Prahara Dua Hati

Prahara Dua Hati
MENGHASUT PARA MENANTU (PART 2)


__ADS_3

Pagi hari, setelah selesai sarapan, Arya kemudian pamit untuk pergi ke tempat kerjanya. Tetapi pagi itu tidak seperti biasanya, Arya kali ini tidak berangkat dari rumah kontrakan dia bersama anak istrinya. Namun, pagi ini dia berangkat dari rumah kontrakan orang tuanya.


"Ma, Pa. Arya berangkat dulu ya. Sudah jam enam tiga puluh menit. Nanti Arya bisa telat kalau tidak berangkat sekarang."


"Oh iya, Ar. Hati-hati ya." ucap mama Anti.


"Hati-hati, Ar." imbuh papa Ahmad.


"Iya, Ma, Pa. Assalamu'alaikum." ucap Arya sambil mencium punggung tangan orang tuanya secara bergantian.


"Wa'alaikum salam." jawab mama Anti dan papa Ahmad bersamaan sambil mengantar Arya sampai teras rumah.


Ida yang melihat pemandangan tak biasa itu, kemudian menyusul ke teras dan bertanya pada mama Anti. "Ma, kok Arya sarapan dan berangkatnya dari sini? Apa Rahma tidak buat sarapan untuk, Arya?"


Papa Ahmad yang tidak mau terlibat pembicaraan sensitif tersebut, kemudian pamit untuk masuk ke dalam rumah. "Papa, masuk dulu, ya."


"Oh iya, Pa." ucap Ida dan mama Anti bersamaan.


"Eh... sini." kata mama Anti sambil menarik tangan Ida.


"Ya, Ma. Bagaimana?" tanya Ida.


"Ssttt, pelan-pelan saja ngomongnya. Nanti kedengeran sama tetangga, gak enak masalah rumah tangga anak sendiri."


"Iya, Ma." jawab Ida pelan.


"Gini, semalam Arya dan Rahma bertengkar."


"Ya Allah, Ma. Serius? Astaghfirullah ..., ada masalah apa lagi?" ucap Ida.


"Sttt, jangan kenceng-kenceng ngomongnya, nanti ada yang denger. Diam dulu, tak ceritain"


"Iya, gimana, Ma."


"Jadi, semalam itu setelah bertengkar, Arya langsung ke sini bawa tas kerjanya yang berisi alat-alat kerja dan seragam dia itu. Semalam mereka ribut masalah gajinya, Arya."


"Kok bisa ribut masalah gaji, Ma? Bagaimana maksudnya? Saya tidak begitu paham."


"Ya, biasa, lah. Namanya juga istri tidak bersyukur ya begitu. Harusnya Rahma itu bersyukur lho, Arya mau menikahi dia." ucap mama Anti ketus.


"Maksudnya bagaiman, Ma?" tanya Ida penasaran.


"Jadi dulu itu, orang tua Rahma yang minta Arya untuk segera menikahi anaknya itu. Nyuruh cepat-cepat lagi."


"Lho, bukannya Rahma anak orang kaya, Ma. Pasti banyak yang mau sama dia."

__ADS_1


"Haduh, Mama sih gak tahu ya. Mungkin orang tuanya dulu takut anaknya jadi perawan tua. Atau gara-gara orang tuanya tahu kalau dulu Arya anaknya pengusaha besar. Jadi pasti orang tuanya mikir kalau anaknya bisa hidup terjamin. Tapi, malahan perusahaan kita kolaps. Jadi begitu deh. Belum bisa menerima keadaan dan tidak punya rasa syukur sama sekali. Maklumlah, dia dimanja orang tuanya, jadi kaget hidup susah. Akhirnya ya begitu karena gaji suaminya tidak cukup untuk memenuhi biaya kebutuhan dia yang sangat boros. Jadi uring-uringan terus ke suaminya." jelas mama Anti.


"Mosok Rahma begitu orangnya, Ma? Ida lihat gaya hidupnya sederhana sekali. Dia sangat menghargai suaminya, tidak pernah menjelek-jelekkan suaminya. Bahkan, tak lihat Rahma sangat bisa menerima kondisi keluarga kita apa adanya. Dia anak orang kaya, kalau dia tidak mau hidup susah, kan mudah tinggal ngajak Arya untuk tinggal di rumah orang tuanya. Pasti orang tuanya membantu masalah keuangannya."


"Kamu itu hanya menilai dari luarnya saja. Tanpa pernah tahu dalamnya seperti apa. Itu yang kamu lihat sekilas tentang dia. Ya wajar dilihatin yang baik-baiknya, biar semua menilai dia wanita yang shalihah. Tapi dibelakangnya siapa yang tahu. Ya, kan?!" jawab mama Anti.


"Iya sih, Ma. Tapi, tidak tahu juga sih."


"Heh, jangan tertipu muka kalem dia. Dia itu kalau lagi ngobrol sama Mama juga sukanya jelek-jelekin kamu."


"Ya Allah, serius, Ma?"


"Eh, kamu gak percaya, Ya? Mama juga shock pas pertama kali tahu watak asli dia seperti itu. Dia itu bilang kalau kamu itu pemalas tidak kayak dia rajin bantuin Mama. Katanya kamu itu jadi istri kerjaannya tidak bisa diajak susah. Sukanya membebani suami. Setiap minta apa-apa harus dituruti. Katanya juga kamu suka ngajakin dia pergi belanja di mall dan makan di resto yang mahal. Katanya juga kamu itu manja, baru hamil sekali saja sudah malas-malasan kerjaannya tidur mulu kayak tuan putri yang punya pembantu."


