuti Deryl dari awal.
"Ah lu sih Lang pake ngabisin makan dulu." kesal Haris.
"Kata emak gue gak boleh mubajir bwang."
Para murid yang sudah berkumpul. Rata-rata mereka yang sedang makan dikantin belakang. Seakan siap untuk menonton pertandingan tinju antara Nathan dan Deryl.
"Apa kurangnya Susan, Nath?" tanya Deryl nada biasa.
Menolehpun Nathan enggan apalagi menjawab pertanyaan konyol dari Deryl.
"Kak... Hana permisi bawa Nathan ke UKS ya." Hana menarik tangan Nathan dan membantunya berjalan ke UKS.
Deryl hanya bisa melihat punggung Hana dan Nathan menjauhinya. Para murid lainpun bubar dan bergumam kesal mengapa pertikaian hanya terjadi sebentar. Tontonan mereka hanya layaknya sebuah iklan di tv.
"Bang, ada apa sih lu ama Nathan?" tanya Yura.
"Cewek itu. Siapa dia?" tanya Deryl.
"Temen satu kamar gue yang baru. Murid baru. Namanya Hana."
Yura memang dekat dengan sunior bahkan junior sekalipun. Dia terkenal mudah akrab dengan orang lain. Karena dia memang menyenangkan.
°°°
Nathan duduk diatas ranjang UKS sedangkan Hana sibuk menyiapkan kain kasa dan cairan obat untuk membersihkan telapak tangan Nathan yang luka dan penuh dengan pasir. Tak kuasa Nathan menahan perihnya. Ia hanya bisa menggigit bibirnya.
"Buka baju." celetuk Hana.
"Gila! Mau apa lo?" tanya Nathan dan sedikit mundur dari posisinya.
"Buka sendiri atau aku yang bukain?" Seloroh Hana. "Buruan! Sebentar lagi bel masuk."
Nathan membuka seragam sekolahnya. Baju dalamannya ditarik keatas oleh Hana. Terdapat beberapa luka lebam disana.
"Parah...gak mau lapor polisi apa?" Tanya Hana.
Nathan terdiam.
"Nih...nih...nih...biru." Hana memencet setiap bagian yang membiru.
"Aihhh...aduh...aduh...sakit, Han!" Nathan merengek kesakitan.
"Telungkup, biar aku kompresin."
"Gausah, Hana. Yuk balik kekelas." Ucap Nathan dengan bibir yang terpaksa tersenyum.
Nathan berjalan keluar UKS disusul oleh Hana. Dia mengikuti Nathan dari belakang karena belum begitu menghapal jalan kembali kekelasnya.
Namun bukannya kembali kekelas, Nathan justru berbelok kearah lain. Nathan berjalan menuju gedung baru sekolah. Gedung yang masih belum rampung dibangun. Berbeda dengan gedung pertama, gedung baru ini memiliki 4 lantai. Terdapat lift yang masih belum bisa berfungsi.
Saat sampai dilantai 4, Nathan berhenti tepat didepan pintu sebuah ruangan dan membalikkan badannya. Seolah-olah sedang memergoki Hana yang sedang mengikuti. Membuat Hana terdiam dan mematung. Padahal Nathan sudah tau sejak awal kalau seseorang sedang mengikutinya.
"Buruan kalau mau masuk." ucap Nathan.
Dengan langkah ragu Hana memberanikan diri untuk ikut masuk kedalam ruangan itu. Dia tak ingin terjebak diluar, para tukang bangunan pasti akan memergokinya.
"ASTAGA!" pekik Hana. "Tempat apa ini?"
__ADS_1
Saat pertama kali melangkahkan kakinya kedalam ruangan itu, Hana dibuat kagum dengan jendela besar yang menghadap kearah padang rumput yang luas. Dia seperti sedang melihat dunia yang berbeda. Suara petikan gitar dari Nathanpun menambah nilai keindahan pemandangan ini. Seolah menjadi latar musik baginya.
"Lo gak takut apa gue bawa ketempat ini?" tanya Nathan.
"Gue kali yang ngikutin lo." Hana tersenyum malu.
"Justru karena lo ngikutin gue, makanya lo gue ajak kesini."
"Dih. Memangnya lo apa? Lagian apa yang harus gue takutin dari lo."
"Jangan terlalu percaya sama gue." ujar Nathan. "Eh by the way, cara bicara lo mulai berubah ya." Nathan tertawa kecil.
"Hem..."
°°°
Saat tiba di gedung sekolah, kelas olahraga sudah usai. Para murid baru saja akan balik kekelas untuk melanjutkan pelajaran matematika. Hana dan Nathan berjalan diarah yang berbeda sehingga para murid jelas melihat mereka berdua. Namun mereka berpura-pura tidak perduli. Hana tak keberatan dengan hukuman apa yang dia dapat nanti. Kalau Nathan sudah biasa hanya masuk kelas yang dia suka.
