
...Cemburu itu wajar untuk setiap orang yang tidak ingin kehilangan...
"Lo pantas dapetin itu"
Suara itu menghilang perlahan bersamaan dengan kepergiaan seorang gadis menuju koridor kelas.
Ratu melihat rok seragam abunya yang sudah basah dengan minyak wangi yang baru saja Liana tumpahkan. Ratu memejamkan kedua matanya, berusaha melupakan kejadian menyeramkan beberapa menit tadi.
Bau minyak wangi sangat menyengat indera penciuman Ratu. Ratu merasa sebal, bukan salah Ratu yang berlebihan tetapi salah Liana yang sangat dengan tidak sopan menumpahkan satu botol minyak wangi pada rok yang dikenakan Ratu.
Ratu menghapus jejak air matanya dengan cepat. Kalu dia berlari menuju kelas dengan rok yang basah. Ratu berlari menunduk, tanpa ingin tahu tanggapan orang lain melihat keadaan dirinya seperti ini.
Brukk
Karena kecerobohanya Ratu tidak sengaja menubruk seseorang laki-laki. Karena kejadiaan itu Ratu menghetikan langkahnya dan berniat meminta maaf tapi sebelum itu terjadi, laki-laki yang tak sengaja di tubruk itu menelungkup wajah Ratu dan otomatis mata mereka bertemu.
Setelah seperkian detik atau setelah Ratu sadar jika laki-laki itu adalah Gavin. Ratu menarik wajahnya dari tangan Gavin dan beranjak pergi. Sebelum pergi tangan Gavin lebih dulu mencengkram tangan Ratu.
"Kenapa?" tanya Gavin dingin,bakan dari nada suaranya dia bukan seperti orang yang sedang bertanya.
Ratu diam,dia menutup matanya sekarang dia tidak peduli terhadap apa yang Gavin perbuat dan katakan.
Gavin menatap Ratu teliti mulai dari ujung rambut sampai di roknya dia berhenti dan mulai memandangi roknya yang basah dan juga wangi yang terlalu berlebihan tercium dari rok abunya.
"Kenapa Ratu?" tanya Gavin lagi dengan penuh penekanan.
Ketika sadar jika Gavin terus menatap tajam wajahnya dan itu membuat Ratu merasa risih,Ratu langsung memalingkan wajahnya agar Gavin tidak bisa lagi menatapnya.
"Seperti yang lo liat. Gue nggak baik-baik aja. Selama gue jadi pacar lo gue selalu begitu" ucap Ratu.
"Sekarang gue anter lo pulang" Gavin menyeret tubuh Ratu dengan kedua tangannya, Ratu yang meronta-ronta merasa tersiksa atau merasa seperti penjahat yang tertangkap Polisi.
"Nggak" tolak Ratu, matanya menatap lurus Gavin.
"Lo mau masuk kelas dengan rok basah kayak gini? gimana kalo lo kedinginan lagian ini minyak wangi bukan air biasa" Gavin melepaskan Ratu dari kedua tangannya. Perlahan Ratu menundukkan kepalanya untuk melihat rok yang basah, benar kata Gavin.
__ADS_1
"Jangan sok peduli ,gue nggak suka"
"Ngejaga lo ternyata lebih susah daripada dapetin lo" Gavin melirik rambut Ratu yang terlihat acak-acakan dan dengan perlahan Gavin membenarkan tatanan rambut Ratu. Ratu terdiam seperti patung ketika diperlakukan seperti itu.
"Lo nggak usah repot-repot jagain gue. Gue bisa jaga diri gue sendiri"
Gavin mendengus kesal mendengar ucapan Ratu. Satu sudut bibirnya terangkat kemudian dia bertanya "Katanya bisa jaga diri tapi kok ini rok bisa basah?"
Ratu terdiam disudutkan seperti itu, kejadian rok ini bukan salah Ratu. Liana menumpahkan minyak wanginya pada rok Ratu karena Liana marah pada Gavin yang kemarin tidak mengantarnya untuk membeli minyak wangi. Dan Liana melampiaskan amarahnya pada Ratu.
