
Pagi itu, suasana petang masih menyelimuti. Dua rakaat shalat subuh, baru saja dikerjakan. Mama Anti mulai bersiap memasak di dapur. Papa Ahmad, masih berdzikir dengan bulir-bulir tasbihnya. Sementara mas Andre, terlihat sibuk menata berbagai macam jenis buah di mobil pict up untuk disetorkan ke pasar.
Semenjak perusahaan papa Ahmad kolaps, mas Andre berusaha mencari pekerjaan untuk menopang kebutuhan dirinya dan kedua orang tuanya. Pekerjaan apa pun dia kerjakan asal ada pemasukan. Hingga pada suatu hari, mas Andre sedang berolah raga dengan berlari-lari di sekitar kampung tempat dia mengontrak rumah yang sekarang mereka tempati. Ia melihat, ada salah satu rumah yang penuh dengan berbagai macam buah-buahan yang tertata di karung dan keranjang. Terlihat berjajar mobil pict up yang sedang mengantri untuk mengangkut buah-buahan itu. Di rumah mewah dengan gudang besar di sampingnya, nampak seorang bapak berusia sekitar 50 tahun yang sibuk mencatat buah-buahan yang sudah terangkut. Karena penasaran, mas Andre mendekati dan menanyakan detail kegiatan yang dia lihat kala itu. Sejak saat itu, mas Andre ikut bergabung menjadi anak buah dari juragan Yanto yang menyetorkan buah-buahannya ke beberapa pasar dengan mobil pict up yang dipinjamkan oleh juragan tersebut.
"Andre, masakannya sudah matang. Sarapan dulu nanti sebelum berangkat ya." kata mama Anti.
"Iya, Ma."
"Mama, tak ngurus papa kamu dulu ya."
"Iya, Ma." jawab mas Andre sambil mengambil handuk kemudian berjalan menuju kamar mandi.
Jam sudah menunjukkan pukul 05:30. Mas Andre mulai bersiap untuk berangkat mengantar buah yang sudah tertata rapi di pict up.
"Ma Pa, berangkat dulu ya. Assalamu'alaikum." ucap mas Andre sambil melambaikan tangan pada kedua orang tuanya.
"Iya wa'alaikum salam. Hati-hati ya." jawab mama Anti dengan melambaikan tangan juga.
Seperti biasanya setelah selesai memasak, mama Anti membantu papa Ahmad untuk latihan berjalan di halaman rumah. Sejak rutin terapi, sedikit deki sedikit perkembangan papa Ahmad mulai terlihat. Dari yang awalnya hanya bisa berbaring di atas ranjang, sekarang sudah mulai bisa duduk tanpa perlu dibantu. Dari yang awalnya kemana-mana duduk di atas kursi roda dengan bantuan mama Anti, sekarang sudah mulai bisa berjalan dengan bantuan tongkat.
"Mas, yuk coba berjalan pelan-pelan tanpa memakai tongkat. Bismillah ya Mas, yakin! Kamu pegangan tanganku ya. Kakinya digerakin pelan-pelan, jangan kaku." ucap mama Anti yang terus menyemangati suaminya.
"Iya, Ma. Bismillahirrahmanirrahim." Sambil memegang erat tangan istrinya dan membiarkan tongkatnya diambil mama Anti.
Setiap pagi hari, kala mentari sudah mulai menampakkan sinar hangatnya. Kegiatan rutin itu selalu mereka lakukan atas saran dokter. Saat mama Anti sedang fokus membantu papa Ahmad untuk latihan berjalan, tiba-tiba ibu penjual sayur berhenti di depan rumah.
"Bu Anti, belanja apa tidak, Bu?" tanya bu Siti penjual sayur.
"Eh, Bu Siti. Iya Bu, tunggu sebentar ya." Lalu membantu papa Ahmad untuk duduk di kursi yang tersedia di teras rumah. Setelah itu, bergegas masuk ke rumah untuk mengambil uang.
Di depan kontrakan, terlihat ibu-ibu sedang memilih-milih sayur dan ikan yang dijual bu Siti. Terdengar juga suara bisik-bisik obrolan mereka. Mama Anti yang baru datang hanya diam dan menyimak obrolan para tetangganya itu.
"Iya cantik anaknya pak Yanto itu. Itu kan, anak bungsunya yang baru lulus Madrasah Aliyah." jelas salah satu ibu yang sedang berbelanja.
"Ohhh anak pak Yanto yang bernama Ida, ya?"
"Nah, iya Ida. Kabarnya, pak Yanto mau mencarikan suami untuk Ida." sahut bu Siti penjual sayur.
"Lho si Ida, kan masih kecil dia."
__ADS_1
"Kira-kira kenapa ya, orang sekaya pak Yanto buru-buru mau nikahin anaknya."
"Mungkin hawatir dengan pergaulan anak zaman sekarang."
"Bu Anti, pak Yanto kan bosnya Andre. Suruh saja Andre untuk meminang Ida. Siapa tahu diterima. Kan, lumayan dapat besan sekaya itu." celetuk bu Siti yang melihat mama Anti dari tadi tidak ikut bergosip.
Mama Anti yang fokus memilih-milih ikan, terkejut mendengar namanya dan nama anaknya disebut. Sambil tersenyum mama Anti menjawab, "hehe saya ini orang tidak punya Bu. Tidak mungkin lah pak Yanto mau berbesan dengan saya."
