
Wanita paruh baya sedang duduk dihalaman rumah singgah yang dia bangun. Melihat anaknya bermain bersama teman-temannya. Berlari kesana kemari penuh dengan tawa seakan tidak ada lelahnya.
"Nanti kamu harus sering main kesini sendiri, ya?" tanya ibunya.
"Emangnya mama mau kemana?" anaknya bertanya dengan mata wajah polosnya.
"Kan mama harus jagain adik kamu." ibunya mengelus perutnya yang sudah hamil 7 bulan.
"Oh... Kalau gitu mah gampang. Nanti Nathan pasti sering main kesini lah... Kan ada sahabat Nathan disini."
Nathan melihat jelas senyum indah diwajah ibunya yang kemudian dilanjutkan dengan menetesnya air mata dipipinya.
Nathan membuka matanya. Terbangun dari mimpi yang sangat dinantikannya. Dia percaya ibunya sedang merindukannya di alam sana begitu juga dengannya. Nathan meringkukkan tubuhnya dikasur. Nathan sangat merindukan ibunya.
"Ma... Nathan kangen banget." ucapnya.
Tiba-tiba Revan menggedor pintu kamar Nathan.
"Dekk...dekk... Bangun..."
"Kenapa bang?" teriaknya dari kasur.
"Liat berita deh. Ayah kepilih."
"Ah bang... Bodo amat dah." Nathan menutup wajahnya dengan bantal tak menghiraukan Revan.
•••
Hana sudah menunggu Nathan didepan gedung asramanya. Wajah cerianya hilang saat melihat Nathan tidak bersemangat. Padahal baru saja kemarin mereka resmi jadian.
"Kenapa?" tanya Hana lembut.
"Kurang tidur aja..." jawabnya lesu.
Hana memegang dahi Nathan dan memeriksa seluruh tubuh Nathan.
"Badan lo anget banget, Nath. Mau pulang aja ga?"
"Gak usah... Yuk buruan."
Sepanjang perjalanan menuju sekolah tak ada sepatah katapun keluar dari mulut Nathan dan Hana. Semuanya berbeda dari yang dipikirkan Hana. Membuat situasi menjadi sangat canggung. Bahkan saat sampai dikelas dan dimulainya pelajaran.
Nathan menyumbat kupingnya dengan earphone dan menidurkan kepalanya di atas meja sambil melihat kearah luar jendela.
"Maaf pak!" Hana mengangkat tangannya. "Saya permisi bawa Nathan ke UKS ya. Dia demam pak." lanjutnya sambil memopang tubuh Nathan berjalan keluar kelas.
"Gak usah kamu... Dia aja yang bawa." gurupun menunjuk siswa yang baru saja lewat didepan kelas ips3.
"Ada apa, pak?" tanya Deryl heran.
"Bawakan dia ke UKS."
Deryl pun menemani Nathan menuju ruang UKS. Entah apa yang merasuki Nathan, dia tidak menolak Deryl mengantarnya.
"Manja amat, demam aja ke UKS." kata Deryl.
Nathan tak merespon.
"Gue denger bokap lo jadi walikota ya? Wah... Selamat ya... Sumbangan ke sekolah kita jadi makin banyak." oceh Deryl.
Lagi-lagi Nathan tak merespon hingga akhirnya Deryl ikut masuk ke uks dan memastikan Nathan sudah berbaring dikasur.
"Der..." panggil Nathan membuat Deryl berbalik badan. "Mak Juli nungguin kabar lo." kata Nathan.
__ADS_1
"Oh... Iya nanti gue main kesana." Deryl pun melangkahkan kakinya keluar. "Oh ya..." Deryl mengambil nafas panjang. "Waktu itu... Sorry ya."
Beberapa kali perkelahian keduanya selalu dimulai oleh Deryl. Bahkan Deryl sedikit cemas karena Nathan sama sekali tak pernah membalas pukulan yang diberikan Deryl. Padahal dulunya mereka selalu bermain pedang-pedangan dan saling membalas satu sama lain adalah hal paling menyenangkan dihidup Deryl sampai akhirnya dia diadopsi dan pergi dari rumah singgah.
"Gue juga minta maaf waktu itu gak ada pas lo pergi."
Nathan saat itu sangat kecewa dengan Deryl karena dia pergi tanpa menunggu Nathan. Dan sebaliknya Deryl juga kecewa karena dia berfikir Nathan sudah tak mau berteman lagi dengannya. Sampai suatu saat dia tau kalau waktu itu Nathan mengalami musibah. Dia kehilangan ibunya yang lagi mengandung dalam kecelakaan tabrakan beruntun yang membuatnya menjadi depressi dan memilih untuk menyendiri. Deryl benar-benar merasa bersalah karena tak ada disisi sahabatnya saat itu.
Hana mendengar semuanya dari balik tirai yang memisahkan setiap kasur. Dia mendengar semuanya yang dikatakan mereka. Dia juga yakin kalau Deryl lah teman bermain Nathan saat dia berkunjung kerumah singgah.
"Lo nguping ya?" Deryl mengejutkan Hana.
Bagaimana DEryl tak mengetahui keberadaan Hana kalau bayangannya menembus tirai.
"Ha? Sumpah gak sengaja."
"Yaudah gue balik kekelas dulu ya, Nath." kata Deryl. "Lo mending beli sepatu yang gak ada talinya deh." lanjutnya sambil tertawa kecil lalu pergi meninggalkan uks.
Hana tersenyum tipis memandangi Nathan. Ingin sekali dia memeluknya dan mengatakan "Kerja bagus, Nath." . Tapi tak dilakukannya karena ini dilingkungan sekolah.
