
Rahma dan Arya saling berpandangan dengan wajah sumringah, shock, tidak percaya, takjub dan penuh rasa syukur setelah mereka mendengar hasil pemeriksaan dokter yang menyatakan kalau Rahma positif hamil. Mendadak ujung jemari Rahma menjadi dingin, detak jantung lebih cepat dan ucapan "masya Allah dan Alhamdulillah" berkali-kali terucap dalam hati.
Dengan sedikit gugup Arya bertanya pada dokter Eko "istri saya beneran hamil dok?"
"Iya pak istri anda positif hamil. Usia kandungan istri bapak sudah 2 minggu. Jadi tolong dijaga baik-baik ya pak bu, karena.. usia kandungan yang masih muda seperti ini sangat rentan. Jadi.. bapak harus extra mengawasi istrinya, dan ibu harus extra hati-hati dalam menjaga kandungannya. Jangan banyak aktivitas dulu, jangan kecapekan, pola makannya dijaga baik-baik, jangan banyak pikiran dan makanan yang dikonsumsi juga harus yang higienis, kaya akan asam folat, protein, zat besi, kaya akan serat, vitamin. Perhatikan juga asupan karbohidratnya ya pak bu" jawab dokter menjelaskan secara detail
"Apa ada pantangan makanannya dok?" Rahma menambahi pertanyaan
"Hindari makan makanan mentah atau yang dimasak kurang matang, buah dan sayur yang tidak dicuci bersih, jeroan, nanas, kopi, minuman bersoda, dan makanan-makanan yang tidak sehat. Pengolahan makanan yang dikonsumsi juga harus benar-benar matang dan higienis ya bu" dengan sabarnya dokter Eko menjawab dengan detail
Setelah sudah cukup jelas akhirnya Rahma dan Arya pamit untuk menebus resep obat yang sudah dituliskan oleh dokter Eko. Setelah semua selesai Rahma dan Arya segera pulang ke rumah. Karena mereka buru-buru ingin mengabarkan berita bahagia itu kepada keluarganya.
Akhirnya sampai juga mereka di rumah. Sesegera mungkin Rahma dan Arya mencari mama dan papanya.
"Mbok Sri.., papa dan mama dimana mbok? tanya Arya
"Tuan dan nyonya lagi pada ngobrol di taman samping den" jelas mbok Sri
"Ok terima kasih mbok" ucap Arya sambil berlalu untuk menyusul kedua orang tuanya
"Pa ma, kalian pada asyik ngobrolin apa? sepertinya seru dan bahagia sekali tak lihat dari kejauhan? hehehe" tanya Arya sambil bergantian mencium tangan kedua orang tuanya
"Iya kok sepertinya bahagia sekali hari ini papa dan mama dilihat dari auranya hehehe" Rahma menimpali omongan Arya sambil bergantian mencium tangan kedua mertuanya juga
"Iya Ra.. mama dan papa sedang membahas perubahan konsep taman ini. Rencananya kami ingin menambah kolam renang kecil yang aman untuk anak-anak, lalu di pojok sana akan dikasih ayunan dan prosotan" jawab mama Anti
"Lho kenapa tiba-tiba mau merubah konsep taman ini menjadi ala-ala playground ma?" Arya bertanya dengan sedikit mengembangkan senyum manisnya karena merasa sangat excited dengan rencana papa mamanya
"Hehe ya... siapa tahu sebentar lagi Rara hamil. Jadi perubahan taman ini bisa menjadi kado kecil untuk cucu mama dan papa nantinya." Terlihat begitu bahagia ekspresi wajah papa Ahmad saat membahas tentang cucu
"Ohh begitu ya pa? Memangnya papa dan mama ingin segera punya cucu? Apa sudah siap menjadi kakek dan nenek? Hahaha" canda Arya pada kedua orang tuanya
"Oww jelas kami sangat siap menjadi nenek dan kakek karena kami sangat ingin segera mempunyai cucu dari kalian." Sambil tersenyum mama Anti menjelaskan
Dan betapa kagetnya papa Ahmad dan mama Anti setelah mendengar penjelasan Arya dan melihat lembaran hasil test dokter yang menyatakan bahwa Rahma positif hamil.
