
REVISI!!
Hana membaringkan tubuhnya dikasur. Sesekali menepuk kepalanya karena merasa kesal dengan dirinya sendiri. Dengan bodohnya dia menolak pria yang mulai disukainya. Lebih menyakitkan lagi, bukannya Nathan memohon agar Hana berubah fikiran. Pria itu justru meminta persahabatan.
"Yur... Emang ada ya persahabatan antara cewe sama cowo?" tanya Hana kepada Yura yang sibuk dengan tugas melukisnya.
"Adalah. Tuh contohnya Susan anak duabelas."
"Emang lo yakin diantara cowo-cowo itu gak ada yang naksir sama Susan?"
"Ya mana gue tau, Han. Lagian lo kenapa sih?" Yura berhenti melukis dan menatap tajam kearah Hana. "Lo suka ya sama Nathan??? Ngaku lo!"
"Masalahnya...-"
"Nathan udah nembak belom?" Yura menyosor. "Gue tau dia suka sama lo."
"Tadi dia nembak gue." singkat Hana.
"SUMPAH?? TERUS GIMANA?" Yura loncat kesamping Hana.
"Duh... Gue bodoh. Gue tolak." Keluhnya.
Yura menoyor kepala Hana. Dia benar-benar geram dengan gadis ini karena telah menyianyiakan kesempatan langka. Tak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut Yura. Dia kembali menyelesaikan lukisannya.
"Yur..." rengek Hana.
"Hemm...?"
"Gue harus gimana?"
"Ya lo tunggu aja si Nathan nembak lo lagi." jawabnya singkat membuat Hana melemparkan bantal tepat di wajah Yura.
•••
Jam 8 pagi Hana sudah bersiap-siap ke bandara untuk menjemput kakaknya yang baru saja pulang dari Amerika. Namun saat baru keluar dari asrama dia melihat Revan dan menyapanya.
"Hai bang..." pekik Hana
"Hai pacar Nathan."
"Bukan pacar banh. Temen..." kata Hana.
"Kamu mau kemana?" tanya Revan.
"Kebandara bang, ini baru mau pesen taksi online."
"Eh gausah. Bareng aku aja. Aku mau kebandara juga." ajak Revan.
Hanapun langsung naik kemobil Revan. Dilihatnya Revan dengan setelan jeans robek dan kaos polo berwarna putih. Gaya yang tidak pantas untuk seorang Revan yang biasanya modis.
"Kamu beneran gak pacaran sama Nathan?" pertanyaan Revan membuat Hana tersedak.
"Gak bang. Hehe..."
"Syukurlah..." ujar Revan.
"Syukurlah gimana?"
"Abang kira Nathan selingkuhin kamu." kata Revan sambil tersenyum.
"Haha...pacaran aja engga gimana selingkuh sih bang."
Hanapun menelan ludahnya. Bagaimana bisa Revan mengira Nathan selingkuh kalau dia tak melihat Nathan bersama orang lain. Revan pasti punya alasan kenapa berbicara seperti itu.
Hana ingin sekali menanyakan banyak hal tentang Nathan kepada Revan. Dia rasa ini waktu yang tepat.
"Bang... Hana boleh nanya gak?"
"Apatuh?"
"Abang liat Nathan sama siapa emangnya?" Hana *** tasnya karena malu dengan pertanyaannya.
__ADS_1
"Gak liat sih. Tapi jelas banget Nathan bareng cewek. Mereka naik mobil warna merah." Jelas Revan.
"Sebenarnya tuh-" Hana terdiam sesaat. "Sebenarnya tuh Nathan nembak Hana kemarin. Tapi Hana tolak."
"Yah Rabb... Kasiannya ade gue... Terus gimana?"
"Hana kira dia bakalan berusaha buat ngeyakini Hana. Ternyata engga..."
Revan cekikikan setengah mati. Dia seolah tak menyangka kalau ini nyata.
"Emang ada yang lucu ya bang?" tanya Hana keheranan.
"Ternyata perempuan nolak untuk dipaksa itu bukan mitos, ya?" kata Revan sambil tertawa.
"Tapi bang-..."
"Gini deh... Kamu laper banget tapi nolak makanan yang dikasih buat kamu secara cuma-cuma. Terus kamu kira apa yang bakal terjadi?"
"Asam lambung kumat." jawab Hana polos.
"Sakit kan?"
"Iyasih bang. Jadi Hana harus gimana dong?"
"Ya tunggu aja sampai Nathan nembak kamu lagi." Revan terkekeh.
Rasanya Hana ingin melemparkan slingbagnya ke wajah Revan. Bagaimana bisa jawaban teman sekamarnya sama dengan jawaban Revan.
Saat sampai dibandara Revan dan Hana menunggu dipenjemputan internasional. Hana menunggu kakaknya sedangkan Revan menunggu seseorang yang sebenarnya masih sampai sejam lagi.
"Abang mau jemput siapa?" tanya Hana.
"Ada... Temen..." jawab Revan salah tingkah.
