
di lain tempat, seorang pria dengan perawakan tinggi, kulit sawo matang, hidung mancung, pekerja keras, sopan, mudah bergaul, menyenangkan, pinter gombal, supel, tempramen tinggi, dengan rambut gondrong, sedang sibuk dengan masalah hidup yang di buat sendiri.
memutuskan keluar rumah di usia 20thn, hidup dijalan Luntang Lantung tak ada arah tujuan hidup yang dia tau happy, dan mendapatkan uang untuk makan besok.
Bambang Sumanjaya terlahir dari keluarga berada, tetapi memilih hidup di jalan karna tekanann keluarga, jiwa bebas nya menolak untuk hidup dengan penuh aturan. sudah 2 tahun Bambang yang biasa dikenal dengan Benk hidup di jalan karna perawakan supel jadi mudah mendapatkan teman dimana pun ia berada.
"Benk entar malem jualan nasi goreng lagi ya di Gang biasa." ucap bos nasi goreng yang sudah 2 Minggu ini Benk ikut bekerja
"siap bos" sahut Benk
"siapiin dulu dah, krupuk dan bumbunya"
"oke"
Benk seorang yg rajin, dan tekut jika bekerja selalu nurut dengan apa yang di perintahkan.
" Benk u ga mau apa cari kerja yang lain" sambung pak bos yang menyayangkan masa muda Benk
"ya..begini aja dulu dah bang, syukuri aja dulu"
"yaa...klo Lo kerja di tempat lain kan gajinya bisa gede kan lumayan buat lo"
"...." Benk terdiam tak menjawab lagi, Benk menganggap jika pak bos atau siapapun sudah menyuruh dia mencari kerja lagi berarti orang itu sudah tidak betah kerja bersamanya.
selain tempramen tinggi Benk juga seorang yang setia kawan dan selalu mendahulukan kepentingan orang lain.
malam pun tiba, Benk dan salah satu karyawan 1nya lagi yang bernama Asep membuka kedai di samping gang tempat biasa ia menjajahkan jualanya.
malam ini, malam Minggu biasanya jualannya cepat habis karna banyak muda mudi yang menjak pasangnya untuk sekedar makan atau oleh-oleh bawaan untuk ngapel
"wahhh baru jam 9 Dangan kita udah habis aja ya....manatap" Asep yang meregangkan otot nya karna kelelahan.
" abis sich abis....pegel tangan gue ngegojek Mulu...hahhaha" Benk yang sendang memutar tangan kanannya ke atas ke bawah.
"sejarah ini Benk, bisa lach kita malmingan dulu"
"ogah cape gue" Benk menatap Asep dengan penuh selidik yang tau maksud Asep " udah deh ga usah banyakan ngayal, beres-beres dulu yuk, abis tuh tidur, kayanya besok lo kerja sendiri deh" sambung Benk dengan penekanan.
"lah...emang Lo mau kemana Benk?"
"kemana aja boleh"
Asep geleng-geleng kepala tak menanggapi ucapan Benk, karna yang Asep tau Benk memang seperti itu penuh kejutan dan bercanda.
seampai di kontrakan pak bos, pak bos menatap 2 karyawan nya datang merasa aneh baru jam segini udah pulang biasanya jam 12 malem paling cepet.
"kok kalian berdua udah pulang kenapa? ini baru jam 10"
" cape bos dagang Mulu, ngantuk males Ach mau molor" canda Asep
Benk geleng-geleng dengan senyum yang menawan
" nich bos setoran hari ini"
"Loch udah abis jam segini...hebat kalian."
" siapa dulu donk, kitaa.."
" ok...ok..ini untuk kalian" bos mengeluarkan uang 200rb " bagi 2 ya"
" lah ini kenyakan bos, kan upah kita 50rb" protes Asep
" itu bonus buat kalian karna hari ini sudah bekerja keras "
"wahhh, makasih banyak bos, sering-sering aja begini bos"
"nah kan ngelunjak"
"bhahahhahaha... becanda bos" mereka bertiga tertawa bahagia tapi tida dengan Benk.
Benk mulai merencanakan keluar dari pekerjaan yang ini dengan pergi diam-diam. saat Asep dan pak bos pergi keruang tengah dimana tempat menonton televisi, Benk memilik ngopi di luar.
sehabis menyesap kopi terakhirnya Benk berjalan keluar dari perkampungan, dengan Modal uang dari hasil bekerja hari ini dia nekat cari kerja lain. tanpa sepengetahuan pak bos
kemana ini gue. batin Benk, tak jauh dari situ Benk menyetop angkot,
di sepanjang perjalanan pikirannya menerawang, sampai tibanya di kota tengah malam segala macam gemerlap pergaulan malam ada
tak sengaja Benk menabrak seorang wanita
"e-eh... sorry"
"udah GPP santai aja" ucap sie wanita dengan berjalan sempoyongan
karena tak mau terkena masalah Benk akhirnya belalu meninggalkan wanita tersebut.
sampai lach di pelataran pertokoan, Benk duduk dengan pikiran masih menerawang, badan yang lelah karna seharian membantu pak bos mempersiapkan dagangan dan di lanjut jualan. mata Benk mulai mengecil tertidur di pelataran pertokoan.
pagi pun datang, silaunya cahaya matahari di atas kepala yang langsung menyorot muka Benk, membangunkan pria tersebut, tak lama
__ADS_1
"weyy...bangun....bangun....mau buka toko nich....tidur disini loe , sana pergi dasar gembel" maki pegawai toko. dia ga tau aja yang dia maki pewaris tunggal.
