
Mentari di ufuk timur menyapaku pagi ini. Menyambut hariku dengan sanyum hangatnya. Terlihat malu-malu, dia mengintipku dibalik awan putih yang berjajar. Kukembangkan senyum sambil menghela nafas panjang. Agar aura positif di pagi ini mengantarkanku melewati hari dengan damai.
Selepas shalat subuh berjamaah dengan lelaki tercintaku, aku masih terduduk di sini sendiri. Di sebuah balkon rumah di lantai 2. Rumah yang menjadi tempatku untuk membuka lembar baru. Rumah yang memberiku keteduhan, dari panas teriknya kehidupan.
Pagi ini suamiku masih lelap tertidur, gadis kecilku juga masih bermain-main di alam mimpinya. Sengaja belum kubangunkan mereka, agar sesaat bisa kunikmati sendiri, indahnya dunia. Kuteguk secangkir kopi hitam hangat. Sembari menikmati beberapa potong cookies coklat dan cake choco lava.
Kulihat kanan kiri suasana sekitar rumah dari lantai dua. Terlihat halaman depan yang begitu bersih, dihiasi deretan bunga yang tertata rapi diantara rerumputan hijau. Kupalingkan mataku ke arah yang lain, terlihat suasana samping rumah yang begitu mendamaikan. Di samping rumah, nampak kilauan cahaya dari air kolam renang yang berukuran besar dan yang satu lagi berukuran sedang. Di samping kolam renang, ada beberapa kursi dan meja yang ditata dengan rapi, biasanya di sana, keluarga kami menikmati seduhan kopi. Bunga warna warni juga tumbuh subur disebuah taman, dengan dilengkapi sebuah ayunan dan prosotan.
Ah, apa lagi yang kuingin dari hidupku ini. Jika semua yang kuingin sudah ku gapai. Orang tua yang begitu sayang padaku, suami yang begitu mencintaiku, bayi kecilku yang tumbuh sehat selalu, mertua yang memperlakukanku seperti anak kandungnya, kakak ipar yang selalu menjagaku seperti adik kandungnya, rumah tangga bahagia yang selalu harmonis, dan gelar sarjana sebentar lagi kusandang. Semua itu sudah ada dalam lembar kehidupan yang kujalani sekarang.
"Sayang..." Arya memanggil.
"Iya, Mas.
"Sudah siang gini kok aku tidak bingunin Sayang?" tanya Arya.
"Hehehe, maaf Mas. Kirain masih capek tadi. Ya sudah, mandi dulu sana." ucap Rahma.
Waktu sudah menunjukkan pukul 06:30. Baby Zea baru saja bangun. Rahma kemudian menggendongnya menuju lantai satu. Dengan perlahan dia menuruni satu persatu anak.
"Mbak Mei," Rahma memanggil.
"Iya, Non," jawab mb Mei.
Melihat mbok Sri sibuk di dapur, Rahma menghampiri, "Masak apa Mbok?"
"Ini Non, Saya masak nasi goreng untuk sarapan," jawab mbok Sri.
"Masih lama ya Mbok? Tak bantuin saja ya biar cepat selesai," ucap Rahma.
"Tidak usah, Non. Sudah selesai kok," jawab mbok Sri.
Setelah semua anggota keluarga di tempat makan, mereka kemudian segera menyantap nasi goreng buatan mbok Sri. Nasi goreng hangat, yang rasanya begitu lezat.
"Pa, Ma, Arya berangkat dulu ya. Sudah kesiangan. Hari ini Arya ada jadwal meeting pagi,"
"Sayang, Aku berangkat dulu ya," Sambil mencium anak dan istrinya.
"Iya Sayang, hati-hati ya di jalan," Muahh Rahma mencium suaminya.
Setelah selesai sarapan, papa Ahmad, mama Anti dan mas Andre juga pamit untuk pergi bekerja.
Suasana rumah menjadi begitu sepi, setelah semua berangkat ke tempat kerja masing-masing. Para ART (Asisten Rumah Tanggaa) juga sibuk dengan pekerjaannya masing-masing.
