Prahara Dua Hati

Prahara Dua Hati
KETAHUAN NGONTRAK


__ADS_3

"Pagi Zea Sayang ... ," ucap Rahma yang melihat anaknya bangun.


"Pagi juga, Ma," suara Zea masih terdengar lemah.


"Bagaimana keadaan Zea hari ini?"


"Zea ingin pulang ... , papa dimana, Ma?" Wajah Zea memelas.


Mendengar perkataan Zea, Rahma mendekat lalu memeluknya, "Iya, hari ini kita pulang Sayang. Zea kangen papa ya?"


"Iya Ma. Zea kangen." Wajahnya cemberut.


Perbincangan mereka terhenti, setelah mas Andre memanggil Rahma, "Ra, hari ini Zea sudah boleh pulang kan?"


"Iya, Mas. Kata dokter sudah boleh pulang. Zea juga ngajakin pulang terus." jelas Rahma.


"Biaya rawat inapnya sudah kamu urus belum?"


"Sudah, Mas. Tadi pagi mas Arya transfer, katanya ngebon ke kantornya, jadi bisa tak pakai untuk membayar biaya rawat inapnya Zea."


"Alhamdulillah kalau sudah.


"Ra, pulangnya nanti saja ya, sekalian bareng sama papa. Hari ini papa ada jadwal terapi." jelas mas Andre.


"Iya, Mas."


"Arya dimana, Ra? Kok dari tadi gak kelihatan?" mas Andre menoleh ke kanan dan kiri mencari keberadaan Arya.


"Mas Arya, habis subuh tadi pulang. Hari ini kan dia kerja." jawab Rahma yang mulai merapikan baju.


Setelah menyelesaikan semua administrasi rumah sakit dan mengambil obatnya Zea, Rahma yang dibantu mas Andre segera membawa Zea keluar dari rumah sakit.


"Ra, kita nyamperin mama sama papa dulu ya di ruang tunggu depan." ucap mas Andre.


"Iya, Mas." Lalu berjalan menuju ruang tunggu.


"Ra, itu mama sama papa. Kamu langsung ke sana ya. Mas, mau ngambil mobil dulu."


"Ya, Mas." Rahma mendorong kursi Roda yang di duduki Zea ke arah kakek dan neneknya.


"Pa, Ma, assalamu'alaikum." Kemudian mencium punggung tangan mertuanya.


"Wa'alaikum salam. Eh, cucu kesayangan Nenek sudah boleh pulang hari ini? Alhamdulillah ... cucu Nenek sudah sehat." Mama Anti langsung mengangkat Zea dari kursi roda untuk digendong.


"Zea Sayang, maafin Kakek sama Nenek ya karena tidak bisa jengukin Zea." ucap papa Ahmad sambil mencium cucunya.


"Kan, Zea sudah sehat." jawab Zea.


Mendengar jawaban Zea, mereka bertiga tertawa.


"Tidak apa-apa Pa Ma, Kan Papa juga sakit." Yang penting saling mendo'akan saja ya Pa."


***


Siang ini, jadwal pekerjaan Arya sangat padat. Banyak data pengajuan kredit yang masuk.


"Mas Arya, Hari ini tugas kamu survey ke tempat nasabahnya mas Dery yang punya usaha produksi furniture ya. Nanti, kamu berangkatnya sama mas Dery." Perintah bapak kepala cabang kepada Arya.


"Iya, Pak." jawab Arya, kemudian bersiap menuju ke lokasi tersebut.


Cuaca siang ini sangat panas sekali. Terik mentari terasa sangat menyengat, terlebih bagi pengendara motor. Arya dan Dery yang naik motor berboncengan, merasa seperti terbakar kulitnya. Sehingga, laju motornya dipercepat agar segera sampai ke lokasi.


"Assalamu'alaikum Pak Bagus." Dery menyapa pemilik produksi furniture.


"Eh, Mas Dery, Wa'alaikum salam," pak Bagus menyalami kedua tamunya, "mari silahkan duduk dulu, Mas."


"Iya Pak, terima kasih."


"Permisi Pak, ini es kelapa mudanya." Lalu asisten rumah tangga pak Bagus meletakkannya di meja.

__ADS_1


"Silahkan Mas, diminum." kata pak Bagus.


"Iya, Pak,"


"Bagimana Mas Dery, kapan pengajuan kredit modal usaha saya di proses?" tanya pak Bagus.


