
"Kamu..kamu gak bohong kan?" Tanya Andini menatap putrinya tak percaya
"Kalau aku bohong, gak mungkin nyampe begini" Sisil mulai merasa sebal karena Andini begitu kolot, tapi dia tidak sekasar tadi
"Kalau begitu apa rencanamu selanjutnya?" Tanya Andini yang merasa khawatir jika terjadi sesuatu, bukan kah psikopat orang sangat berbahaya dan susah untuk ditebak. Belum sempat Sisil mengutarakan rencananya, Arga masuk dengan membawakan dua teh manis dengan satu parsel buah
"Kamu sudah merasa baik sayang?" Tanya Arga pada Sisil
"Sedikit pah, ini semua gara-gara Zira" Adu Sisil pada Arga yang tentu saja Arga tak mempercayainya, dia akan percaya kalau Zira tetap sehat dan tidak sakit seperti sekarang, apalagi dia mengetahui bahwa Sisil di skors. Sudah tentu ini perbuatannya sendiri.
"Nanti akan papan beri dia pelajaran saat di rumah, kamu yang tenang ya" Ucap Arga yang sesungguhnya sudah letih dengan semuanya, mengapa dia ingin membahagiakan anak nya sendiri saja sangat sulit dibanding kan melakukan kejahatan pada anak kandungnya
•••
Malam itu semuanya Selesai dengan urusannya masing-masing, mereka di pulangkan karena kondisi nya sudah membaik. Mamah Ethan pulang dengan perasaan khawatir akan Zira dan Ethan, shock akan apa yang di derita Ethan. Dia juga menyesali dirinya karena baru tahu anaknya penderita kepribadian ganda, dia berjanji akan mengurus mereka berdua dengan baik. Lagipula, ini permintaan terakhir almarhum mamah Zira yang dulu merupakan sahabat terdekatnya....
Flashback on
"Aku harap jika aku tiada ....tolong jagain anak ku ya" Pinta mamah Zira seraya melihat putrinya yang sedang berlari dengan anak cowok di depannya
"Kamu bicara apa, kita akan selalu bersama. Hingga hari tua kita dan hari bahagia mereka" Kata Mamah Ethan yang juga memandangi putranya yang tengah berlarian dengan gadis kesayangannya
"Jika mereka tumbuh besar, mau kah kau menikah kan nya dengan anak ku? aku hanya percaya kepada cowok seperti dia, dia layaknya Dion yang menjaga dirimu sepenuhnya, tidak ingin harta nya terluka, dan bertanggung jawab atas apa yang dia lakukan" Kata mamah Zira sendu
"Tentu saja aku akan menikah kan nya, ini sudah ku pikirkan sejak mereka lahir. Terdengar konyol memang, tapi memang begitulah niat ku" Ucap mamah Ethan yang di lihat tiada kebohongan dalam kalimatnya
"Terimakasih aku harap aku bisa pergi dengan tenang jika aku tak bisa di sisi nya lagi" Ucap mamah Zira yang membuat mamah Ethan terkejut
__ADS_1
"Kamu kenapa? ayolah jangan bicara sembarangan, coba sekali-sekali kau utarakan doa yang baik untuk dirimu" Cemas mamah Ethan, namun mamah Zira hanya tersenyum simpul membuatnya tak ingin meninggalkan sahabatnya itu sedikit pun, dia sudah menganggap mamah Zira sebagai adiknya sendiri, orang yang menutupi luka-luka kakaknya, serta berani jika ada yang mengusik dirinya.
Memori yang begitu menyayat membuat mamah Ethan menangis kembali, sunggguh rasanya ia amat rindu dengan mamah Zira. Dia berpisah selama belasan tahun, namun tak menyangka bahwa tuhan memanggil sahabatnya duluan, dia sungguh menyangi nya.
"Mah...kamu kenapa menangis? Ethan kan sudah sembuh" Tanya Dion pada istrinya, nampak sekali istrinya sangat terpukul
"Kamu rindu dia lagi?" Tanya Dion yang di balas anggukan oleh istrinya
"Besok kita menemuinya ya, ajak juga Zira. Sekarang kamu istrihat agar tidak kecape an.
