Prahara Dua Hati

Prahara Dua Hati
BUKAN SUAMI YANG KU KENAL


__ADS_3

Pagi ini, suasana terasa sangat berbeda. Suasana perkampungan yang begitu asri, dengan penduduk yang begitu ramah. Terlihat di depan rumah, penduduk sekitar berlalu lalang. Mulai dari anak-anak sekolah, mahasiswa, karyawan, pegawai, pedagang, buruh dan para petani. Ini menjadi pemandangan langka, yang sebelumnya belum pernah ditemui Rahma di kota.


"Sayur... , sayur ... ," Suara penjual sayur yang lewat di depan rumah kontrakanan Rahma.


"Bu..., beli sayur!" Teriak Rahma yang menghentikan laju motor penjual sayur.


"Mbak, warga baru ya? Kok saya belum pernah melihat sebelumnya?" tanya ibu penjual sayur setelah Rahma berdiri di samping gerobaknya.


"Iya Bu, saya warga baru. Baru tiga harian saya ngontrak di sini." Sambil sibuk memilih sayur dan ikan yang akan di beli.


"Ohh, pantesan Ibu merasa asing."


Sambil tersenyum Rahma menjawab, "Hehe iya Bu."


"Mbak, ngontrak di rumah ini sendirian?" tanya Ibu penjual sayur penasaran.


"Hehehe tidak Bu, saya di sini sama suami dan anak saya." jawab Rahma sambil minta dihitungkan berapa jumlah yang harus dibayar.


Selesai membayar, Rahma segera berlalu. Tiba-tiba ibu penjual sayur memangggilnya,


"Eh Mbak, siapa namanya? Tadi belum sempat berkenalan!" Teriak Ibu penjual sayur.


Rahma yang mendengar itu spontan menoleh ke ibu penjual sayur, "Saya Rahma Bu. Mari... ." Sambil menundukkan kepala.


Sebuah rumah kecil berukuran 4ร—8 meter dengan dilengkapi dua kamar tidur, satu ruang tamu, satu dapur, dan satu WC. Itu yang menjadi tempat tinggal Rahma dan keluarga kecilnya sekarang. Kontrakan itu milik salah seorang penduduk setempat, yang rumah pemiliknya tidak jauh dari rumah yang disewa Rahma.


Kurang lebih 300 meter, jarak dari rumah kontrakan Rahma menuju ke rumah kontrakan mertuanya. Karena di rumah kontrakan mertuanya hanya ada dua kamar, terpaksa Arya mencarikan kontrakan yang lain untuk anak dan istrinya. Sebenarnya, Rahma sudah menawarkan kepada keluarga suaminya untuk tinggal di rumah orang tuanya, tetapi mereka tidak bersedia.


Pagi ini, Rahma memulai kehidupan yang benar-benar berbeda. Tidak ada lagi ART yang membantunya melakukan pekerjaan rumah. Semua ia lakukan sendirian. Terlihat, ia sibuk memasak di dapur di temani Zea yang bermain dilantai dapur.


Arya yang sudah rapi dengan kemeja set, sepatu pantofel dan tas jinjingnya, segera berpamitan ke istri dan anaknya, "Sayang, Zea, Papa berangkat dulu ya. Do'ain Papa segera dapat pekerjaan." Melihat Zea main di lantai, Arya kemudian menggendongnya.


"Lho Mas, mau pergi kemana kok pagi-pagi gini sudah rapi?" tanya Rahma heran karena kemarin suaminya tidak cerita kalau hari ini ada acara.


"Mau nyari kerjaan sayang. Mas, mau coba masukin lamaran ke beberapa tempat. Siapa tahu ada salah satu yang keterima. Do'ain ya Sayang."


"Mas, tidak sarapan dulu?" tanya Rahma.


"Tadi sudah makan roti sama minum kopi. Jadi, sudah kenyang. Mas berangkat dulu ya, keburu siang nanti. Muahh" sambil mencium anak dan istrinya.


"Iya mas, hati-hati ya. Semoga hari ini dapat pekerjaan. Semangat ya Sayang!" Rahma mencium punggung tangan suaminya.


"Papa berangkat dulu Zea. Zea di rumah jangan nakal ya. Kasihan Mama tidak ada yang bantuin. Love you Sayang, love you Zea. Assalamu'alaikum." Arya melambaikan tangan ke anak istrinya.


"Iya Papa hati-hati. Love you too Papa. Wa'alaikum salam, da... ." Rahma dan Zea masih tetap berdiri di teras hingga motor Arya berlalu dan tak nampak lagi.


***


Hari ini, cuaca begitu cerah. Terik mentari begitu terang dan terasa sangat menyengat di kulit. Padatnya kendaraan di jalan raya, dihiasi debu dan polusi menjadi teman setiap pengendara.

__ADS_1


Panas banget hari ini. Padahal aku sudah pakai jaket dan sarung tangan. Tapi, masih juga kayak kebakar rasanya kulitku. Coba ... aja mobilku masih. Pasti gak bakalan panas-panasan kayak gini. Ternyata, susah juga nyari pekerjaan. Sudah muter-muter sampai siang begini, tapi selalu saja belum ada lowongan kerja. Gumam Arya dalam hati sambil terus melajukan motornya.


Tiba-tiba Arya menghentikan motornya, tepat di depan salah satu Bank BUMN.


"Eh, ada tulisan info lowongan kerja". Arya bicara sendiri sambil mendekati tulisan yang ditempel dipagar Bank tersebut. Setelah memastikan keakuratan info tersebut, Arya segera berjalan mendekati satpam yang bertugas.