"Nah, itu tujuan kami datang kemari, Pak. Saya datang ke sini mengantar teman saya mas Arya ini. Masnya ini yang bertugas untuk menyurvei tempat usaha Pak Bagus, sekaligus meminta dokumen-dokumen yang dibutuhkan untuk kelengkapan pengajuannya." jelas Dery.


"Oh, ya Mas. Silahkan kalau mau menyurvai tempat produksi furniture saya. Masalah dokumen-dokumen kelengkapan pengajuan kredit, nanti saya siap memberikan."


Setelah selesai menyurvai tempat usaha pak Bagus dan kelengkapan dokumen-dokumen yang dibutuhkan untuk pengajuan kredit, Dery dan Arya pamit untuk kembali ke kantor.


Zea sudah sampai rumah apa belum ya, kok Rahma belum balas pesanku. Tak telpon aja deh, siapa tahu dia sibuk.


Tuut Tuut Tuut


"Rahma ini kemana sih, kok tidak diangkat-angkat telponku." Arya ngedumel sendiri.


Tuut Tuut Tuut


"Assalamu'alaikum." Rahma mengangkat telpon.


"Wa'alaikum salam. Ditelpon berkali-kali kenapa gak diangkat tadi? Pesanku juga belum kamu balas, kenapa?"


"Maaf Mas, tadi sibuk masak lalu bersih-bersih setelah sampai rumah."


"Oh begitu. Zea mana?" tanya Arya.


"Zea tidur, Mas. Tadi setelah makan bubur dan minum obat, dia bilang kalau ngantuk. Mas, nanti ayah sama bunda mau ke sini jengukin Zea." jelas Rahma.


"Iya, bolehin aja, kasihan. Pasti kakek neneknya kangen karena sudah lama tidak ketemu Zea. Kan, sejak kita ngontrak, setiap kali ayah sama bunda mau main ke rumah, ada ... aja alasan kamu supaya mereka tidak jadi datang."


"Nanti ketahuan dong Mas keadaan kita yang sekarang."


"Ya, gak apa-apa mereka tahu. Mau sampai kapan kita menyembunyikan ini semua? Sayang ... ,biar saja mereka datang. Nanti share location ke ayah, biar mudah nyari alamat kontrakan kita."


"Kamu yakin, Mas?"


"Iya Mas, wa'alaikum salam." Rahma mematikan telpon.


"Mama," Zea bangun tidur lalu memanggil mamanya.


Rahma yang mendengar suara Zea langsung terperanjat dari duduknya. "Eh Zea Sayang, sudah bangun? Kok cuma sebentar Sayang tidurnya?"


"Iya, Ma. Zea kangen kakek Ibrahim dan nenek Nur." Lalu memeluk mamanya dengan wajah cemberut.


"Sayangku Zea, nanti sore kakek Ibrahim sama nenek Nur ke sini buat jengukin Zea. Gimana, Zea seneng?"


"Asyik. Makasih Ma." Memeluk mamanya dengan wajah berseri-seri.


"Mumpung kakek nenek belum datang, badan Zea diseka dulu yuk pakai air hangat." ajak Rahma.


***


Jam menunjukkan pukul 15:00. Zea yang mulai merasa jenuh tiduran di kamar, meminta mamanya untuk menyalakan TV.


"Ma...," kata Zea .


"Iya, Sayang. Gimana, si cantik ini mau apa?" jawab Rahma yang sedang mengambilkan bubur untuk makan Zea.


"Zea, pengen nonton TV, Ma."


"Ya, Sayang. Yuk, Mama gendong." Rahma meletakkan mangkuk yang berisi bubur di meja, lalu menggendong Zea. Setelah menyalakan TV, "Zea..., Mama suapin bubur ya. Setelah itu, minum obat biar cepat sehat."


"Iya, Ma."


Tok, Tok, Tok,


Rahma yang sedang menyiapkan makanan untuk Zea, segera berjalan menuju pintu.

__ADS_1


Ceklek


"Assalamu'alaikum." sapa bunda Nur yang melihat anak kesayangannya itu.


"Wa'alaikum salam. Ya Allah, Bunda ... ," jawab Rahma reflek langsung memeluk bundanya, "Ayah ... ," langsung mencium punggung tangan ayahnya.


"Mana cucukku? Kakek Nenek sangat merindukan Zea." Mata bunda Nur berkaca-kaca.


