
"AAAA ZIRA TUH BUKAN HANTU, BANG DAVE JAHAT IH" Teriak Zira ditengah isak tangisnya saat mendengar percakapan Dave dan Crish
"Maaf Zira kami gak bermaksud, si kerbau jantan emang suka ngada-ngada" Kata Crish menghibur Zira
"Widih...udah pinter bercanda aja lu" Kata Dave tepuk tangan
"Lebay lo" Ucap Crish dengan tatapan tajam nya yang membuat Dave terdiam, kini pandangannya beralih ke arah Zira dengan tatapan yang teduh
"Kamu gak apa-apa kan?" Tanya Crish merasa khawatir dengan kondisi Zira
"Enggak apa-apa, tapi Zira sekarang bingung bang" Ungkap Zira yang tidak mau membohongi dirinya lagi
"Bingung kenapa?" Kali ini Dave yang bertanya
"Zira kalau nikah sama Ethan bakalan bahagia gak ya, secara Ethan kalian tahu sendiri kan sikapnya sama Zira gimana. Zira itu pengen punya suami yang cinta dan berguna bagi keluarga Zira" Ungkap Zira membuat Crish dan Dave bungkam, Zira pun melanjutkan kalimatnya kembali
"Lagian Zira juga gak mau di jodohin saat ini, apalagi bulan ini banget kata papah sama om Dion Zira harus nikah, haruskah Zira tidak menjalani semua ini walau Zira sayang papa?" Tanya Zira tanpa ada yang menjawab satu pun
"Zira sekarang kangen mamah, gak mau mikirin masalah Ethan lagi" Kata Zira mengalihkan topik pembicarannya
"Emangnya mamah kamu ke mana?" Tanya Dave yang memang tidak tahu tentang keluarga Zira
"Mamah udah gak ada, makanya Zira sekarang sama mamah Andini dan ka Sisil yang merupakan keluarga tiri Zira" Tutur Zira memberitahu
"Maaf banget ya gue gak bermaksud bikin lo sedih, gue kira mereka hanya pisah aja Zir" Kata Dave merasa bersalah
"Ini bukan salah bang Dave, lagian Zira yang cerita. Ini takdir Zira dari tuhan, Zira sekarang harus mensyukurinya dan menjalaninya" Zira menerangkan kembali dengan rasa sabarnya, Walaupun rindunya kebahagiaan dan kepada mamahnya begitu dalam, namun dia hanya mahluk yang bisa berencana, bukan menentukan
__ADS_1
"Yaudah...sekarang lo mau kemana, biar gue antar pulang" Kata Crish yang sedari tadi hanya mendengarkan
"Zira gak mau pulang dulu, Zira mau beli es krim gak apa-apa kan?" Tanya Zira kepada kedua lelaki yang sekarang menjadi kakak nya
"Yaudah bocil gua anter" Kata Dave menarik lengan Zira
"Gue juga ikut" Ucap Crish yang mengekor di belakangnya, akhirnya akhir pekan yang selalu Zira impikan tersampaikan, kini Zira tidak sendiri lagi kala ia bersedih, kesepian dan butuh teman. Tuhan mengirimkan orang-orang terbaik kepadanya saat ini, dan ia sangat berterima kasih atas itu....