Rasa haru penuh syukur kini dirasakan kedua orang tua Arya. Begitu pun yang dirasakan kedua orang tua Rahma setelah mendengar penjelasan anaknya lewat telpon.
Sebagai bentuk syukur mereka, akhirnya orang tua dan mertua Rahma, serta Arya mengagendakan acara syukuran dengan mengundang beberapa kerabat, tetangga dan teman-teman terdekat.
***
__ADS_1
Malam itu tepat jam 18:30 para tamu undangan datang ke rumah Arya sesuai dengan waktu dan tempat yang dicantumkan diundangan. Arya, Rahma, papa Ahmad, mama Anti, ayah Ibrahim, bunda Nur terlihat sedang sibuk menyalami dan mempersilahkan para tamunya untuk segera duduk dikursi yang sudah disiapkan dan menikmati makanan serta minuman yang sudah dihidangkan.
Suasana ramai dan penuh kebahagiaan menyelimuti acara syukuran kehamilan Rahma malam itu. Acara syukuran yang dilaksanakan secara dadakan itu terlihat sangat meriah. Terlihat para tamu sangat menikmati jamuan malam itu dengan berbagai macam pilihan menu. Demikian pula ucapan selamat dan do'a para tamu undangan membuat para tuan rumah sangat bahagia dan bersyukur.
"Selamat ya Rahma atas kehamilannya. Semoga bayi dan mamanya selalu sehat dan kuat. Semoga diberi kemudahan, kelancaran dan keselamatan pada saat melahirkan nanti. Kami pamit dulu ya. Terima kasih banyak lho atas jamuannya." Ucap salah satu dari tamu undangan
Kemudian satu persatu para tamu undangan berpamitan untuk pulang.
***
Hari ini sangat cerah. Terasa suasana sangat berbeda. Rahma yang setiap pagi selalu membantu mbok Sri menyiapkan sarapan, kini tidak diizinkan lagi untuk ikut memasak di dapur. Bahkan Rahma juga tidak diizinkan untuk membantu mbok Sri membersihkan rumah lagi. Untuk membuat susu hamil pun tidak diperbolehkan. Setiap keluar dari kamar, susu hangat untuk ibu hamil sudah tersedia dimeja makan.
Sejak Rahma hamil setiap mau pergi ke luar rumah harus ada yang mengantarkan. Itu saran dari mertua dan suaminya. Ya wajar saja kini mereka jadi over protektif ke Rahma dikarenakan kandungan Rahma lemah.
Di kehamilan pertama ini Rahma sakit-sakitan. Setiap makan apa pun Rahma langsung muntah. Dan yang lebih menghawatirkan lagi setiap muntah Rahma selalu pingsan. Tensi darahnya rendah, badannya terlihat lebih kurus, mukanya pucat dan tidak doyan makan. Kondisi seperti itu membuat dokter menyarankan bahwa Rahma harus bed rest total.
Setiap ada keluhan tentang kehamilannya, pasti mertua dan suaminya langsung mengajak Rahma untuk check up ke dokter. Obat yang diberikan oleh dokter pun sangat banyak. Mulai dari obat nafsu makan, obat anti mual, obat penambah darah, aneka vitamin untuk ibu hamil, hingga obat penguat kandungan.
Sore itu Rahma baru pulang dari rumah sakit diantar suami dan mama mertuanya.
"Rahma... makan dulu ya. Mama ambilin makanannya. Habis itu obatnya diminum. Setelah itu kamu istirahat ya sayang biar segera fit lagi." tutur mama Anti dengan penuh kasih sayang
"Yuk sayang tak antar ke kamar dulu. Pasti capek ya habis jalan jauh?" Arya menggandeng Rahma ke lantai 2 menuju kamarnya
"Biar disuapin mas Arya saja ma. Mama mandi dulu biar badannya segar. Lagian juga sudah sore banget ini ma" ucap Rahma
***
Genap sudah 9 bulan usia kandungan Rahma. Tetapi dia masih saja sakit-sakitan dan sangat lemah. Bahkan sampai hamil tua pun Rahma masih sering pingsan. Hingga suatu hari terjadi sebuah insiden yang mengerikan
"Non Rahma..." teriak mbok Sri sambil berlari ke arah Rahma
Mendengar teriakan mbok Sri yang begitu kencang, sontak saja orang-orang rumah ikut berlari ke arah Rahma. Wajar saja mbok Sri dan yang lain begitu panik karena melihat Rahma pingsan dengan kondisi jatuh ke depan hingga perut Rahma terbentur tiang rumah dengan sangat keras.
