Prahara Dua Hati

Prahara Dua Hati
ALHAMDULILLAH SAH


__ADS_3

Setelah pinangan Arya diterima oleh Dewi dan kedua orang tuanya, kini Arya dan Dewi mulai sibuk dengan persiapan acara pernikahan mereka. Karena keduanya dari keluarga terpandang maka, pernikahan mereka akan dilaksanakan secara mewah dan meriah. Pagi itu, mereka mulai sibuk. Semua keperluan menjelang pernikahan sudah mereka persipkan secara detail. Mulai dari melengkapi berkas-berkas untuk syarat pendaftaran nikah, mendata siapa saja orang yang akan diundang diacara resepsi mereka, mencari catering untuk acara resepsi, membeli pernak-pernik untuk hantaran pernikahan, membeli souvenir untuk para tamu undangan, memilih berbagai macam model parcel pernikahan, booking gedung untuk acara resepsi, memilih dekorasi yang mewah, hingga fitting baju pengantin mereka lakukan bersama-sama.


Terpancar rona bahagia diwajah sepasang calon pengantin itu. Senyum manis selalu tersugu dari bibir merah keduanya. Dari sorot mata mereka, jelas tergambar bayangan moment manis sebuah pernikahan dan hari-hari bahagian yang akan mereka lalui bersama setelah menikah.


Undangan pun sudah disebar. Tamu undangan mereka begitu banyak. Terdiri dari para keluarga, sahabat dekat, teman kuliah, tetangga, dosen, hingga partner bisnis kedua orang tua Rahma dan Arya.


Persiapan demi persiapan sudah mereka atur dengan rapi dan matang. Sesekali mereka mengecek hasil dekorasi dari team wedding organizer (WO) disebuah gedung yang sudah mereka sewa jauh-jauh hari.


Setelah memastikan semua bisa terhandle dengan baik, kini Rahma dan Arya segera bergegas untuk pergi. Mereka berjalan menuju ke tempat mobil Arya yang terparkir didepan gedung untuk acara pernikahan keduanya yang akan dilaksanakan 3 hari lagi.


Laju mobil Arya begitu cepat. Ia mengendarai mobilnya dengan kecepatan 130km/jam.


"Sayang pelan... !" teriak Rahma sambil berpegangan dengan kuat ke jok dan pintu mobil. Terdengar tarikan nafasnya terengah-engah. Mukanya terlihat begitu panik dan detak jantungnya pun begitu cepat


Mendengar teriakan orang yang sebentar lagi akan menjadi istrinya tersebut, spontan Arya menyalakan lampu sein kiri. Setelah menepi di pinggir jalan, Arya segera mencari air minum untuk diberikan pada Rahma agar Rahma lebih tenang. Setelah beberapa kali meneguk air minum. Rahma merasa lebih rileks.


"Sayang, please. Jangan terlalu ngebut bawa mobilnya ya. Aku takut! Nyetirnya pelan-pelan saja ya, tidak usah buru-buru. Atau, biar aku saja yang nyetir gantiin kamu. Dari pada kita kenapa-napa di jalan akibat kamu ugal-ugalan mengendarai mobilnya." ucap Dewi.


"Iya, Sayangku yang cantik, maaf. Ya sudah tak pelan-pelan saja nyetirnya." jawab Arya sambil tersenyum geli melihat ekspresi ketakutan calon istrinya tersebut.


***


Tiba sudah mereka di sebuah butik baju pengantin, tempat Arya dan Rahma memesan baju untuk acara pernikahannya nanti. Setibanya mereka disana, mereka mulai sibuk fitting baju pengantin dan menyesuaikan make up yang sesuai dengan konsep pernikahannya.


Masya Allah, calon istriku begitu anggun dan cantik.


Gumam Arya dalam hati sambil mengembangkan senyumnya.


"Sayang..., bagaimana? Cocok apa tidak aku pakai gaun ini? Atau..., terlihat aneh hingga kamu diam saja sambil senyum-senyum sendiri?" tanya Rahma sambil mendekati Arya.


Arya menjawab sambil tersenyum, "Tidak aneh kok, Sayang. Justru gaun ini, cocok sekali kamu pakai. So beautiful girl. Love you sayang."


Rahma tersipu malu. Sambil tersenyum dia menjawab, "Hehehe, love you too Sayang. Eh, ini sudah pas ya, tidak ada yang perlu ditambahi atau dibenahi lagi?"


"Sudah cukup, Sayang. So perfect." jelas Arya.

__ADS_1


Setelah acara fitting baju pernikahan sudah selesai. Mereka segera keluar dari butik. Keduanya lalu masuk ke mobil dan berlalu dari butik itu.


***


Brum... Brum...


Suara mobil Arya berhenti di depan sebuah resto ternama. Terlihat sweet couple tersebut keluar dari dalam mobil, Lalu berjalan bersama memasuki resto tersebut.