"Selamat siang, Pak. Ada yang bisa dibantu?" tanya satpam.


"Iya Pak, selamat siang. Maaf sebelumnya, tadi saya lihat di depan kantor ini ada tulisan lowongan kerja, apa masih ada posisi yang belum terisi Pak?" jelas Arya.


"kalau boleh tahu, pendidikan terakhir Bapak apa ya? Kalau memang sesuai kriteria, Biar saya tanyakan langsung ke HRD." kata satpam.


"Saya lulusan S1 Ekonomi Manajemen Pak." jawab Arya.


"Oh, baik kalau begitu silahkan Bapak tunggu di sini sebentar, biar saya tanyakan ke pihak HRD dulu." Satpam mempersilahkan Arya untuk duduk, kemudian masuk ke dalam kantor.


Setelah menunggu beberapa lama, satpam kemudian menghampiri Arya,


"Permisi Pak, mari ikut saya ke dalam, biar saya antar ke ruang HRD." Satpam berjalan dengan diikuti Arya.


Tok, Tok, Tok


"Permisi, Pak." ucap Satpam.


"Iya, silahkan masuk." jawab seorang pria dari dalam ruang HRD.


Setelah mengikuti proses interview dan psikotes, Arya dipersilahkan untuk menunggu beberapa saat untuk menunggu hasilnya.


"Terima kasih banyak Pak." Tersenyum sambil membalas jabatan tangan HRD tersebut.


Alhamdulillah ya Allah ... akhirnya aku dapat pekerjaan juga.


***


Tak terasa, sudah satu bulan Arya bekerja sebagai Account Officer di sebuah Bank BUMN. Banyak pengalaman baru yang ia dapatkan, karena ini pertama kalinya dia bekerja di bagian lapangan. Banyak suka duka yang ia rasakan. Tetapi, beruntung Arya memiliki teman-teman yang baik, yang selalu mau berbagi ilmu, memberi arahan dan support.


Hari ini adalah akhir bulan. Semua karyawan di bank tersebut sibuk dengan target dan perekapan hasil kerja mereka selama sebulan.


"Malam ini kita lembur Ar. Setiap akhir bulan pasti seperti ini. Jadi jangan heran ya kamu." kata salah seorang teman kerjanya bernama Niko.


"Iya Nik, tidak apa-apa. Wajarlah akhir bulan, banyak yang harus dikerjakan." jawab Arya.


Drttt... Drttt...


Bunyi getar Hp Arya. Ada pesan masuk dari istrinya.


๐ŸŒŒIstriku๐Ÿ˜


Mas, kok sampai jam segini

__ADS_1


belum pulang? Kenapa Mas?


Zea nanyain Mas terus. 23:00


^^^๐ŸŒŒMy Number 0068^^^


^^^Aku lembur Sayang.^^^


^^^Nanti tak kabari lagi^^^


Setelah membalas chat dari istrinya, Arya kemudian ngobrol dengan teman-temannya.


"Wee, ada yang lagi seneng nih mau nerima gaji pertamanya." ucap Niko.


"Iya, lihat aja tu mukanya berbinar-binar haha." celetuk Aldo.


Arya hanya tersenyum mendengar ledekan teman-temannya.


"Eh, gimana kalau malam ini kita karaokean aja Bro." Ajak Dery.


"Ok, siap!" Teman-teman Arya menyetujui.


"Ar, kok diem aja? Awas aja ya kalau sampai gak ikut! Pokoknya malam ini kamu harus ikut! Kan ini ngerayain penerimaan gaji pertama kamu." kata Niko.


Setelah uang gaji mereka terima, mereka langsung pergi ke sebuah cafe. Di sana mereka bernyanyi dan mabuk-mabukan sambil ditemani beberapa Lady Companion (LC).


***


Malam itu, Rahma tidak bisa tidur. Berkali-kali dia melihat jam yang ada di handphonenya. Sesekali dia membuka gorder kamar, memastikan suaminya sudah datang apa belum. Entah kenapa malam ini dia merasa sangat hawatir. Berkali-kali dia mencoba menelpon suaminya, tetapi tidak pernah diangkat. Dia coba mengirim pesan ke suaminya, tetap juga tidak dibalas.


Jam menunjukkan pukul 03:00, terdengar suara motor suaminya berhenti di depan rumah. Namun, betapa kecewanya dia malam itu, mengetahui suaminya pulang dengan bau alkohol yang sangat menyengat dari mulutnya.


Kecewa, marah, dan tidak menyangka jika suami yang sudah bersama dengannya selama hampir tiga tahun, ternyata tidak seperti yang dia kenal selama ini. Malam itu dia merasa sangat tertampar, setelah melihat sebuah bill pembayaran room karaoke.


Ternyata, aku tidak pernah tahu sosok suamiku **y**ang sebenarnya. Ternyata, sikap baik dan sok lugu yang selama ini dia tunjukkan padaku, itu hanya kedok semata untuk mengelabuhiku. Ternyata, dia bukan suami yang kukenal selama ini!


Ucap Rahma dalam hati dengan air mata yang tak henti menetes dan membasahi pipi.


...~Happy Reading~...


...๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ...


...Mohon Maaf jika masih banyak kesalahan dalam penulisan๐Ÿ™๐Ÿ™...


...Author baru belajar menulis karya fiksi. Mohon koreksi dan dukungannya ya, dengan Like, komen dan vote ya๐Ÿค—๐Ÿ˜˜๐Ÿฅฐ...


...Dukungan kalian sangat berarti bagi Author...


...TERIMA KASIH...

__ADS_1


...๐Ÿ™๐Ÿ™...


...๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ...


__ADS_2