Prahara Dua Hati

Prahara Dua Hati
KISAH PEMBUKA


__ADS_3

*Flashback*


Kring..., Kring...,


Suara alarm berbunyi, menunjukkan pukul 04:26 pagi. Terdengar pula, lantunan suara adzan yang begitu indah dari masjid sebrang jalan.


Mendengar suara alarm jam dan lantunan suara adzan, Rahma bergegas untuk bangun dan mengambil air wudlu. Dewi yang mendengar adzan pun segera tersadar dari mimpi indahnya kemudian bergegas mengambil air wudlu juga. Rahma, Dewi dan teman-teman satu kostnya kemudian shalat subuh berjama'ah, diimami oleh Bapak kost mereka. Dengan khusyu' mereka mengikuti shalat subuh berjama'ah.


Setelah selesai shalat, Rahma dan Dewi keluar dari kost untuk berolah raga. Setiap selesai shalat subuh, mereka selalu berolah raga. Biasanya mereka lari-lari dilapangan dekat kost. Terkadang mereka juga melakukan yoga, bulutangkis atau skipping (lompat tali) dihalaman kost.


Matahari mulai menyapa hari. Menampakkan senyum hangatnya, dan menyusupkan sinar-sinar terang dibalik dedaunan yang masih basah akibat tetesan sejuk sang embun. Nyanyian burung-burung pun mulai terdengar. Bunga-bunga mulai bermekaran menebarkan aroma semerbak harum. Langkah kaki Rahma dan Dewi jengkal demi jengkal menuju ke kost, melewati rerumputan yang masih asyik melakukan tarian penyambut hari. Setelah sampai ke kost, mereka segera mandi, lalu pergi ke warung sebelum kost untuk membeli sarapan.


"Saya bungkus nasi pecel dikasih kering tempe bu. Tambah bakwan 1 dan tempe satu. Minumnya teh tawar hangat ya." Rahma memesan pada bu Siti.


"Saya bungkus nasi semur dikasih telur dadar bu. Minumnya teh manis hangat." ucap Dewi.


Jam sudah menunjukkan pukul 06:30 pagi. Para penghuni kost setelah selesai sarapan, segera bersiap pergi ke kampus. Tak terkecuali Rahma dan Dewi, mereka segera berjalan kaki melewati gang sempit menuju kampus. Terkadang, mereka lebih memilih untuk berjalan kaki dibandingkan harus membawa mobil, karena akan sangat repot saat mencari lokasi parkir. Jarak kost ke kampus sekitaran 300 meter dan butuh waktu 5 menit dengan berjalan.


***


"Assalamu'alaikum." Suara bu Anita memecah gelak tawa para mahasiswa yang sedang asyik mengobrol. Bu Anita adalah Dosen mata kuliah Pengantar Ekonomi Makro.


Perkuliahan sedang berlangsung hari itu. Rahma, Dika, Novan dan Rere yang mandapat tugas untuk presentasi hari ini. Dengan khidmat, Bu Anita dan para mahasiswa menyimak materi makalah yang disampaikan oleh Rahma dan teman-temannya.


Kring-Kring...


Tanda jam perkuliahan sudah selesai.


Satu persatu mahasiswa keluar dari kelas. Ada yang ke kantin, ke perpustakaan, ke gedung auditorium kampus untuk mengerjakan tugas, ada mengikuti seminar, mengikuti kegiatan ekstrakurikuler di kampus dan ada juga yang langsung buru-buru pulang ke kost atau ke rumah masing-masing. Begitulah kegiatan para mahasiswa setiap harinya.


***


Drrttt... Drrttt...


Terdengar bunyi getar handphone Rahma. Spontan Rahma membuka tas dan mencari HPnya. Dilihatnya HP tersebut, "Oh, ternyata Arya yang menelpon." gumamnya pelan.


"Assalamu'alaikum." Rahma memulai percakapan.


"Wa'alaikum salam." jawab Arya.


"Apa kabar hari ini, Ra?" Apa kamu sibuk hari ini?" Arya bertanya.


"Alhamdulillah baik. Hari ini ya, Em ... kayaknya tidak ada acara sih. Kenapa, Ar?" Rahma bertanya balik.


"Apa kamu ada waktu untuk bertemu aku? Aku ingin mengajak kamu keluar untuk dinner. Nanti, Dewi dan Dion juga ikut." Arya menjelaskan.


"Emm ... gimana ya, Ok deh! Jam berapa nanti, Ar?"

__ADS_1


"Jam 5 sore nanti kamu sama Dewi tak jemput di kost ya. Aku nanti berangkat sama Dion."


"Oh, gitu. Ok Ar."


"Eh, sudah dulu ya, Ra. Aku lagi ada tamu ini. Sampai ketemu nanti sore Ra. Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikum salam." Rahma mematikan telpon.


***


Jam menunjukkan pukul 17:30. Rahma dan Dewi terlihat sudah rapi. Mereka berdua duduk di ruang tamu kost. Sesekali, mereka melihat handphonenya, seperti sedang menunggu seseorang.


Brumm... Brumm...


"Ra, sepertinya itu mobil Arya yang datang." Dewi lalu berjalan ke teras.