"Lo jalan luan. Gue nanti." Nathan langsung berbelok ke arah lain.
"Lah?"
Beberapa murid laki-laki sudah sebagian didalam kelas karena tak banyak waktu yang mereka pakai untuk mengganti baju. Sedangkan murid perempuan masih berada ditoilet untuk mempercantik diri.
Ketika Hana masuk, seluruh pandangan mengarah kepadanya. Bau keringat Dio yang menyengat juga menyambutnya dengan baik. Semuanya tau kalau Dio keringatnya bau, namun termaafkan karena wajahnya yang ganteng.
"Loh, Han. Dari mana lo?" tanya Ute sambil memegang satu gelas aqua. "Habis lo, Han. Tadi di cariin pak Rocky."
"Jangan sebut namanya. Merinding gue." ucap Dio.
"Gak apa Han, lo duduk aja." ujar Gema ketua kelas XI Ips 3. "Mereka cuma nakutin aja."
Gema memang dikenal dengan kelembutannya. Dialah laki-laki paling baik dan lurus dikelas ini. Kalau yang lain jangan ditanya. Semua takut dengan Gema karena Gema murid paling pintar sekaligus paling baik. Tapi bisa jadi paling mengerikan ketika sedang marah.
Hana langsung mendaratkan bokongnya dikursi. Ia sedikit tak tenang karena ucapan Ute. Namun itu sudah menjadi pilihannya untuk mengikuti Nathan.
"Kemana anak itu." gumamnya dalam hati.
Kelas yang tadinya terasa cekam karena bau badan Dio menjadi segar setelah para gadis dari toilet datang. Wangi parfum menyatu mengalahkan bau badan Dio.
"Tadi lo kemana, Han?" tanya Tiffany mendatangi Hana.
"Pak Rocky galak banget, Han." Tiffany menukas kalimat Hana. "Minggu depan pasti—lo—"
"Tiffa..." panggil Gema memberi kode 'jangan'.
Tiffany pun kembali ketempatnya.
Seorang guru masuk dengan terburu-buru. Wajahnya terlihat masam.
"Semuanya buka halaman 68, kerjakan semua soal disana dalam waktu sejam. Saya beri tanggung jawab kepada Gema. Jam dua semua tugas harus sudah ada di meja saya. Saya pergi dulu." perintah guru matematika, Bu Sondang. Lalu ia bergegas pergi.
Para murid berdecak kesal. Bu Sondang tak pernah mengajari mereka apapun. Setiap kali kekelas, ia hanya akan meminta para murid untuk mengerjakan tugas dan menyalin sesuatu yang sudah ada dibuku.
•••
Nary duduk dibibir kasurnya. Ponselnya tak lepas dari tangannya. Ia masih menunggu balasan pesan dari Hana. Semenjak hari terakhirnya bersama Nary, Hana tak pernah membalas maupun mengangkat panggilan dari Nary.
Nary lemah kalau sudah menyangkut soal ayahnya. Ia pun hanya bisa berharap rencana yang ia buat bisa berhasil. Satu-satunya orang yang dapat ia percaya adalah Mary, kembarannya.
•••
Nathan langsung kembali kerumahnya setelah kembali dari ruang rahasia miliknya. Ia melewatkan mata pelajaran matematika beserta tugas. Tasnya pun dibiarkannya tersimpan dilaci.
Dilihatnya abangnya, Revan duduk didepan TV dengan wajah yang seriusan. Bahkan salam Nathan saat masuk tidak dibalas.
"Nath! Lo tau ayah nyalonin diri jadi walikota?" Tanyanya tiba-tiba.
"Gak tuh..." jawab Nathan singkat.
Nathan hanya berjalan melewati abangnya yang sedang sibuk menonton berita. Melihat ayahnya di tv membuatnya muak. Nathan benar-benar tidak suka dengan ayahnya. Mengambil keputusan sendiri tanpa memikirkan anak-anaknya. Sama saat ayahnya menikah lagi dua tahun setelah ibunya meninggal. Menikah dengan seorang wanita yang lebih pantas dipanggil kakak. Belum lagi ayahnya menjual aset milik ibunya dan hanya menyisakan satu rumah atas nama Nathan karena tak bisa dijual kalau Nathan tak mengijinkannya.
"Mom... i wish you were here... Nathan kangen..." dia meringkuk dikasur dengan seragam sekolahnya.
Toktoktok!
Revan tiba-tiba mengetok pintu kamar Nathan dan berteriak memanggil.
"Dek, ada yang nyariin tuh." pekik Revan.
"Siapa bang?" tanya Nathan dari dalam kamar.
__ADS_1
"Gak tau. Cewek, rambut pendek, pacar kamu kali."
