
Kurang lebih tiga setengah tahun aku menimba ilmu di sebuah Universitas Negeri. Banyak pelajaran yang aku dapat dari sana. Dari sana juga aku bisa tahu berbagai macam karakter manusia. Bahkan Teman dan relasi juga semakin bertambah. Kuliah di sana, bukan hanya pengetahuan tentang akademik yang ku dapat. Tetapi pembentukan mental, karakter, pola pikir, prinsip dan sudut pandang juga ikut tertata.
Banyak suka duka yang turut serta mendampingi setiap langkah perjalananku di sana. Aku yang dulu selalu dimanjakan ayah bundaku, mau tak mau harus benar-benar mandiri karena dipaksa keadaan. Jauh dari orang tua yang menyebabkan aku harus bisa melakukan dan menghadapi apa pun sendiri.
Banyak perubahan sifat dan sikap sejak aku di sana. Aku yang dulunya tidak memiliki rasa percaya diri, berubah menjadi seseorang yang narsis dan selalu eksis. Aku yang dulunya introvert, berubah menjadi pribadi yang extrovert. Semua itu menjadi bekal untuk ku melangkah menghadapi kerasnya, manis dan pedihnya dunia.
Belum puas aku menikmati masa-masa itu. Namun aku sudah dipaksa oleh keadaan. Tuntutan dari orang tua untuk segera menikah setelah mengetahui anaknya menjalin hubungan dengan lawan jenis tanpa sepengetahuan mereka.
Arah perjalanan yang ku tempuh menuju perwujudan cita-citaku, terpaksa harus terhenti dan mengambil arah jalan lain yang sebelumnya belum terpikirkan olehku. Aku ingin berontak, namun aku tak mampu melawan. Kekecewaan orang tua yang mengetahui putri tunggalnya diam-diam selama beberapa tahun menjalin hubungan dengan seorang pria tanpa seizin mereka. Itu yang membuatku terbungkam untuk memberi penjelasan, pembelaan dan penolakan.
Belum juga sempat aku bekerja, namun aku harus menikah muda. Belum sempat aku bahagiakan orang tua, namun aku harus tinggal dengan mertua. Belum sempat aku wujudkan mimpi, tiba-tiba aku sudah memiliki bayi. Entah harus bahagia, atau harus bersedih dengan jalan hidupku yang sekarang.
***
"Sayang... ayuk kita sarapan bareng" Arya mengajak istrinya ke ruang makan
"Iya mas" jawab Rahma
Setelah pasangan suami istri itu sampai di ruang makan. Mereka kemudian segera duduk dan ikut sarapan dengan anggota keluarga yang lain.
Kehangatan begitu terasa ditengah-tengah keluarga pak Ahmad ayah dari Arya Prayoga. Kedua orang tua Arya begitu menyayangi Rahma dan memperlakukannya seperti anaknya sendiri. Memiliki anak perempuan adalah angan-angan dari papa Ahmad dan mama Anti. Dan dengan hadirnya Rahma cukup membuat orang tua Arya merasa mimpi lamanya terwujud. Apalagi setelah hadirnya cucu perempuan. Serasa sudah tidak ada lagi sesuatu yang mereka inginkan. Karena semua sudah mereka dapat.
"Sayang.. papa dan paman berangkat kerja dulu ya. Adik jangan rewel nanti kalau ditinggal mama ke kampus. Seperti biasa.. adik akan ditemani bermain sama mbak Mie dan mbok Sri. Ya sudah kami berangkat dulu. Love you sayang" berpamitan dengan mengecup kening anak dan istrinya
"Da papa, da paman.... hati-hati ya" Rahma melambaikan tangannya baby Zea
Mobil Arya berjalan mulai melaju keluar dari halaman rumah.
"Mbak Mei, tolong temani Zea ya." Perintah Rahma
"Ohhh iya non" jawab mbak Mei
Aku mau siap-siap dulu. Hari ini aku ada jadwal bimbingan skripsi dengan dosenku" setelah menyerahkan Zea ke mbak Mei, Rahma segera menuju ke kamarnya
"Eh Zeaku sayang lagi main sama mbak Mei ya?" ucap mama Anti sambil berjalan mendekati cucunya
"Iya nenek... baby Zea sudah geda, sudah pinter, tidak rewel lagi.." sahut mbak Mei seolah-olah Zei yang bicara
"Nggak terasa cucu nenek udah gede aja. Makin gede.. makin cantik dan pinter aja ya kesayang nenek" sambil menciumi cucunya itu
"Ehe he he." Dengan wajah imutnya baby Zea tertawa geli karena badannya dicolek-colek nenek Anti
"Ma yuk berangkat sekarang" ajakan papa Ahmad membuat mama Anti kaget
"Ya Allah papa.., ngagetin aja"
Setelah mencium cucunya kemudian mereka segera pergi menuju ke kantor.
__ADS_1
***
Suasana jalan raya pagi ini begitu padat. Seperti biasanya, jam 6 ke atas adalah jam sibuk para pelajar dan pekerja berlalu lalang.
90 KM/ jam, kecepatan Rahma mengendarai mobilnya. Walau pun ingin segera sampai ke kampus, namun ia sekarang tidak berani lagi naik mobil dengan kecepatan tinggi. Sebenarnya ia buru-buru agar antrian untuk bimbingan skripsi bisa mendapat nomer awal. Tapi karena tidak berani ngebut di jalanan, maka Rahma menyiasatinya dengan berangkat lebih pagi dibanding biasanya.
