
"Hana... Aku mau minta sesuatu sama kamu..." Nathan bangkit dari kursinya dan datang mendekati Hana.
"Apa?" ketus gadis itu.
"Aku gak mau liat kamu dekat-dekat sama cowok lain." singkat Nathan.
"Siapa? Gema? Kamu cemburu sama Gema?"
"Semua Hana... Semua..."
Ingin sekali rasanya Hana membalikkan keadaan. Namun bibirnya membungkam. Hana sama sekali tak bisa menyampaikan semua keganjalan yang dia rasakan selama ini.
Hana menghela nafasnya. "Oke." katanya.
Hana mengambil tasnya lalu pergi meninggalkan Nathan.
"Gue dilarang deket cowok, lah dia sendiri jelas senyumin cewek lain, gue gak marah tuh." Hana kesal. "Begonya gue bukan ngomong langsung malah ngomong sendiri."
Hana berhenti melihat kebalakang. Dia masih berharap Nathan menyusulnya. Berharap Nathan datang dan minta maaf atau sekedar mengajaknya pulang bersama. Nyatanya tidak ada Nathan dibelakang sana. Diapun melanjutkan perjalanannya.
Hana melemparkan tas dan membanting sepatunya saat saat di kamar asrama. Amarahnya sudah berada dipuncak namun masih belum bisa dia curahkan. Bahkan menangispun Hana tak bisa.
"AAAAAAAAAAA!!!" teriak Hana didepan cermin.
"Kenapa lo?" tiba-tiba Yura keluar dari kamar kecil dengan masker wajah bergambar panda.
"ASTAGA!" Hana kaget sejadi-jadinya. "Lo ngagetin gue anjir!"
"Gue yang kaget denger teriakan lo." kata Yura.
"Sorry..."
"Senin besok udah ujian. Yang gak perlu gausah dipikirin." Yura memberi nasihat.
"Iya... Iya..." Hana mengangguk.
Yura tak seperti biasanya memaksa Hana menceritakan masalahnya. Dia langsung mengambil buku dan membaca diatas kasurnya sambil rebahan. Walaupun ditutupi masker panda, perubahan sikap Yura terdeteksi oleh Hana.
"Baca apaan sih?" Hana membaringkan tubuhnya disebelah Yura.
"Buku. Mau ujian. "
"Tumben banget." ledek Hana. "Masker apaan sih? Enak banget wanginya."
"Masker Naturali Republika. Kalo mau ambil aja dilaci meja belajar gue." kata Yura.
"Itu buat apaan, Yur? Ngilangin jerawat ya?" tanya Hana.
"Biar kulit lembab." jawab Yura singkat.
"Bisa nyembunyiin mata sembab gak? Atau rasa malu? Atau rasa marah?"
"Gila lo, ya?" Yura bangkit dari tidurnya.
"Dih kok marah, sih?" ketus Hana lalu mengambil ponselnya yang baru saja berdering tanda pesan masuk.
Nathanku💕:
Lagi ngapain?
Hana:
Tiduran.
Nathanku💕:
Mana coba pap.
Hana:
Nathanku💕:
...
Nathan terkekeh melihat tingkah kekasihnya itu sekaligus ngeri karena kalau sudah bertingkah aneh berarti suasana hatinya sedang tidak baik atau sedang tidak bahagia. Ditambah lagi pesan yang Hana kirim terlalu singkat.
"Lo ada-ada aja dah, Han." kata Yura terkekeh setelah membantu Hana mengambil gambar dirinya dengan seluruh tubuh diselimuti kain tebal. "Kayaknya masker gue yang varian mint cocok deh lo pake buat mengurangi rasa amarah. Soalnya adem dan dingin."
"Seriusan lo!? Mau dong gue..."
Yura seakan lupa kalau ada sesuatu yang ingin dia sampaikan kepada Hana. Dia juga lupa kalau dia sedang kesal dengan teman sekamarnya itu.
