POSESIF NATHAN

POSESIF NATHAN
Bagian VI


__ADS_3

---Sudah di revisi !!! Jangan lupa di vote dulu ya.---



Sekolah mulai sepi. Hana sudah pulang setengah jam yang lalu. Hanya tersisa beberapa orang anak PMR yang sedang menunggu jemputan. Suara drible basket pun terdengar sampai ke ujung sekolah. Dio dan Ute baru saja kembali setelah lelah bermain dengan Nathan dilapangan.



"Nath..." panggil seseorang dari jauh.



Nathan yang sibuk memainkan basket pun berhenti dan melihat kearah pemilik suara yang memanggilnya. Sebentar dia melihat lalu dia kembali melemparkan bola basket ke ring nya.



"Lo suka sama Hana?" tanya Gema sambil berjalan kearah Nathan.



"Kenapa memangnya?" jawab Nathan dingin.



"Lo tinggal jawab aja susah ya?"



Nathan membuang sembarang bola basketnya dan berlalu begitu saja.



"LO SUKA KAN SAMA DIA?" pekik Gema.



Nathan menghentikan langkahnya dan berbalik badan. Dia memandangi Gema dengan tatapan sengit. Perlahan kakinya berjalan mendekati pria itu.



"Menurut lo?" tanya Nathan sinis.



Satu pukulan kuat meluncur di hidung Nathan. Ada bercak darah tertinggal disana. Nathan memegang hidungnya menahan kesakitannya. Rasanya ingin sekali dia membalas. Darahnya sudah sampai diubun-ubun. Tangan sebelah kirinya sudah mengepal. Nathan sudah biasa dengan ini, mengendalikan diri untuk tidak membalas sudah mahir dilakukannya.



"Lo harusnya berterima kasih. Gue membebaskan lo dari rasa patah hati. Memang lo siap ditolak ?" ucap Nathan lalu pergi keruang rahasianya.



Nathan duduk di ruang disana sambil memetik sembarang gitarnya. Dia sedang menerka-nerka kenapa Gema tiba-tiba bisa suka dengan Hana. Menurutnya Gema tak akan mungkin suka dengan gadis bodoh seperti Hana. Maksudnya, Hana itu tidak pintar dalam pelajaran. Dia biasa-biasa saja. Sedangkan Gema adalah pria yang tidak suka dengan gadis bodoh apalagi dalam waktu sesingkat itu. Nathan bangkit lalu pergi menuju asrama Hana. Dia berhenti tepat didepan pintu masuk. Baru saja dia ingin menelfon Hana, Gilang dan Yura pun tiba dari agenda mingguan mereka.



"Yur, panggilin Hana ya." ujar Nathan.



Yura pun mengangguk dan berjalan masuk kedalam gedung asrama.



"Buat apasih nyuruh-nyuruh orang dekatin Hana?" kata Nathan tanpa melihat Gilang.



"Maksud lo? Liat sini kalau ngomong!" Gilang melepaskan helm yang baru saja dia kenakan.



"Gema. Gue udah tau kalian nyuruh Gema. Tapi sayang, Gema kalian itu gak bisa dapetin Hana." Nathan tersenyum sinis.



Hampir saja Gilang memukul kepala Nathan dengan helmnya kalau saja Yura tak kembali menemui Gilang untuk mengambil dompetnya.



"WOO WOO WOO STOP!" Teriak Yura. "Gilang..." Yura menatap Gilang.



Gilangpun pergi meninggalkan Nathan dan Yura dengan kesal. Dia melajukan motornya dengan sangat kencang.



"Suruh Hana lebih cepat. Gue tunggu dibawah. " perintah Nathan.



"Tolong, jangan?" goda Yura.



"Tolong." singkatnya.



Dengan langkah yang tergesa-gesa Yura berlari agar cepat sampai kekamar asramanya.



"Kenapa lo?" tanya Hana.



"Tuh dibawah, hampir aja si Gilang berantem sama Nathan."



"Hah? Nathan dibawah? Ngapain?" Hana bingung.



"Lah? Katanya nungguin elo."



"Gue?"



