
Malam sudah larut. Jam menunjukkan pukul 23:00. Tetapi sampai selarut ini Arya masih belum pulang ke rumah. Ratna yang mulai merasa lapar akhirnya makan terlebih dahulu, setelah selesai menidurkan putri kecilnya Zea yang kini sudah berusia tiga tahun.
Rahma bergegas dari ranjang tempat tidurnya, lalu berjalan keluar dari kamar. Dia cek jam di handphonenya. Memastikan waktu yang paling akurat sekarang.
"Ya Allah, sudah jam segini kenapa mas Arya belum pulang juga. Tak telpon berkali-kali juga tidak diangkat. Tak chat berkali-kali juga tidak dibalas. Kamu kemana sih mas. Semoga tidak terjadi apa-apa dengan suami hamba Ya Allah." gumam Rahma dengan pelan.
Setelah selesai makan tiba-tiba terdengar suara motor Arya yang berhenti di depan pintu rumah.
Tok, Tok, Tok
"Assalamu'alaikum." Terdengar suara Arya dari balik pintu depan.
Rahma yang mendengar suara suaminya lalu segera bergegas membukakan pintu.
Ceklek
"Wa'alaikum salam. Mas, kok pulangnya sampai jam segini?" tanya Rahma sambil mengecup punggung tangan suaminya lalu membawakan tas kerja suaminya.
"Iya, Sayang. Maaf. Tadi ada karyawan baru, teman sekolah Mas waktu masih SD. Jadi, kita ngopi-ngopi dulu." jelas Arya sambil membuka sepatu dan kaos kakinya.
"Oh, iya Mas. Lain kali tolong konfirmasi ya. Biar aku tidak hawatir. Mas, tak chat tidak dibalas. Tak telpon tidak diangkat. Jadi aku kepikiran, takutnya Mas kenapa-napa."
"Iya, maaf Sayang. Zea sudah tidur?"
"Sudah, Mas. Silahkan Mas makan dulu."
"Kamu sudah makan?" tanya Arya sambil berjalan menuju ruang makan.
"Sudah, Mas. Maaf aku makan dulu karena lapar. Tadi pengen makan bareng, tapi karena nungguin Mas tidak pulang-pulang sampai jam sebelas, keburu lapar deh." jelas Rahma.
"Ya sudah, Mas makan dulu. Habis ini, Mas mau mandi lalu tidur. Kamu tidur duluan nemenin Zea. Nanti, aku nyusul."
"Iya, Mas." Lalu Rahma berjalan menuju kamar.
***
Pagi telah menyingsing. Para warga sekitar terlihat berlalu lalang di jalan pedesaan depan kontrakan Rahma dan Arya.
"Pagi, Ra." sapa bu Rini tetangga Rahma yang sedang mengendarai motor.
"Pagi, Bu Rini." jawab Rahma yang sibuk menyapu halaman rumah.
"Sayur ... , sayur ... ." Terdengar suara bu Siti penjual sayur.
"Bu Siti, beli sayurnya." panggil Rahma.
Saat bu Siti berhenti dan memarkirkan motornya, Arya tiba-tiba keluar dari rumah menaiki motornya dengan menggendong Zea.
"Sayang, aku berangkat dulu, ya." ucap Arya sambil menyerahkan Zea kepada Rahma.
"Iya, Mas. Hati-hati ya." Lalu menggendong Zea dan mencium punggung tangan suaminya.
"Papa, berangkat dulu ya. Zea di rumah jangan nakal. Makannya yang teratur ya Sayang." ucap Arya sambil mengecup kening Zea dan Rahma.
__ADS_1
"Iya, Papa. Hati-hati." jawab Zea sambil tersenyum manja.
Seteleh Arya berlalu, Rahma kemudian mendekati bu Siti. "Bu, ayamnya setengah kilo."
"Iya, Ra." Lalu menimbangkan daging ayam untuk Rahma.
"Eh, Ra. Kok kamu kemarin tidak bareng mama mertua sama ipar kamu? Memangnya kamu tidak diajak?" tanya bu Neni tetangga samping kontrakan mama Anti.
"Hehehe tidak, Bu. Kan, saya momong Zea di rumah. Panas-panas begini kasihan Zea kalau diajak panas-panasan.
"Ya gak apa-apa, Ra. Sekali-kali kamu keluar bareng mertua dan ipar kamu." Sahut bu Siti penjual sayur.
"Apa kamu tidak tahu Ra, kalau kemarin mereka pergi borong-borong baju ke pasar?" celetuk bu Atun tetangga Rahma.
"Apa kamu yang tidak mau diajak, Ra? Mertuamu kemarin bilang katanya kamu tidak mau kalau belanja ke pasar. Maunya belanja ke mall. Selain itu, kamu sukanya makan diresto. Dan boros banget pengeluaran bulanannya buat perawatan di klinik kecantikan yang mahal. Benar begitu, Ra?" tanya bu Neni.
