Prahara Dua Hati

Prahara Dua Hati
PASCA PERNIKAHAN


__ADS_3

"Alhamdulillah,/ akhirnya selesai juga." ucap Arya sambil berbaring di ranjang


"Iya, Sayang. Acara hari ini sangat melelahkan." saut Rahma sambil ikut berbaring di samping suaminya tersebut.


Tidak terasa jam sudah menunjukkan pukul 00:00. Rahma dan Arya yang begitu sibuk dengan rentetan acara pernikahan, akhirnya ketiduran setelah mengobrol sebentar.


Malam itu begitu hening. Rahma beserta suami dan mertuanya begitu kelelahan, hingga mereka segera beristirahat usai acara resepsi pernikahan selesai.


***


Suara adzan subuh terdengar begitu merdu. Rahma yang mendengar lantunan adzan kemudian tersadar dari mimpi indahnya. Ia Bergegas mengambil air wudlu untuk melaksanakan shalat subuh.


"Mas, Mas. Bangun, Mas. Sudah subuh. Buruan bangun, yuk. Kita jama'ah subuh sekarang." Sambil menepuk-nepuk lengan suaminya yang masih tertutupi selimut.


"Iya, apa Sayang?" Arya menjawab dengan pelan.


"Ayo jama'ah subuh, Sayang. Sudah selesai adzan dari tadi lho." jelas Rahma.


Setelah Arya bangun dan selesai berwudlu, sepasang pengantin baru itu pun melaksanakan shalat subuh berjama'ah. Terlihat begitu khusyu'nya mereka berdua. Seusai dua salam, Rahma pun bersalaman dan mencium punggung tangan suaminya. Arya pun mengecup kening Rahma dengan lembut.


Setelah selesai menyimpan mukena dan merapikan tempat tidur. Rahma kemudian meminta izin pada Arya. "Mas, aku ke bawah dulu ya bantu-bantu mbok Sri masak."


"Tidak usah, Sayang. Biar mbok Sri saja yang masak sendiri. Lagian, mbok Sri juga sudah terbiasa mengerjakan apa-apa sendiri."


"Tidak apa-apa, Sayang. Kan mulai sekarang, aku sudah menjadi seorang istri. Sudah menjadi kodrat dan kuwajibanku sebagai istri untuk melayani suaminya. Setiap apa-apa yang dilakukan istri untuk melayani dan menyenangkan hati suaminya, dinilai sebagai ibadah dan pahalanya besar. Jadi, biarkan istrimu ini semakin memperbanyak ibadahnya dengan banyak cara. Hehehe." jawab Rahma sambil diselingi sedikit candaan.


***


Semua anggota keluarga sudah berkumpul. Terdiri dari papa Ahmad, mama Anti, mas Andre, Arya dan Rahma. Kemudian mereka segera sarapan bersama.


"Masakan mbok Sri, makin enak ya?" ucap mama Anti.


"Iya rasanya beda ya, lebih enak. Cara pengolahan dan penyajiannya juga berbeda." sahut mas Andre.


"Ini kopi pahit buat Tuan Ahmad, ini teh tawar buat Nyonya Anti, kopi susu buat Den Andre, kopi cappucino buat Den Arya dan kopi moccacino yang satu ini buat Non Rahma. Monggo silahkan. Hehehe makanannya rasanya beda ya? Lebih enak kan?" ucap mbok Sri.


"Iya, Mbok. Lebih enak." sahut Andre.


"Itu tadi, non Rahma yang masak. Mbok Sri, hanya bantu ngupas dan ngiris-ngiris saja." jelas mbok Sri.


"Wah, menantu Mama pinter masak ternyata. Hebat ya." Sambil tersenyum mama Anti memuji.


"Hehehe, Mama bisa saja." Rahma tersipu malu.


Setelah semua selesai sarapan, Arya kemudian pamit untuk ke kampus karena hari ini ada presentasi. Papa Ahmad dan mas Andre buru-buru berangkat karena ada meeting dengan klien. Mama Anti juga bergegas untuk berangkat ke butiknya. Setelah semua orang meninggalkan rumah, kini tinggal Rahma dan mbok Sri saja yang berada di dalam rumah besar itu.


