
"Maafin Zira ya pah, Zira hanya bisa menangis kalau di pukul papah tanpa mengerti kalau papah juga terluka" Kata Zira memeluk Arga dengan kuat
"Bicara apa kamu, kamu akan segera menikah dengan Ethan. Sudahlah...jangan menangis, jangan meninggalkan papah jika kamu begini" Kata Arga mengingatkan, Zira malah semakin tersedu-sedu
"Ta-tapi nanti Zira jadi jarang bertemu dengan papah, takutnya gak bisa ketemu papah. Ethan kan kanibal, bagaimana kalau dia mengurung Zira layaknya Rapunzel" Takut Zira yang ditertawakan oleh orang tua mereka atas penuturannya, sedangkan Ethan melotot dan menatap tajam ke arahnya
"TUH KAN PAH...ETHAN MATANYA MAU KELUAR, KE NYA KALAU NIKAH SAMA DIA ZIRA BAKALAN TERKENA TEKANAN BATIN" Kata Zira lagi yang lagi-lagi membuat Ethan harus menepuk jidatnya
"Syaraf ya lo?" Kata Ethan memandang sinis ke arah Zira
"Kamu yang syaraf, marah-marah mulu" Kata Zira yang menurut Ethan halal untuk ditendang
"Lo pemicu nya nyet" Sentak Ethan yang membuat mamahnya harus turun tangan
"Kamu...belajar bicara yang sopan. Kamu harus berusaha menjadi pribadi yang baik agar penyakit mu segera hilang. Lagian kalian bakalan jadi pasangan seumur hidup, masa mau begini terus?" Tanya mamah Ethan pada anaknya, sedangkan Ethan tak bisa menjawab. Kini Mamah Ethan beralih kepada Zira...
"Zira....sepulang sekolah kita cari gaun pengantin yah, nanti Ethan yang jemput kamu ke rumah" Mamah Ethan memberi tahu, sambil menenangkan Zira yang masih menangis tapi tidak se histeris tadi
"Kenapa Ethan lagi si mah, dia kan bisa jalan sendiri" Kata Ethan sebal
"Et...jangan berani bantah" Mamah Ethan mengangkat satu jarinya seperti sebuah kode bahawa keputusannya tidak dapat di ganggu gugat
"Yaudah deh iya" Ethan mengangguk malas dan izin pergi untuk masuk ke kamarnya...
"Mah...kepala Ethan sakit lagi, Ethan mau ke kamar dulu ya" Kata Ethan yang tiba-tiba kesakitan, mamah Ethan yang melihat itu tidak bisa tinggal diam.
"Arga...Zira...saya mau mengantar Ethan ke atas ya, maaf saya tidak bisa menemani kalian lebih lama" Kata mamah Ethan meminta izin
"Enggak apa-apa tante, lagian di sini ada om Dion" Kata Zira yang di angguki oleh Arga, akhirnya Ethan dan mamahnya pun berlalu dan tersisa mereka bertiga
__ADS_1
"Kalau begitu gue juga pulang ya, takutnya mereka curiga gue bawa Zira. Gue gak mau anak gue di sakitin Andini lagi" Kata Arga pamit kepada Dion
"Siyap, urusan pernikahan udah gue atur semuanya ko. Hati-hati di jalan, gue bantu lo juga kalau lo butuh apa-apa" Kata Dion yang membuat Arga terharu
"Makasih...makasih udah mau jadi sahabat gue" Tanpa Dirasa Arga menangis di bahu Dion
"Jangan lebay lo...gue seneng punya temen kaya lo, rela berkorban apa adanya untuk orang ya lo sayang " Kata Dion yang menepuk bahu Arga tiga kali
"Yaudah gue pamit, salam untuk istri lo dan Ethan ya" Kata Arga dan pertemuan mereka pun hanya sampai di situ...
"Zira pulang sama papah ya, ini udah malam" Kata Arga mengajak Zira
"Tapi pah kalau mer-" Kata-Kata Zira terhenti
"Udah, papah yang akan turun tangan sayang" Kata Arga yang hanya di balas anggukan oleh Zira
Di dalam mobil begitu hening, tidak ada pembicaraan lagi kecuali suara telepon Arga yang berdering...
