
Setelah Arya setuju untuk menikahi Rahma. Kini, Arya dilanda dilema untuk meminta izin menikahi kekasihnya. Rasa dilema itu setiap hari membayangi dirinya. Siang dan malam dia berpikir keras untuk mencari cara dan mengatur bahasa yang akan dia sampaikan kepada kedua orang tuanya. Dia ingin agar niatnya untuk menikahi Rahma di usia 22 tahun tidak mendapat penolakan.
Arya memang masih muda. Usianya baru menginjak 22 tahun. Dia pun belum bekerja. Bahkan masih berstatus sebagai seorang mahasiswa. Jangankan untuk biaya menikah, biaya untuk kuliah dan kebutuhan sehari-harinya saja ia dapat dari orang tua dan kakaknya.
Arya adalah anak ke dua dari papa Ahmad dan mama Anti. Dia memiliki kakak bernama Andre yang usianya sudah 30 tahun. Tetapi mas Andre masih belum menikah karena kekasihnya dijodohkan dengan pria lain. Karena kejadian itu, mas Andre mulai menutup hati dengan wanita lain. Ia trauma, karena kisah cintanya yang terbina selama 5 tahun dengan kekasihnya yang bernama Sarah kandas begitu saja. Semua itu terjadi karena Sarah dijodohkan dengan pria pilihan orang tuanya.
***
Pagi itu Arya berangkat kuliah. Pikirannya saat ini sangat kacau. Dia takut jika orang tuanya tidak mengizinkan untuk segera menikah karena kakaknya belum menikah. Di sisi lain, dia juga takut jika Rahma dijodohkan dengan pria lain.
Arya terlihat murung di kelas. Dia mendadak menjadi pendiam tidak seperti biasanya. Dia pun tidak fokus dengan materi yang disampaikan oleh dosen. Bahkan saat diajak bicara oleh teman-temannya, dia sering termenung dan tidak menjawab omongan teman-temannya.
"Hai Bro bengong mulu, kamu kesambet setan apa hari ini? Tumben alim kayak anak pesantren. Ha ha ha ha" celetuk Rony sambil tertawa.
"Dia salah minum obat Bro. Ha ha ha" sahur Ian ikut menimpali omongan Rony
"Entahlah... aku bingung! Hari ini aku lagi bad mood Bro. Arghhh...! Pusing kepalaku selama beberapa hari ini!" Ucap Arya menanggapi bercandaan teman-temanya.
"Kamu ini kenapa sih? Tumben kamu kalut seperti ini? Apa semua fasilitas kamu disita sama papa kamu?" Tanya Ian penasaran.
"Bukan itu masalahnya Bro." Jawab Arya.
"Lalu, masalah apa yang bisa membuat temanku yang badboy, cool, keren, ganteng, famous dan tajir ini nampak galau?" celetuk Rony
"Please lah! kalian jangan bercanda mulu kenapa! Aku ini lagi ada masalah yang rumit. Tolonglah kalian ngertiin aku dan kasih solusi! Sudah mentok otakku ini. Kali ini aku tidak bisa berpikir jernih untuk nyari solusi yang tepat." Arya menjelaskan tentang gambaran pikirannya saat ini.
"Ya sudah..., cerita saja sama kita. Siapa tahu kita bisa ngasih solusi yang pas buat kamu." Sahut Ian untuk menenangkan kegundahan Arya.
Arya mulai menjelaskan detail tentang masalah yang dia hadapi kali ini.
"Ya sudah gini aja Bro..., dari pada kamu pusing mikir masalah yang belum ada solusinya, mendingan kita party-party saja nanti malam. Setuju apa enggak Ron?" tanya Ian.
"Siap Bro..., kita have fun saja nanti malam. Buat apa pusing-pusing mulu. Kayak orang susah aja kamu ini. Malam ini kita bikin happy saja. Besok..., siapkan bener-bener mental kamu untuk ngomong ke orang tuamu." Saran Rony untuk sedikit mencairkan kekalutan pikiran Arya.
"Ok, Kalau begitu nanti malam kita clubbing saja seperti biasa. Kita puas-puasain saja malam ini Bro ha ha ha," ucap Arya sambil tertawa dengan teman-temannya.
***
Malam itu, Arya pamit pada kedua orang tuanya untuk ke rumah Rony.
"Ma... Pa..., Arya ke rumah Rony dulu ya. Ada tugas makalah yang harus segera diselesaikan malam ini juga. Karena besok harus dikumpulkan." Jelas Arya sambil menutupi ekspresi kebohongannya.