Saat baru saja dikursi taman, tiba-tiba HP Rahma berbunyi.


Drrtt, Drrtt,


Terlihat ada telpon masuk dari Dewi.


"Hallo, assalamu'alaikum Wi." ucap Rahma.


"Wa'alaikum salam, Ra. Kok hari ini aku gak lihat kamu di kampus? Kamu dimana? Lagi sarapan di kantin, atau lagi di perpustakaan?"


"Enggak, Wi. Hari ini, memang aku izin tidak berangkat. Tadi, aku sudah telpon Vita untuk membuatkan surat izin agar di berikan ke bu Heni."


"Kamu sakit, Ra? Nanti selesai kuliah, aku mau ke rumah suamimu ya buat jengukin kamu."


"Tidak usah, aku gak apa-apa, Wi. Aku sehat, kok. Memang hari ini, aku sengaja tidak masuk kuliah karena masih capek badanku. Jadi, hari ini aku mau istirahat dulu. Besok insya Allah aku berangkat, kok."

__ADS_1


"Alhamdulillah, kalau begitu. Ya sudah kalau gitu, sampai ketemu besok ya, Ra. Aku tak masuk ke kelas dulu. Sebentar lagi dosenku masuk kelas. Assalamu'alaikum, Ra."


"Wa'alaikum salam." Rahma menutup telpon.


***


Hari berganti hari. Minggu dan bulan pun berganti. Tepat satu bulan Rahma menikah. Kegiatan Rahma pun sekarang sudah jauh berbeda. Dia lebih banyak menghabiskan waktu di rumah dengan menonton tv, mengobrol dengan anggota keluarga atau dengan mbok Sri, bermain HP, dan juga bermain laptop. Itu kegiatan yang biasa dilakukan Rahma setelah dia tinggal di rumah suaminya.


"Hoek, Hoek." Terdengar suara Rahma muntah-muntah di kamar mandi samping dapur.


Mendengar itu, mbok Sri yang sedang sibuk memasak, kemudian segera berlari ke arah kamar mandi tersebut. "Kenapa, Non?"


"Tidak apa-apa, Mbok." jawab Rahma Sambil mengelap bibir dan mukanya yang basah akibat air yang dipakai untuk membasuh muka.


"Non Rahma sakit? Nanti periksa ke dokter saja ya, Non. Takutnya kenapa-napa."


"Saya hanya pusing saja, Mbok. Mungkin maag saya kambuh, atau efek kecapekan saja."


"Ta-- tapi, kalau Non Rahma kenapa-napa nanti saya yang disalahkan den Arya."


"Tidak apa-apa, Mbok. Santai saja. Nanti, saya yang menjelaskan ke mas Arya. Sudah dulu ya, Mbok. Saya tak ke kamar dulu biar pusing dan mualnya hilang." Rahma kemudian berlalu menuju kamarnya yang ada di lantai dua.


***


Drrtt, Drrtt,


Arya segera membuka tas dan mengambil HPnya yang berbunyi tersebut.


"Hallo, assalamu'alaikum, Mbok. Ada apa?"


"Maaf Den, kalau menggangu. Kuliahnya Den Arya hari ini apa sudah selesai?"


"Sudah, Mbok. Kenapa? Tumben bertanya seperti itu?" tanya Arya heran.


"Ok, Mbok. Saya tak pulang sekarang saja."


***


Brum..., Brum...,


Suara mobil Arya terdengar parkir di garasi samping rumah.


Arya buru-buru keluar dari mobilnya. Kemudian segera masuk ke rumah mencari istrinya. "Mbok Sri..., Rahma di mana?"


"Alhamdulillah, Den Arya sudah pulang. Saya hawatir dari tadi, karena non Rahma dari tadi pagi belum keluar kamar sampai sekarang, Den." mbok Sri menjelaskan dengan raut muka yang terlihat panik.


"Ok, Mbok. Saya tak langsung ke atas." ucap Arya yang terlihat buru-buru menaiki anak tangga menuju lantai dua.


Ceklek,


uara pintu dibuka


Arya membuka pintu kamar, lalu mendekat ke istrinya. "Sayang, kamu kenapa?" Sambil menyentuh kening istrinya untuk memastikan suhu tubuhnya.


