POSESIF NATHAN

POSESIF NATHAN
Bagian IV


__ADS_3

Terhitung sudah hampir dua bulan Hana bersekolah di SMA Adiyaksa. Gema menjadi sorotan dikelasnya bukan hanya karena ia pintar, tapi ia selalu mendahulukan kepentingan Hana. Misalnya seperti saat ujian bulanan, jika dilihatnya Hana masih belum selesai saat kertas harus dikumpulkan maka Gema akan memperlambat gerakkannya agar Hana selesai saat ia sudah sampai dimejanya.


Sama saat seperti Hana merasakan sakit diperutnya. Dengan sigap Gema meminta izin kepada guru dan membantu Hana ke UKS.


Melihat tingkah dan sikap Gema, Tiffany pun mulai merasakan sesuatu yang semakin runyam. Awalnya dia membiarkan perasaannya terhadap Gema dari kelas sepuluh mengalir begitu saja namun sekarang seperti ada bebatuan besar yang menghambat aliran itu. Kehadiran Hana mempersulit Tiffany mendapatkan perhatian Gema.


"Hana, ada yang mau aku bicarain." kata Gema.


"Apa tuh?"


"Nanti pulang sekolah bareng aku,ya?"


Hana melirik Nathan, berharap pria itu menolongnya. Paling tidak dengan mengatakan sesuatu yang bisa membantu Hana menolak ajakan Gema. Namun tak seperti yang diharapkan. Nathan sibuk dengan ponsel dan earphonenya.


"Oke." jawab Hana pasrah.


Setelah Gema pergi Nathan pun tertawa kecil. Dia seolah sedang meledek Hana.


"Gausah ketawa. Gak ada yang lucu." Ucap Hana dengan suara kecil.


•••


Bel istirahat berbunyi. Para murid berhamburan kelas dengan bringas. Seperti biasa, kursi disudut sebelah kanan kantin sudah diisi dengan anggota genk hitam.Sesekali Deryl dan Susan melirik kearah Nathan yang makan bersama teman sekelasnya.


Setelah satu persatu kembali dari membeli makanan. Wajah Andre terlihat seperti sedang memikirkan sesuatu.


"Gue kepikiran sesuatu." celetuk Andre.


"Apaan?" tanya Gilang.


"Gue ini kan lumayan ya. Tapi adek-adek gue lebih ganteng aja ketimbang gue. Sekarang gue tau kenapa."


"HILIH!" Haris menceletuk.


"APAAN CEPAT BILANG!" tanya Gilang tak sabaran.


"Orang tua gue dulu pas bikin gue kayaknya masih coba-coba dulu." jelas Andre.


"Tapi gue anak pertama. Paling ganteng pula." ucap Gilang.


"Yaiyalah... ade lo cewek semua anjir!"


Hanya Gilang yang selalu membalas dan menanggapi Andre. Haris, Deryl, Susan hanya dia memperhatikan kedua bocah beradu mulut. Sesekali mereka juga tertawa. Walaupun demikian, Andre dan Gilang saling membutuhkan satu sama lain. Mereka duduk bersama dikelas, bahkan Andre tau semua rahasia yang Gilang miliki.


"Susan!" panggil Andre. "Lo pacaran sama gue aja mau? Daripada lo kasian gak punya pacar karena temenan ama kita." sambungnya.

__ADS_1


"Andre... lisan lo dijaga." ucap Haris.


"Tau nih! Nanti Susan baper." seloroh Deryl sambil tertawa.


Susan langsung menimpuk kepala Deryl dengan sedotan bekas es teh manis dingin.


"Kurang ajar lo." kata Susan.


"Susan... Andre serius..." ucap Andre.


"Lo kalau mau pacaran sama gue, nilai lo harus diatas rata-rata." Seloroh Susan.


"Andre akan berusaha demi Susan."


"Mampus gue!" Pekiknya.


Suasana kembali hening. Haris dan Susan sibuk dengan ponsel mereka. Gilang dan Deryl melahap habis makanan dan minuman mereka. Sedangkan Andre sudah pergi keruang UKS untuk rapat persiapan pelantikan anggota baru PMR.


"Der... gimana soal yang kemarin?" tanya Haris.


"Udah gue serahin keorang yang lebih berkompeten. Abis yang katanya cowok paling gampang bikin cewe jatuh hati malah ditolak dihari pertamanya." Sindir Deryl.


"Yah bang... setiap cewe kan beda-beda. Lagian Hana itu temen sekamarnya Yura. Pasti Yura ceritalah kalau gue ini bajingan."