Hana pun langsung bergegas turun. Dia tidak sabar untuk mengetahui alasan Nathan menunggunya didepan asrama. Lift lantai 10 kelantai dasar pun sangat lambat dirasanya.



"Nath... Lo gak apa?" tanya Hana memegangi hidung Nathan.



"Tadi kan gue bilang mau nyari kado. Kenapa lo pulang luan?" tanya Nathan.



"Lah kan lo gak ada ngajak gue, Nath." ucap Hana. "Lagian lo sih pake acara nyuekin gue disekolah." batin Hana.



"Yuk." tanpa bertanya Nathan menarik tangan Hana dan membawanya Hana kerumahnya.



.



Revan duduk termenung di kursi ruang tamu. Wajahnya seperti orang yang sedang berfikir keras dan mencemaskan sesuatu. Tidak biasanya dia hari sabtu libur, dia hanya memiliki jadwal libur hari jumat dan ketika libur pasti dia memilih untuk seharian dirumah. Percayalah, yang membuat Revan memiliki banyak uang, selain dari hasil kerja kerasnya, dia juga enggan nongkrong minum-minum tak membuahkan hasil tapi mengeluarkan dana. Namun outfit Revan kali ini sudah pasti dia akan pergi keluar bertemu teman. Dia memakai baju kaos lengan panjang, celana panjang jeans hitam dan sepatu sneakersnya.



"Loh bang, tumben sabtu dirumah." ujar Nathan saat akan menuju kamarnya bersama Hana.



Revan hanya terdiam dan tak merespon. Dia hanya melihat kedua orang itu dengan pandangan kosong.



"DEK, ABANGMU INI BUTUH MASUKAN" teriak Revan dalam hati.



Ada perubahan hari ini dikamar Nathan. Beberapa dus yang sudah sejak lama ia packing tak terlihat lagi di sudut ruangannya. Sofa yang biasanya ada di depan jendela juga sudah tidak ada. Hana terpaksa duduk pinggir kasur sembari menunggu Nathan mengganti bajunya.



"Ngadep sana cepat." kata Nathan.



"Dih"


"Lagian lo ngapa ganti baju disini sih?" keluh Hana.



"Mohon maaf ini kamar siapa ya kalau boleh tau?" suara Nathan sedikit terpendam karena sibuk membuka baju dalamannya.



"WOI WOII WOII WOI" Hana pun merubah arah pandangannya karena Nathan mulai membuka seragamnya.



Toktoktok!


Terdengar suara dari pintu kamar Nathan. Dengan santai dengan keadaan telanjang dada sambil memegang baju yang akan di kenakan Nathan membuka pintu dan melihat Revan mematung. Dia juga melirik-lirik kearah Hana.



"Abang tunggu kalian di luar." tegas Revan dengan wajah ketat bak celana dalam baru.



Tak butuh waktu lama, mereka berduapun keluar menemui Revan. Hana yang ketakutan hanya dapat *******-remas jarinya. Dia sudah tau pasti apa yang ada di fikiran Revan..

__ADS_1



Nathan dan Hana duduk bersampingan di sofa besar sedangkan Revan duduk didepan mereka. Revan belum mengeluarkan satu katapun. Dia hanya mengusap kedua wajahnya dengan telapak tangannya, melihat kearah langit-langit rumah, menghela nafas panjang, lalu menompang dagunya dengan jari-jari tangan yang menutup bibirnya.



"Kalian kelas berapa sekarang?" tanya Revan.



"Kelas sebelas bang." dengan cepat Hana menjawab.



"Terus?"



"Menurut kalian yang kalian lakukan itu sudah pantas?" lanjut Revan.



"Memangnya kita ngapain bang?" tanya Nathan.



Revan memegang dahinya dan mengucek matanya. Sesekali juga menggaruk kepala nya padahal tidak gatal. Lalu ia menghela nafas panjang lagi.



"DIH BANG FIKTOR AMAT SIH." pekik Nathan saat ia sadar apa maksud Revan. "UDAH AH. KITA MAU KE CCS NTAR KESOREAN." sambungnya.



Nathan menarik tangan Hana dan segera pergi meninggalkan Revan.



"DEK! TUNGGU DULU!" teriak Revan.