"Iya Ar, hati-hati ya. Nyetirnya pelan-pelan saja tidak usah ngebut!" Ucap Mama Anti mengingatkan anak kesayangannya.
"Iya Ma..., assalamu'alaikum." Ucap Arya sambil bersalaman dengan kedua orang tuanya.
"Wa'alaikum salam." Jawab Papa Ahmad dan Mama Anti kompak.
***
Brumm... Brumm...
Suara mobil Arya terdengar sudah di depan rumah Rony. Rony yang sudah menunggu dari tadi segera turun dari tangga untuk menemui temannya itu.
Tingtung, Tingtung,
Suara bel rumah dipencet.
"Assalamu'alaikum" terdengar suara Arya samar-samar dari dalam rumah Rony.
"Eh sudah sampai Ar?" Sambut Rony dengan wajah sumpringahnya.
__ADS_1
"Iya. Are you ready? Kita tinggal berangkat kan?" Tanya Arya.
"Yap. Tapi aku tak pamit ke Papa Mama dulu ya." Jelas Rony sambil berjalan menghampiri kedua orang tuanya.
"Pa... Ma..., aku pergi dulu sama Arya." Ucap Rony sambil bersalaman dengan kedua orang tuanya.
"Om... Tante..., saya pamit dulu ya." Imbuh Arya
"Iya..., hati-hati ya kalian di jalan." Tegas Mama Rony.
***
Brumm.. Brumm...
Arya segera memarkirkan mobilnya di basement sebuah diskotik yang menjadi tempat tujuan mereka untuk party malam ini.
"Ian sudah sampai sini apa belum ya?" tanya Rony pada Arya dengan suara keras. Karena jika dia bicara pelan suaranya akan kalah dengan suara musik remix yang begitu keras di dalam club.
"Palingan sudah. Tadi Ian ngechat aku 'bilang kalau mau langsung ke lokasi'." Jelas Arya.
"Mana dia?" ucap Rony sambil nengok ke setiap arah untuk mencari Ian.
"Eh itu dia..., Hai Bro!" teriak Arya sambil melambaikan tangan ke arah Ian berada.
Malam itu, mereka open table di meja nomer dua. Mereka asyik menikmati jedag jedug musik remix yang mengiringi setiap tamu yang asyik berjoged. Di meja tersebut, tersedia beberapa jenis wine yang sudah mereka pesan. Secara bergantian, tiga Ledies Club yang sudah di booking untuk menemani mereka, menuangkan minuman ke gelas Arya, Ian dan Rony.
"Hai cantik..., yuk kita joget di sana." Ucap Arya sambil menarik salah satu ledies club.
Tak terasa malam semakin larut. Jam sudah menunjukkan pukul 00:00. Namun, tiga sahabat itu masih asyik menikmati seteguk demi seteguk wine sambil sesekali berjoget. Tidak terasa jam sudah menunjukkan pukul 02:00 pagi.
"Bro, sudah jam 2 pagi. Ayo kita pulang!" ajak Ian membuyarkan teman-temannya yang asyik berjoget.
Ting Tung... Ting Tung...
Walaupun merasa marah dan kecewa tetapi Papa Ahmad tetap mau membantu Arya menaiki tangga menuju kamarnya.
***
Mentari bersinar dibalik celah-celah gorden. Silau sinarnya mampu menembus mimpi indah Arya.
"Hoam..." Arya bangun dari tidurnya.
"Eh jam berapa ini!" sambil melihat jam tangannya
"Aduh..., sudah siang ternyata. Kenapa tidak ada yang bangunin aku. Huft."
"Pagi Ma... Pa..., tumben hari ini tidak ada yang memanggil Arya untuk subuhan dan sarapan? Maaf tadi Arya ketiduran setelah shalat subuh." Arya salah tingkah melihat raut wajah kedua orang tuanya yang begitu datar.
"Kemana kamu semalam Ar?" tanya Papa Ahmad pada Arya dengan nada ketus.
"Semalam Arya ke rumah Rony Pa untuk mengerjakan tugas makalah bareng Ian juga. Kenapa memangnya Pa?" Arya mulai grogi.
"Jawab dengan jujur Arya!" tegas Papa Ahmad semakin meninggikan nada bicaranya.
"Ar- Arya... Arya semalam clubbing Pa," jawab Arya dengan gugup sambil menundukkan mukanya.
