
Hawa mendung menutup langit sore itu. Suasana teduh dan hembusan angin, sedikit mengusik bulu roma di tubuh. Hawa dingin mulai terasa. Membuat tubuh seakan tertahan, untuk melakukan kegiatan.
Langit memperlihatkan tanda akan turunnya hujan. Mendungpun semakin menebal dan menghitam. Sayup sayup terdengar suara adzan ashar.
"Mas, yuk shalat ashar sekarang." ajakan Ida pada mas Andre suaminya.
"Iya, Dik."
Setelah mengambil air wudlu, pasangan pengantin baru itu langsung melaksanakan shalat ashar berjama'ah.
"Da, kalau sudah selesai shalat langsung turun ya. Kita makan bareng." panggil bu Retno mertuanya mas Andre.
"Iya, Ma." jawab Ida. Lalu Ida dan mas Andre yang sudah selesai shalat langsung bersiap menuju ruang makan.
Setelah selesai makan dan mengambil beberapa tas yang berisi baju, Ida dan mas Andre segera pamit ke bu Retno dan pak Yanto.
"Pa ... Ma, kami berangkat dulu ya. Do'akan yang terbaik untuk kami, dan do'akan agar Ida betah tinggal di rumah mas Andre." ucap Ida sambil bersalaman pada kedua orang tuanya.
"Iya, Sayang. Mama dan Papa selalu mendo'akan yang terbaik untuk kalian. Ida sekarang sudah menjadi istri, jadi harus bisa memposisikan diri sebagai istri yang shalihah." jelas bu Retno.
"Hormati dan patuh pada suami serta mertua ya, Sayang. Sekarang yang bertanggung jawab dunia dan akhiratnya Ida adalah Andre, bukan Papa lagi." imbuh pak Yanto.
"Iya, Ma Pa." jawab Ida sambil memeluk kedua orang tuanya secara bergantian.
"Ndre, kami nitip Ida, ya. Jaga, sayangi, cintai, perlakukan dan didik dia dengan baik. Kami amanahkan putri kami pada kamu sepenuhnya." kata pak Yanto sambil menepuk-nepuk bahu mas Andre.
"Iya, Pa. Insya Allah Andre akan selalu menjaga amanah Papa dengan baik." jawab Andre sambil mencium punggung tangan pak Yanto. Kemudian mobile mereka melaju menuju kontrakan orang tua mas Andre.
***
Terdengar suara kokok ayam penyambut pagi. Mentari pelan-pelan menyusup dibalik dedaunan. Rahma sedang sibuk menyiapkan nasi goreng dan telur dadar untuk sarapan sekeluarga. Sementara Arya sudah rapi lengkap dengan baju kerjanya. Di sini lain Zea sedang asyik bermain setelah pagi-pagi sekali dimandikan mamanya.
"Mas, yuk kita sarapan dulu." ajak Rahma pada suaminy yang sedang menemani Zea bermain.
"Ya, Sayang." jawab Arya lalu menggendong Zea menuju ke meja makan.
Saat semua sedang menikmati nasi goreng dan telur dadar hangat, tiba-tiba Arya menyodorkan beberapa lembar uang berwarna merah sambil berkata, "Sayang, ini uang untuk kebutuhan kita selama satu bulan. Mulai sekarang, kamu harus hemat ya. Ingat, jangan boros-boros."
__ADS_1
Rahma yang mendengar perkataan suaminya kemudian menaruh sendok makannya di piring. Diambilnya beberapa lembar uang yang diserahkan suaminya tersebut. Lalu, Rahma menghitungnya. "Lho, Mas. Kok segini uang bulanannya? Kan, biasanya Mas selalu memberikan semua gaji Mas beserta slip gaji. Apa gaji Mas Arya menurun? Dan, slip gajinya mana, Mas?"
"Maaf ya, Sayang. Mulai sekarang, uang jatah bulanan kita bertiga hanya satu juta. Gaji Mas sisa segitu saja karena untuk banyar hutang dan untuk keperluan Mas selama satu bulan." jawab Arya.
"Mas, memangnya Mas punya hutang ke siapa? Selama ini perasaan kita hidupnya sudah hemat, Mas. Dan aku juga gak tahu kalau Mas punya hutang."
"Ya sudahlah, terserah kamu! Aku diluar juga butuh beli bensin, pulsa, rokok, beli makan, beli minum dan lain-lain. Yang jelas, mulai sekarang kamu harus berhemat. Aku sudah tidak sanggup mencukupi kebutuhan kamu sama Zea."
Jleb,
Perkataan kasar Arya seketikan terasa menghujam jantung Rahma. Sontak saja mata Rahma memerah menahan air mata yang hendak jatuh. Ia berusaha tetap tenang dan tidak menangis di depan Zea. Karena, dia tidak mau bertengkar dengan suaminya didepan anaknya tersebut. Dengan bibir yang terasa kelu, Rahma kemudian menjawab, "iya, Mas."
"Ya sudah, aku berangkat dulu. Assalamu'alaikum." dengan ketusnya, Arya kemudian berlalu setelah mencium kening Zea tanpa bersalaman atau mencium kening istrinya.