Benk mengerjap-ngerjap kembali mengingat-ingat dan mengumpulkan nyawa, setelah tersadar, dia bangun dan berjalan ke arah pasar. sebelumnya dia mencari toilet untuk sekedar cuci muka
gini amat ya hidup,pake ga sadar lagi tidur di depan toko. ucap Benk dalam hati sambil membasuh mukanya
beberapa langkah keluar dari toilet ada suara yang memanggil namanya
"e-eh Benk...Benk kan?"
"iya siapa ya???"
"ini w bang Roky, tetangga Lo"
"oh iya bang, ngapain disini bang"
"ini gue disini jualan sendal"
"oh jualan sendal bang, udah lama bang?"
"Yach lumayan lach, baut makan mah ada"
"bang , gue ikut loe donk jualan, gua ga ada kerjaan nich"
"emang loe mau jualan beginian"
"mau bang asal u bolehin mah"
"iya coba aja dah"
"mantap makasih bank"
akhirnya Benk hari ini belajar jadi pedagang sepatu pinggiran yang harganya tidak terlalu mahal. mulai lach dia ber teriak-teriak menjajahkan dagangnya karna posisi stannya berada di pelataran stasiun.
"ayo Abang, kakak mampir dulu kemari, barang kali ada yg cocok" triak Benk dengan penuh semanga.
betul saja banyak pembeli hilir mudik membeli
"wah Benk ada loe jadi rame ini dagangan gue, gak salah memang gue Nerima loe" ucap bang Roky bangga.
"iya bang Alhamdulillah"
dari kejauhan seorang pria berkaca mata hitam lengkap dengan setelan jas hitam, sedang mengintai bergerakan tuannya. selama ini Benk memang selalu di ikuti pengawal keluarga Sumanjaya. mau bagai mana pun Benk pewaris sah keluarga Sumanjaya.
Benk menyadari sedan di awasi, dia memilih untuk izin ke toilet.
" bos izin ke toilet dulu ya kebelet nich"
tak lama benk memasuki toilet, pria yang tadi mengawasi Benk menghampirinya.
"ada apa kau datang menemu ku, tak bosan kah?"
"maaf tuan, nyonya besar sedang sakit, apa tuan tidak ingin pulang dan menjenguk nyonya"
" untuk apa aku pulang, mereka bisa melakukan apa saja dengan uang yang mereka miliki"
"tapi, tuan nyonya menyuruh saya untuk membawa tuan pulang"
tanpa mengucapkan apa pun lagi Benk pergi meninggalkan pengawal, dengan hati dongkol dan hawatir, ada sedikit rasa resah di dirinya memikirkan kesehatan ibunya,
semoga tidak terjadi yang menggantikan dengan mu ibu. Resah Benk dalam hati
"bang udah sore, tutup jam berapa disini?" tanya Benk pada bang Roky
"karna hasil penjualan hari ini lumayan banyak, ayo kita tutup lebih awal" sahut semangat bang Roky
"oke " Benk sambil beranjak membatu membereskan barang dagangan.
"Benk, loe abis ini balik kemana?" tanya bang Roky
"...." Benk tak menjawab karena dia sendiri bingung mau balik kemana.
bang Roky mengerti dengan bahasa tubuh Benk, akhirnya bang Roky inisiatif menjak Benk menginat di kontrakannya.
"nginep di kontrakan gue aja yuk Benk"
Benk menjawab dengan anggukan,
di sepanjang perjalanan pulang Benk diam, berjalan beriringan dengan bank Roky, bank Roky jg ga ambil pusing mungkin Benk lagi banyak pikiran, jadi tak mau banyak bertanya.
sesampai di depan kontrakan.
"Benk, ini kontrakan gua...anggep aja tempat sendiri ya jangan sungkan"
"iya bank makasih yaa, oh iya gua jalan-jalan sekitar sini dulu ya bang ngilangin suntuk"
"lach kita baru aja sampe loe ga cape"
" sekalian cari makan bang, Abang mau sekalian nitip?"