Karena merasa ada yang menyentuhnya, Rahma kemudian terbangun. "Eh, Sayang sudah pulang. Kok tumben pulang cepat, Sayang? Apa kuliahnya sudah selesai?" tanya Rahma dengan suaranya yang lirih dan mukanya terlihat pucat.


"Alhamdulillah sudah selesai, Sayang. Kita ke dokter saja, ya. Biar kamu dapat obat dan segera sembuh. Aku enggak mau Sayang sakit." Arya membujuk Rahma dengan muka memelas.


"Aku tidak apa-apa kok, Mas Arya Sayang. Mungkin, efek maag kambuh atau kecapekan saja."


"Sayang, makan dulu ya. Biar tidak lemas. Setelah itu, nanti sore habis shalat ashar kita ke dokter. Please nurut sama suami, ya." Arya membujuk istrinya.

__ADS_1


"Ok, baiklah, Sayang." jawab Rahma menyetujui.


***


Setelah selesai mandi, shalat ashar dan makan. Arya dan Rahma pamit kepada papa Ahmad dan mama Anti.


"Pa, Ma. Arya pergi sama Rahma dulu ya, mau ke dokter untuk check up." ucap Arya.


"Lho, siapa yang sakit, Ar?" tanya papa Ahmad.


"Tadi siang, Rahma merasa mual dan pusing, Pa. Bahkan sampai muntah-muntah. Mau tak bawa ke dokter biar dapat penanganan yang tepat." ucap Arya sambil berasalaman dan mencium punggung tangan kedua orang tuanya secara bergantian.


"Oh, ya sudah. Langsung ke Klinik dokter Eko saja." saran mama Anti.


"Iya Ma, Pa. Kalau begitu, kami berangkat dulu, ya." kata Rahma sambil bersalaman dan mencium punggung tangan kedua mertuanya secara bergantian.


***


Setibanya di klinik dokter Eko, Rahma dan Arya segera masuk dan mendaftar di bagian administrasi.


Setelah selesai mendaftar, seorang perawat mempersilahkan Rahma dan Arya untuk menunggu panggilan nomer antrian. "Silahkan ditunggu di sana dulu ya, Pak, Bu."


Setelah menunggu beberapa saat. "Nomor antrian A-321, silahkan menuju poli umum.


Mendengar nomor antriannya disebut, Rahma dan Arya segera bergegas menuju ke ruang poli umum.


Tok, Tok, Tok,


"Permisi, Dok." ucap Rahma sambil membuka pintu.


"Iya, silahkan, Ibu Bapak. Mari, silahkan duduk." jawab dokter Eko.


"Terima kasih, Dok." jawab Rahma dan Arya bersamaan.


"Bu Rahma." panggil dokter Eko.


"Iya, Dok." jawab Rahma sambil tersenyum.


"Silahkan berbaring di sana dulu, Bu. Biar saya periksa terlebih dahulu." perintah dokter Eko ke Rahma sambil menunjuk ke tempat pemeriksaan.


Setelah serangkaian pemeriksaan dilakukan dan hasil labnya keluar. "Bu Rahma dan Pak Arya, selamat, ya." ucap dokter Eko sambil tersenyum.


"Maksudnya, Dok?" sahut Rahma dan Arya kompak.


"Dari hasil pemeriksaan menunjukkan jika Ibu Rahma positif hamil. Sekali lagi, selamat ya untuk kalian." Dokter Eko menjelaskan kembali dengan senyum ramahnya.


"Hamil?" ucap Rahma dan Arya kaget.


...~Happy Reading~...


...🌸🌸🌸...


...Mohon Maaf jika masih banyak kesalahan dalam penulisanπŸ™πŸ™...


...Author baru belajar menulis karya fiksi. Mohon koreksi dan dukungannya ya, dengan Like, komen dan vote yaπŸ€—πŸ˜˜πŸ₯°...


...Dukungan kalian sangat berarti bagi Author...


...TERIMA KASIH...


...πŸ™πŸ™πŸ™...

__ADS_1


...🌸🌸🌸...


__ADS_2