"Zea, sedang menonton TV, Bun. Mari, Ayah Bunda masuk ke rumah." Setelah kedua orang tuanya duduk, Rahma pun segera membuat kopi hangat dan menyiapkan beberapa macam kue kering untuk kedua orang tuanya.


"Ma, siapa yang datang?" tanya Zea.


"Astaghfirullah ... Sayang, Mama sampai lupa. Itu nenek Nur dan kakek Ibrahim sudah datang. Ze--," Terhenti karena Zea langsung menyusul kakek neneknya.


"Kakek ... , Nenek ... , Zea kangen." Langsung mendekap erat kakeknya.


"Alhamdulillah, cucu Kakek sudah sehat." kata ayah Ibrahim sambil mengelus rambut Zea.


"Sayang, apa kabar? Kangen sama Nenek apa tidak?" tanya bunda Nur dengan mengembangkan senyum.


"Kangen, Nek." Langsung mendekap erat neneknya.


Sore itu, menjadi moment pelepas rindu yang selama beberapa bulan sudah tertahan. Terlihat hingar bingar bahagia dari raut wajah mereka. Namun, ada beberapa guratan tanya di benak kakek Ibrahim dan bunda Nur


Ini rumah siapa? Kenapa mereka tinggal di sini? Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa selama ini tidak ada seorangpun yang cerita tentang rumah tangga anakku? Apa ini alasan Rahma tidak memperbolehkan aku setiap kali mau datang ke rumahnya untuk bertemu Zea?


Pertanyaan-pertanyaan itu terus bergelayut di pikiran kakek nenek Zea sore itu.


"Ra," Bunda Nur segera meraih tangan Rahma.


"Iya, Bunda."


"Ini rumah siapa? Kenapa, kalian tinggal di sini?" tanya bunda Nur dengan wajah yang mulai terlihat sendu.


Ayah Ibrahim yang mendengar istrinya mulai mengajak bicara hal pribadi pada Rahma, langsung mengajak Zea bermain di teras rumah.


"Zea, yuk kita bermain di teras. Tadi Kakek sama Nenek mampir di toko mainan, lalu membeli banyak mainan untuk Zea. Eh, ada rainbow cupcakes sama brownies kukus buatan nenek Nur juga. Zea, suka kan?" Sambil menggendong Zea menuju teras.


"Ra." Spontan menyentuh punggung tangan Rahma.


Rahma yang sibuk memikirkan jawaban dari pertanyaan bundanya langsung gelagapan, "Eh, I-- iya, Bun. Ada apa?"


"Lho, kok ada apa? Bunda tadi bertanya ke kamu. Kan, belum kamu jawab."


"Tanya? Hehe, sambil merapikan rambutnya ke samping, "tanya apa Bunda?"


"Ra, tolong jujur sama Bunda. Apa yang sebenarnya terjadi." Sambil memegang tangan putrinya.


"I-- ini, rumah kontrakan kami Bun. Sekarang Rahma sekeluarga tinggal di sini," mata Rahma mulai memerah menahan air mata yang hampir saja tarjatuh, "perusahaan papa Ibrahim kolaps, Bun. Papa kena stroke. Mereka sekarang juga tinggal di kontrakan tidak jauh dari sini."


Mendengar penjelasan Rahma, seketika tetes demi tetes air mata bunda Nur mulai membasahi jilbabnya. "Kenapa tidak cerita ke kami? Sampai keadaan kalian seperti ini, Bunda dan Ayah tidak tahu sama sekali," mulai terisak, "setidaknya, kalau kamu cerita ke Bunda atau Ayah, siapa tahu kami bisa membantu."


Derai air mata Rahma, kini tak mampu di tahan lagi. Bahkan untuk bicarapun, bibirnya seakan kelu. Mendengar ucapan bundanya, ia merasa ada benarnya juga. Rasa bersalahpun mulai muncul.


Andai saat itu, aku bicara ke orang tuaku, pasti ada jalan keluar. Dan keluarga suamiku tidak akan seterpuruk ini.


...~Happy Reading~...


...๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ...


...Mohon Maaf jika masih banyak kesalahan dalam penulisan๐Ÿ™๐Ÿ™...


...Author baru belajar menulis karya fiksi. Mohon koreksi dan dukungannya ya, dengan Like, komen dan vote ya๐Ÿค—๐Ÿ˜˜๐Ÿฅฐ...


...Dukungan kalian sangat berarti bagi Author...


...TERIMA KASIH...


...๐Ÿ™๐Ÿ™...

__ADS_1


...๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ...


__ADS_2