__ADS_1
Sembari tidur berdua sambil mengenakan masker masing-masing sambil menghadap langit-langit kamar. Hana membuka suara.
"Masa Nathan nyuruh gue buat gak dekat-dekat sama cowok selain dia." kata Hana.
"Masa iya? Nathan gitu?"
"Iya..." ucap Hana. "Dan parahnya... Gue nurut-nurut aja." lanjutnya.
"Kalau lo gak suka ya bilang gak suka lah."
"Nah itu dia! Kalau gue bilang gak suka nanti yang ada perang kita. Dia kira aku kegenitan sama cowok."
"Ya... Kalau itu sih lo yang paham gimana Nathan..." ujar Yura.
Hana menghela nafasnya mencoba memahami situasi dia dengan Nathan saat ini. Apakah mungkin Nathan akan berfikiran seperti itu atau malah dia punya pemikiran lain.
"Kalau gue... Lo paham gimana gue kan?" Hana menggoda Yura.
"Ya...sedikit..." jawab Yura singkat.
Suasana hening.
"Yur..." panggil Hana.
"Hm..."
"Sebenarnya ada yang gue sembunyiin dari lo soal Gilang..."
"Iya... Udah tau gue..."
Hana langsung memeluk Yura. Dia benar-benar tidak enak dengan sahabatnya itu.
"Maafin gue, Yur..." ucap Hana sambil menyembunyikan wajahnya diketiak Yura.
"Paling ngga lo barusan mau ngasih tau gue. Jadi gue gak marah lagi sama lo." kata Yura. " Lagian lo apaan sih ini geli banget pake ndusel diketiak gue segala." Yura mencoba mendorong Hana.
"Biarin Yur... Ini hukuman gue... Nyium ketek lu."
"Apaan sih Han... Gila lo ya?!" Yura terkekeh.
...
Pagi ini mendadak sekolah mengadakan upacara terakhir sebelum memasuki minggu ujian akhir nasional. Seluruh siswa berbaris rapi dilapangan sekolah mendengarkan arahan dari guru bimbingan dan pidato kepala sekolah.
Gema memberikan topinya kepada Hana karena melihat Hana mulai kepanasan akibat terik matahari. Dengan sigap Hana langsung mengembalikan topi Gema tanpa melihat kearahnya.
"Bisa diem gak sih lo?!" teriak Hana kepada Dio.
"Han... Sabar..." ucap Saripah yang berbaris dibelakang Hana.
"Lagi datang bulan lo ya?" tanya Dio.
"IYA!"
Mendengar itu gurupun memanggil pembuat keributan.
"Suara siapa itu? Tolong maju kedepan sekarang." guru bimbingan memanggil melalui mikropon.
"Hana booook...Hana...." Dio menjerit kecil.
Tanpa aba-aba Nathan langsung maju kedepan dan mengakui kalau itu adalah ulahnya.
"Maaf buk..." kata Nathan.
"Lain kali jangan berisik kalau sedang ada arahan, ya Nath." kata bu Marti lembut.
Nathan mengangguk dan dipersilahkan masuk kedalam barisan lagi.
"Coba aja tadi gue yang dipanggil pasti disuruh berdiri hormat bendera." Dio berdecak kesal. "Enaknya jadi Nathan ya gitu..." lanjutnya.
Saat bubaran upacara Hana pun langsung menuju toilet dan duduk beberapa menit disana untuk mengasihani dirinya yang tiba-tiba menjadi pemarah.
"Apaan sih gue..."
"Ini mulut juga tumben gak bisa di rem*..."*
"Lo tadi tau gak sih kalau pembuat onar tadi bukan Nathan?" kata seseorang yang baru masuk ke toilet.
"Iya... Gue denger suara cewek bukan suara Nathan. Suara Nathan hafal banget lah gue..."
"Sementang pernah pdkt." ucap satunya. "Tapi katanya dia udah punya pacar lagi deh sekarang."
