Pria Impian

Pria Impian
Sekar mawangsa


__ADS_3

Sekar mawangsa gadis usia 16thn usianya tahun ini, duduk di kelas 11 IPA 2 Sekar gadis yg supel,mudah bergaul,asik di ajak ngobrol,dan tomboy.


Meskipun tubuhnya tidak terlalu tinggi tapi dia gadis yg imut dan manis, Sekar yg hobinya malak kadang dia malak itu ga ngerti uang yg dia dapat dari hasil malak itu untuk apa, seringkali saat memalak Sekar selalu cengengesan ga jelas.


"Hai sis cebu dong buat cilok,,hahaha." Ungkap sekar yg cengengesan


"Nich Cebu mu, kebiasaan deh Sekar" Mayang yg bisa langanan ke palak Sekar, Mayang selalu memberi tak pernah sekalipun Mayang marah pada sekar karna menurut Mayang, sekar teman yg menyenangkan dan lucu karna sehari saja Sekar tidak masuk sekolah Susana kelas sepi.


"Thank you Mayang sayang muachh"


"Iyuyy"


Siang ini selepas jam istirahat, sekarang seperti biasa sehabis jajan ini itu yang tak lain sebagian uang jajannya hasil dari malak, dia merasa itu halal-halal saja, Sekar bukan tidak tau uang hasil malak itu haram, Sekar selalu berpikir Allah maha tau hahahaha.


Sekar membawa jajanannya di kelas dan menghabiskannya, terkadang teman satu gengnya malas melihat Sekar sebab setiap jam istirahat datang Sekar selalu menghilang dan bertemu kadang di tukang bakso, babang bubur, atau di tempat minuman Boba.


Sekolah Sekar memang memiliki kantin yg lengkap dengan pedang yg tak lain adalah alumni SMA pusaka jaya yg mencoba peruntungan usaha di bidang kuliner. Hari ini sesil,Ijah,dan Riska Tidak menemukan Sekar dimana pun, tetapi saat mereka balik ke kelas melihat Sekar yang menelumpuk di atas meja sepertinya Sekar kekenyangan dan tidur di kelas seperti biasa Sekar selalu memanfaat waktu istirahat yg tinggal 15 menit untuk tidur di kelas meskipun tidak benar-benar tidur, Sekar terlalu malas hari ini untuk sekedar mengobrol dengan teman segengannya.


"Nih liat sie Sekar lagi molor, ga tau dia kita nyariin dia dimana mana ?" Ucap sesil


" Tau ich udah kenyang jajan moyoy dia, isengin yuk..hahaha" jail Ijah yg manah Ijah ini teman satu bangku Sekar, ditariknya suiter yg menutupi bagian kepala Sekar


Dengan memasang wajah bantal Sekar bukan tidak tau Ijah yg mau iseng jadi dia pura2 tidak tau "apa sich ganggu aja deh, aku kan ngantuk" dengan nada manjanya Sekar bicara


" Kebiasaan deh klo istirah suka molor, Lo kemana aja kita cariin di babang baso g ada ,di babang cilok g ada ,kemana Lo? " Ucap Riska dengan jutek, memang Riska ini terkenal jutek dan sadis bentuk bibir yg kritik mirip cinta lowra saat bicara jd di memiliki julukan sie Birting alias bibir kriting.


Sekar yg posisinya ada di depan Riska dengan bibir yg mengikuti ga bicara Riska bersungut sungut memaju-majukan bibirnya, "apa loch ngeledek w " ungkap riska dengan memasukan sepotong cakue kedalam mulut sekar.


"Abis Lo sich klo ngomong itu bibir bisa biasa aja ga, pake gaya menye-menye gitu bikin gemes pengen ngekiss..hahahaha"


"Sialan loch emang gw cewe apa kah??"


"Lo mah bukan cewe apa kah tapi cewe apa pun hahhaha"


"Sialan loch..." Satu Kitakan mendarat di kepala Sekar


"Udah sich Ach males, kaya g tau Sekar aja klo istirahat ngilang kemana, doi pasti lagi laper banget cinnn, udah biarin aja" ucap sesil yg melerai Riska dan Sekar yg sedang mengosok-gosok kepalanya.


