
*Flashback*
Sore itu, Rahma ngobrol dengan teman-teman kostnya. Di kost tersebut ada banyak mahasiswi dari berbagai macam jurusan. Rahma adalah salah satu penghuni kost tersebut. Dia mahasiswi Fakultas Ekonomi Jurusan Manajemen S1.
"Hai Ra." Tiba-tiba Dewi mendekati Rahma.
"Hari ini, rencananya kamu pulang ke rumah gak?" tanya Dewi.
"Iya, kayaknya nanti aku pulang. Kenapa Wi?"
"Kalau kamu nanti jadi pulang, boleh gak aku ikut bareng kamu?" tanya Dewi memastikan.
"Em ... boleh."
"Ok, makasih Ra. Eh, tapi kamu nginep di rumahku saja ya malam ini. Besoknya, baru kamu pulang ke rumahmu." Dewi membujuk sambil tersenyum.
"Ok, deh." jawab Rahma.
***
Sore itu, kondisi jalan raya macet sekali. Situasi jalan yang didominasi kendaraan-kendaraan bermuatan besar menyebabkan meningkatnya volume kendaraan hingga memadati ruas jalan. Mobil Rahma yang ikut terjebak macet, membuat waktu mereka di jalan semakin lama. Normalnya, meraka hanya butuh waktu dua jam. Namun sore ini, mereka butuh waktu tiga setengah jam untuk sampai di rumah Dewi.
Brumm... Brumm...
Suara mobil Rahma terdengar sudah di depan rumah Dewi.
Tok, Tok, Tok,
"Assalamu'alaikum." Dewi mengucap salam, tapi ada jawaban.
Tok, Tok, Tok,
"Assalamu'alaikum. Pa Ma, ini Dewi yang datang." Dewi mengeraskan suaranya.
Ceklek,
"Wa'alaikum salam. Lho, Dewi ... , kok tumben mau pulang tidak telpon Mama dulu? Kamu tidak apa-apa kan sayang!" tanya mamanya Dewi hawatir
"Iya Ma, maaf. Sebenarnya hari ini Dewi tidak berniat untuk pulang. Tapi, setelah tahu Rahma mau pulang, Dewi tiba-tiba pengen pulang juga. Ya sudah sekalian ikut bareng dia hehehe." Dewi memeluk mamanya dengan manja.
"Oh, begitu." jawab mama Dewi.
"Ma, kenalin ini Rahma." Dewi memegang tangan Rahma.
"Saya Rahma Tante, teman kost Dewi." Rahma menjabat tangan mamanya Dewi.
"Panggil saja Tante Lita." Sambil tersenyum.
***
Malam itu, Rahma menginap di rumah Dewi. Setelah selesai shalat maghrib dan makan malam bersama keluarganya Dewi, mereka berdua kemudian duduk di ruang tamu, ditemani secangkir kopi dan beberapa jenis cookies yang berjajar di atas meja.
__ADS_1
"Wi, ini malam minggu kan? Pastinya cowok kamu ngapel dong mumpung kamu pulang ke rumah. Lalu kenapa kamu nyuruh aku nginep di sini? Kan jadi ganggu acara kalian." Rahma mengernyitkan kening.
"Hehehe, ya gak apa-apa Ra, sekali-kali ka--" (berhenti karena tiba-tiba ada suara mobil berhenti di depan rumahnya).
Brumm... Brumm...
Did, dittt
"Eh, siapa yang datang itu, Wi?" tanya Rahma.
Tok, Tok, Tok,
"Assalamu'alaikum." Seorang pria mengucapkan salam.
Mendengar itu, Dewi kemudian bergegas mendekat ke jendela untuk memastikan siapa orang yang datang.
Ceklek
"Wa'alaikum salam." jawab Dewi lembut sembari tersenyum.
"Hai Sayang?" ucap seorang pria berkulit sawo matang tersebut.
Rahma yang mendengar Dewi dipanggil sayang oleh pria tersebut, langsung terperanjat dan buru-buru masuk ke kamar Dewi.
"Sayang, silahkan duduk. Eh, Ar, duduk sini, ngapain berdiri mulu." ucap Dewi mempersilahkan kedua pria tersebut.
"Ohh, iya." sahut kedua pria tersebut secara spontan.
"Hot coffe pakai gula sedikit aja, Yank." jawab Dion pacar Dewi.
"Ar, mau minum apa?"
"Aku juga sama kayak, Dion." sahut Arya.
"Ok sebentar ya, tak buatin dulu." jelas Dewi lalu berjalan menuju dapur.
***
Dewi segera membuat minuman yang dipesan kedua tamunya tadi. Tiba-tiba dia baru sadar kalau Rahma tadi tidak ada di ruang tamu.
"Ra, kamu ngapain di kamar? Harusnya tadi tidak perlu pergi." ucap Dewi.
"Ya ... gak apa-apa Wi, aku cuma gak mau ganggu aja. Kan, cowok kamu datang karena pengen ngobrol berdua sama kamu."
