
"Kak... Hana tunggu di mobil aja, ya?" pinta Hana saat baru tiba di bandara.
"Ih... Jangan dong... Gue kan malu ketemu keluarganya sendirian."
Dengan berat hati Hana melangkahkan kakinya keluar dari mobil diikuti dengan rasa gelisah yang sangat luar biasa. Dia masih memikirkan kalimat apa yang akan dia ucapkan ketika bertemu dengan Nathan nanti.
...
Saat baru saja keluar dari gerbang sekolah sehabis bertemu dengan Nathan diruang rahasia waktu itu, hujan turun dengan derasnya. Menutupi air mata yang sudah terlanjur membasahi pipi Hana. Sedangkan Nathan duduk didepan jendela besar sambil memandangi hujan yang mulai membasahi hamparan padang rumput yang luas. Mencoba menerima dan memahami keputusan yang telah Hana buat.
"Ma... Nathan buat kesalahan lagi kan?" tanyanya sambil memandangi foto ibunya yang terpasang didompetnya.
Air matanya menetes.
Diambilnya ponselnya lalu mengetik pesan kepada Yura.
Nathan Dermawan:
Yur... Turun kebawah bawain handuk untuk Hana,ya. Dia kehujanan.
Yuranata Anjani:
Oke.
Saat sampai dirumah, Nathan melihat temannya semua masih berkumpul diruang tamu sambil berbincang dan tertawa bersama ayahnya.
"Pinter banget cari muka." ucap Nathan dalam hati.
Nathan tak menghiraukan mereka. Dia langsung masuk kekamarnya dan membersihkan dirinya yang basah kuyup karena berjalan ditengah hujan. Lalu setelah itu membaringkan tubuhnya dikasur.
Disisi lain Hana mencoba untuk tidur namun fikirannya melayang. Dia terbayang wajah Nathan saat berhasil membuatnya tersenyum dan teringat kenangan manis yang dia alami bersama Nathan.
Merasa ada yang salah, Yura menidurkan dirinya disebelah Hana.
"Mau pakai masker gue ga?" celetuknya.
Tiba-tiba isak tangis Hana mengencang. Dia langsung memeluk Yura dan bersembunyi diketiaknya.
"Apaan sih Han! Ketiak gue! Geli tau!"
"Yuraaaaa...." rengeknya. "Gue harus gimana? Haaaaa..."
"Ceritanya gimana?" tanya Yura.
"Gue gak mau pisah sama Nathan, cuma gue gak suka kalau harus tiap saat ngasih tau dia apa yang lagi gue lakuin." jelasnya.
"Terus?"
"Gue harus gimana?"
"Lo cuma bisa pilih satu. Putus atau bertahan." kata Yura.
Ucapan Yura menjadi bahan pertimbangan lebih lanjut bagi Hana. Dia harus punya pilihan yang tepat agar hatinya tidak terluka. Hana juga memutuskan untuk tidak menghubungi Nathan sampai dia menemukan pilihannya. Dia mencoba untuk mengetahui sejauh apa rasa rindunya terhadap Nathan.
Sampai saat dia terpaksa bertemu dengan Nathan dibandara, dia juga belum menemukan pilihannya.
Dari kejauhan tampak Revan, Nathan beserta kedua orang tuanya dan satu adik tiri mereka berjalan kearah pintu keluar.
Jantung Hana berdebar. Dia bahkan sampai keringat dingin. Kakinya bergetar.
"Gue ke toilet dulu, ya." katanya.
"Nanti dong!! Itu udah kelihatan." Hyuna menahan Hana.
"Hyuna!" panggil Revan.
Hyuna melambaikan tangannya.
Nathan sesekali mencuri pandangan kearah Hana. Dia bersikap santai dengan handsfree yang menyumbat telinganya.
__ADS_1
"Apa cuma gue yang jantungan mau ketemu dia? Dia biasa aja tuh." batin Hana.
"Halo om... Halo tante..." sapa Hyuna. "Udah pada laper belom? Kita mau makan dulu apa langsung ke hotel?" lanjutnya bertanya.
"Langsung ke hotel aja, ya? Nathan ngantuk." saut Nathan.
"Iya... Langsung ke hotel saja. Tadi dipesawat juga makan." jawab ayahnya.
Jalan Hana melambat. Ia sengaja ingin berada dibarisan paling belakang demi menghindari Nathan. Namun sayangnya Nathan malah ikut melambat dan mensejajarkan langkahnya dengan Hana.
"Aku juga rindu..." ucapnya.