"Eh, jangan salah Bu Anti, pak Yanto itu tidak membeda-bedakan status sosial seseorang. Anak sulung pak Yanto si Devi, itu juga dapat supir yang biasa mengangkut buahnya pak Yanto. Seperti anak Ibu." sahut salah satu Ibu yang berbelanja sayur juga.
Setelah omongan pagi itu, mama Anti jadi kepikiran untuk menyuruh mas Andre mencoba meminang anak pak Yanto. Namun, rasa sadar dirinya selalu menghalangi.
Ah, aku harus sadar diri. Tidak mungkin seorang juragan besar di kampung ini mau menerima menantu seperti Andre. Pasti mereka tidak akan sudi berbesan dengan keluarga miskin seperti keluargaku yang sekarang. Biar Allah saja yang menentukan dan mempertemukan Andre dengan seorang wanita yang tulus dan bisa menerima keadaannya sekarang.
***
Genap satu tahun mas Andre bekerja pada pak Yanto. Ia menjadi karyawan terlama di sana. Mas Andre adalah karyawan teladan yang selama satu tahun tanpa ada masalah dalam hal pengiriman barang dan laporan keuangan. Hal itu yang membuat pak Yanto teramat kagum padanya.
Selama beberapa bulan terakhir ini, pak Yanto terus mengamati dan menguji kejujuran mas Andre. Tetapi tidak pernah sekalipun mas Andre tidak amanah. Karena sifat dan sikap mas Andre yang demikian, membuat pak Yanto berniat untuk menjadikan mas Andre sebagai tangan kanannya.
"Ndre, Ndre." Salah seorang supir bernama mas Budi memanggil ms Andre.
"Sana, kamu dicari pak bos itu. Katanya, ditunggu di dalam." jelas mas Budi.
"Oh, iya Mas." Langsung berjalan menuju rumah pak Yanto.
Tok, Tok, Tok
"Assalamu'alaikum, Pak." ucap mas Andre.
Pak Yanto yang mendengar suara mas Andre langsung menjawab, "masuk saja Ndre. Langsung saja ke sini."
Setelah mas Andre menghadap pak Yanto, banyak hal yang mereka bicarakan. Masalah peluasan pemasaran, kualitas barang, komplain customer, kendala-kendala dilapangan dan pembayaran para customer. Namun, tiba-tiba suasana terasa lebih formal, topik pembicaan terkedan lebih tertata.
Karena merasa canggung dengan perubahan sikap pak Yanto, akhirnya mas Andre memberanikan diri untuk bertanya. "Pak, apa masih ada yang perlu ditanyakan ke saya lagi?"
"Iya, Ndre. Ini tujuan saya menyuruh mas Budi untuk memanggilkan kamu. Apa Andre sudah punya pacar atau calon istri?"
"Saya tidak punya, Pak. Maaf kalau boleh tahu, kenapa ya, Pak?" tanya mas Andre penasaran namun grogi.
__ADS_1
Sambil tersenyum pak Yanto menjawab. "Apa Andre mau membantu mengelola dan membesarkan usaha Bapak ini?"
Dengan yakin dan wajah yang berbinar mas Andre menjawab. "Iya, Pak. Saya mau."
"Alhamdulillah. Satu lagi yang ingin tak tanyakan. Apa Mas Andre bersedia menikahi putri bungsu Bapak yang baru lulus Madrasah Aliyah tahun lalu? Namanya Ida."
Mas Andre kemudian terdiam untuk berpikir sejenak. Kalau tak tolak, pasti aku dipecat dari pekerjaan ini. Selain itu, aku di usia yang sekarang juga belum ada hubungan dengan siapapun. Mama papa juga ingin aku segera menikah. Tapi, rasa traumaku masih ada. Bagaimana ya? Ah, Bismillahirrahmanirrahim. Insya Allah, apa yang ku ucapkan ini nanti adalah yang tetbaik.
"Bagaimana, Ndre? Kenapa diam saja tidak menjawab?" tanya pak Yanto.
Mas Andre yang sedang bergumam dalam hati, langsung terkejut mendengar suara pak Yanto. "I-- iya. Saya bersedia, Pak.
***
Setelah terjadi kesepakatan antara pak Yanto dan mas Andre, tidak berselang lama akhirnya mas Andre dan Ida pun menikah. Acara pernikahan mereka dilaksanakan dengan sangat meriah.
Pak Yanto mengundang banyak sekali tamu undangan. Keluarga kedua mempelai juga sudah bersiap di tempat ijab qobul. Tiba-tiba sayup-sayup terdengar.
"Bagaimana para saksi, Sah?"
"Sah ... ."
"Alhamdulillah." ucap para saksi.
Sejak saat itu, Ida berstatus sebagai istri mas Andre.
...~Happy Reading~...
...๐ธ๐ธ๐ธ...
...Mohon Maaf jika masih banyak kesalahan dalam penulisan๐๐...
...Author baru belajar menulis karya fiksi. Mohon koreksi dan dukungannya ya, dengan Like, komen dan vote ya๐ค๐๐ฅฐ...
...Dukungan kalian sangat berarti bagi Author...
...TERIMA KASIH....
...๐๐...
__ADS_1
...๐ธ๐ธ๐ธ...