"Astaghfirullah, Ma. Rahma bilang begitu?"


"Eh, iya. Bilang ke Mama begitu. Katanya dia juga tidak begitu suka dekat sama kamu. Bahkan dia merasa risih jika kamu nyuruh dia nemenin kamu buat keluar. Katanya kamu itu sok-sokan. Sombong banget katanya, padahal anak orang biasa saja. Beda jauh kalau dibandingin sama dia. Katanya dia malas kalau pergi sama orang yang pendidikannya tidak setara sama dia."


"Astaghfirullah, Ma. Keterlaluan banget ternyata dia. Tidak disangka orang selembut dia ternyata begitu menikam dari belakang. Ya sudah, nanti biar tak telpon buat nanya apa maksud dia berkata demikian ke Mama tentang aku."


Mendengar ucapan Rahma, mama Anti kemudian panik. Dia segera mencari cara agar hasutannya tadi tidak sampai ke telinga Rahma. "Eh, jangan! Tidak perlu kamu tanyain dia. Kamu tanya berkali-kali juga tidak bakalan ngaku. Mana ada maling ngaku, Da. Cukup kamu tahu saja. Tidak perlu bertanya ke dia. Dengan begini kan, kamu jadi bisa tahu aslinya dia seperti apa.Jadi kamu bisa lebih hati-hati kalau bicara sama dia. Dan tidak perlu dekat lagi dengan dia. Kalau kamu tanya ke dia, justru membuat Mama dinilai tukang hasut menantu. Nanti dimata dia, Image Mama jadi jelek. Apalagi kalau dia lapor ke orang tuanya. Bisa tambah kacau nanti." Jadi tolong, cukup kamu tahu saja ya. Tidak perlu tanya ke dia."


"Iya, Ma." jawab Ida dengan wajar kesal dan marah.


***


"Sayang, papa kan lagi kerja." jawab Rahma.


"Kok kerja dari semalam tidak pulang, Ma? Tadi pagi juga Zea tidak melihat papa makan bareng kita?"


"Sayang, Zea tadi masih bobok pas papa berangkat kerja. Jadi tidak pamit dulu ke Zea, karena buru-buru sekali berangkatnya. Ada banyak pekerjaa. Yang harus papa kerjakan hari ini. Tapi jangan hawatir ya, Sayang. Nanti, insya Allah papa pulang dan segera menemui, Zea."


"Yeee, asyik ... ."


"Zea, kangen ya sama, papa?"


"Iya, Ma. Kangen banget." jawab Zea.


Saat asyik mengobrol dengan anaknya. Tiba-tiba ada yang mengetok pintu.


Tok, Tok, Tok,


"Assalamu'alaikum."


"Eh, jangan-jangan itu papa, Ma." ucap Zea.

__ADS_1


"Papa kan kerja, Sayang. Dan itu suara perempuan. Jadi tidak mungkin papa sepertinya. Ya sudah yuk, kita lihat siapa yang datang." Kemudian berjalan menuju pintu depan sambil menggendong Zea.


Ceklek


"Wa'alaikum salam. Eh Bu Rita. Silahkan masuk, Bu." Rahma mempersilahkan ibu kontrakan untuk masuk ke rumah.


"Tidak usah, Mbak Rahma. Saya duduk di teras saja."


"Oh, iya, Bu. Silahkan."


"Begini, Mbak. Bu Rita ke sini mau menarik uang kontrakan bulan ini. Apa sudah ada, Mbak?" tanya Bu Rita.


"Oh, iya, Bu. Alhamdulillah sudah ada. Sebentar ya, saya ambilkan uang dahulu, sekalian saya buatkan minum."


"Eh, tidak usah repot-repot, Mbak. Saya buru-buru karena ada acara, jadi harus segera pergi hehehe."


"Oh, iya, Bu. Saya ambilkan sebentar ya, uangnya."


"Iya, Mbak."


Setelah menunggu tiga menit. "Bu Rita, ini uang kontrakan bulan ini. Silahkan dihitung." Sambil memberikan uang lima lembar berwarna merah ke bu Rita.


Setelah menghitung uang yang diterima dari Rahma. "Iya, Mbak. Ini sudah genap lima ratus ribu."


"Iya, Bu. Terima kasih. Saya tidak ada tunggakan pembayaran ya, Bu?" tanya Rahma.


"Alhamdulillah tidak ada. Mbak Rahma bayarnya selalu tepat waktu kok. Terima kasih ya Mbak, kerjasamanya."


"Iya, Bu. Sama-sama."


"Ya, sudah. Saya pamit dulu ya, Mbak Rahma. Assalamu'alaikum. Da da, Zea cantik. Muahhh." Sambil mencium pipi Zea. Lalu pergi menuju mobil yang terparkir di halaman rumah kontrakan Rahma.


"Wa'alaikum salam. Da da, Bu Rita." Sambil melambaikan tangan Zea ke arah bu Rita.


...~Happy Reading~...


...๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ...


...Mohon Maaf jika masih banyak kesalahan dalam penulisan๐Ÿ™๐Ÿ™...


...Author baru belajar menulis karya fiksi. Mohon koreksi dan dukungannya ya, dengan Like, komen dan vote ya๐Ÿค—๐Ÿ˜˜๐Ÿฅฐ...


...Dukungan kalian sangat berarti bagi Author...


...TERIMA KASIH....

__ADS_1


...๐Ÿ™๐Ÿ™...


...๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ...


__ADS_2