"Aduh duu duuhh....pengen pipis Anter yuk sil" Ijah yg sedang meringis menahan pipis


"Kebiasaan deh beser..hayu buruan 5 menit lagi masuk kelas" ajak sesil


Baru beberapa langkah keluar dari toilet sesil dan Ijah bertemu bapak TU (tata usaha) menanyakan keberadaan Sekar " eh kalian mana temen kalian, sie Sekar kemana?" Tanya pak Ujang


"Ada apa nich pak? " Ucap sesil


"Mau ngapel lach kerumahnya"


"Jiah sie bapak masih aja genit" ungkap Ijah


" Ada sodara Sekar yang mau menjeput di kantor, terjadi sesuatu dengan ibunya" ucap pak Ujang dengan sedih


" Hah..ada apa pak coba bapak bilang pelan-pelan biar kita paham"


" Ibunya Sekar jatoh sehabis mandi dan kepalanya terbentuk sekarang sedang di larikan ke rumah sakit, tapi bapak minta tolong jangan bilang begitu pada Sekar supaya dia tidak syok, ucap pak Ujang denga sesil dan Ijah mereka berbicara sambil berjalan ke arah kelas 11 IPA 2. Sesampai depan kelas Ijah menatap Sekar yg sedang tertawa bersama Riska entah apa yang merek bahas, ija menatap sedih kepada Sekar rumit sekali jalan hidup Sekar dari bapaknya yg selingkuh, dan pacar yang gak jelas.

__ADS_1


" Kar Lo di panggil ke kantor sama pak Ujang" ucap Ijah


" Ngapain? " Ungkap Sekar yg langsung berdiri dan berjalan menuju Ijah yg posisinya depan pintu kelas, ketika Sekar sudah sampai depan pintu kelas Sekar melihat pak Ujang yg menunduk, tanpa basa-basi Sekar menghampiri dan bertanya


"Ada apa pak, bapak cari saya ngapain saya ke kantor bapak ada disini. Ada apa pak?"


"Sekar kamu yang sabar ya, ikut bapak ke kantor sekarang kemasi tas dan buku mu"


" Ini ada apa pak coba bilang dulu?" Ucap Sekar yg menengok kepada Ijah dan sesil minta penjelasan


"Udah Lo beresen dulu yuk buku dan tas Lo, gw bantu" tawar Ijah


" Ga mau ini ada apa sebenernya?" Sekar mulai panik


" Bapak mau ngapel kerumah Sekar, boleh kan yuk cepetan di ambil tasnya" ucap pak Ujang menghibur meski terlihat jelas kesedihan di muka pak Ujang.


" Pak ga lucu deh, bilang ga ada apa?" Triak Sekar yang mulai emosi


" Ibu kamu masuk rumah sakit, sepupu mu sudah menjemput di kantor, jadi sekarang kemasi buku dan tas mu ya" bagai mendengar petir di siang bolong Sekar langsung linglung mendengar ucapan pak ujang menskipun pak Ujang mengatakannya dengan lemah lembut supaya Sekar tidak merasa sedih


Tanpa banyak tanya lagi Sekar langsung berlalu ke meja kelas depan yang dimana Sekar duduki bersa dengan Ijah teman sebangkunya, Ijah membatu Sekar membantu membereskan barang bawan Sekar memasukannya ke dalam tas sambil ber ucap "yang sabar ya kar, nyokap Lo pasti baik-baik aja" Sekar tidak menjawab dia fokus membereskan barang-barang nya dan langsun berlali ke pak Ujang, pikirannya saat ini linglung tetapi di dalam hati dia berdoa semoga tidak terjadi apa-apa, Sekar terbayang wajah ibunya yg sedang sakit tadi pagi ibunya membangunkannya dengan wajah pucatnya menahan rasa di dalam tubuhnya, iya ibu Sekar mempunya penyakit komplikasi jantung dan darah tinggi, semenjak bapaknya main gila dengan wanita lain yg tak lain adalah pegaiwai taninya di sawah, berat badan mamah berkurang sampai sekarang sudah kurus kering yg tadinya gemuk dikisaran 90kg sekarang berat badannya 50kg betapa kurusnya ibunya Sekar, bukan hanya sakit fisik tetapi sakit pisikis dan batin.


"Sekar rumah dimana sich bapak mau donk main" hibur pak Ujang, karna pak Ujang melihat wajah Sekar yang pucan dan pikirannya sedang tidak fokus seperti sedang memikirkan sesuatu


" Di Cibereum pak " jawab Sekar seperti menggumam karna saat ini pikiranya ingin cepat sampai rumah mencari tau apa yg terjadi


" Sebelah mana Cibereum nya " kali ini pak Ujang bertanya tetapi tak ada jawaban karna Sekar sedikit berlali ke arah kantor ingin cepat bertemu sepupunya


"Ada apa dengan mamah AA," tanya Sekar yg sudah tiba di kantor disana ada sepupunya dan wakil kepala sekolah


Sekar mengangguk dan berjalan kearah luar dimana motor sepupunya terparkir


"Mamah lagi ke rumah sakit tadi jatoh dari kamar mandi" ucap paman


"Apa...???" Pikiran Sekar mulai cemas


membayangkannya saja sudah tak mau, karna seingat Sekar sebelum Sekar pergi sekolah mamah masih baik-baik saja malah masih sempat ke warung untuk membeli kebutuhan, tetapi sebelum Sekar pergi sekolah Sekar mempunyai firasat gimana klo terjadi sesuatu pada mamah, ungkap Sekar yang menengok mamah kebelakang yang sedang belanja. Ternyata ini yg terjadi


