
Setelah mengetahui siapa sosok Arya yang sebenarnya, Rahma merasakan kekecewakan yang teramat besar. Namun, kekecewaan itu tak mengurangi sikap baktinya pada sang suami.
Berhari-hari, Rahma menunggu klarifikasi dari suaminya atas kejadian malam itu tetapi, Arya bersikap seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa. Sikap Arya yang seperti itu, menyebabkan Rahma sekarang hanya bicara seperluanya saja. Semua itu ia lakukan, semata-mata agar tidak terjadi pertengkar antar dia dengan suaminya. Namun, lama kelamaan Rahma tidak bisa lagi terus berdiam diri tanpa meminta penjelasan.
"Mas, kita bisa bicara sebentar?" tanya Rahma pada suaminya.
"Iya, ada apa Sayang?" ucap Arya yang sedang sibuk memainkan HPnya.
"Kenapa akhir bulan kemarin pulang sampai pagi Mas?"
Dengan ekspresi tanpa rasa bersalah Arya menjawab, "Kan sudah tak kasih tahu lewat chatku, kalau malam itu aku lembur karena akhir bulan ... , Kok masih ditanyain lagi sih! Memangnya salah kalau kerja ada lemburnya juga?"
"Ya enggak ada yang salah Mas ... , Tetapi kenapa pulangnya sampai pagi? Kalaupun sampai lembur, paling mentok juga sampai jam 11 atau 12 malam Mas. Tidak sampai pagi juga." jawab Rahma mempertegas agar suaminya sadar letak kesalahannya dimana.
Namun, ternyata perkataan Rahma tidak membuat Arya menyadari kesalahannya. Justru dia tersinggung dan marah.
"Maksud kamu apa ngomong kayak gitu! Kamu sudah tidak percaya sama aku? Kamu mau nuduh aku yang tidak-tidak? Hei, aku ini kerja buat menghidupi kalian. Aku bekerja panas kepanasan, hujan kejujanan, dari pagi sampai malam aku lakuin demi kalian. Kamu pikir tidak capek!" Arya bicara dengan nada tinggi dan terdengar membentak.
Baru kali ini Rahma mendapat omongan kasar dari suaminya. Dia benar-benar tidak menyangka sosok suami yang dia kenal dahulu, berbeda jauh dengan yang dia lihat sekarang. Karena terlalu syok dengan sikap suaminya, tanpa sadar air matanya menetes. Baru kali ini ada yang bentak dia. Dan parahnya lagi yang melakukan itu adalah orang yang selama ini ia cintai dan ia jaga dengan tulus. Bibirnya mulai terasa kelu untuk melanjutkan pembicaraan lagi. Tapi, rasa penasaran dalam hatinya begitu kuat. Dia ingin tahu apa penyebab suaminya sampai mabuk-mabukan. Pertanyaan yang beberapa hari ini sudah sangat mengusik dia, membuat dia tetap meneruskan pembicaraan.
"Aku tidak mempermasalahkan kamu lembur Mas. Aku juga tidak ingin menuduh kamu macam-macam. Bukannya aku tidak percaya sama kamu. Tapi, bukankah setiap masalah seharusnya dikomunikasikan, agar ada kejelasan dan tidak ada kesalah pahaman? Bukankah kamu yang dulu mengajariku seperti itu Mas?" Air matanya terus menetes.
Arya hanya terdiam dan menunduk, tak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya.
Melihat suaminya masih belum mau mengakui kesalahannya, Rahma kemudian bergegas masuk ke kamar. Dia mengambil selembar kertas kecil.
"Mas, aku hanya butuh kejujuran kamu. Dalam pernikahan fondasinya hanya sebuah kejujuran. Dan aku harap kamu bisa memberikan itu untukku. Rahma terus memandangi suaminya yang tak bergeming sepatah kata pun. Kesabarannya mulai habis dengan sikap sok lugu suaminya.