Terlihat dua pria muda tampan keluar dari dalam mobil. Melihat orang yang ditunggu sudah datang, Rahma segera keluar ke teras menyusul Dewi. Senyum ramah saling bersambut, antara mereka berempat.


"Hai sayang, hai Ra." sapa Dion tersenyum.


"Hai." jawab Dewi dan Rahma beriringan.


"Maaf ya kalau kalian menunggu lama. Tadi macet sekali jalannya. Padahal kami sudah berangka dari jam 14:30. Harusnya sampai sini kan jam 16:30. Tapi ini malah molor sampai jam 17:30 baru sampai sini." Arya memberi penjelasan atas keterlambatannya.


"Iya, gak apa-apa kok. Kita bisa ngertiin. Iya kan, Wi?" Sambil menyolek Dewi. Dan Dewi hanya tersenyum.


***


Setibanya di sebuah restoran steak, mereka berempat langsung menuju ke meja nomer 9. Meja tersebut posisinya ada di paling pojok.


"Hahaha" suara gelak tawa dua pasangan muda itu terdengar tidak begitu keras. Mereka terlihat begitu asyik ngobrol. Entah apa saja yang mereka bicarakan, sampai terlihat mereka begitu bahagia.


Setelah selesai menyantap makanan yang mereka pesan, tiba-tiba Dion mengajak Dewi pergi.


"Sayang, yuk kita shopping. Kan, kemarin kamu cerita kalau pengen beli baju dan sepatu." ajakan Dion ke Dewi.


Dewi yang merasa tidak mengatakan itu, menjadi bingung, "Em... mosok sih? Kapan aku bilang begitu sama kamu Yank?"


"Sayang lupa ya? Ya udah, yuk kita ke mall sebelah sana buat beli baju. Aku juga sekalian mau beli kemeja. Aku maunya kamu yang milihin." Sambil menggandeng bahu Dewi agar segera pergi.


**


Suasana hening dan rasa canggung tiba-tiba meliputi Rahma dan Arya. Sesekali mereka saling pandang, lalu saling berbalas senyum.


Harus dari mana aku mengawalinya? Apa yang harus aku katakan pada dia? Kira-kira dia marah apa gak ya? Apa dia akan menolakku? Haduh... jadi grogi aku.


"Tadi mereka mau pergi kemana ya?" Pertanyaan Rahma mengejutkan Arya, yang sibuk bergumam dalam hati.

__ADS_1


Arya yang masih kaget, menjawab Dewi dengan terbata, "Ta-- tadi Dion kayaknya ngajak Dewi shopping. Tapi gak tahu kemana?


"Eh, Bagaimana keadaanmu sekarang, Ra? Apa sudah lebih baik dari pada kemarin? Gak usah sedih lagi. Buruan move on. Sudah move on kan?" Arya bertanya sambil tersenyum.


"Iya, alhamdulillah sudah lebih baik. Lagian sudah lama juga kok, ya jelas-jelas sudah move on lah! Ngapain juga berlarut-larut dalam kesedihan. Ya kan? Hahaha." Rahma menjawab sambil tertawa.


Dion yang mendengar penjelasan Rahma hanya merespon dengan senyum lebarnya.


Aduh, gimana ini. Aku ngomong sekarang gak ya? Tapi, kalau tidak sekarang, kapan lagi aku nyari waktu yang pas. Kalau tak tunda-tunda terus, mau sampai kapan dalam ketidak jelasan ini.


Setelah cukup yakin, Arya memberanikan diri untuk bicara, "Ra, aku boleh tanya sesuatu?"


"Boleh, mau tanya Apa Ar?"


"Apa kamu siap jika aku ajak untuk berkomitmen? Aku tidak mau punya hubungan yang tidak jelas. Aku ingin kita menjalani masa pacaran untuk menunggu wisuda saja. Setelah kita wisuda dan sama-sama sudah bekerja, aku akan meminta izin ke orang tuaku untuk segera melamarmu, lalu kita segera menikah. Apa kamu bersedia, Ra?" detak jantung Arya makin tidak beraturan menunggu jawaban dari Rahma.


"Emm ... gimana ya ... , Rahma berpikir sejenak,


"I-- iya aku bersedia, Ar."


"Serius, Ra? Kamu menerima aku?" Mata Arya berbinar-binar.


"Iya. Tapi ... "


"Tapi apa, Ra?" Arya seketika panik.


"Aku harap kamu konsisten dengan semua yang kamu katakan tadi. Dan kita sama-sama jaga komitmen ini." tegas Rahma.


"Iya Ra, aku akan konsisten terhadap komitmen yang sudah kita buat."


Sejak saat itu, Rahma dan Arya menjalin hubungan spesial lebih dari sekedar sahabat dan teman sharing. Dari situlah, kisah pembuka jalinan kisah kasih keduanya dimulai.


...~Happy Reading~...


...🌸🌸🌸...


...Mohon Maaf jika masih banyak kesalahan dalam penulisanπŸ™πŸ™...


...Author baru belajar menulis karya fiksi. Mohon koreksi dan dukungannya ya, dengan Like, komen dan vote yaπŸ€—πŸ˜˜πŸ₯°...


...Dukungan kalian sangat berarti bagi Author...


...TERIMA KASIH...


...πŸ™πŸ™πŸ™...


...🌸🌸🌸...

__ADS_1


__ADS_2