Ekspresi panik begitu jelas tergambar di wajah Arya dan kedua orang tuanya yang melihat Rahma terkulai lemah tak sadarkan diri. Dengan sigap mereka membawa Rahma ke rumah sakit.
Setelah sampai di rumah sakit para perawat segera membawa Rahma ke ruang UGD.
"Pak bu tolong tunggu di luar dulu ya. Biar dokter memeriksa kondisi pasien terlebih dahulu" ucap seorang perawat
40 menit bayi yang ada di perut Rahma tidak ada pergerakan sama sekali. Kondisi seperti itu membuat semua sangat panik. Tetapi di menit ke 41 alhamdulillah bayi itu bergerak kembali. Ucapan syukur alhamdulillah kompak diucapkan para tenaga medis itu. Terlebih lagi anggota keluarga yang sudah diizinkan untuk melihat kondisi Rahma secara langsung. Syukur dan penuh haru mereka rasa karena ibu dan bayinya selamat.
__ADS_1
37 minggu usia kehamilan Rahma. Tepat di hari ke 3 Rahma opname di rumah sakit. Tanda-tanda bayi akan lahir pun sudah mulai dia rasa. Perut mulai terasa mulas, kram dan nyeri punggung pun mulai meningkat, pinggang pun terasa makin nyeri, bayi pun semakin aktif bergerak, nyeri perut bawah pun semakin kuat, cairan berupa lendir bercampur darah pun mulai keluar, terasa ada tekanan yang semakin kuat di perut, panggul dan ********. Rasa mulas pun semakin meningkat.
"Bu Rahma ikuti aba-aba saya ya" kata dokter
"Tarik nafas.. buang dari mulut. Ayo bu lakukan berulang kali" ucap dokter menambahi
"Sayang sakit..." Rahma merintih sambil menggenggam tangan Arya dengan kuat
"Ayo sayang kamu bisa. Ayo sayang semangat, kamu pasti kuat. Bismillah sayang" ucap Arya menyemangati istrinya yang terlihat kesakitan
"Hmmzz wuhhhh" Rahma menarik nafasnya berulang kali
"Ayo bu semangat bu, ibu pasti kuat. Bismillah bu, ayo semangat. Tarik nafas lalu dorong dengan kuat bu" ucap dokter sambil fokus membantu proses persalinan
"Sakit... aku tidak kuat sayang" ucap Rahma dengan kondisi yang makin melemah
Arya yang melihat kondisi istrinya tersebut tak kuasa menahan air matanya. Sambil sesekali mencium kening istrinya, Arya terus menyemangati Rahma
"Ayo bu kurang sedikit lagi" kata dokter
"Ayo sayang kamu pasti kuat. Kamu pasti bisa" support Arya
"Ayo bu dorong lebih kuat lagi. Kurang sedikit lagi bu, sudah hampir selesai" dokter dan para perawat bergantian menyemangati
"Ehmmh wuuhhhh. Aahhhhhhh" teriakan disisa akhir tenaga Rahma
"Oek oek oek" terdengar suara tangisan bayi
"Alhamdulillah" ucapan syukur Arya, Rahma dan para team medis secara kompak
...~Happy Reading~...
...πΈπΈπΈ...
...Mohon Maaf jika masih banyak kesalahan dalam penulisanππ...
...Author baru belajar menulis karya fiksi. Mohon koreksi dan dukungannya ya, dengan Like, komen dan vote yaπ€ππ₯°...
... Dukungan kalian sangat berarti bagi Author...
...TERIMA KASIH...
__ADS_1
...πππ...
...πΈπΈπΈ...