Setelah suaminya pergi bekerja, Rahma kemudian membersihkan perabotan makan untuk sarapan sekeluarga tadi. Sambil mencuci piring, Rahma berkata pada anaknya, "Zea Sayang, main dulu sana di depan TV. Mama biar cuci piring dan bersih-bersih rumah dulu ya. Setelah semua selesai, nanti Zea tak temenin main sambil belajar. Mau?"
"Yeee ... mau, Ma." Lalu dengan girangnya, Zea berlari pelan menuju ruang TV.
Rahma yang sendirian di dapur, terus terusik dengan perubahan sikap suaminya.
Tiba-tiba lamunannya terhenti setelah mendengar suara Zea memanggil. "Mama, Ma ..., Didepan ada nenek Anti. Zea suruh masuk tetapi nenek tidak mau."
"Oh, iya Sayang. Ya sudah tidak apa-apa. Biar Mama saja yang ke depan menemui nenek." Setelah selesai mencuci tangannya yang di penuhi busa sabun cuci, Rahma kemudian menggandeng tangan putrinya dan berjalan ke teras untuk menemui mertuanya.
"Assalamu'alaikum, Ma." ucap Rahma menyapa mertuanya sambil mencium punggung tangan mertuanya.
"Wa'alaikum salam. Arya mana, Ra? Kok Mama tunggu dirumah, dia tidak datang-datang sampai sesiang ini?" tanya mama Anti dengan wajah sedikit kesal.
"Mas Arya sudah berangkat dari tadi, Ma. Memangnya ada apa Mama menyuruh Mas Arya ke rumah Mama pagi-pagi?"
Mendengar pertanyaan Rahma, mama Anti menjadi kesal. "Memangnya tidak boleh kalau Mama menyuruh anak sendiri main ke rumah? Posesif banget kamu jadi istri."
Melihat ekspresi jutek dan mendengar ucapan ketus mertuanya, Rahma kemudian menjelaskan. "Maksud Rahma tidak begitu, Ma. Ya kok tumben Mama nyuruhnya pagi-pagi sekali. Dan dihari kerja, bukan pas hari libur."
"Ah, sudah lah! Bicara sama kamu tidak nyambung. Mendingan Mama pulang dan tanya langsung ke Arya lewat telpon. Assalamu'alaikum." Kemudian berdiri dan mengendarai motornya.
"Wa'alaikum salam." jawab Rahma lalu masuk ke rumah bersama Zea, setelah mertuanya pergi.
__ADS_1
***
Suara adzan menggema. Menandakan waktu sore telah tiba. Mama Anti yang kesal karena telponnya sejak tadi pagi belum diangkat Arya, kemudian mencoba untuk menelpon Arya kembali.
Tuuut. Tuuut.
"Assalamu'alaikum, Ma." suara Arya terdengar lewat telpon.
"Wa'alaikum salam. Kenapa telpon Mama dari tadi pagi tidak kamu angkar Ar?" tanya mama Anti ketus.
"Oh, maaf, Ma. Tadi Arya sibuk banget. Jadi, terlalu fokus dengan pekerjaan karena hari ini pekerjaan Arya banyak banget, Ma." jelas Arya.
"Oh, ya Ar. Kapan mau ditransfer?"
"Sudah Arya transfer, Ma. Baru saja. Empat juta, kan, Ma?"
Mendengar ucapan Arya, raut muka mama Anti berubah menjadi berbinar. "Iya, Ar. Terima kasih ya. Nanti biar Mama ambil di ATM sebrang jalan. Nah, begitu dong. Kalau punya gaji itu jangan diserahin sepenuhnya ke istri kamu. Kamu harus menyimpan uang sendiri. Biar kalau punya kebutuhan, tidak perlu repot-repot meminta ke istri kamu. Lagian buat apa semua gaji kamu kasihin ke istrimu. Enakan dia nganggur di rumah tapi terima uang sebanyak itu. Dia nganggur tapi megang uang sebanyak itu buat apa? Kalau dia pakai buat foya-foya, jalan-jalan, shopping, perawatan di klinik kecantikan yang mahal, kan gak bakalan ngomong sama kamu. Uang satu juta, kalau cuma buat belanja kebutuhan pokok untuk konsumsi kalian bertiga, buat bayar listrik, pulsa, air, susu anak kamu, dan popok anak kamu ya Mama rasa sudah cukup. Jadi dengan cara seperti ini, kamu bisa beli apa pun yang kamu mau. Dan Mama juga bisa merasakan gaji kamu."
"Iya, Ma. Ya sudah, Arya harus buat laporan dulu, Ma. Assalamu'alaikum." suara Arya mengakhiri perbincangan dengan mamanya.
"Wa'alaikum salam." jawab mama Anti senyum-senyum sendiri sambil menutup telpon.
...~Happy Reading~...
...๐ธ๐ธ๐ธ...
...Mohon Maaf jika masih banyak kesalahan dalam penulisan๐๐...
...Author baru belajar menulis karya fiksi. Mohon koreksi dan dukungannya ya, dengan Like, komen dan vote ya๐ค๐๐ฅฐ...
...Dukungan kalian sangat berarti bagi Author...
...TERIMA KASIH....
...๐๐...
...๐ธ๐ธ๐ธ...
__ADS_1