POSESIF NATHAN

POSESIF NATHAN
Bagian XVIII


__ADS_3

[[[[[[[[[Sebelum baca jangan lupa follow akun aku, kasih jempol, kasih love dan diakhiri dengan komentar yaa...


Trimss...]]]]]]]]]


Pesan masuk dari Agatha keponsel Gilang membuat Yura terkejut. Langsung saja dia meminta Gilang untuk menjelaskan semuanya. Bukannya dapat penjelasan, Gilang malah memutuskan Yura dipinggir jalan.


Gilang langsung bergegas menemui Agatha.


"Bukannya aku udah bilang buat mutusin dia dua bulan lalu?" tanya Agatha.


"Waktunya belum pas, Agatha."


"Sekarang kamu pilih aku atau dia?" tanya Agatha.


"Ya aku pilih kamu lah, sayang." jawab Gilang.


"Kalau gitu kamu putusin dia secara langsung didepan aku hari ini juga." tegas Agatha.


"Aku udah mutusin dia tadi."


"Aku mau liat dengan mataku sendiri!" Agatha langsung mengambil helm yang ada diatas motor Gilang.


Sudah beberapa kali Gilang memutuskan Yura dengan alasan sepeleh hingga tak masuk akal. Namun ketika dia hendak mengembalikan barang milik Yura yang dipinjamnya untuk menyenangkan Agatha dia selalu tak tega dan meminta Yura kembali. Hingga akhirnya dia memutuskan untuk menitipkan semuanya kepada Hana dan berhenti menyakiti perasaan Yura.


•••


Sedikit merasa bersalah akhirnya Nathan mau mendengarkan penjelasan Hana. Lagian mana mungkin bisa Nathan mengelak dari pelukan manja gadis itu ditambah raut wajahnya yang mulai membuat Nathan gemas. Hidung dan matanya merah, suaranya sedikit sengau karena hidungnya mampet. Jelas Nathan melihat wajah lucu itu dari dekat.


Diciumnya kening Hana lalu makin lama bibirnya turun dan berhenti tepat di bibir Hana. Sedetik kemudian Nathan mulai mencium lembut bibir bawah Hana yang kenyal dengan perlahan. Nathan tampak sangat gugup, karena ini pertama kalinya dia mencium bibir seseorang. Matanya masih terbuka lebar melihat Hana. Seluruh fikirannya ada bersama Hana.


Diraihnya pinggang Hana dan dibawanya gadis itu duduk diatas meja tanpa melepas ciumannya. Hana tanpa ragu membalas ciuman dari kekasihnya itu. Dia juga tampak menikmati setiap detik waktu berharga ini.



Saat Hana mulai menidurkan tubuhnya , kepalanya tidak sengaja terbentur meja dan membuat Nathan menghentikan aksinya. Hana memegang kepalanya karena sedikit sakit lalu tertawa karena malu.


"Hana! Sakit banget?" Nathan memeriksa kepala Hana.


"Sedikit.hehe." ucapnya sambil mencoba bangkit dibantu Nathan.


Nathan lagi-lagi memandangi wajah Hana penuh dengan rasa sayang. Dia tak menyangka akan memberikan ciuman pertamanya kepada gadis berambut pendek ini.



"Ehm... Aku pulang dulu, ya." ucap Hana salah tingkah.


"Aku anterin—ya?" kata Nathan salah tingkah.


"Ehm...ya..." jawab Hana malu-malu.


Sepanjang perjalanan kembali ke asrama, tak henti-henti kedua sejoli ini tersenyum malu mengingat kejadian tadi. Ditambah rasa malu karena aksi ciuman diakhiri dengan terbenturnya kepala Hana. Tak lupa juga Hana membawa barang-barang milik Yura yang dititipkan Gilang.


"Ah... Itu malu-maluin banget*."* batin Hana sambil menepuk pelan kepalanya.


"Ah... Kenapa mejanya pake ngingetin segala sih." kata Nathan dalam hati. "Kalau ngga kepentok kaan bisa...—" Nathan tertawa geli sendiri.


"Kamu kenapa ketawa?" tanya Hana.


"Ha? Emang aku ketawa? Enggak kok." jawab Nathan malu-malu.


"Yaudah... Udah sampe. Sampai ketemu disekolah besok." kata Hana.


"Iya..." ucap Nathan.