Kalau sahabatmu tau kamu letih dan sakit, bagaimana dia mau bertemu denganmu?" Kata Dion yang terus membujuk istrinya yang tak kunjung istirahat
"Pah...aku gak nyangka masih bjsa bertemu gadis itu sekarang, aku kira dia meninggal bersama sahabatku. Tapi dia selamat, aku bersyukur akan hal itu, kini aku akan menepati janji. Aku akan mengurus mereka, akan ku bimbing baik-baik tentang kehidupan pernikahan, menjadi istri anak ku yang sangat di idam-idamkan sahabatku"Tutur Istri Dion yang menatap langit-langit rumah
"Sebentar" Dion meraskan kejanggalan
"Benar juga, tapi sejak kapan Ethan memiliki penyakit ini?" Tanya Istrinya
"Kemungkinan sejak dia kelas satu smk, itu menurut penyelidikan ku. Tapi sepertinya dulu tak separah sekarang, jika pribadinya berganti menjadi jahat maka itu akan sangat bahaya" Tutur Dion yang sudah menemukan titik terang untuk masalah ini
"Ayo kita tanyakan pada Ethan" Antusias istrinya itu membuat Dion terkekeh
"Kau, senang sekali mengganggu macan tertidur" Ucap Dion yang membuat istrinya cemberut
•••
"ZIRA, SINI KAMU" Bentak Andini yang menyeret Zira yang nampak lemah
__ADS_1
"KAMU TAHU KESALAHAN MU APA HAH?" Tanya Andini penuh selidik
"KESALAHAN KU TERLALU MENURUT KEPADA KALIAN, YANG BAHKAN TERSANGKA PEMBUNUH MAMAH KU" Jawab Zira yang membuat Andini terkejut
"Dari mana kamu tahu?" Tanya nya dengan suara bergetar
"Dari anak kesayanganmu" Jawab Zira lagi
"Sial, anak itu snagat ceroboh" Gerutu Andini yang nampak terlihat bingung
"Sekarang ada apa kamu memanggil aku lagi, kurang puas hah?" Tanya Zira yang tak lembut lagi, sejak pulang dari rumah sakit memang sikap Zira berubah seperkian derajat
"SUDAH BERANI KAMU SAMA SAYA HAH?" Bentak Andini yang membuat Zira tertawa
"SEJAK KAPAN AKU TAK BERANI PADA MU, APA HAK DAN KEKUASAN MU DI RUMAH INI? SELAIN PEREBUT DAN PEMBAWA MASALAH, LAGIAN SEBENTAR LAGI HIDUP KALIAN TIDAK AKAN AMAN" Tutur Zira yang sangat angkuh dari biasanya
"Ma-Maksud kamu apa?" Tanya Andini terpojokan
"Status kamu bukan sebagai mamah tiri saya lagi, tapi sebagai pembunuh" Ucap Zira yang meng skakmat Andini dengan senyuman miringnya, setelah itu Zira pergi memasuki kamarnya dengan perasaan lega
"Mereka kira gua takut? gue gak sebodoh yang mereka kira , gue punya semua bukti kekerasan mereka" Ucap Zira berbicara sendiri sambil melihat beberapa dokumen yang dia kumpulkan sejak lama, aktifitasnya terhebti kala matanya tertuju pada foto yang menampakan dirinya dengan seseorang yang ada dalam foto itu. Foto kedua anak kecil yang menggemaskan dan saling merangkul
"Siapa dia? mengapa gua gak mengingatnya sama sekali. Kenapa rasanya familiar?" Tanya Zira pada dirinya sendiri sambil mengusap foto itu, namun karena malam sudah menguasai dirinya dan rasa kantuk yang terus menyerangnya, ia tak punya waktu untuk menyelidiki foto lama itu lebih lanjut. Ia memilih untuk beristirahat dan membereskan beberapa dokumen yang ia keluarkan tadi
Sebelun tidur, ia mengambil bonekabTedy nya yang sangat wangi karena di cuci oleh bi Marni
"Tedy, temenin gue ya malam ini. Wangi banget sih lo" Titahnya pada boneka itu dengan kalimat yang berubah jadi lo gue, dia memeluknya erat dan tak mau berpisah dari boneka pemberian mamahnya
__ADS_1