"Mau duduk dimana, Sayang?" Arya bertanya.


"Di sana saja, nomer 5 yang kelihatannya nyaman." jawab Rahma.


"Permisi kak..., mau pesan apa kak? Ini daftar menunya. Mau langsung memesan atau nanti saja, Kak?" Seorang pelayan resto menyodorkan lembaran daftar menu makanan dan minuman diresto itu.


"Langsung pesan saja, Kak." jawab Arya.


Setelah selesai memesan makanan, kemudian pelayan resto itu pergi setelah selesai mencatat pilihan menu Rahma dan Arya. Sambil menunggu pesanan mereka tersaji, kedua pasangan itu terlihat asyik mengobrol.


"Ngelihatinnya tidak usah begitu juga dong, Sayang." ucap Rahma tersipu malu gara-gara dipandangi oleh Arya.


"Hehehe, Sayang bisa aja. Calon suamiku ini, makin kesini juga makin terlihat tampan." ucap Rahma sambil tersenyum manis.


Tiba-tiba pelayan resto datang membuyarkan obrolan mereka yang saling memuji satu sama lain. "Permisi, Kak. Meja nomer 5 ya? Satu Wagyu steak, satu tenderloin steak, satu pancake ice cream, satu crispy chicken skin, satu strawberry smoothies with ice cream mixue, satu coffe latte, dua air mineral. Pesanannya sudah semua ya, Kak? Silahkan menikmati... ."


"Sayang, makan sekarang, yuk." ajak Arya.


Sambil mengembangkan senyum, Rahma menjawab. "Ya, Sayang, Yuk. Aku sudah lapar dari tadi.


***


"Yang ini, masih kurang rapi. Eh tolong ambilkan yang itu." terdengar suara ramai di sebuah gedung yang terhiasi dekorasi indah nan megah. Persiapan sedetail itu, ditata serapi mungkin untuk acara resepsi pernikahan Rahma dan Arya yang akan dilaksanakan tidak lama lagi.


Tak terasa waktu berganti begitu cepat. Hari demi hari telah berlalu. Ikrar suci akan diucapkan di depan penghulu. Sebuah ikrar yang menjadi ikatan antara ke dua insan, yang nantinya akan menjadi sah dan halal tinggal bersama dalam satu atap. Untuk melakukan ibadah terlama, guna menyempurnakan separuh agama dan meningkatkan ibadah kepada Allah Ta'ala.


Seharian full pasangan calon pengantin tersebut terlihat semakin sibuk. Maklum saja, karena sebentar lagi mereka akan menjalani hari terbesar dalam sejarah kehidupan mereka.

__ADS_1


Rasa lelah tiba-tiba hadir. Membuat Rahma terlihat sedikit pucat, akibat jadwal kegiatan untuk mempersiapkan pernikahannya begitu padat. Maklum saja karena pernikahan mereka mengundang begitu banyak tamu undangan, dengan konsep high class yang harus dirancang dengan begitu matang.


"Sayang, kamu kenapa kok terlihat agak pucat, apa kamu sakit? Kamu baik-baik saja kan?" Arya bertanya dengan penuh kehawatiran.


"Alhamdulillah, tidak apa-apa, Sayang. Mungkin efek kecapekan saja, akibat kegiatan full untuk persiapan pernikahan kita." jawab Rahma untuk menepis kehawatiran calon suaminya.


***


Hari H sudah tiba. Para tamu undangan sudah datang. Pengantin pria juga terlihat sudah duduk di tempat untuk ijab qobul. Arya yang nampak gagah dan tampan itu, begitu cocok disandingkan dengar Rahma yang terlihat sangat cantik dan anggun.


"Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau ananda Arya Prayoga bin Ahmad Zain dengan Rahma Aulia binti Ibrahim Arsyad dengan mas kawin seperangkat alat shalat dan Emas seberat 2 kilogram dibayar tunai." ucap penghulu.


"Saya terima nikah dan kawinnya Rahma Aulia binti Ibrahim Arsyad dengan mahar yang telah disebutkan dibayar tunai" Arya mengucap ijab qobul sambil menjabat tangan penghulu.


"Bagaimana para saksi, sah?"


"Sah." ucap para saksi kompak.


"Alhamdulillah, sah." ucap para keluarga dan orang-orang yang mengikuti prosesi ijab qobul.


...~Happy Reading~...


...🌸🌸🌸...


...Mohon Maaf jika masih banyak kesalahan dalam penulisanπŸ™πŸ™...


...Author baru belajar menulis karya fiksi. Mohon koreksi dan dukungannya ya, dengan Like, komen dan vote yaπŸ€—πŸ˜˜πŸ₯°...


...Dukungan kalian sangat berarti bagi Author...


...TERIMA KASIH...


...πŸ™πŸ™πŸ™...


...🌸🌸🌸...

__ADS_1


__ADS_2