Hana sudah melangkahkan kakinya menuju lobby asrama namun Nathan memanggilnya. Langsung saja dia segera menoleh.


"Makasih, ya." ujar Nathan.


Hana tersenyum lalu melambaikan tangannya. "Hati-hati... Kabarin kalau udah sampai."


Nathan mengangguk lalu berjalan kembali kerumahnya dengan senyum yang masih melekat diwajahnya.


(**Dasar Nathan kemaruk**.)


Revan baru saja kembali saat Nathan baru sampai didepan pagar rumah. Dilihatnya wajah Revan masih sedikit ketat karena kejadian tadi pagi. Tapi saat Revan hendak menyapa Nathan, Revan malah menertawakan Nathan.


"Itu..." Revan menunjuk bibirnya. "Haduh...hahaha" lalu dia berjalan sambil tertawa masuk kedalam rumah.


Nathan buru-buru masuk kekamarnya dan bercermin. Betapa memalukannya melihat bibirnya merah berantakan karena bekas lipstick yang digunakan Hana.

__ADS_1


"AHHHH TIDAKKKKK!!!" Nathan berteriak.


"Halo... Hana..." Nathan menelfon Hana.


"Halo Nath... Udah sampai?"


"Udah...em...Hana..."


"Ya Nath?"


"Aku gak suka kamu pakai lipstick merah warna gonjreng lagi, ya."


"Ha? Kok jadi lipstick."


Nathan langsung nenutup telfonnya.


Langsung saja Hana bercermin dan melihat lipstick merah yang dipakainya sudah tidak ada lagi disana.


"Perasaan tadi pakai lipstick merah..." tanyanya bingung.


"CIEEEE....LIPSTICK NYA PINDAH KE BIBIR NATHAN KALIIII" ledek Yura.


"APAAN SIH YUR!!!"


•••


Pagi-pagi sekali Hana sudah berada didepan gedung asramanya menunggu Nathan. Entah kenapa hari ini dia tidak ingin membuat Nathan menunggunya. Saat melihat Nathan dari kejauhan, diapun melambaikan tangannya.


"Kuy..." kata Hana sambil menggandeng tangan Nathan.


"Tumben..."


"Hehe... Aku kan pacar yang baik hati gak mau bikin pacarnya nunggu."


"Baru sadar sekarang? Kemana aja selama ini? Bertapa didalam es bareng Ang?"


"IYA!" Hana melepaskan gandengannya.


"Kok kamu jahat berduaan sama Ang gak ngajakin aku?" Nathan mencoba bercanda.


"Kok kamu sejak kapan sih jadi jayus gini, Nath? Gak cocok tau. Wlekkk" Hana mengejek Nathan dan berlari kecil mendahului Nathan.


Nathan menggelengkan kepalanya.


"Hana, pak Hans tiba-tiba mau ujian dadakan. Ini kisi-kisi yang dia kasih. Cuma dikasih waktu setengah jam setelah bel bunyi." katanya.


Walaupun Gema tau kalau Hana dan Nathan berpacaran tapi tetap saja dia berlagak baik dan perhatian didepan Hana. Tiffany? Jelas Tiffany makin membenci Hana. Dari kejauhan dia melihat Gema mendatangi Hana.


"Nath!" pekik Tiffany.


"Ya?"


"Lo ngerasa gak sih kalau Gema masih suka deketin Hana?" katanya dengan suara pelan.


"Kenapa? Lo cemburu?"


Tiba-tiba Hana masuk dan membuat Tiffany bangkit dari kursi milik Hana.


"Makasih ya, Nath. Nanti aku traktir." pekik Tiffany membuat Hana penasaran.


"Traktir apa?" ketusnya.


"Engga tau. Ini masih mau nanya dia mau traktir apa. Bentar..." Nathan pura-pura bangkit dari kursinya.


"Udah duduk!" Hana menahannya. "Ini kisi-kisi ujian. Cuma bisa belajar setengah jam." Hana memberikan selembar kertas itu kepada Nathan.


Nathan membaca sedikit lalu mengembalikannya kepada Hana.


"Udah, kamu aja yang belajar. Aku udah ingat."


"Dih!" Hana menarik kertasnya lagi. "Nanti kasitau aku ya." tiba-tiba dia merayu Nathan dengan mata yang dikedip-kedipkan.


Nathan menaruh telunjuknya didahi Hana lalu mendorongnya mundur. "Belajar sanahh."