"Temen pakai tanda kutip ya?"
Revan tertawa malu.
"Kamu mau jemput siapa?" tanya Revan.
"Oh... I see..."
Tak lama kemudian setelah pengumuman pesawat dari Amerika landing, Hana pun bergegas mendekat kearah pintu keluar. Sedangkan Revan sibuk bermain dengan ponselnya dikursi tunggu.
Dari kejauhan tampak seorang wanita dengan rambut panjang diikat. Memakai dress pendek hitam dan ditutupi dengan coat abu-abu bergaris. Menderek koper berwarna kuning. Wanita itu melambaikan tangan kearah Hana.
"Kakakkkk...." teriaknya.
"Ah... My sister..." Hyuna memeluk Hana.
Hana tercengang melihat seseorang yang berjalan dibelakang Hyuna. Ya, itu Nary.
"Na-Nary..." lidahnya kelu saat dilihatnya Nary berada dibelakang Hyuna.
"Oh iya... Gue satu pesawat sama Nary. Duduk sebelahan juga."
Nary menatap dalam-dalam mata Hana. Dia sangat merindukan mantan kekasihnya itu. Sama seperti Hana. Diapun rasanya ingin sekali berlari kearah Nary dan memeluknya erat-erat.
"Hana..." panggil Nary.
"Yaudah kalian berduaan dulu lepas kangen. Kakak mau nungguin bagasi. Bhay!" Hyuna pun meninggalkan Hana dan Nary beserta koper kuning yang dibawanya tadi.
Suasana menjadi canggung saat Revan mendatangi Hana. Api cemburu sudah membakar Nary.
"Bang, kenalin ini Nary. Nary ini bang Revan." Hana memperkenalkan satu sama lain.
"Revan..."
"Nary..."
Keduanya saling berjabat tangan.
__ADS_1
"Yang ditunggu udah datang bang?" tanya Hana.
"Harusnya sih belom tapi kenapa chatku baru aja centang biru dua, ya?"
"Coba telfon diangkat ga?"
Hyuna pun kembali dengan troli besar beserta koper-kopernya seperti akan pindahan. Alangkah kagetnya dia melihat pria tampan yang berdiri disamping adiknya. Ya, Revan.
"Kamu..." Hyuna mengernyitkan dahinya.
"Kamu..." Revan mencoba menebak.
Hyuna mengambil ponselnya lalu menelfon seseorang. Dan saat itulah ponsel Revan berdering.
"Kamu... Bella?" tanya Revan.
"Hyuna Isabella..." Hyuna menjabat tangan Revan. "Memangnya wajah aku sebegitu bedanya ya dari foto dan aslinya?
"Iya... beda banget..." jawab Revan seakan tak percaya Hyuna jauh lebih cantik ketimbanh di foto.
Untuk pertama kalinya Revan bertemu dengan Hyuna Isabella. Gadis cantik yang dia kagumi selama tiga tahun terkahir melalui sosial media sekaligus gadis yang ia tunggu kehadirannya disini.
"Jadi kak Hyuna yang mau bang Revan jemput?" tanya Hana tak percaya.
"Aku kan udah bilang kamu gak usah jemput aku, mas." kata Hyuna.
Merekapun kembali bersama. Nary diantar terlebih dahulu menuju rumahnya di Jakarta bersama Mary. Saat baru saja berhenti didepan rumah. Hana melihat mobil yang sama persis dengan Susan anak baru disekolahnya. Namun dia belum menyadari kalau Susan Mary adalah kembaran Nary. Setelah itu Hana beserta barang-barang bawaan kakaknya dituruni di asrama lalu Revan pergi berdua bersama Hyuna. Alangkah sialnya nasibmu, Hana.
"Butuh bantuan?" pekik Nathan dari belakang membuat Hana kembali lagi kesaat dimana dia baru saja pindah ke asrama.
"Nathan..." Hana langsung memeluk Nathan.
"Hana, lo gak apa kan?"
"Eh sorry..." Hana melepas pelukannya.
"Lain kali jangan peluk gue sembarangan. Jangan buat gue berharap." kata Nathan sambil membawakan beberapa koper menuju kamar asrama Hana.
"Ada apa kesini?" tanya Hana saat didalam lift.
"Mau mastiin."
"Mastiin apa?"
"Lo nyesel gak nolak gue."
"Apaansih lo, Nath."
"Jangan pacaran sama orang lain selain sama gue,ya? Gue tunggu sampai lo terima gue."
"Kalo lo nembak gue lagi sekarang, gue bakal terima, Nath." batin Hana.
.
.
.
.
.
.
.
Jangan lupa di like dan comment yaaaa!!!
Jangan lupa juga untuk VOTE
Kira-kira Nathan bakal nembak Hana lagi gak ya? Atau malah Hana balikan lagi sama Nary?
__ADS_1
Kalian tim HaNathan atau HaNary nih?
Buat yang pengen tau roleplayernya bisa check instagram: @ skyhangs.novel