"Sejak kapan Papa mengajari kamu untuk masuk ke dunia jahannam seperti itu Ar! Sejak kapan!" tanya Papa Ahmad dengan garang. Seakan-akan ingin menelan mentah-mentah tubuh Arya.
"Ma- maafin Arya Pa... Ma..., Arya khilaf. Arya sedang menghadapi masalah yang rumit. Arya bingung harus ngomong apa pada Mama dan Papa. Maafin Arya Pa... Ma...," jawab Arya gugup.
"Ada masalah apa kamu Ar?" tanya Mama Anti.
__ADS_1
"Pa... Ma..., Arya ingin menikah dengan kekasih Arya, namanya Rahma" jelas Arya sambil menunduk dan ketakutan.
"Apa! Kamu itu masih kuliah. Semua kebutuhan kamu selama ini yang mencukupi orang tua kamu. Kerja aja belum. Usia kamu juga baru 22 tahun. Mau kamu kasih makan apa itu anak orang? Kalau mempunyai keputusan dipikir dulu matang-matang. Jangan hanya mengedepankan nafsu dan keinginan sesaat kamu!" tegas Papa Ahmad pada anak bungsunya itu.
Papa Ahmad dan Mama Anti terus menerus menjejali Arya dengan banyak pertanyaan. Mereka berpikir negatif tentang niatan anaknya yang terlalu terburu-buru itu.
Dengan pelan dan penuh hormat Arya mencoba menjelaskan secara perlahan alasan dia ingin segera menikahi Rahma. Dia juga menjelaskan siapa sosok Rahma dan bagaimana background keluarga Rahma. Yang dia harapkan saat ini adalah restu dari kedua orang tuanya. Karena Arya sangat mencintai Rahma, dan dia tidak rela melepas Rahma untuk menikah dengan pria lain.
"Ok, besok kita ke rumah Rahma," ucap Papa Ahmad
Orang tua Arya terpaksa menyetujui keinginan anaknya. Mereka hawatir jika tidak menyetujuinya, Arya akan semakin nakal.
"Semoga setelah kamu menikah, kamu bisa memperbaiki diri." ucap Mama Anti
***
Pagi itu hari begitu cerah. Rahma dan keluarga sudah mempersiapkan bermacam-macam makanan untuk menyambut keluarga Arya. Rahma dan kedua orang tuanya pun terlihat sudah siap untuk menyambut kedatangan calon besan.
Brumm... Brumm...
Arya sekeluarga sudah sampai di depan rumah.
Mendengar suara mobil berhenti di depan rumah, Ayah Ibrahim segera bersiap untuk menyambut mereka.
Ting Tung... Ting Tung...
Cklek
"Asaalamu'alaikum," ucapan salam Papa Ahmad.
"Wa'alaikum salam," jawab Ayah Ibrahim.
Keluarga Arya kemudian dipersilahkan masuk.
Setelah mereka duduk dan berbincang-bincang sesaat. Papa Ahmad kemudian mengutarakan maksud kedatangan mereka sekeluarga. Perbincangan antara dua keluarga itu pun terlihat sangat hangat. Sesekali diselingi gelak tawa. Setelah mereka berbicara panjang lebar,
"Bagimana Pak Ibrahim, apa putri Bapak bersedia menerima pinangan anak saya Arya untuk menikah dalam waktu dekat?" ucap Papa Ahmad mewakili niatan anaknya.
"Kalau saya ya..., setuju-setuju saja. Karena menikah kan ibadah. Selain itu..., juga untuk menghindari maksiat, dosa dan fitnah. Akan tetapi..., semua saya kembalikan ke Putri saya.
Bagaimana Rahma, apa kamu menerima pinangan Nak Arya untuk segera menikah dalam waktu dekat?" tanya ayah Ibrahim.
Rahma tersenyum, "Iya, saya bersedia," jawab Rahma tertunduk malu.
"Alhamdulillah..." ucap semua yang ada di ruangan itu secara bersamaan.
...~Happy Reading~...
...πΈπΈπΈ...
...Mohon Maaf jika masih banyak kesalahan dalam penulisanππ...
...Author baru belajar menulis karya fiksi. Mohon koreksi dan dukungannya ya, dengan Like, komen dan vote yaπ€ππ₯°...
...Dukungan kalian sangat berarti bagi Author...
...TERIMA KASIH...
...πππ...
...πΈπΈπΈ...
__ADS_1