"Mas, tolong jawab jujur! Tanpa mengurangi rasa hormatku sebagai seorang istri, aku harap Mas tidak membohongi aku, dan tolong jawab tanpa menggunakan emosi. Ini apa Mas!" sambil menunjukkan selembar bill pembayaran room karaoke.
Arya yang melihat struk pembayaran tersebut seketika memucat wajahnya. Dia merasa tertampar sendiri karena berusaha menutupi kesalahannya dengan marah-marah ke istrinya. Namun, istrinya justru mempunyai bukti akurat untuk menunjukkan jika dia bersalah.
"Sa-- sayang, aku bisa kasih penjelasan tentang itu semua. Sayang, please itu tidak seperti yang kamu pikirkan." Sambil menggenggam kedua tangan Rahma.
"Mas, aku tidak butuh penjelasan dan pembelaan kamu. Yang aku butuhkan adalah sebuah kejujuran. Selama ini aku sangat menghormati kamu Mas. Tidak pernah sekalipun aku berbohong dan tidak patuh terhadapmu. Apa semua itu masih belum cukup untuk membuatmu bicara jujur atas apa yang kamu lakukan di belakangku!"
Bibir Arya seakan mengunci. Tidak ada sepatah katapun yang mampu ia lontarkan untuk sedikit menyangkal.
Tangis Rahma semakin tak terbendung. Rasa kecewanya semakin mencabik hati, karena tak ada satupun kata maaf yang Arya ucapkan. Hal itu membuat Rahma yakin, jika suaminya adalah sosok yang tidak mau mengakui kesalahan yang sudah dia lakukan.
***
Setelah pertengakaran yang terjadi malam itu. Sikap Rahma mulai berubah. Dia mulai cuek dengan apapun yang dilakukan suaminya. Bahkan diajak bicarapun hanya menjawab seperlunya. Tidak ada lagi peluk dan cium pengantar suaminya sebelum berangkat kerja. Tidak ada sambutan peluk hangat dan gelayutan manja saat suaminya pulang kerja. Tidak ada lagi deretan panggilan tak terjawab dari Rahma, bahkan spam chat setiap saat yang biasa Arya terima dari istrinya sekarang tidak ada lagi.
Arya benar-benar merasa kesepian. Hidupnya seakan-akan hampa dengan perubahan sikap istrinya. Semangat kerja pun mulai berkurang. Pikiran dia begitu kalut. Kali ini, dia baru sadar bahwa, yang benar-benar ia butuhkan hanyalah keluarga, dan sumber kebahagiaan dia adalah kasih sayang dari anak istrinya.
__ADS_1
Hari ini, Arya berencana untuk meminta maaf atas apa yang dilakukan malam itu. Ia ingin mengembalikan keharmonisan keluarga yang selama beberapa hari tidak dia rasakan. Tergambar jelas bayangan senyum manis anak istrinya sebagai pengantar saat ia berangkat kerja, sambutan hangat dan sikap manja istrinya saat menyambut kepulangannya, membuat dia berencana pulang lebih awal.
Tok, Tok, Tok,
"Assalamu'alaikum." Arya heran melihat suasana rumah begitu sepi.
"Assalamu'alaikum, Sayang ... , Zea ... , Papa pulang. Arya mengulangi ucapan salamnya, tetapi masih juga tidak ada yang menjawab. Setelah memastikan tidak ada seorang pun di dalam rumah, Arya lalu mengambil Handphonenya untuk menelpon istrinya.
Tuuut. Tuuut.
"Ditelpon nyambung, tetapi tidak diangkat. Dichat juga masuk, tetapi tidak dibaca. Kemana sih ini orang. Tumben banget dia pergi gak ngabari aku. Apa dia benar-benar marah sama aku lalu meninggalkan rumah? Arrrghhhhh entahlah." Arya bergumam sendiri sambil mengacak-acak rambutnya.
Selang beberapa menit, ada panggilan masuk dari mas Andre.
"Hallo, Assalamu'alaikum Mas."
"Wa'alaikum salam, Ar. Kamu di mana sekarang?"