"DARIMANA AJA LO HAH JAM SEGINI?" Bentak Sisil di depan gerbang saat melihat Zira yang baru saja pulang
" Zira habis dari taman ka, tolong bukain gerbangnya dong" Pinta Zira dengan memohon
"Jangan mimpi lo masuk ke rumah ini, sekalian aja lo gak usah pulang" Ketus Sisil yang merasa sangat benci pada Zira
"Biasanya juga papah gak marah kalau Zira pulang jam segini. Lagian gak se sore biasanya ka " Tutur Zira agar Sisil bisa menghangat hatinya
"Gue gak peduli, sekarang papah gak ada. Dia pergi ke luar kota, sekarang lo pergi dari sini, jangan harap lo bisa masuk rumah" Bentak Sisil lagi yang langsung meninggalkan Zira di luar sana
"Halo, lo udah pulang belum?" Tanya Riana yang menelpon dari sebrang sana
"Yan...." Ucap Zira lirih
"Lo kenapa? ko ke habis nangis? lo dimana sekarang?" Tanya Riana yang khawatir dengan Zira, jangan sampai Riana kecolongan lagi, bisa- bisa dia habis di tangan The Boys
"Aku di depan rumah, ka Sisil gak bukain pintu gerbang buat Zira Yan" Zira bersedih
"Yaudah gue jemput lo sekarang, lo tunggu di sana ya. Awas jangan kemana-mana, kalau lu ilang gue timpuk lo pake roti buaya" Kata Riana yang langsung mematikan telponnya, sepertinya ia langsung otw mendengar penuturan Zira tadi
__ADS_1
"Makasih banget Yan" Kata Zira memandangi ponselnya karena di matikan secara sepihak, ia pun memilih untuk duduk di sebuah bangku dekat dengan rumahnya....tak selang berapa lama, Riana pun datang membawa motor matic nya, sengaja tidak membawa mobil karena jarak ke rumah Zira lumayan dekat
" Yan...udah nyampe?" Tanya Zira yang terkejut melihat Riana sudah ada di depannya
"Udahlah..ini buktinya" Jawab Riana seraya menunjuk dirinya
"Lo kenapa bisa di usir sama tuh nenek lampir?" Tanya Riana yang sangat kasihan melihat nasib Zira
"Dia marah gara-gara Zira baru pulang, Zira di suruh minggat aja gak usah pulang katanya" Ucap Zira menjelaskan
"Dasar brengsek" Hanya itu jawaban yang keluar dari mulut Riana, karena setelah itu ...Riana mendekati gerbang seraya memukul dan berteriak agar orang di dalam mendengarnya
"KELUAR LO KUYANG, INI BUKAN RUMAH LO...INI RUMAH NYA ZIRA BANGSAT" Tetiak Riana dengan kasar karena sudab sangat emosi dengan semua perlakuan yang Sisil lakukan pada sahabatnya
"KELUAR LO SISIL, DASAR CEWE DAKJAL LO. KELUAR SINI...**** YOU LOH" Riana berteriam kembali dengan kasar seraya menikan volumenya beberapa oktaf
"ADA APA SIH LO RUSUH DI RUMAH ORANG" Tanya Sisil yang keluar dengan wajah memerah
"HELOHHHHH...INI RUMAHNYA ZIRA LAGI, LO ITU HARUSNYA SADAR DIRI BRENGSEK" Kesal Riana, sedangkan Zira bersembunyi di belakang Riana sambil menyuruh Riana untuk tenang
"OH ....GUE TAU, JADI SI CUPU NGADU KE LO YA" Tebak Sisil yang membuat Riana kini mendekati gerbang yang masih di kunci
"BANYAK BACOT LO MURAHAN" Kata Riana seraya berhasil menonjok Sisil karena wajahnya berada di tepat di sela-sela gerbang yang tidak tertutup penuh, gerbnag rumah Zira memang bukan gerbang hitam yang selalu tertutup rapat layaknya orang yang memilik rumah besar, gerbang Zira beda...banyak sekali celah lebar yang disebabkan oleh ukiran yang menjadi ciri khasnya tersendiri
" GILA LO YA UDAH BERANI NAMPAR GUA" Kata Sisil yang ingin membuka kan pintu gerbang, namun seketika ia terkejut kala Arga datang dengan mendadak mengendarai mobilnya, melihat keributan yabg terjadi, Arga pun turun tangan sendiri
"Ada apa ini? kalian gak malu di lihat tetangga?" Tanya Arga pada Sisil dan Riana yang tadi saling berteriak
__ADS_1
"Sisil, kenapa pintu gerbang di kunci...terus kenapa Zira ada di luar?" Tanya Arga mengintimidasi anak tirinya itu
"Si...Sisil-" Ucapan Sisil tertahan, ia bingung harus bilang apa pada papa nya