"Agatha?" tanyanya dalam hati.
Nathan langsung bangkit dari kasurnya dan berdiri didepan cermin. Ia menatap cermin selama lima menit demi memastikan kalau tampilannya saat ini tidak terlalu buruk.
"Oke, masih ganteng kok. Gak kucel juga."
Agatha, mantan kekasih Nathan saat kelas sepuluh. Agatha adalah gadis pertama yang Nathan sukai dan sekaligus menjadi gadis pertama yang membuatnya sakit hati. Namun ia tak terlalu begitu menunjukkan kekesalannya. Ia hanya akan bersikap sedikit dingin didepan Agatha.
"Hai Nath!" panggil Hana.
Ia berdiri tepat didepan pagar rumah Nathan sambil melambaikan tangannya kearah Nathan. Nathan sangat terkejut karena dia sama sekali tak mengira kalau Hana akan datang mencarinya hingga kerumah.
"Eh? Tau rumah gue darimana?"
"Nanya Tiffany. Hehe..." Hana cengir.
"Ada apa?"
"Mau ngasih tau, tadi ada tugas matematika dan langsung dikumpul." kata Hana.
Nathan tersenyum. Bagaimana bisa Hana datang kerumahnya hanya untuk memberitahu tentang tugas yang sudah tak bisa dikumpulkan lagi. Tak pernah ada seseorang yang peduli dengannya disekolah sebelumnya. Bahkan Agatha tak pernah bertanya bagaimana tugas-tugasnya disekolah.
"Nath, ajak masuk kali." pekik Revan dari dalam rumah.
Tak lama kemudian Nathan berjalan melewati Revan yang masih duduk diruang tv yang disusul oleh Hana menyapa Revan dengan senyuman. Bukannya duduk diruang tamu, Nathan justru membawa Hana kekamarnya.
"Lah dek? Mau kemana?!" tanya Revan.
"Ke kamar, abis disini ada lo, berisik." ledek Nathan. "Lo masuk lan, ya. Gue ambil minum sebentar." kata Nathan kepada Hana.
Hana mengangguk lalu masuk kekamar Nathan. Matanya menyusuri setiap sudut kamar ukuran 4x6 meter dengan cat dinding berwarna putih susu. Kamarnya terlihat sangat rapi dan bersih juga luas. Ada beberapa dus tersusun disudut sebelah kanan.
"Nih minum dulu..." ucap Nathan.
"Makasih..."
"Bawa sini handphone lo."
"Nih." Hana menyodorkan ponselnya.
Nathan terlihat jelas sedang menahan tawanya. Dia tak menyangka Hana akan semudah itu memberikan ponselnya. Bagi Nathan, ponsel adalah hal pribadi. Bahkan saudara atau pacarnya sekalipun tak boleh memakai ponselnya jika bukan keperluan penting.
"Kenapa?" tanya Hana keheranan,
"Gak..."
Nathan menuliskan nomornya diponsel Hana dan menekan tombol memanggil agar dia bisa menyimpan nomor Hana.
"Besok-besok lo gak perlu repot datang kerumah gue cuma buat ngasih tau ada tugas." ucap Nathan dengan nada lembut.
"em..." Hana mengangguk. "Tadi lo kemana lagi?" sambungnya.
"Balik ke gedung baru."
"Ruang Rahasia Nathan? Itu tempat apa sih? Gedungnya belum rampung, tapi ruangan itu benar-benar menakjubkan."
"Siapa lagu? Cowok ganteng didepan lo inilah pelakunya." Nathan menyombong.
"Dih Najis!" Hana tertawa geli. "Ajak gue kesana lagi, ya. Tempat itu benar-benar kayak bukan lagi dibumi."
Nathan lagi-lagi ingin menahan tawanya namun dia tak tahan. Gadis didepannya ini terlihat sangat menggemaskan saat berbicara. Membuatnya teringat kembali dengan mantan kekasihnya, Agatha.
"Oiya, Nath. Ini tadi gue singgahin ke apotik beli salep buat memar lo." Hana mengeluarkan salep dari kantong bajunya.
Hana tau persis bagaimana rasa sakit dari memar tersebut. Ia merasakannya saat ia tak sengaja terjatuh karena tali sepatu yang tak terikat dengan benar. Apalagi memar dibagian tubuh belakang Nathan sangat banyak. Sangat tidak nyaman untuk tidur.
"Thanks, Han." tuturnya.
-----------------------------JANGAN LUPA LOVE\, COMMENT\, DAN THUMBS UP.
----------------------------------
PEMBACA DARI NOVEL TOON JIKA BERBAIK HATI MOHON VOTE NOVEL INI.
—Skyhangs.2019
Follow instagram @skyhangs.novel for more update.
__ADS_1