
"Mas, sarapan dulu yuk. Nasi gorengnya sudah matang." ucap Rahma dari depan pintu kamar.
"Aku belum lapar. Kamu sarapan saja sama Zea nanti." jawab Arya sambil merapikan kemejanya.
"Tapi, Mas. Aku bikinnya banyak lho. Sayang kalau tidak dimakan."
Ceklek,
Arya keluar dari kamar dengan menenteng tas kerjanya dan membawa sepatu pantofel berwarna hitam mengkilat. Sambil duduk di kursi ruang makan untuk memakai sepatunya, Arya menjawab, "apa kamu tidak dengar tadi aku bicara apa?! Harus ku ulangi perkataanku, ya?! Aku belum lapar dan masih malas buat sarapan. Dengar gak?!"
"Ya, Mas." jawab Rahma sambil terduduk sedih karena merasa sikap suaminya mulai berubah.
"Ya sudah, aku berangkat dulu." ucap Arya sambil menyalami istrinya.
"Ya, Mas. Hati-hati." jawab Rahma sambil mencium punggung tangan suaminya.
"Assalamu'alaikum." Arya berjalan menuju pintu depan.
"Wa'alaikum salam." jawab Rahma sambil mengantar suaminya ke depan rumah.
Mas Arya kenapa sikapnya sedingin itu. Lama-kelamaan dia semakin berubah. Apakah ada yang salah dengan diriku?
Rahma bergumam dalam hati sambil memandangi laju motor suaminya yang semakin tak terlihat.
Saat menutup pintu rumahnya. Tiba-tiba terdengar suara Zea memanggil Rahma. "Ma..., Mama... ."
Mendengar suara anakanya, Rahma langsung bergegas menuju kamar. "Eh, Zea Cantik sudah bangun. Hemmm Sayangnya Mama wangi banget." Sambil menciumi Zea.
Zea yang merasa geli langsung tertawa. "Hahaha, Mama... Geli."
"Hehehe, makanya bangun sayang. Yuk keluar kamar, kita sarapan." ajak Rahma.
"Iya, Ma." Lalu Zea digendong Rahma.
"Mama suapin atau makan sendiri, Sayang?" Rahma menyodorkan sepiring nasi goreng hangat di depan Zea.
Merasa tidak ada kehadiran papanya, Zea langsung bertanya, "papa mana, Ma?"
"Emmm, papa kan kerja, Sayang. Papa buru-buru karena ada banyak pekerjaan di kantor. Makanya berangkat lebih pagi. Nanti, papa juga sarapan di kantor. Ya sudah, yuk Mama suapin." Rahma mencoba mengalihkan pembicaraan.
***
Banyak banget tugas buat survai ke lokasi para nasabah hari ini. Hufttt, menjelang akhir bulan tapi tugas masih sebanyak ini.
Gumam Arya dalam hati.
"Ar, dipanggil pak bos itu." ucap Dery.
"Ok." Lalu Arya segera menuju ke ruangan atasannya.
Tok, Tok, Tok,
"Permisi, Assalamu'alaikum, Pak. Ini saya, Arya."
"Ya, Ar. Masuk." jawab pak pimpinan cabang kantor tersebut.
__ADS_1
"Bapak memanggil saya?"
"Iya, Ar. Hari ini tolong kamu survai ke tempat usaha mami Leni, ya. Kemarin beliau mengajukan kredit untuk perkembangan cafe karaokenya. Nanti kamu bisa berangkat dengan, Dery. Karena memi Leni nasabanya Dery."
"Iya, Pak. Siap."
"Ya, sudah. Itu saja, Ar. Silahkan kamu berangkat sekarang, karena lokasinya cukup jauh." ucap pak Hendi.
"Iya, Pak. Terima kasih. Saya permisi dulu, Pak. Assalamu'alaikum." ucap Arya kemudian berjalan keluar dari ruangan pak Hendi.
"Wa'alaikum salam." jawab pak Hendi.
"Dery, ayo berangkat sekarang ke tempat mami Leni." ucap Arya.
"Ok, Bro." jawab Dery.
Motor Arya yang diboncengi Dery siang itu melaju dengan kecepatan 100 KM/jam. Arya sengaja melajukan kendarannya dengan kecepatan tinggi agar segera sampai di lokasi mami Leni karena jarak dari kantor ke rumah mami Leni cukup jauh.
"Hufttt Alhamdulillah akhirnya sampai juga, Ar." Dery berkata sambil membuka helmnya.
"Jauh juga, ya rumahnya. Mana siang ini panas banget lagi." celetuk Arya.
"Hahaha semangat, Ar. Nanti di dalam bakalan langsung adem lihat yang bening-bening, Ar. Hahaha."
"Oooo rumahnya mami Leni jadi satu sama mess para LC, Der?" tanya Arya antusias.
"Iya, hahaha. Ya, sudah ayo langsung masuk. Nanti kamu lihat sendiri saja. Bening-bening, Bro. Tinggal pilih saj-"
"Eh, Mas Dery sudah datang. Yuk, langsung masuk saja. Silahkan duduk." Mami Leni mempersilahkan Arya dan Dery.
