Prahara Dua Hati

Prahara Dua Hati
ADUAN MERTUA


__ADS_3

"Ma, Zea ngantuk"


"Oh, Sayangnya Mama sudah ngantuk? Yuk, bobok dulu." Lalu menggendong Zea ke kamar.


"Papa kok pulangnya malam-malam terus ya, Ma. Papanya Lila kan kerja seperti papa, tapi pulangnya sore-sore terus." jelas Zea.


"Zea Sayang ..., kan kerjanya papa Lita beda kantor sama papa Zea. Jadi jam pulangnya berbeda, Sayang." jawab Rahma sambil memakaikan selimut untuk anaknya.


"Oh, begitu ya, Ma. Semoga papa Zea bisa bekerja di kantor papanya Lita, biar bisa pulang sore juga."


"Hehehe iya, Sayang. Ya sudah, yuk bobok sekarang. Jangan lupa berdo'a ya. Yuk kita baca bersama-sama."


"Bismika allahumma ahya wa bismika amut." ucapan do'a Zea dan Rahma bersamaan.


Zea baru saja terlelap. Kali ini, Rahma hendek mengambil air wudlu untuk shalat hajat. Tiba-tiba terdengar suara pintu di ketok berkali-kali.


Tok, Tok, Tok,


"Assalamu'alaikum. Ra, Ra." Sayup-sayup terdengar suara orang memanggil. Tetapi belum jelas itu suara siapa.


Tok, Tok, Tok,


"Assalamu'alaikum. Ra, Ra. Bukain pintunya. Ini mas Arya, Ra.


Mendengar suara suaminya, Rahma langsung bergegas menuju pintu depan.


Ceklek


"Eh, Mas. Maaf tadi tidak dengar suara motor mas Arya pas datang."


"Oh, gitu ya. Gak dengar, atau pura-pura gak dengar!"


"Maksud Mas apa sih ngomong seperti itu? Memang aku gak dengar Mas."


"Ah, terserah lah. Kamu ini pinter ya kalau acting. di depanku pura-pura baik dan lembut. Tapi dibelakangku berbisa kamu!"


"Mas, maksdunya gimana ngomong seperti itu? Tidak biasanya Mas pulang marah-marah begini. Memangnya Rahma salah apa, Mas?"


"Mulut kamu itu dijaga. Ngapain kamu bilang ke para tetangga kalau mamaku suka hambur-hamburin uangku buat borong-borong pakaian dan makan-makan di tempat mahal! Kamu iri kalau aku bagi gajiku ke mama?!"

__ADS_1


"Astaghfirullah, Mas. Sampai detik ini, aku tidak pernah sekalipun menjelek-jelekkan mama kamu, Mas. Mama kamu juga sudah ku anggap sebagai mamaku sendiri. Siapa yang mengarang cerita sekeji itu, Mas? Ini fitnah, Mas. Kamu jangan percaya."


"Pinter banget ya mulut kamu berkata sok terdhalimi. Gak usah sok suci, gak usah sok lugu kamu. Muak lama-lama aku sama kamu!"


"Astaghfirullahaladzim, Mas. Istighfar, Mas. Tolong jaga ucapan kamu. Tolong kontrol emosi kamu. Aku salah apa sampai kamu semarah ini sama aku? Kalau aku ada salah, aku mohon maaf yang sebanyak-banyaknya, Mas. Tapi demi Allah apa yang kamu ucapkan tadi tidak benar. Tidak pernah sekalipun aku bicara seperti itu tentang mama kamu ke siapa pun. Aku tidak pernah bergosip dengan para tetangga. Justru mereka yang tadi pagi bilang kalau mama sama kak Ida habis pergi borong-borong baju tetapi tidak mengajakku. Dan mereka cerita, kalau mama bilang aku ini suka foya-foya, suka membeli barang-barang branded, makan enak di resto, perawatan di klinik kecantikan yang mahal dan boros tidak bisa menjaga keuangan. Tetapi saat mereka bicara seperti itu, tidak sepatah kata pun aku menanggapi. Justru aku langsung pergi."


Plak


Sebuah tamparan mendarat tepat dipipi kiri Rahma. Seketika air mata keluar begitu deras membasahi pipinya yang masih terasa perih dan memerah akibat tamparan tangan Arya. Tanpa sepatah katapun, Rahma segera masuk ke kamar dan berbaring di samping Zea sambil memeluk tubuh mungil putri kecilnya itu. Rasa perih di pipinya yang terlihat memerah, tidak lagi terasa. Semua itu terkalahkan rasa sakit hati, emosi, dan tidak terima atas perlakuan kasar suaminya tersebut.


Dengan deraian air mata yang tak kunjung berhenti, dan isak tangis yang tidak bisa lagi di tahan, batin Rahma berbicara sendiri.