__ADS_1
"oh gitu, gua engga deh Benk masih kenyang, oh iya nich upah loe hari ini " bang Roky mengeluarkan selembar uang biru
"makasih bang, gua jalan dulu yaa"
posisi kontrakan bang Roky tidak jauh dari stasiun dan tempat berjualan tadi, jadi Benk memilih nongkrong di sekitaran stasiun.
dari kejauhan pengawal yang tadi siang datang menemui Benk datang kembali, kali ini dia datang membawa seseorang berpakaian lebih rapih dengan jas berwana merah celana dengan warna senadan.
"begini cara mu hidup" gumam pria tersebut, sambil terus melangkah menghampiri Benk.
brak...
bogem mentah mendarat di wajah pria berkulit sawo matang, Benk dengan cepat bangun dan melihat kedepan.
brak...
kini tendangan mendarat di perut Benk
"begini caramu hidup..haa, gaya seperti gembel, memalukan apa yang kamu suka" dengan sinis pria itu berbicara.
"kakak...mau apa kau kemanari" jawab Benk
yaa, pria bertubuh tinggi dan dengan postur tubuh kekar dan maskulin itu adalah kakak pertama Benk
"kau tanya mau apa? tak sadar diri, sudah cukup kau bermain-main, pulang dan temui ibumu"
"tidak mau, bukan ada kau yg mengurus"
"seret bocah tengik ini" ucap kak beni kepada pengawal
Benk meronta-ronta.
"lepaskan aku" teriakan Benk mengundang beberapa orang berkumpul menonton dan bertanya-tanya apa yang terjadi
kak beni tak peduli dengan tatapan itu. dia terus melangkah dengan gagah dan berwibawa.
di rumah Benk di bawa ke kamar yang dulu dia tempati, sudah 2 tahun kamar ini dia tinggalkan, tapi posisi dan semuanya masi tertata rapih. Benk tidak lagi berotak dia melihat ke sekeliling kamarnya rapih dan bersih seperti sengaja dibersihkan.
sudah lama aku tak melihat kamarku, ada rasa rindu. melihat Karus dengan kurang king size Benk bergumam dalam hati, ia rindu tidur nyaman di atas kasur empuk dan hangat.
tak lama terdekat langkah sepatu fantopel menghampiri kamar Benk yang belum tertutup
"bersihkan tubuh mu, ganti pakaian mu, dan temui ibumu di kamarnya"
Benk menatap kakak tidak suka, tapi mau bagai mana lagi cuman dia yang paling perhatian
Benk menutup pintu kamarnya, setelah kakaknya beranjak pergi, Benk melanjutkan ke arah kamar mandi.
Benk menikmati sentuhan air hangat yang menyelimuti seluruh tubuhnya serta aroma maskulin dari sabun yg dia tuang kedalam Beatup menambah relaksasi pada tubuhnya, sudah lama benk tidak menikmatinya kenyaman ini.
45menit belalu kini Benk sudah terlihat segar dan semakin tampan dengan celana sebatas lutut serta baju berwana putih melekat di tubuhnya yg kekar menteak body.
tok..tok..tok..
clek...
"sudah siap bertemu ibumu"
Benk tak menjawab hanya anggukan yang mewakili jawabannya.
Benk melangka berjalan beriringan dengan kak Beni menuju pafilun depan dimana kamar ibunya berada.
clek..
"Assalamualaikum, ibu coba tebak siapa yang aku bawa" sapa kak beni kepada ibunya yg kini sedang duduk di kursi roda membelakangi, pandangannya tertuju ke jendela yg sengaja tidak ditutup tirai.
"ibu apa ibu tidak mau menyambut anak yang ibu rindukan" mendengar kata-kata kak beni ibu dengan sepontan mebalikan kursi roda.
ibu menatap tak percaya apa yang dia lihat nyata tidak bermimpi, anak yang selama ini ia rindukan selama lebih dari 2 tahun.
"bambang..betul kan itu kamu nak.." ucap ibu dengan mata yang berkaca-kaca.
Benk melangkah dan berlutut di hadapan ibu memeluk di pangkuan ibunya.
"iya ibu aku pulang" ucap Benk dengan bibir yang bergetar
ibu memeluk Benk dengan air mata yang mengalir
"kemana saja kamu nak, ibu merindukanmu, jangan tinggalkan ibu lagi nak"
"iya ibu" jawab cepat Benk
ibu mengangkat kepala Benk dan menangkup di kedua pipi.
"bang, kamu terlihat kurus apa kamu selama ini hidup dengan baik" iya panggilan Sayang Benk di rumah adalah Abang dari Bambang.
Benk hanya mengangguk dan menatap wajah ibunya yang pucat dan sudah ada keriput di seketar matanya tapi tidak mengurangi kecantikan ibunya. tak terasa air mata neng mengalir mengingat 2 tahun silam saat di memutuskan meninggalkan rumahnya. hanya ibu dan kan kak beni yang menahan untuk tidak pergi.
"aku baik-baik saja ibu"
__ADS_1
🌹🌹🌹🌹