"Halah... Palingan cuma deket-deket gitu sih kayak gue dulu juga sempat digosipin pacaran sama Nathan. Kan Nathan sama orang emang baik."
__ADS_1
Hana mendengar dengan seksama setiap ucapan dua gadis yang ada ditoilet yang sama dengannya. Dia langsung keluar dan menggebrakkan pintu toiletnya setelah kedua gadis tadi berhenti berbicara.
Begitu Hana keluar, Mary pun masuk dan mendapat pandangan sinis Hana juga. Membuat Mary merasakan sesuatu yang salah.
"Dis, Dir, kalian barusan ngapain?" tanya Mary ke Gadis dan Dira teman sekelasnya itu.
"Gak ada... Cuma dandan doang pakai liptint. Kenapa Mary?"
"Sebelumnya ada ngomong apa? Tadi gue denger kalian ngegosip. Pengen tau dooong..." Mary berusaha terlihat penasaran.
"Oh!! Iya itu tadi soal Nathan yang maju kedepan padahal bukan suaranya dia. Baik banget ya dia... Gak salah gue sempat suka sama dia." jelas Gadis.
"Oh... Lo dulu pernah suka sama Nathan..." kata Mary.
"Iya!! Dulu sering banget telfonan mereka." Dira menjelaskan dengan semangat.
Salah satu anggota genk G-D-L tiba-tiba datang. Wajahnya berubah jadi tidak enak.
"Ohh!!! Kalian pergi berdua gak ngajak gue terus gantiin gue dengan Mary?" kata Laura.
"Ngga Laura... Kamu tetap kecintaan kita berdua..." kata Dira.
"Bener?" tanya Laura manja.
"Iya bener..."
"Sini peluk dulu..." kata Gadis.
Gadis, Dira dan Laura pun berpelukan didepan Mary dan membuat Mary sedikit mual melihat betapa berbedanya gaya pertemanan mereka dengannya dan memilih pergi meninggalkan mereka bertiga.
...
Saat baru saja kembali dari toilet, ahana lagi-lagi melihat Tiffany duduk dikursinya dan berbicara dengan Nathan. Saat mengetahui Hana datang, Tiffany pergi.
"Nathan..." panggil Hana.
"Ya beb..." jawaban Nathan membuat Hana geli.
"Bab beb bab beb... Gak cocok tau gak." protes Hana.
"Yang penting kamu senyum hehe..."
Begitu banyak hal yang ingin dia sampaikan namun ketika melihat wajah Nathan barusan membuatnya lupa.
"Ada apa?" kata Nathan.
"Em...apaya tadi... Lupa aku." kata Hana.
"Kamu lagi kenapa sih?" tanya Nathan.
"Gak kenapa-kenapa tuh."
"Nah loh! Bahaya lagi ini."
"Ada urusan apa sama Tiffany?" tanya Hana.
"Tiffany? Bentar aku tanya dia ya soalnya aku juga gak tau kenapa dia belakang ini suka banget duduk ditempat kamu padahal gak ada kepentingan." jelas Nathan.
"Oh..." Hana sedikit ragu. "Pinjem hp kamu sini."
"Mau ngapain?" tanya Nathan.
"Ada yang mau aku liat. Sini." Hana merampas ponsel Nathan yang sedari tadi dipegangnya.
"Hana! Aku kan udah bilang paling gak suka hp aku dibuka-buka orang!"
Hana tak perduli. Dia masih terus mencari apa yang dicari disana. Mencari rahasia apa yang disimpan Nathan didalam ponselnya. Membuka pesan obrolan, kontak nomor tersimpan, galeri foto dan lain-lain.
Mata Hana berkaca-kaca. Dia tak menyangka dengan apa yang dia lihat diponsel Nathan. Rahasia yang disimpan Nathan kini diketahuinya.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
HAYOOOO TEBAK! APA RAHASIANYA?? Beri komentar!!!
**AKU MAU NGADAIN GIVE AWAY.**