Banyak yang tak tau kalau Hana dan Nathan adalah sepasang kekasih. Yang mereka tau mereka hanya sebatas teman dekat yang mesra. (Keinget lagu Ratu - TTM kan buk.)


Bel pelajaran pertama berbunyi. Semua murid sibuk dengan hafalan kisi-kisi yang dibagikan Gema. Nathan dengan santai memakai earphone ditelinganya sambil memandangi jendela luar yang berada tepat disamping kirinya. Sesekali dia tersenyum sendiri mengingat dia bersama Hana semalam. Tanpa sadar dari kejauhan ada Mary yang sedang lewat dan memberikan senyuman balasan. Hana yang salah paham dengan itu malah mengira Nathan tersenyum kepada Mary.


"Nath..." panggil Hana.

__ADS_1


"Ha? Iya?" Nathan terkejut.


"Yakin gak mau belajar dulu?" tanya Hana.


"Yakin dong..." jawabnya.


Guru Hans masuk dan langsung mengintruksikan Gema untuk membagikan kertas ujian. Sedangkan oara murid sibuk kembali kekursinya masing-masing.


"Ujian dadakan ini untuk penambahan ujian semester kalian yang sangat kurang. Jadi bapak harap nilai kalian harus tinggi." jelas pak Hans. "Dan ujian kali ini dikerjakan secara kelompok. Satu kelompok 2 orang dan tidak boleh teman satu bangku."


Semua murid berdecak kesal.


"Pemilihannya bagaimana pak?" tanya Gema.


"Kalian pilih sendiri atau saya yang pilih?"


"Pilih sendiri aja deh pak..." kata Ute.


"Iya pak... Sendiri aja deh... Biar bisa sama Tiffa." keluh Dio.


"Ogah! Pak pilihin aja pak!" pekik Tiffany.


"Iya pak, sebaiknya bapak aja yang pilih biar gak ribut." saut Gema.


Begitu guru Hans selesai memilihkan anggota kelompok, semua murid berpindah posisi. Hana terpaksa satu kelompok dengan Gema dan Nathan satu kelompok dengan Tiffany.


"Ah... Ini mah kebalik." batin Hana.


Nathan dengan wajah datarnya menerima kehadiran Tiffany. Walau gadis itu sedikit kesal melihat Gema bersama Hana, tapi setidaknya dia memiliki kesempatan untuk memanas-manasi Nathan.


"Nath...Lo kerjain nomor ganjil, gue nomor genap. Oke?" kata Tiffany.


"Iya..."


"Nath... Lo gak cemburu liat mereka berdua?"


"Lo kali yang cemburu." jawab Nathan singkat.


Tiffany diam.


"Nathan ih!!" pekik Tiffany.


Suaranya membuat Hana menoleh dan melihat tubuh Tiffany sangat dekat dengan Nathan.Wajahnya berubah menjadi ketat. Tiffany merasa menang.


"Apaan sih lo." kata Nathan.


"Abis lo gak jawab pertanyaan gue malah nanya balik."


"Gue gak cemburu, Tiffa." jawab Nathan lembut.


"Lo kan pacarnya Hana masa gak cemburu?"


"Karena gue pacarnya. Kan dia punya gue."


Tiffany kembali terdiam dan melanjutkan tugasnya. Dia agak kesal karena gagal mengajak Nathan untuk bekerja sama.


Satu harian Hana tak menggubris Nathan bahkan saat pulang sekolah Hana pergi begitu saja meninggalkan Nathan. Dia malah pergi keruang rahasia Nathan alih-alih menghindarinya.


"Mau menghindar tapi datang kesini." ledek Nathan. "Ada apa?"


"Gak kenapa-kenapa."


"Ini nih..." Nathan merebahkan dirinya disofa. "Bencana ini." lanjutnya. "Yang aku tau perempuan kalau udah bilang gak apa-apa itu artinya sesuatu yang bahaya terjadi."


"Aku gak kenapa-kenapa!" bentak Hana.


Nathan langsung bangkit dari rebahannya dan duduk dengan polos. Dia terkejut dengan bentakan Hana.


"Hana...aku mau minta sesuatu sama kamu." kata Nathan.


"Apa?" tanya Hana ketus.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Hayiiiii... apaya kira-kira? Ada yang bisa tebak??


__ADS_2