"Kita nonton TV saja yuk Baby Zea Sayang," ucap Rahma.
Di ruang TV, tersedia berbagai macam jenis mainan. Semuanya tersusun begitu rapi. Mainan itu adalah mainan milik baby Zea. Bola, puzzle, balok, mainan yang ada suaranya, teether, boneka, hingga baby walker tersedia di sana. Setiap hari, Baby Zea bermain di ruang TV ditemani mbak Mei, pada saat papa dan mamanya tidak di rumah.
Drrtt... Drrtt...
Panggilan masuk dari Dea, di handphone Rahma.
"Hallo, assalamu'alaikum," Rahma mengucap salam.
"Wa'alaikum salam. Ra, hari ini kamu ke kampus, kan?" tanya Dea.
"Iya, Dea. Kamu berangkat jam berapa nanti buat ambil baju toga?" tanya Rahma.
__ADS_1
"Nanti jam 10an aku sampai kampus. Eh, nanti sekalian kita nyari baju kebaya, yuk!" ajak Dea.
"Ok, De. Nanti setelah mengambil baju toga, kita hunting baju kebaya." ucap Rahma.
"Ok, sampai ketemu di kampus Ra. Assalamu'alaikum." Dea mengakhiri pembicaraan.
"Iya, wa'alaikum salam." ucap Rahma sambil menutup telpon.
"Eh, jam berapa ini?" Rahma bicara sendiri sambil melihat jam tangannya.
"Aduh, sudah jam 7 lebih." Rahma mendadak panik.
"Mbak Mei, Mbak Mei," panggil Rahma.
"Iya, bagaimana, Non?" jawab mbak Mei.
"Tolong ajakin Zea main ya Mbak. Aku mau siap-siap ke kampus dulu, untuk mengambil baju toga." jelas Rahma.
"Ok, Non." jawab mbak Mei.
Setelah selesai siap-siap, Rahma turun ke lantai satu.
"Zea Sayang, lagi ngapain? Lagi main sama mbak Mei ya?" tanya Rahma.
"Ya, Ma, Ma" ucap Zea sambil tersenyum.
"Sayang, Mama berangkat dulu ya. Zea bermain dulu sama mbak Mei. Nanti, setelah Mama pulang, kita main bareng ya." ucap Rahma sambil memeluk dan mencium Zea.
"Mbak Mei, aku Nitip Zea ya." ucap Rahma sambil berlalu menuju garansi mobil.
***
Melihat mobil Rahma sudah datang, Dea segera menghampiri Rahma.
"Hei, Ra." sapa Dea.
Rahma senyum.
"Kamu sudah mengambil baju toga?" tanya Rahma.
"Belum Ra. Kan, nunggu kamu." jawab Dea.
"Eh, gimana kemarin, sidang skripsinya? Lancar?" tanya Rahma, sambil berjalan menuju ruang bagian umum fakultas ekonomi.
"Hahaha, ya ... begitulah. Tegang, Nervous, gugup, panas dingin. Ah, campur aduk, deh." jelas Dea.
Mendengar penjelasan Dea, Rahma jadi tertawa. Dia ingat masa-masa paling menegangkan, selama kuliah di kampus ini.
"Hahaha, sama kalau gitu." celetuk Rahma sambil segera masuk ke ruang bagian umum fakultas ekonomi.
"Permisi Bu, saya mau mengambil baju toga" kata Rahma.
Petugas yang ada di ruangan tersebut segera mengambilkan goodie bag wisuda. Goodie bag wisuda terdiri dari baju toga, topi wisuda, medali wisuda, dan selempang wisuda. Petugas, juga memberikan undangan wisuda (untuk keluarga) mahasiswa.
Setelah keperluan mereka di kampus sudah selesai semua, Rahma dan Dea segera meninggalkan kampus. Mereka berdua menuju ke sebuah butik.