"Bisa-bisanya bu Anti bilang begitu tentang kamu, Ra. Kalau aku jadi kamu, sudah tak aduin ke suami kamu. Atau kalau perlu kamu tanyain mertua kamu secara langsung apa maksudnya ngomong begitu ke para tetangga. Setahuku Rahma ini tidak pernah kemana-mana. Dia hanya keluar rumah sama suaminya kalau ada keperluan penting. Setiap hari pekerjaan dia hanya mengurus rumah dan momong Zea. Kan, aku tetangganya jadi faham kegiatan Rahma setiap harinya seperti apa." jelas bu Atun.
"Bu Siti, ini uang belanjaan saya ya. Maaf ibu-ibu saya duluan. Masih banyak pekerjaan rumah yang belum saya kerjakan. Permisi ibu-ibu." Lalu Rahma segera berjalan menuju ke rumah.
"Kalian sih suka ngompor-ngompori orang. Harusnya tidak perlu disampaikan apa yang diomongin bu Anti ke Rahma. Pasti dia tersinggung itu. Kalau sudah begini bisa runyam dan bikin masalah gara-gara omongan kalian." celetuk bu Siti.
"Kamu sih. Eh, kamu duluan yang mulai." Suara ibu-ibu saling menuduh.
***
Waktu sudah menunjukkan pukul 10:00. Arya hari ini sibuk menyurvai para nasabahnya. Saat sedang sibuk mengobrol dengan calon nasahanya, handphone Arya tiba-tiba berbunyi.
๐๏ธMama
Ar Mama butuh uang untuk
biaya terapi Papamu 10:10
^^^๐My Number.^^^
^^^Berapa Ma? 10:01^^^
๐๏ธMama
Dua juta Ar 10:01
^^^๐My Number.^^^
^^^Iya Ma. Nanti tak^^^
^^^ngebon gaji 10:05^^^
๐๏ธMama
Eh kasih tahu juga istri kamu itu.
Suruh jaga mulutnya 10:06
__ADS_1
^^^๐My Number.^^^
^^^Memangnya ada^^^
^^^apa Ma? 10:10^^^
๐๏ธMama
Nanti sepulang kerja
kamu ke sini. Mama
kasih tahu semua 10:11
Setelah membalas chat dari mamanya, ekspresi muka Arya seketika berubah.
Dery yang menyadari perubahan temannya tersebut kemudian menyolek lengan Arya. "Heh, kenapa kamu? Habis buka HP kok mendadak semrawut begitu muka kamu, kenapa?"
"Nanti saja tak ceritain, Der"
Sepanjang perjalanan balik ke kantor, Dery dan Arya saling bercerita tentang permasalahan yang mereka hadapi. Hingga tiba disebuah pembahasan mengenai apa isi chat yang Arya baca tadi, sehingga membuat Arya terlihat gelisah.
"Chat dari siapa tadi, Ar. Kok mendadak kamu terlihat gelisah begitu?"
"Dari mamaku, Der."
"Lho, aneh banget ini orang. Habis baca chat dari mamanya bukannya seneng tapi malahan mukanya pucet hahaha." ledek Dery.
"Bingung aku, Der. Mama minta transferan lagi. Padahal aku belum gajian. Gaji bulan ini juga sudah tak kasihin banyak. Istriku aja cuma tak kasih sejuta."
"Hah. Kamu ini apa-apaan, Ar. Tidak boleh begitu ke istri. Kamu itu lebih wajib menafkahi anak istrimu dari pada orang tua kamu. Harusnya ngasih istri lebih banyak. Karena ada anak kamu yang masih punya masa depan panjang. Setidaknya, kalau kamu ngasih ke istrimu lebih, kan bisa ditabung buat biaya pendidikan anak kamu. Kalau ada sisanya, kasihin ke orang tua kamu secukupnya."
"Entahlah, Der. Malas aku ribut sama mama."
"Terus, kamu lebih memilih ribut dengan istrimu gitu? Ar, yang logis lah jadi orang. Sebulan buat belanja kebutuhan sehari-hari, biaya listrik, air, kuota internet, susu dan popok anak kamu, belum lagi bayar kontrakan. Mana cukup, Ar. Istri kamu juga butuh beli produk kecantikan buat merawat diri, butuh beli make up, dan baju buat dia serta anakmu. Apa kamu gak malu sama mertuamu kalau mereka tahu sekarang anaknya jadi kucel dan dekil? Dia anak orang kaya lho, Ar."
"Nanti aku mau ngebon gaji bulan depan saja, Der. Dari pada ribut sama mama." jelas Arya.
...~Happy Reading~...
...๐ธ๐ธ๐ธ...
...Mohon Maaf jika masih banyak kesalahan dalam penulisan๐๐...
...Author baru belajar menulis karya fiksi. Mohon koreksi dan dukungannya ya, dengan Like, komen dan vote ya๐ค๐๐ฅฐ...
...Dukungan kalian sangat berarti bagi Author...
...TERIMA KASIH....
...๐๐...
...๐ธ๐ธ๐ธ...
__ADS_1