"Mami ... Ini kopinya." suaranya terdengar lembut manja.
"Iya, taruh saja di meja." jawab mami Leni.
Gadis itu kemudian menaruh tiga cangkir kopi hitam dan beberapa cemilan ke meja. "Silahkan, Mami. Silahkan, Mas... di minun kopinya." Sambil tersenyum ramah.
Gadis itu kemudian berlalu. Namun, Arya masih terus memandanginya hingga tubuh sexy gadis itu tidak terlihat lagi. Dery yang menyadari kelakuan temannya itu kemudian berdesis, "sttt. Eh, kamu ngapain, sih. Kayak gak pernah lihat cewek aja. Dilihatin mami, tu. Malu-maluin aja." Dery mengomel pelan.
Mami Leni yang sejak tadi memperhatikan tingkah kedua pria muda itu kemudian tersenyum, "ehmmm, kayaknya ada yang tertarik dengan salah satu dari anakku, nih."
"Hehehe, iya ini, Mi. Arya dari tadi gak kedip ngelihatin Lucy. Kamu tertarik sama Lucy ya, Ar? Kalau minat bilang aja sama mami. Nanti gampang, bisa diatur. Ya kan, Mam?"
"Hehehe, ya Mas Arya. Nanti langsung kenalan saja di room. Booking dia buat nemenin nyanyi. Sepertinya hari ini dia belum ada job."
"Wah, ide bagus itu, Mam."
"Gimana, Ar? Kita booking dia sore ini ya."
"Ok, boleh."
Setelah dua jam mengobrol. Arya kemudian meminta beberapa lampiran berkas yang diperlukan untuk melengkapi berkas pengajuan kredit usaha mami Leni.
Sambil menyerahkan beberapa lembar kertas tersebut, mami Leni bertanya, "jadi gimana, Mas. Pengajuanku kira-kira di acc apa tidak?"
Sambil tersenyum Arya menjawab, "Hmmm, insya Allah acc, Mi. Tenang saja, ya. Nanti kita usahakan."
__ADS_1
"Beneran ya, Mas. Tolong diusahakan."
"Iya, Mi. Siap." jawab Derry sambil tersenyum.
"Eh, kalian jadi booking Lucy, kan?" tanya mami Leni memastikan.
"Ooo jadi dong. Kita booking dua jam, Mi." jelas Dery.
"Booking Lucy saja?" tanya mami Leni.
"Tidak dong, Mi. Nanti di room siapa dong yang nemenin aku kalau Arya lagi asyik sama Lucy hahaha."
"Hahaha, kayak security ya kamu nanti, Der." celetuk mami Leni.
"Hahaha, nah... itu tahu, Mi. Aku sama yang biasanya..., kesayangan aku si Via."
"Ok, langsung ke room saja ya. Sudah open kok. jelas mami Leni.
***
Dua jam sudah Arya dan Derry karaokean ditemani dua LC bernama Lucy dan Via. Sudah beberapa botol bir mereka habiskan selama mereka bernyanyi dengan para LC itu.
"Gak terasa sudah dua jam ya, Ar. Buruan balik kantor, yuk! Bisa kena semprot pak bos nanti kalau kita telat."
"Ok. Bayarin dulu ya. Aku mau ngobrol sama Lucy sebentar." kata Arya.
"Ok, aku ke kasir dulu, ya." Lalu Dery keluar room dengan menggandeng Via.
"Beb, boleh minta nomermu?" tanya Arya.
"Boleh. Sini HP nya, biar aku saja yang nulis."
"Terima kasih, ya. Nanti aku chat kamu. Bye, see you." kata Dery sambil berlalu dan melambaikan tanggannya.
"See you too." jawab Lucy sambil melambaikan tangannya juga ke arah Dery.
***
Sejak pertemuannya dengan Lucy kala itu. Arya mulai intens menghubungi Lucy lewat chat ataupun telpon. Bahkan mereka juga sudah beberapa kali ketemuan untuk jalan-jalan, makan ataupun shopping.
Sejak pandangan pertama memang Arya sudah merasa tertarik pada Lucy. Ditambah lagi sikap Lucy yang begitu manja, romantis dan lembut pada Arya, membuat Arya merasa semakin nyaman. Hingga dia mulai menaruh hati pada Lady Companion bernama Lucy itu.
Sikap Arya semakin berubah. Dia tidak pernah ada waktu untuk keluarganya. Bahkan saat hari libur kerjapun Arya tidak pernah mau meluangkan waktu di rumah untuk bersama anak dan istrinya. Dia lebih memilih keluar rumah untuk bertemu Lucy. Bahkan kemanapun Arya pergi saat libur kerja, Lucy selalu menemani. Arya pun tidak sungkan mengenalkan Lucy sebagai seorang pacar pada teman-temannya.
...~Happy Reading~...
...๐ธ๐ธ๐ธ...
...Mohon Maaf jika masih banyak kesalahan dalam penulisan๐๐...
...Author baru belajar menulis karya fiksi. Mohon koreksi dan dukungannya ya, dengan Like, komen dan vote ya๐ค๐๐ฅฐ...
...Dukungan kalian sangat berarti bagi Author...
...TERIMA KASIH....
__ADS_1