Di perjalan Sekar tak mengucapkan satu kata pun dia sibuk berdoa di dalam hatinya " ya Allah tolong bantu mamah semoga mamah ga kenapa-kenapa, Sekar buluk jadi anak yang baik, belum bisa kasih mamah apa-apa" dua tetes air mata keluar di sudut mata Sekar, buru-buru Sekar hapus. Sepupunya yg berusaha untuk menghur Sekar tidak di dengar atau di jawab oleh Sekar.


Selagi Sekar masih sibuk dengan pikirannya di belokan menuju rumah Sekar sudah terpasang bendera kuning, itu tanda orang meninggal, jantung Sekar berdentang lebih kencang air mata turun tanpa permisi trus mengalir ke pipi Sekar yg putih dan bersih sambil bergumam dalam hati "tidak ya Allah jg sekarang, aku msh membutuhkan mamah, mamah pasti baik-baik saja itu bukan mamah"ucap Sekar dalam hati.


Tak lama motor sepupunya tiba di depan rumah Sekar yg sudah di penuhi para pelayat dan ada dua bendera kuning di kiri dan kanan pagar rumah Sekar, lutut Sekar lemas seketika wajah semakin pucat pasi, Sekar masih berusah bediri di depan rumahnya dari jauh Tante Sekar berlali ke hadapan Sekar dan memeluk Sekar sambil menangis, " Sekar mamah Sekar mamah udah ga ada Sekar " ucap Tante Sekar sambil belinag air mata, Sekar berjalan ke dalam rumah sambil berusaha tegar dilihatnya jenazah mamah yg tertutup kain putih Sekar terus berjalan ke hadapan mamah dimana pas di bagian muka Sekar duduk, membuka penutup kepala mamah diliatnya muka mamah yg sudah tertutup wajah yg pucat dan bibir yg biru ada bercak darah di bagian belakang kepala mamah, sekitika air mata lolos dari bola mata Sekar.


" Mamah kenapa ninggalin Sekar, Sekar sama siapa teman Sekar drmh cuman mamah, nanti Sekar sama siapa klo g ada mamah " ucap Sekar meraung Raung


Kelur nenek tua " Sekar yang sabar, sudah kamu jangan nangis seperti itu kasihan ibu mu Jang menangis di muka ibu mu kasihan masuk kamar sanah menangis lah disana"


Sekar sedikit kesal kepada neneknya meski begitu Sekar berjalan ke dalam kamarnya sedih jadi Sekar di usianya yang remaja harus kehilangan ibunya yg selalu menjadi teman curhat dia kala malam karna di rumah itu Sekar tinggal bersama mamahnya, Sekar anak ke 5 dari 5 bersaudara tetapi kakak tertuanya perempuan tinggal di Jakarta bersama suaminya, kakak ke 2nya bekerja di kota pulang seminggu sekalia di hari Sabtu, kakak ke 3 nya menjadi seorang guru/ustazah di salah satu pesantren di daerah Padang sana, kakak ke 4 nya masih duduk di bangku kuliah di semester akhir dia tinggal bersama Sekar dan ibunya tetapi karna di stres memikirkan Nasib skripsinya jd dia bantingsir jadi sopir angkot karna ibu dan paka memiliki 2 angkot,1 mobil bak ,1 motor yg dimiliki oleh kakak ke 4nya. Kehidupan Sekar saat itu masih terbilang mampu.


Tak lama sekar dalam kamar terdengar suara teman2 sekolahnya datang, Sekar keluar dan menangis kembali memeluk Ijah dan sesil karna saat itu sebai perwakilan kelas hanya dua orang dan di dapingin 1 Kakak kelas dan 1 ibu guru selaku wali kelas Sekar. Sekar memeluk kedua temannya " mamah sil, mamah udah ga ada, sekarang gw sendiri siapa yang nemenin w lagi sil" Sekar berbicara Sabil sesegukan menangis sesil dan ijah mengusap2 punggung Sekar sambil ikut menangis


"Yang sabar ya Sekar ibu kamu udah tenang di sana" ucap wali kelas Sekar


"..."

__ADS_1


Para pelayat semakin rami bedatangan sudah hampir ashar, tp zenazah ibunya Sekar blm di kebumikan juga dengan alasan menunggu KK Sekar pulang dari luar kota.