"Eh, ini bagus De. Aku ngambil ini deh." ucap Rahma sambil menuju ke fitting room.
__ADS_1
Setelah menemukan baju kebaya yang cocok, Dea juga segera menuju ke fitting room.
Hari itu, semua keperluan Rahma untuk acara wisuda sudah lengkap. Dia bergegas untuk pulang ke rumah.
***
Hari ini, tiba sudah. Momen bersejarah dalam hidupku sebentar lagi akan terlaksana. Momen wisuda, menjadi salah satu momen istimewa yang sudah lama kutunggu-tungu. Perjuangan menempuh kerasnya bangku perkuliahan, dengan segala suka duka yang pernah kurasakan dulu, sebentar lagi akan terbayar. Gelar sebagai seorang sarjana, sebentar lagi juga akan kusandang.
Rona bahagia, begitu jelas terpancar dari setiap wajah mahasiswa yang memenuhi gedung auditorium kampus. Gedung auditorium ini, merupakan tempat dilaksanakannya upacara wisuda, yang sebentar lagi akan dilaksanakan.
"Ra, Alhamdulillah ... sebentar lagi kita, jadi sarjana." ucap Dea dengan mata berbinar-binar.
"Iya, alhamdulillah banget ya. Akhirnya, perjuangan kita selama ini akan terbayar." jawab Rahma dengan senyum lebar.
Suasana di dalam gedung tiba-tiba berubah menjadi khidmat, setelah iringi-iringan rektor universitas, ketua senat dan para anggota senat mamasuki ruang upacara wisuda.
Beberapa rangkaian acar, sudah terlaksana. Kini, tiba di acara yang sudah kami tunggu-tunggu. Satu-persatu nama wisudawan dan wisudawati disebutkan. Secara bergantian, nama yang sudah dipanggil segera menuju ke ruang upacara wisuda. Tali toga wisudawan dipindahkan oleh rektor dari kiri ke kanan. Sebagai simbol bahwa, mahasiswa telah lulus, dan siap untuk terjun ke masyarakat.
"Rahma Aulia Fakultas Ekonomi." MC membacakan namaku.
Alhamdulillah ya Allah ... akhirnya, aku bisa ikut wisuda juga.
Segera kubergegas, menuju ruang upacara wisuda, untuk pemindahan tali toga. Agar resmi kumenjadi seorang sarjana.
Rasa syukur, puas, dan bahagia, terpancar jelas dari wajahku dan para anggota wisuda yang lainnya. Saat aku keluar dari gedung wisuda,
"Ra .... Ra ... hai sini." Terdengar suara Dewi memanggilku.
Ku tengok ke kanan dan kiri untuk mencari sumber suara
Ternyata di sana, teman dan keluarga sudah menungguku. Ucapan selamat dan do'a tulus mengalir dari mereka.
"Ra, hei. Happy graduation ya." Wajah Dewi berbinar sambil memelukku dan menyerahkan buket bunga padaku.
Suami, anakku, kedua orang tua, kedua mertua, ipar dan teman-teman baikku hadir, mendapingi momen indah dan bersejarah dalam hidupku ini.
Ucapan selamat, do'a dan berbagai macam hadiah kuterima hari ini.
Alhamdulillah ... hidupku begitu indah
"Ra, yuk kita foto bareng-bareng." ucap Dewi.
Ku abadikan moment indah ini, bersama keluarga dan sahabat-sahabat tercinta. Akan terus kukenang dan kuabadikan, diantara lembar kehidupanku.
...~Happy Reading~...
...๐ธ๐ธ๐ธ...
...Mohon Maaf jika masih banyak kesalahan dalam penulisan๐๐...
...Author baru belajar menulis karya fiksi. Mohon koreksi dan dukungannya ya, dengan Like, komen dan vote ya๐ค๐๐ฅฐ...
... Dukungan kalian sangat berarti bagi Author...
...TERIMA KASIH...
...๐๐...
__ADS_1
... ๐ธ๐ธ๐ธ...