Kenapa suaminya setega itu padaku sekarang. Kenapa dia sekarang berubah. Kenapa sekarang dia kasar tega membentakku, bahkan menamparku. Kenapa mama Anti berubah sedrastis ini. Bahkan tega-teganya mengadu ke mas Arya atas ucapannya sendiri tetapi dituduhkan padaku. Ya Allah, apa yang sebenarnya terjadi. Apa yang harus hamba lakukan?


***


Malam telah berganti pagi. Tak terasa Rahma ketiduran setelah menangis semalaman. Saat dia terbangun, ternyata Arya tidak tidur di kamar. Dia tidur hanya berdua dengan Zea dikamarnya. Pelan-pelan dia berjalan keluar kamar. Didapatinya Arya masih terlelap di depan TV. Rahma yang masih merasa kecewa dengan sikap suaminya semalam, mencoba untuk tidak mengusik suaminya terlebih dahulu.


Setelah selesai shalat subuh, Rahma segera menuju dapur untuk memasak. Mendengar suara berisik di dapur, Arya kemudian terbangun lalu menyalakan TV.


Melihat perubahan sikap suaminya, Rahma bergumam dalam hati.


Melihat suaminya tak kunjung melaksanakan shalat, Rahma akhirnya memberanikan diri untuk menegur suaminya. "Mas, kamu tidak shalat subuh dulu? Sudah jam segini, Mas. Coba lihat itu jamnya sudah menunjukkan pukul berapa."


"Iya, nanti." Dengan entengnya Arya menjawab secara singkat.


"Astaghfirullahaladzim, Mas. Kamu benar-benar sudah berubah, ya."


"Heh! ngapain kamu ngejudge-ngejudge orang. Memangnya kamu, Tuhan?! Gak usah sok suci, gak usah sok ceramah sama suami kamu! Ngaca sama diri kamu sendiri. Sebagai seorang istri, kamu sudah benar apa belum!" Dengan lantang Arya menjawab ucapan Rahma.


"Ya Allah, Mas. Tidak ada sedikitpun niatku untuk ceramah, sok suci atau ngejudge, Mas. Sebagai istri, wajib hukumnya mengingatkan suaminya saat suaminya lupa atau salah."


"Ah, Terserah! Lama-lama aku muak ya sama kamu!"


Brakk


Arya membanting pintu dan berlalu menuju kamar mandi.


"Ma, tadi suara apa?" kata Zea sambil mendekati mamanya.

__ADS_1


"Eh, Sayangku sudah bangun," lalu memeluk Zea, "suara pintu, Sayang. Tadi, papa tidak sengaja menutup pintunya terlalu keras karena buru-buru mau mandi gara-gara sudah kesiangan. Takutnya telat berangkat kerja. Zea, kaget ya?"


"Iya, Ma."


"Hehe, maafin papa ya, Sayang." Lalu mencium kening putrinya.


Setelah Rahma selesai memasak, Arya keluar dari kamarnya. Ia terlihat rapi dan sudah siap untuk berangkat ke bekerja.


"Mas, mari kita sarapan dahulu. Ini masakannya sudah tak siapin semua di meja makan. Kasihan Zea dari tadi sudah lapar menunggu papanya untuk sarapan bareng."


"Kalian sarapan saja berdua. Aku nanti sarapan di luar saja." Sambil mengecup kening putrinya kemudian berlalu.


"Mas, yakin tidak mau sarapan dulu? Tidak kasihan sama Zea sudah menunggu dari tadi?" Sambil berjalan mengikuti suaminya.


"Heh, kamu ini punya telinga apa tidak?! Aku tidak ada selera makan. Apa lagi makan masakan kamu! Ribet banget kamu jadi istri!"


Rahma yang mendengar perkataan suaminya tersebut lalu menghela nafas. Ia mencoba sabar dan meredam emosinya. Dengan perasaan campur aduk, Rahma mencoba mencairkan suasana. "Mas, salaman dulu sebelum pergi bekerja."


"Ya!" Sambil menyodorkan tangan kanannya.


"Assalamu'alaikum, Mas."


"Wa'alaikum salam." Lalu Arya berlalu mengendarai motornya.


...~Happy Reading~...


...๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ...


...Mohon Maaf jika masih banyak kesalahan dalam penulisan๐Ÿ™๐Ÿ™...


...Author baru belajar menulis karya fiksi. Mohon koreksi dan dukungannya ya, dengan Like, komen dan vote ya๐Ÿค—๐Ÿ˜˜๐Ÿฅฐ...


...Dukungan kalian sangat berarti bagi Author...


...TERIMA KASIH....


...๐Ÿ™๐Ÿ™...


...๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ...

__ADS_1


__ADS_2