"Keluar yuk. Ikut gabung di depan biar kamu tidak jenuh. Mas Dion gak sendirian tadi, dia datang sama temannya. Nanti tak kenalin deh sama kamu. Eh, Cakep lho dia. Tajir lagi. Gak bakalan nyesel deh kamu kenal sama dia." jelas Dewi membujuk sahabatnya itu.
"Ok deh, tapi ... sebentar ya, aku mau ngerapiin jilbabku dulu." jawab Rahma.
"Ok. Tapi, kalau sudah selesai langsung ke ruang tamu ya. Aku tak ke dapur dulu ngambil kopi yang sudah aku bikin buat mereka tadi." Dewi kemudian menuju dapur.
***
__ADS_1
.
"Hahaha." Gelak tawa muda mudi itu terdengar samar-samar. Entah apa yang mereka bicarakan, sampai terdengar begitu lepas tawa mereka.
Mendengar itu, Rahma yang tadinya sibuk mainin handphone kemudian bergegas keluar menghampiri mereka.
"Eh Ra, sini duduk di sampingku." Perintah Dewi.
"Iya." Rahma menjawab singkat sambil tersenyum
"Eh kenalin, ini temanku namanya Rahma. Dia ini teman satu kostku. Teman satu kampus juga, tapi kita beda jurusan. Dia anak Ekonomi, aku anak Bahasa." Dewi menjelaskan ke teman-teman prianya.
"Ra, kenalan dong sama teman-temanku." Perintah Dewi.
Namun, Rahma tersenyum pada kedua lelaki itu. Dan kedua lelaki itu juga membalas senyum manis Rahma.
"Ih, disuruh kenalan malahan senyum-senyum doang. Ya sudah tak jelasin aku saja deh. Yang hitam manis ini mas Dion, pacar aku. Dan si putih sipit itu, Arya namanya, teman akrab mas Dion yang kemana-mana selalu nemenin hahaha." Dewi menjelaskan dengan gurauan.
Malam itu begitu cerah. Langit penuh taburan bintang, dengan binar-binar cahaya sang rembulan. Menjadi awal mula perkenalan Rahma dengan Arya. Sejak saat itu, setiap kali Dewi akan bertemu dengan kekasihnya Dion, dia selalu mengajak Rahma dan Arya untuk menemani.
***
Hari berganti hari. Minggu berganti minggu. Rahma dan Arya sudah beberapa kali bertemu. Mereka sering mengobrol dan sharing satu sama lain, saat menemani acara dating Dewi dan Dion. Karena sudah lama kenal, akhirnya kedua muda mudi itu semakin akrab. Mereka saling bertukar nomer Handphone.
Setelah mendapat nomer HP Rahma, Arya hampir setiap hari menelpon dan mengirim pesan singkat ke Rahma. Arya mulai sering sharing tentang kehidupan pribadinya, sering memberi support ke Rahma, dan selalu berusaha ada jika dibutuhkan. Akibat intensitas komunikasi keduanya, akhirnya timbul rasa nyaman dan benih-benih cinta dihati Arya. Namun, Arya mengelak setiap kali Dewi mengatakan kalau Arya ada rasa ke rahma. Arya selalu mengatakan kalau perhatiannya ke Rahma hanya sebatas perhatian sebagai sahabat dekat.
Ya wajar saja, Arya selalu mengelak dan mencoba menutupi rasa cintanya ke Rahma. Karena saaat itu, Rahma masih memiliki hubungan dengan seorang pria bernama Iwan.
Rahma memang menjalin hubungan dengan Iwan tapi, hubungan mereka tidak baik-baik saja. Iwan adalah sosok yang keras, posesif dan overthinking. Hal itu yang menyebabkan sering terjadi pertengkaran antar keduanya. Namun, hubungan mereka akhirnya kandas di bulan ke delapan. Rahma sudah tidak sanggup menghadapi sikap Iwan yang selalu mengekang dan sensitif.
***
Satu bulan sudah berlalu. Rahma sekarang menjomblo tanpa hubungan dengan siapa pun. Hingga pada akhirnya, Arya mencoba mengisi kekosongan hati Rahma. Arya yang sudah lama memendam rasa cintanya, kini semakin instens memberi perhatian khusus pada Rahma. Sesekali dia datang ke kost Rahma untuk sekedar mengajak makan, nonton atau memberikan kado pada Rahma.
Enam bulan sudah Rahma dan Arya menjadi sahabat dekat. Namun, baru sekarang Rahma menyadari jika Arya sudah lama menyukainya. Dan saat itu pula, Rahma baru sadar jika dia juga ada perasaan yang lebih terhadap Arya. Damai, bahagia, selalu diistimewakan, diperhatikan dan dihargai, itu yang Rahma rasakan dari sikap Arya. Sejak saat itu, Rahma mencoba membuka hati pada seorang pria yang sudah dia kenal selama enam bulan tersebut.
......~Happy Reading~......
...πΈπΈπΈ...
...Mohon Maaf jika masih banyak kesalahan dalam penulisanππ...
...Author baru belajar menulis karya fiksi. Mohon koreksi dan dukungannya ya, dengan Like, komen dan vote yaπ€ππ₯°...
...Dukungan kalian sangat berarti bagi Author...
...TERIMA KASIH...
...πππ...
...πΈπΈπΈ...
__ADS_1