"Brum.. Brum"
"Alhamdulillah... sampai juga di kampus. Huwhh" Rahma menghela nafas
Terlihat antrian padat para mahasiswa dan mahasiswi yang akan bimbingan. Tempat duduk yang tersedia pun tidak cukup untuk jumlah mereka yang begitu banyak. Terlihat berlalu lalang para mahasiswa semester akhir yang disibukkan dengan segala macam persiapan mereka untuk bisa ikut wisuda di kloter ke dua ini. Wisuda kloter ke dua ini adalah wisuda terakhir di tahun ini.
Setelah menunggu begitu lama,
"Rahma Aulia" Asisten pak dosen Akbar memanggilnya
Bergegas dia menuju ruangan pak Akbar. Di dalam ruangan tersebut terlihat dia menyerahkan skripsi yang sudah direvisi.
Pak Akbar mulai membuka skripsi Rahma yang tepat berada di meja depannya. Beliu memeriksa detail bab demi bab yang ada di skripsi mahasiswi bimbinganya itu. Sambil membolak-balikkan lembar skripsi, pak Akbar mendengarkan penjelasan detail tentang isi-isi yang dicantumkan di dalamnya. Pertanyaan demi pertanyaa diajukan pak dosen pada Rahma. Terlihat lancar dia dalam menjawab semua soal yang diberikan oleh pak dosen tersebut.
Setelah selesai semua, Rahma menungu hasil yang diberikan oleh dosen pembimbingnya.
"Entah bisa dapat Acc atau tidak, aku harus tetap semangat." Rahma bicara dalam hati
"Ceklek" Rahma membuka pintu dan keluar dari ruang dosen
"Alhamdulillah ya Allah... akhirnya aku bisa menyelesaikan skripsiku tepat sebelum kuota wisuda penuh. Alhamdulillah ya Allah aku bisa ikut wisuda tahun ini karena skripsiku sudah finish." Rahma begitu bersyukur, bahagia dan merasa lega setelah hasil yang ia dapat dari kerja kerasnya sesuai dengan apa yang ia harapkan
***
"Tok tok"
"Ceklek" Arya masuk ke kamar
"Assalamu'alaikum sayang"
Arya yang baru masuk ke kamar merasakan keanehan. Dia heran melihat baby Zea tertidur pulas di dalam box baby sendirian tanpa ditemani mamanya.
"Sayang... sayang" Arya memanggil istrinya
"Krek..." suara pintu kamar mandi dibuka
"Eh suamiku sudah pulang. Sayang sudah pulang dari tadi ya?"
"Enggak kok. Baru saja sampai, tapi kamu tak panggil-panggil tidak menjawab" jelas Arya
"Maaf sayang mungkin tadi pas showernya nyala, jadi aku tidak dengar suara kamu" Rahma menjelaskan sambil memeluk suaminya
__ADS_1
Semua anggota keluarga berkumpul untuk makan malam. Tidak terkecuali Arya dan Rahma. Mereka yang sejak tadi sudah merasa lapar, terlihat begitu lahap menyantap makanan.
"Lapar banget ya Ar? celetuk mas Andre
"Ha ha, tahu aja sih mas" jawab Arya
"Mau nambah lagi Ar? tanya mama sambil tersenyum
"Tidak ma, sudah kenyang kok" jelas Arya
Selesai makan malam, papa Ibrahim dan mama Anti duduk di taman samping rumah. Andre dan Arya bersantai di ruang TV. Mereka melepas lelah dan penat setelah bekerja seharian dengan caranya masing-masing.
Di kamar, Rahma sengaja tidak bergabung dengan yang lain karena ingin menelpon orang tuanya. Kali ini dia merasa sangat merindukan kedua orang tuanya. Komunikasi dengan ayah bundanya tidak begitu lancar selama dua bulan ini. Semua itu karena selama dua bulan Rahma benar-benar fokus kejar target agar skripsinya selesai tepat waktu.
"Tutt tuttt" Rahma menelpon bundanya tetapi belum diangkat
"Tuttt tuttt"
"Assalam'alaikum" terdengar suara bunda tercintanya
"Wa'alaikum salam bunda. Bunda dan ayah apa kabar? Sehat semua kan? Rahma kangen banget sama bunda dan ayah"
"Alhamdulillah kami sehat semua sayang. Rahma, cucu bunda dan keluarga di sana sehat semua kan sayang? Iya tidak apa-apa. Kan kamu sibuk dengan skripsimu. Bunda dan ayah bisa mengerti kok sayang"
Banyak hal yang mereka bicarakan lewat telpon kali ini. Ayah Ibrahim juga ikut berbicara dengan putri kesayangannya. Mulai dari membahas tentang baby Zea, tentang Arya, tentang skripsinya Rahma dan masih banyak lagi.
"Bunda.. ayah.. Alhamdulillah skripsi Rahma sudah selesai dan mendapat acc dari dosen pembimbingku untuk dipakai daftar wisuda kloter ke 2 tahun ini"
"Alhamdulillah" spontan mereka kompak mengucapkan hamdalah setelah mendengar kabar bahagia dari anaknya itu
Bukan cuma ayah dan bundanya Rahma yang merasa sangat bersyukur, kaget dan sangat bahagia. Arya, mas Andre dan kedua mertunya juga merasakan hal sama setelah Rahma memberitahukan kabar bahagia itu pada mereka
"Selamat ya sayang, Alhamdulillah usahamu tidak sia-sia. Skripsimu bisa finish dengan tepat waktu dan kamu bisa ikut wisuda tahun ini" ucap Arya sambil memeluk dan mencium kening istrinya
...~Happy Reading~...
...πΈπΈπΈ...
...Mohon Maaf jika masih banyak kesalahan dalam penulisanππ...
...Author baru belajar menulis karya fiksi. Mohon koreksi dan dukungannya ya, dengan Like, komen dan vote yaπ€ππ₯°...
... Dukungan kalian sangat berarti bagi Author...
...TERIMA KASIH...
...πππ...
__ADS_1
...πΈπΈπΈ...