"Apaan sih bang?"



Revan menggaruk kepalanya lagi.



"Gak jadi." lalu dia duduk lagi dikursinya dengan wajah linglung.



Ponsel Revan berdering. Tiba-tiba dia jantungan. Revan terlihat berlebihan untuk sekedar menerima panggilan telfon dari wanita yang dia sukai. Sekali lagi dia sangat-sangat-sangat berlebihan untuk pria seusianya.



"Halo, Bella. " ucap Revan lalu menggigit bibirnya.



"..."



"Sebentar lagi aku jemput kamu, ya."



"..."



"See you." Revan menutup telfonnya.



...





"Makan dulu kali ya, laper banget gue." ucap Hana saat baru saja sampai di lobby mall.



"Iya."



"Eh ke toilet dulu deh, gue kebelet."



"iya..."




"Iya..."



"Nanti lo mau beli kado apa?"



"Ada..."



"iya apa...?"



"Liat aja nanti."



"Oiya tunggu sebentar ya gue pipis dulu."



"iya..."



"Beneran ya. Jangan berani tinggali gue."



"Iya, lo juga ya. Jangan ninggalin gue..."



"eh..."



"udah buruan!"



Hampir lima belas menit Nathan menunggu gadis itu keluar dari toilet.Saat keluar, baju Hana penuh dengan cipratan air.



"Nathaaann.... Sebel gueee..." rengek Hana. "Belom kelar pipis ada yang masuk. Gue refleks lah nutupin pintu baju gue kecipratan air. " lanjutnya.



"Ntar juga kering." kata Nathan.



Hana mendecak kesal. Dia langsung menggandeng tangan Nathan lalu berjalan mencari tempat makan.



"Apaan sih pake digandeng." ujar Nathan.



"Biarin. Biar gue gak malu sendirian. Biar orang mikir 'ihh cowoknya jahat banget, baju ceweknya basah bukannya di tutupin' gitu."



"Dih, peduli amaaat. Lagian lo juga bukan cewe guee."



Lagi-lagi Hana mendecak kesal dan membuang tangan Nathan yang dari tadi dia gandeng. Hatinya sedikit sakit mendengar kebenaran yang dikatakan Nathan.



"Kebenaran itu terasa sangat menyakitkan saat kita tak menginginkannya."



Hana berjalan dibelakang Nathan. Padahal sebagian pakaiannya masih terlihat bercak basah karena cipratan. Nathan tidak memperdulikannya. Dia hanya melanjutkan langkahnya tanpa Hana disampingnya. Iya. Dibelakangnya.




"Lagi-lagi gue jalan dibelakang lo, Nath."



"Pria yang sukses karena ada wanita dibelakangnya. Oke... Oke... Quotes yang sangat membuat gue semangat."


__ADS_1


"Nath... Tungguin..." Hana hanya bisa berteriak dalam hati.



Nathan masuk kedalam toko buku, entah kemana dia menghilang. Yang jelas dia dan Hana sudah tidak ditempat yang sama. Hana pergi kebagian buku novel untuk melihat-lihat jikalau saja ada yang menarik perhatiannya. Sedangkan Nathan, pergi ke bagian buku edukasi. Entah apa yang dicarinya disana.



Setelah berkeliling toko buku, mereka dipertemukan di kasir.



"Nih bareng." kata Nathan menyodorkan buku yang dibelinya ke Hana.



"Dih!" Hana menerimanya dengan kesal.



Kesalnya hilang saat Nathan berdiri tepat disampingnya dan mensejajarkan tubuhnya dengan Hana. Gadis itu sedikit salah tingkah. Jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya.



"570ribu kak. Ada tambahan lain?" tanya operator kasir.



"Mba, disini ada buku kiat-kiat memikat wanita ga?" tanya Nathan membuat Hana tersedak.



"Ada kak, dibagian romance." jawab operator kasir dengan serius.



Hana terkekeh sedangkan Nathan memasang wajah malu karena leluconnya diterima dengan serius.



"Memangnya beneran ada buku kiat-kiat memikat wanita?" bisik Nathan heran bertanya kepada Hana saat selesai membayar bukunya.