Sebelum jam 17.00 KK Sekar yg bernama melati tiba di rumah Susana haru semakin dalam pasalnya KK melati bekerja di luar kota banting tulang tak ayal semu gaji yg di terima semu dikirim kepada ibunya, tp saat di pulang tak akan lagi melihat senyu ibunya, Sekar yg melihat ka melati yang sedang membuka kain putih yg menutup wajah ibunya, tidak sanggup untuk melihat pasalnya ibunya begitu sabar menunggu ka melati dtng sampai telihat sudut mata ibunya mengeluarkan air mata,


"Melati kamu klo mau cium ibu mu elap dulu air mata mu Jang sampai menetes di muka ibumu kasian zenazahnya" ucap uyut sedikit aga beteriak karna menurutnya menangisi orang belebihan tidak di perbolehkan.


"Ini bukan air mata melati tapi air mata mamah" ucak ka melati sambil sesenggukan menahan tangisnya.


Sekar yang melihat pun merasa, mamah bener menanti kepulangan ka melati padahal sebelumnya pesawat ka melati sempat delay, ka melati memang anak yang paling berbakti.


Tak lama zenazah sudah di kebumikan tepat pukul 17.30.


sepulang dari pemakaman semua anggota keluarga sibuk masing-masing, sampai kejadian itu berhari, kakak perempuan yang ditunggu berjam2 kemarin, memilih kembali cepat ke tempat pekerjaannya.


"teteh pulang hari ini" tanya Sekar


"yaa,, baik-baik drmh"


jujur saat itu Sekar sangat sedih, karna menurut Sekar teh melati yg paling perhatian kepada semua anggota keluarga, sekara yg notabennya anak paling bungsu. memilih diam tak banyak komentar.


di malam hari kakak yg pertama pulang ke ibu kota bersama semua keluarganya.


dirumah tinggal Sekar dengan Kakak ke empatnya Nandar, Kakak ke dua pun pulang tak lama Kakak pertama pulang karena sudah berkeluarga.


baru beberapa saat melangkahkan kaki ke kamar pintu rmh depan ada yg mengetuk


tok..tok..tok


sekar memutar langkahnya membuka pintu siapa malam-malam begini bertamu


trekkk..


ternyata pintu sudah di buka oleh kak Nandar


"mau apa kamu kesini, orangnya sudah meninggal, sudah urusa saja diri mu dan istrimu, jangan pernah menginjakan kaki di rmh ini lagi" ucap kak Nandar dengan amarah


"kamu liat, pasti kamu bahagia sekarang ibuku sudah meninggal, trimakasih atas penderitaan yang kamu berikan, sampai akhir hayatnya pun kamu tidak ada di samping ibuku, sanah pergi..."


Sekar melirik di balik punggung kakaknya terlihat bapak dengan wajah penyesalan. Sekar meneteskan air mata, sakit itu yang dirasakan ibuku, tiap malam ibuku selalu menunggunya pulang, sampai 2 hari yang lalu kak Nandar mengatakan ibuku ke rumah wanita simpanan itu, tapi apa hanya mendapatkan gamaparan dari tangan bapaknya, bapaku lebih membela istri simpanannya.


"maaf kan aku nak....bapak salah...tolong ampuni bapak, bapak hilap" ucap bapak dengan berlinang air mata


"terlambat, datang sana ke pusaran ibu ku temani disana, memohon lach disana sampai kau mati" dengan nada meningga kak Nandar berusaha menahan emosinya, mau bagai mana pun dia adalah bapak kita klo tidak ada dia tidak ada kami-kami ini.


"Sekar tolong maafkan bapak nak" mohon bapak kepada Sekar


"..." Sekar hanya diam dan menangis rasanya iya sangat membenci bapaknya


"andai kau saja yang mati, kau lelaki tak berguna, bisanya memerintak ibuku, menyalakan ibuku, bangga dengan diri sendiri setelah apa yg ibuku perjuangkan hanya untuk anak dan dirinya, tp apa air susu kau balas air tuba, kurang baik apa ibuku. kenapa bukan kau saja yg mati." batin Sekar berteriak.


"pergi sana jgn dekati rumah ini lagi kamu bukan bapak kita lagi...(braakkk)" trus kak Nandar sambil membantu pintu dengan kasar.


Sekar berlali ke kamar, dia menangis sekencang-kencangnya, rasanya hidupnya juga telah berakhir, tidak ada laki teman curhat nya , tidak ada lagi kehangatan ibunya, sedih, marah,benci menjadi satu.


"mah, kenapa begitu cepat meninggalkan Sekar,Sekar masih butuh mamah, siapa yg bangunin Sekar, siapa temen Sekar di rumah mah, maafin Sekar mah." ucap Sekar sambil memandangi foto ibunya, banyakan manis bersama ibunya melintas dalam pikiranya menambah rasa sedih yang di rasa, sampai ia tertidur dengan mata sembam.

__ADS_1


__ADS_2