"Lo yakin Yura bakal ngomong begitu?" tanya Deryl.


"Yakin lah."


•••


Hana masih dikelas, ia merasa tak bersemangat hari ini. Berkali-kali Nary menghubunginya namun tak digubrisnya. Hana sendiri tak tau mengapa ia tak ingin membalas pesan Nary. Ia hanya tidak ingin saja.


Bel masuk berbunyi. Satu persatu murid mulai kembali kekelas. Namun tidak untuk Nathan. Lagi-lagi Nathan menghilang saat pelajaran olahraga. Sudah pasti dia juga tidak akan ada dikelas saat pelajaran matematika.


Kali ini Hana tak ingin mengambil resiko lagi. Terakhir kali ia ikut dengan Nathan keruang rahasianya saat pelajaran olahraga, pak Rocky menghukumnya keliling lapangan sepuluh putaran dan push up.


"Hana... kamu kenapa?" Tanya Gema tiba-tiba duduk dikursi milik Nathan.


"Gak apa-apa Gem. Oiya aku ganti baju dulu ya." Hana mengambil seragam olahraganya. Ia pergi meninggalkan Gema.


Pemberitahuan pesan masuk keponsel Hana. Dilihatnya nama Nary disana.


"Aku cuma mau temenan. Aku gak mau kita berdiaman kayak gini, Hana."


Hana terduduk ditoilet. Ia duduk diatas kloset dengan celana olahraga yang sudah terpasang. Ia menyesali apa yang telah ia lakukan terhadap Nary. Sementara Nary tak memiliki satu kesalahanpun kepadanya.

__ADS_1


Perasaan Hana semakin tak menentu. Ia tak memiliki semangat untuk melakukan apapun. Hana berjalan lambat kelapangan olahraga.


"Han... kamu sakit?" Tanya Gema yang tak sengaja lewat.


"Gue gak enak badan, Gem."


"Aku anterin ke UKS, ya. Nanti aku bilangin pak Rocky."


Hana mengangguk.


Gema langsung membawa Hana ke UKS. Ia mengantar Hana dan memastikan Hana tidur dengan nyaman diranjang UKS.


"Balik gih... nanti Pak Rocky nungguin." ucap Hana.


"Gak mau aku temeni?"


"Gak usah, Gem. Aku sendirian aja. Jangan lupa bilangin ke Pak Rocky, ya."


"Yaudah... aku balik dulu. Nanti aku bawain tas kamu dan aku anterin pulang."


"Gak usah, Gem... nanti aku masuk pelajaran matematika."


Gema mengangguk lalu pergi kembali kelapangan menemui Pak Rocky.


"Pak... Barusan saya antar Hana ke UKS. Jadi dia izin." kata Gema.


Tiffany mendengar ucapan Gema. Ia merasa kesal ketika Gema menyebutkan nama Hana. Apalagi mengetahui Gema mengantarnya sampai ke UKS padahal tadi Hana terlihat baik-baik saja.


Disisi lain, Hana yang merasa tidak nyaman berbaring di UKS karena terlalu banyak orang berlalu lalang karena anggota PMR sedang rapat diruangan, akhirnya memutuskan untuk pergi ke ruang rahasia milik Nathan. Satu persatu anak tangga ia naiki. Beberapa kali ia berpapasan dengan petugas bangunan disana namun sepertinya mereka sudah tau Hana akan kemana dan membiarkannya saja.


Seperti yang ia duga, Nathan berada disana namun tak sendirian. Ia bersama seorang perempuan dengan jaket jeans dan rok sekolah kotak-kotak merah juga berambut pendek. Hana tak dapat melihat jelas wajah perempuan itu karena ia menghadap kearah jendela besar.


"HANA?" Panggil Nathan.


"Eh... sorry... gue balik ya." Hana membalikkan badannya dan berjalan cepat keluar ruangan.


Dia menatap pintu ruangan seakan berharap Nathan akan mencegahnya pergi dan bertanya 'apa apa?' atau sekedar memberitahu kalau dia sedang ada urusan. Namun Nathan tak keluar juga. Hana pun melanjutkan langkahnya dan kembali keruang UKS.


"Kenapa sakit sekali. Padahal kan aku gak jatuh." Hana membatin. "Tapi dia siapa ya?"


-----------------------------JANGAN LUPA LOVE, COMMENT, DAN THUMBS UP.


----------------------------------


PEMBACA DARI NOVEL TOON JIKA BERBAIK HATI MOHON VOTE NOVEL INI.

__ADS_1


—Skyhangs.2019


Follow instagram @skyhangs.novel for more update.


__ADS_2