"Ya ada lah, Nath. Norak banget sih lo."



"Tapi seriusan memangnya ampuh gitu? Maksud gue kan setiap orang beda-beda. Yang nuliskan cuma satu orang. Yakali sih dikira semua wanita sama."



"Mending lo beli gih, biar tau." serah Hana.



Tujuan kedua Nathan adalah toko aksesoris wanita. Entah apa lagi yang dia cari disana. Hana sedikit gugup dan cemas. Dia gugup, apa Nathan akan membelikan sesuatu untuknya? Atau kalau bukan, buat siapa ?



"Coba pilihin mana yang bagus." pinta Nathan kepada Hana memilih jepitan rambut.



"Ini bagus." Hana mengambil satu pita berwarna pink.



Kemudian Nathan menyusuri setiap sudut toko dan diikuti oleh Hana. Sesekali mereka bercanda dengan memasangkan topi peri, flower crown ataupun topeng batman.



Nathan beberapa kali mendapati Hana melihat kalung silver dengan huruf H disana. Menurut Nathan itu kalung yang sangat biasa untuk dikagumi. Sepertinya Hana sangat menginginkannya.



"Mau?" tanya Nathan lalu melihat harga dibaliknya. "Mahal." ujarnya saat melihat angka 300k.



"Pelit!" pekik Hana.


"Udah yuk, gue laper." lanjut Hana.



Hana berjalan keluar meninggalkan Nathan dengan barang belanjaannya. Dia hendak menunggu Nathan diluar toko.



"Lo kenapa, Han?" tanya Nathan lembut.



Hana hanya melihat kebawah. Tak menatap mata Nathan. Pria itu pun menarik dagu Hana dan melihat bulir air mata disana.



"Kok nangis?" tanya Nathan lembut. "Lo pengen banget ya kalungnya?"



Hana mendekatkan tubuhnya ke Nathan dan menarik bajunya. Lalu ia menyeka air matanya di dada Nathan dan membuat baju pria itu sedikit basah dan terdapat bercak coklat kehitaman akibat dari maskara yang dipakai Hana.



"Gue kalo laper suka nangis. Ayuk makan."



Nathan pun menoyor kepala Hana dan segera menjauhkan Hana dari tubuhnya dan kembali ke kasir toko.



...



Gilang memasang wajah kesal saat masuk ke coffeshop tempat dia dan anggota genk hitam berkumpul. Andre yang merasakan aura negatif dari sahabatnya itu pun hanya menggaruk-garuk kepalanya karena heran. Maklum, Gilang jarang terlihat sekesal itu. Sedangkan Haris, Deryl dan Susan hanya terdiam.




"TANYAIN KEK ADA APA?!" kata Gilang setelah setengah jam terdiam.



"NAH GITU DONG NGE GAS" pekik Andre.



"Tuh ya si Gema emang GOBLOK, orang suruhan lo itu memang gadak otak." ucap Gilang sambil menunjuk ke Deryl.



"Kenapa dia?" tanya Deryl santai sambil meminum kopinya.



"Dia bilang semuanya ke Nathan soal rencana kita."



"Tuh kan udah gue tebak. Abis lo sih gak becus." ujar Deryl.



"Ada apa sih?" tanya Andre polos melihat Deryl.



"Kok gue lagi sih??!" kesal Gilang.



"Ada apa sih?" tanya Andre polos melihat Gilang.



"Jadi siapa? Gue?" balas Deryl.



"Iya, kenapa gak lo aja yang deketin si Hana?"



"Ada apa sih?" tanya Andre polos kearah Susan dan Haris yang tak bersuara.



"Udah udah... Besok biar gue yang jumpain Gema." ujar Susan membuat semuanya terdiam.



"Ada apa sih, mbak?" tanya Andre ke pegawai coffeshop yang baru saja lewat.




-----------------------------JANGAN LUPA LOVE, COMMENT, DAN THUMBS UP.----------------------------------




PEMBACA DARI NOVEL TOON JIKA BERBAIK HATI MOHON VOTE NOVEL INI.




—Skyhangs.2019


__ADS_1



Follow instagram @skyhangs.novel for more update.


__ADS_2