"Oiya, ini sarapan dan obatnya. Diminum." Hana menyodorkan bubur ayam yang dia beli didepan sekolah dan beberapa obat pereda panas dari apotik. "Tadi guru yang nyuruh gue beli." lanjutnya.
"Mungkin jadinya bakal beda kalau tadi kamu yang antar aku kesini." ucap Nathan dengan lembut dan matanya yang sayup.
Deg!
Jantung Hana meledak mendengar Nathan menyebut 'aku-kamu' . Rasanya sudah benar-benar seperti orang pacaran saja.
•••
Jam istirahat telah tiba. Suara bel langsung membuat para siswa berhamburan keluar kelas dan memadati kantin. Yura terlihat bersama Gilang duduk bersama Genk hitam. Perasaan senang Yura tak terbendung karena saat ini adalah saat yang paling dinantinya. Bukan karena duduk dengan genk terkenal di sekolah tapi karena Gilang sudah mengungumkan kalau dia serius dengan Yura.
"Gilang tobat." celetuk Andre.
"Ya... Baguslah... Paling ngga genk kita ini gak seperti yang orang lain pikirkan." sambung Haris.
"Memangnya genk kalian seperti apa? Bukannya memang suka cari ribut, terus mainin perempuan, ya?" Yura cekikikan.
"Gimana kita mau nyakitin perempuan, Yur. Kita punya Susan, dia perempuan juga, kan?" kata Deryl.
"Oh jadi ka Deryl nganggep ka Susan perempuan nih? Eum... Menarik..." lanjut Yura. Gilang menyenggol tangan Yura mengkode agar tidak membahas soal itu.
"Gini ya, Yur... Gilang itu banyak yang suka. Karena dia gak mau nyakitin perempuan makanya dia terimain aja tuh perempuan." ucap Susan.
"Hilih... Gak nyakitin perempuan lain tapi nyakitin gue kaak."
"Dih... Kan lo tau juga. Dan ngizini juga." balas Gilang.
"Ya harusnya lo tau lah gue sakit hati"
"Yaudah sih udah lewat juga."
"Haduh... Mati kita." pekik Andre heran melihat pasangan ini bertengkar seakan tidak tau kalau disini bukan cuma mereka berdua.
"Gue ke UKS dulu ya." Deryl bangkit dari kursinya sambil menarik lengan Susan.
"Gue ikut? Ngapain?"
"Udah ayuk aja sebentar." kata Deryl.
Sesampainya di UKS, Deryl dan Susan melihat Hana dan Nathan berdua duduk dikasur dengan semangkuk bakso.
__ADS_1
"Kita berdua ganggu gak?" tanya Deryl.
"Eh ngga kok kak." jawab Hana.
"Nganggu aja." pekik Nathan.
Susan sudah membalikkan tubuhnya untuk kembali keluar UKS namun lengannya ditahan oleh Deryl.
"Kita berdua nanti pulang sekolah mau ke rumah singgah. Lo ikut?" tanya Deryl.
"Boleh ikut ga?" tanya Nathan ke Hana.
"Ha? Kok tanya gue?" tanya Hana heran.
"Kan lo pacar gue..."
"Iya iya boleh..." Hana tersenyum malu.
Saat pulang sekolah Nathan mendatangi Hana dan membawanya pergi ke rumah singgah. Anggota genk hitam yang lain terlihat sangat terkejut melihat Deryl yang dekat dengan Nathan. Selama ini mereka tidak tau apa-apa.
Sesampainya di rumah singgah, mak Juli dengan terharu menyambut kedatangan anak yang dia urus dulu.
"Akhirnya mak liat kalian bertiga bareng lagi. Mak tuh khawatir gak bisa liat kalian bareng lagi sampai mak mati."
"Mak jangan ngomong gitu dong. Susan jadi ngerasa bersalah." kata Susan.
"Mak yakin setiap masalah ada jalan keluarnya kok."
Mak Juli bercerita panjang lebar tentang kisah persahabatan tiga orang ini dan Hana tekun mendengarkan.
Dulu Nathan hampir setiap hari kerumah singgah cuma buat bermain bersama Deryl. Lalu datanglah Susan yang saat itu pergi dari rumah karena bertengkar dengan orangtuanya. Entah kenapa seiring berjalannya waktu, mereka bertiga mulai akrab satu sama lain. Sampai akhirnya Susan menyimpan rasa terhadap Nathan. Karena mengetahui itu, Nathan mulai menjaga jaraknya dengan Susan sampai akhirnya Susan memilih untuk meninggalkan rumah singgah dan Deryl.
Hubungannya dengan Deryl masih tetap baik walau tanpa Susan seperti sebelumnya sampai akhirnya Deryl di adopsi dan ibunya Nathan meninggal dunia.
"Aku juga ketemu sama Susan gak sengaja di Mall waktu itu. Terus kita tukeran nomor hape dan berkomunikasi sambil mencari sekolah sama-sama. Gak taunya kita satu sekolah sama si sombong ini." jelas Deryl menunjuk Nathan.
"Yang penting sekarang kalian bertiga udah sama lagi." kata mak Juli.
Merekapun tertawa dan saling meledek satu sama lain tentang kebodohan masa kecil mereka. Mencoba mengingat kenangan manis yang mereka ciptakan di rumah singgah.
"Tapi kamu udah gak suka lagi kan sama Nathan?" tanya mak Juli tiba-tiba.
"Ha?" Susan menganga.
"Gak lah mak. Deryl sama Susan sekarang." celetuk Deryl.
"Apaan sih lo, Der." sinis Susan sambil tersenyum.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Jadi kalian sudah menemukan titik terang soal hubungan mereka?
Jangan lupa dikasih like dan komentarnya ya guys...
__ADS_1
Karena sangat berarti untukku.
Jangan lupa juga buat masukin ke daftar bacaan kalian.