Prahara Dua Hati

Prahara Dua Hati
MENGHASUT PARA MENANTU (PART 1)


__ADS_3

"Mas, yuk sarapan." ajak Rahma pada suaminya.


"Iya, Sayang. Jawab Arya sambil keluar dari kamar.


"Zea, yuk ikut sarapan papa." perintah Rahma sambil mendekati Zea yang sibuk bermain di depan TV.


"Iya, Ma."


Saat mereka menikmati menu sarapan berupa nasi goreng dan telur dadar, tiba-tiba HP Rahma berbunyi.


Drttt Drttt


Ada pesan masuk dari kakak ipar, Rahma.


🏘️Mbak Ida


Lagi apa Ra? 06:15


^^^🌌My Number^^^


^^^Ini lagi sarapan Mbak.^^^


^^^Mbak Ida lagi apa? 06:15^^^


🏘️Mbak Ida


Lagi mau ke dokter Dik 06:17


...🌌My Number...


^^^Lho, siapa yang sakit Mbak? 06:20^^^


🏘️Mbak Ida


😁 tidak ada yang sakit Dik.


Aku mau ke dokter kandungan 06:20


...🌌My Number...


^^^Wah..., Mbak Ida hamil ya? 06:20^^^


🏘️Mbak Ida


😁iya Dik alhamdulillah 06:21


^^^🌌My Number^^^


^^^Alhamdulillah, selamat^^^


^^^ya Mbak 06:22^^^


🏘️Mbak Ida


Makasih ya Dik. Eh sudah dulu ya


Aku sama mas Andre mau berangkat


Dulu Dik. Nanti, main ke rumah


ya kalau aku sudah pulang. 06:24

__ADS_1


...🌌My Number...


^^^Ok Mbak. Hati-hati ya😘🤗 06:25^^^


🏘️Mbak Ida


Iya Dik. Makasih🤗😘 06:25


"Chat dari siapa, Sayang?" tanya Arya.


"Dari mbak Ida, Mas."


"Oh, ada apa? Tumben ngechat pagi-pagi.


"Mau pergi sama mas Andre ke dokter kandungan katanya, Mas."


"Oh, memangnya siapa yang hamil?" tanya Arya.


"Memangnya Mas belum tahu?"


"Tahu masalah apa, Sayang?"


"Mbak Ida kan hamil, Mas."


"Wah alhamdulillah, kalau gitu. Mas Andre, mama sama papa pasti bahagia banget."


"Wah paman dan bibi sebentar lagi punya adik banyi. Yeeahhh." kata Zea begitu antusias.


***


Tak terasa kemilan Ida sudah masuk bulan ke empat. Tradisi orang jawa jika usia kandungan sudah mencapai bulan ke empat, maka diadakan acara selamatan empat bulanan atau mapati. Waktu empat bulan dipilih karena, masyarakat Jawa percaya bahwa waktu ini adalah saat ketika Sang Pencipta meniupkan ruh ke dalam janin yang ada didalam kandungan. Tujuan selamatan ini adalah agar janin terus diberkati sejak di dalam perut, hingga nanti dan menjalani kehidupan.


Pagi-pagi sekali, para tetangga mama Anti datang ke rumahnya. Mereka datang untuk membantu persiapan acara empat bulanan kehamilan Ida. Mulai dari memasak dan mempersiapkan keperluan untuk serangkaian acara empat bulanan yang akan di laksanakan malam nanti setelah selesai maghrib.


"Oh, iya Bu, sudah semua." jawab mama Anti.


"Kalau sudah semua, kami pamit pulang dulu ya, Bu." ucap bu Atun.


"Eh Bu, Bu. Ini sudah saya bungkuskan makanan dan jajan buat kalian. Kok tidak dibawa?" kata mama Anti.


"Oh, iya Bu. Terima kasih." ucap para tetangga sambil mengambil bungkusan makanan yang dipersiapkan mama Anti.


Semua tetangga sudah pulang, tetapi Rahma masih tetap di rumah mertuanya. Ia terlihat sibuk membersihkan dan menata perabotan-perabotan dapur bekas untuk memasak tadi.


"Ra, kamu tidak pulang dulu? Siapa tahu Arya sudah pulang. Kasihan kalau dia pulang tidak ada makanan di rumah." ucap mama Anti.


"Tadi, Rahma sudah telpon mas Arya, Ma. Tak suruh langsung ke sini kalau pulang. Karena di rumah tidak ada makanan. Tadi Rahma tidak sempat masak terlebih dahulu."


"Oh, ya sudah kalau gitu. Eh, si Ida mana?" tanya mama Anti.


"Sepertinya tadi masuk ke kamar, Ma. Mungkin mbak Ida istirahat, Mas. Kasihan dia seharian bantuin masak. Pasti capek dia."


"Bantu apa sih? Dia cuma bantu ngelap-ngelap gerabah, atau kalau gak gitu bantu ngiris-ngiris. Kan cuma duduk saja dari tadi. Memang dasarnya saja pemalas." celetuk mama Anti.