"Bos, anda harus lihat rekaman yang saya berikan" Katanya yang langsung di matikan sepihak oleh Arga karena sudah mengerti.
Arga pun melihat rekaman itu, dan betapa terkejutnya dia saat melihat ruang kerjanya di obrak-abrik oleh Andini, dia juga melihat Andini membawa sebuah benda dari laci meja nya yang di yakini itu adalah foto
"Sialll" Kata Arga mengumpat
"Ada apa pah?" Kata Zira yang melihar reaksi papahnya
"Sayang...maafin papah ya, maaf banget. Kamu pulang naik taksi gak apa-apa kan? papah ada urusan mendadak, mamah tiri kamu merampas foto kamu dan mamah mu dari laci meja papah. Takutnya mereka curiga dan bakal nyakitin kamu" Kata Arga memberi tahu Zira yang sebenarnya. Walaupun Zira sangat senang bisa satu mobil dengan papah nya kembali, dia harus mengerti situasi.
"Iya gak apa-apa ko pah, Zira bakalan naik taksi" Kata Zira yang sudah menghubungi taksinya lewat online, selang beberapa menit kemudian mamang taksi pun datang dan Zira pun izin pamit
__ADS_1
"Pah hati-hati ya, kalau ada apa-apa hubungin Zira" Kata Zira pada papahnya
"Baik sayang, kamu pulang juga ya. Kalau Andini macam-macam sama kamu segera hubungi papah" Kata Arga, akhirnya mereka pun berpisah, melaju dalam arah yang berbeda.
•••
Kriet......
Zira membuka pintu perlahan agar tidak menimbulkan suara gaduh, dia mengendap-endap dan untung saja lampunya telah di matikan, jadi ia bisa leluasa bergerak sekarang...
"Fyuh...aman" Kata Zira melihat sekelilingnya, walau lampunya dimatikan dia masih bisa melihat karena pencahayaan dari luar. Namun saat menaiki tangga, dia dikejutkan oleh seseorang yang memukulnya dari belakang, sesaat Zira bisa melawannya
"SIAPA KAMU, JANGAN MACAM-MACAM SAMA SAYA" Kata Zira pada orang itu yang kini terus memukulnya tanpa henti, jika penerangan di nyalakan mungkin dia bisa melihat dirinya sudah babak belur.
"Sebentar...aneh juga kenapa lampu malam ini di matikan? bukannya rumah ini selalu menyala setiap malam?" Batin Zira yang baru menyadari sesuatu
"Bahaya" Ujar Zira dalam hatinya, dia pun segera menaiki tangga untuk masuk ke dalam kamarnya. Orang yang memukulnya tadi ia tendang dengan kuat, Zira sudah memperkirakan bahwa tendangannya mengenai wajah.
Dengan tergesa Zira masuk dan mengunci kamarnya, namun saat ia hendak membalikan badannya tiba-tiba kepalanya dan tengkuknya terasa sakit, Zira perkirakan bahwa ada orang yang memukulnya dari belakang, karena Zira tidak pingsan saat itu juga, orang itu memukulnya kembali yang membuat Zira kehilangan kesadaran.
•••
"Bos, gawat" Kata seorang bawahan Arga yang ngos-ngosan saat ingin melapor kepada Arga
"Minum dulu" Kata Arga menyodorkan minuman agar bawahannya tenang, selepas minum baru lah dia mengutarakan maksudnya
"Bos, saat saya akan masuk ke dalam rumah saya di kejutkan dengan keadaan rumah anda yang gelap gulita, sepertinya semua lampu di matikan oleh seseorang. Takutnya sekarang terjadi apa-apa pada putri anda" Tutur bawahan Arga yang membuat Arga memukul mobilnya dengan kuat
"Sial....kecolongan" Kata Arga yang langsung mengerahkan bawahannya agar mengikutinya
__ADS_1
"Kalian berpencar, jangan berkerumun agar tidak mengundang perhatian" Titah Arga yang langsung di setujui oleh anak buahnya