Hana terdiam. Narsisnya pria satu ini pikirnya. Bahkan Hana belum mengatakan apapun. Dia hanya dapat mengernyitkan dahinya.
Nathan menarik pergelangan tangan Hana dan membawanya jauh dari rombongan keluarganya. Dia juga tak lupa mengirimi Revan pesan agar ke hotel lebih dulu.
"Apaan sih, Nath?"
"Makan yuk... Aku laper banget..." jawab Nathan.
"Kenapa tadi gak bareng keluarga kamu?"
"Males ah... Aku maunya sama kamu aja."
Hana terdiam.
Tak ada sepatah katapun keluar dari bibir Hana. Tanpa sadar dia terus-terusan memandangi Nathan. Memandangi setiap sikap Nathan. Sikap yang tidak akan mungkin bisa dilihatnya jika sedang bersama orang lain.
"Kamu yang pesenin. Aku samain aja." kata Nathan.
"Teh pucuk dua." ucap Hana kepada pelayan cafe.
"Ha?" Nathan spontan melihat ke arah Hana. "Nanti aja deh mba pesennya."
"Katanya samain."
"Nanti aku mabuk teh pucuk lagi loh." ucap Nathan dengan ekspresi wajah polos.
Nathan mengambil secarik kertas dari dalam tasnya lalu menuliskan sesuatu disana. Dia menuliskan "I LOVE YOU" dan diberikannya kepada Hana tanpa mengucapkan apapun. Lalu ia memanggil pelayan dan memesan makanan kesukaan Hana.
"Udah seminggu belakangan ini aku selalu mimpiin mama. Dia datang seolah ngasih jawaban atas pertanyaan aku waktu terakhir kali kita ketemu di ruangan itu." ucap Nathan. "Dia bilang, melakukan kesalahan adalah hal biasa." sambungnya. "Tapi kenapa aku masih aja kepikiran dengan kesalahan yang aku buat?" tanyanya.
Hana hanya diam memperhatikan setiap perkataan Nathan.
"Karena aku belum dimaafkan. Karena aku sadar aku salah." lanjut Nathan.
Hana masih diam.
"Han... Aku minta maaf." ucapnya.
"Nath... Aku juga minta maaf." kata Hana.
"Aku bakal tinggal dirumah almarhum mama aku setelah Revan menikah sama Hyuna beberapa bulan lagi. Dan itu udah pasti bakal jauh banget dari kamu. Tapi kalau kamu cegah aku sekarang, mungkin aku bisa fikirkan untuk nerima apartement pemberian ayah aku." jelas Nathan.
"Walaupun aku gak balik ke ibu kota?" tanya Hana.
"I—ya..." jawab Nathan sedikit ragu.
Pelayan cafe datang membawa pesanan memutus obrolan mereka.
"Kamu kemana aja gak ada ngabarin aku selama ini?" tanya Hana.
"Aku nungguin sms kamu."
"Kenapa ngga sms duluan?"
"Aku takut kamu pengen sendiri."
__ADS_1
"Oh..."
Setelah selesai makan, Hana pun memesan taksi online menuju hotel tempat Nathan dan keluarga menginap. Selama diperjalanan, Nathan terus menggenggam tangan Hana. Dia sudah merasa lebih baik dari sebelumnya.
...
Hari sudah mulai gelap. Hana sudah kembali dari mengantar Nathan. Dia merebahkan tubuhnya kembali dikasur. Seluruh badannya terasa remuk karena belum sempat beristirahat tadi pagi.
Pesan masuk dari Nathan.
Nathankuđź’•:
Sampai bertemu besok.
Hana Oliviađź’“:
Iya...
Nathankuđź’•:
Besok pakai baju warna apa?
Hana Oliviađź’“:
Putih kayaknya.
Kamu?
Nathankuđź’•:
Coklat kayaknya.
Hana Oliviađź’“:
Oh...
Nathankuđź’•:
Besok bawa aku jalan-jalan, ya.
Hana Oliviađź’“:
Mau kemana?
Nathankuđź’•:
Kemana aja.
Hana Oliviađź’“:
Nanti coba aku fikirkan.
Nathankuđź’•:
Boleh minta foto kamu sekarang?
Hana Oliviađź’“:
Lagi kedatangan sepupu. Sampai ketemu besok.
...
*Hai teman temanku sekaliann....
Deg degan ini udah mau chapter terakhir...
__ADS_1
Gimana pendapat kalian tentang novel POSESIF NATHAN ini?
Jangan lupa follow @skyhangs.novel di instagram ya!!