"Wajar saja, Ma. Kan dia baru hamil muda. Kasihan mbak Ida lemes dan pucat begitu."


"Alah, dia itu manja. Kalau dasarnya pemalas, ya tetap pemalas. Beda sama kamu. Walau orang tua kamu lebih kaya dari pada, tapi kamu rajin. Andre entah kenapa milih istri macam begitu, manja. Maklum lah, baru lulus sekolah langsung dinikahin orang tuanya, ya begitu."


"Hehehe, sama saja kok, Ma. Maklum lah lagi hamil dan lagi nyidam jadi sering lemas."


"Sudah, lah. Tidak usah kamu belain ipar kamu itu. Dia itu suka jelek-jelekin kamu." kata mama Anti mendekati Rahma lalu memelankan suaranya.

__ADS_1


"Mosok sih, Ma? Memangnya apa kata mbak Ida?"


"Kamu itu katnya sombong mentang-mentang orang kaya. Hidupnya tidak mau sederhana. Galak sama suami, suka marah-marahin suami, gaji suamimu juga kamu yang nguasai. Katanya juga kamu suka hambur-hamburin uang buat belanja, perawatan, beli kosmetik-kosmetik mahal, makan juga harus yang enak-enak. Katanya juga kamu cemburuan dan suka nuduh suamimu yang gak bener."


"Astaghfirullah, mbak Ida ternyata dibelakangku begitu, Ma. Padahal sepertinya dia baik.


"Biasa lah, manusia ya begitu. Di depannya baik, tetapi di belakang haduh..., suka menjelek-jelekkan."


***


"Sayang, ini uang gaji untuk bulan ini." ucap Arya sambil menyerahkan uang satu juta pada istrinya.


"Mas, maaf sebelumnya, ya. Sebenarnya Mas hutang itu buat apa? Perasaan, pengeluaran bulanan kita sudah benar-benar tak minimalisir."


"Heh, tahu apa kamu soal tanggunganku. Kamu kira cari uang itu gampang?! Mikir dong jadi istri. Jangan bisanya cuma terima uang bersih tiap bulan!"


"Ya Allah, Mas. suami itu hukumnya wajib menafkahi istri. Jika nafkah kepada istri tidak diberikan, maka hukumnya haram dan suami berdosa besar. Kok bisa-bisanya Mas ngomong begitu?"


"Heh! Jaga mulut kamu, ya! Lama-lama ngelunjak kamu. Selama ini nafkah bulanan selalu aku kasih. Kapan aku pernah tidak memberi nafkah buat kamu?!"


"Mas, uang tabungan hasil aku menyisihkan uang bulanan dari kamu, selalu kamu minta. Uang yang kamu beri tiap bulan satu juta, Mas. Biaya ngontrak rumah lima ratus ribu. Itu belum buat bayar listrik, air, buat makan sehari-hari, buat beli susunya Zea. Belum lagi aku harus menyisihkan uang buat tabungan pendidikan Zea nanti. Padahal tulisan di slip gaji itu, jumlah gajimu lima juta, Mas."


Plak


"Diam kamu!" bentak Arya setelah menampar pipi kiri Rahma. Kemudian dia bergegas pergi dari rumah.


***


Tok, Tok, Tok,


"Assalamu'alaikum." ucap Arya.


"Wa'alaikum salam." jawab mama Anti sambil membuka pintu.


"Lho, Ar. Kok jam segini ke sini? Ada apa?"


"Gak apa-apa, Ma. Males saja tidur di rumah."


"Ribut sama Rahma lagi? Pasti gara-gara hasutan si Ida ini." kata mama Anti berbisik sambil menarik tangan Arya untuk duduk di kursi yang ada diteras rumah.


"Memangnya mbak Ida ngomong gimana, Ma?"


"Katanya gaji teman-teman kamu jumlahnya banyak. Istrimu disuruh ati-ati kalau kamu gak bener diluar karena gajimu cuma kamu kasih satu juta ke Rahma."


"Mosok mbak Ida begitu, Ma?"


"Sstttt, pelan-pelan saja ngomongnya. Nanti Ida denger. Pokoknya istrimu itu suruh jaga jarak sama Ida. Tidak perlu chatingan, telponan atau ngumpul bareng sama, Ida. Biar rumah tanggamu adem, tidak terbakar hasutan si Ida terus-terusan.


"Iya, Ma." jawab Arya.


...~Happy Reading~...


...🌸🌸🌸...


...Mohon Maaf jika masih banyak kesalahan dalam penulisan🙏🙏...


...Author baru belajar menulis karya fiksi. Mohon koreksi dan dukungannya ya, dengan Like, komen dan vote ya🤗😘🥰...


...Dukungan kalian sangat berarti bagi Author...


...TERIMA KASIH....

__ADS_1


...🙏🙏...


...🌸🌸🌸...


__ADS_2