"Aku di rumah Mas, tapi gak bisa masuk. Rumah sepi dan dikunci." Sambil mencoba membuka pintu depan.
"Kamu bisa datang ke rumah sakit sekarang gak? Tak share location ya." ucap mas Andre.
"Rumah sakit Mas! Memangnya siapa yang sakit Mas?." Arya mendadak syok mendengar ucapan mas Andre.
Tut. Tut. Tut. Tut.
"Kok dimatiin telponnya. Aku belum selesai ngomong, malah main matiin telpon gitu aja." Mas Andre ngomel sendiri.
***
"Hiks, Hiks." isak tangis Rahma yang melihat putri kesayangannya terbaring lemah.
"Ma...," suara lemah Zea yang baru membuka matanya.
Mendengar suara Zea, Rahma dan Andre langsung terperanjat dan memasang senyum untuk Zea.
"Ma," ucap Zea.
"Iya Sayang," jawab Rahma.
"Papa mana? Zea kangen." Wajah Zea terlihat sangat pucat dan matanya sayu.
"Papa ya, Sayang?
Zea mengangguk
__ADS_1
"Se-- sebentar lagi papa datang buat nemenin Zea." jawab Rahma sambil mengelus kepala anaknya.
Mendengar isak tangis Rahma yang sejak tadi belum juga berhenti, memunculkan banyak pertanyaan dalam benak mas Andre atas kejadian sebelum Zea sakit.
"Ra, Mas boleh tanya sesuatu? Tapi jawab jujur ya!" ucap mas Andre.
"Iya, Mas, mau tanya apa?"
"Sebenarnya, kurang etis juga Mas menanyakan ini. Karena ini ranah privasi keluarga kalian. Mas tidak berhak untuk ikut campur. Tapi, Arya adalah adik Mas. Jika memang ada sikap dia yang kurang pas, lebih baik kamu cerita saja ke Mas. Siapa tahu dengan cara itu, Mas sebagai yang lebih tua bisa ikut menasehati dia. Kan ini demi kebaikan Arya juga,
"Kalau ada masalah, jangan dipendam sendiri. Bahaya, bisa mempengaruhi kesehatan mental. Mas ini kan kakak kamu juga, jadi tidak perlu sungkan untuk cerita." tutur mas Andre.
Air mata Rahma tumpah, menceritakan permasalahan di dalam rumah tangganya beberapa hari lalu.
Andre yang mendengar itu merasa sangat malu dan tidak menyangka adiknya bisa bersikap seperti itu.
"Ya sudah, tidak usah dipikirkan. Kamu fokus saja sama Zea. Masalah Arya, biar Mas yang ngurus. Lain kali kalau Arya berulah lagi, kamu langsung cerita ke Mas ya. Anak kecil itu sensitif, kalau orang tuanya lagi ada masalah, dia bisa merasa dan akhirnya jatuh sakit. Ingat itu! tegas mas Andre.
Baru selesai pembicaraan mereka, tiba-tiba Arya datang.
Tok, Tok, Tok
Ceklek
Arya buru-buru masuk lalu mendekap erat putri kecilnya itu. Dengan deraian air mata dan rasa sesalnya ia berkata, "Papa janji, tidak akan membiarkan
Zea dan mama menangis, merasa sedih atau pun sakit. Papa janji akan perbaiki semua!"
Melihat Rahma berdiri di sampingnya, Arya segera meminta maaf dan memeluknya, "maafkan aku Sayang. Tolong beri aku kesempatan untuk perbaiki semua."
...~Happy Reading~...
...๐ธ๐ธ๐ธ...
...Mohon Maaf jika masih banyak kesalahan dalam penulisan๐๐...
...Author baru belajar menulis karya fiksi. Mohon koreksi dan dukungannya ya, dengan Like, komen dan vote ya๐ค๐๐ฅฐ...
...Dukungan kalian sangat berarti bagi Author...
...TERIMA KASIH...
...๐๐...
...๐ธ๐ธ๐ธ...
__ADS_1