"Biar gue yang ambil tas lo" Gavin menunjuk arah kelasnya dengan gerakan kepala.
"Sekarang ulangan kimia" setelah mengatakan itu Ratu menggigit bibir bawah miliknya.
Melihat Ratu yang gelisah. Gavin malah tertawa renyah dan setelah berhenti tertawa karena diberi satu tatapan tanya dari Ratu.
"Ini udah jamnya pulang. Lo sih kelamaan di toilet. Lain kali kalau pake minyak wangi yang benar, jangan sampai tumpah kayak gini sayang"
...*...
"Ratu ambilin gue tisu" teriak Gavin.
"Kalau lo nggak nurut. Kembaliin celana olahraga gue" Gavin berteriak sekali lagi dengan nada berbau ancaman. Gavin menyeringai ke arah Ratu.
Ratu berhenti melirik sekitar dan mulai melihat Gavin dengan segala kekuasaanya. Ratu tidak bisa membayangkan jika dia harus mengembalikan celana yang dikenakannya ini hanya karena Ratu tidak menuruti Gavin. Selain sok berkuasa ternyata Gavin jago mengancam.
Tadi Gavin menyuruh Ratu mengganti roknya dengan celana olahraga milik Gavin, yang akan dipakai untuk latihan Boxing di sekolah lain. Setelah Gavin berbaik hati meminjamkan Ratu celana, Gavin meminta Ratu ikut menemaninya latihan boxing .
Ketika sadar dengan kesepakatan yang terjadi sepulang sekolah. Ratu langsung melepas tas yang berada di punggungnya dan mengambil beberapa tisu dari tas yang sudah dibuka.
Setelah lembaran tusy itu berada tepat ditangannya. Ratu berlari menghampiri Gavin yang tengah berdiri di tengah lapangan dengan senyum penuh kepuasan.
Ratu melangkahkan kakinya cukup besar dan terlalu cepat hingga mengakibatkan dirinya terjatuh dilapang dan seketika semua orang yang ada disana memandangi Ratu,sedangkan Ratu masih berada diposisi jatuhnya.
"Awwwww" jerit Ratu keras.
__ADS_1
Gavin segera berlari menuju Ratu dan mengulurkan tangan kanan untuk membantu Ratu berdiri. Dengan wajah kesal Ratu menerima uluran tangan Gavin.
Setelah Ratu berdiri, Gavin tidak melepaskan tangan Ratu malah sekarang tangan Ratu digenggamnya erat. Seakan Ratu adalah anak TK yang butuh pengawasan orang dewasa.
"Mana tisunya?" tanya Gavin dengan nada sedikit marah.
Bukannya bertanya keadaan Ratu, Gavin malah menanyakan tisu. Jadi pacar Gavin itu Ratu atau Tisu?
Dengan bibir mengerucut Ratu memberikan beberapa lembaran tisu pada Gavin. Gavin melepaskan genggamannya dan langsung mengambil tisu itu.
Gavin menatap tajam Ratu sedangkan Ratu menatap Gavin dengan penuh tanda tanya.
"Gavin gila ngapain sih pake acara ngelutut di depan gue? apa dia nggak sadar kalo orang lain pada liatin kita" batin Ratu, dengan mata yang lincah menatap beberapa orang dipinggir lapang.
Gavin menarik tangan kiri Ratu membuat Ratu harus sedikit membongkokkan badanya agar tangannya bisa digapai Gavin.
Ratu masih melihat Gavin dengan rasa penasaran tentang yang akan Gavin lakukan setelah ini.
Setelah berhasil menarik tangan Ratu kemudian Gavin mengusap luka yang terdapat pada siku tangan kiri Ratu oleh satu lembar tisu. Ratu menjerit kesakitan karena Gavin mengusap lukanya dengan kasar.
Beberapa orang yang masih berada di sekeliling ini termasuk taman latihan Gavin. Semuanya bersiul melihat adegan itu. Sementara Ratu dan Gavin mengabaikan mereka.
"Mana yang katanya bisa jaga diri?katanya bisa jaga diri tapi kok jatuh, berdarah lagi" ledek Gavin dengan nada sinis sementara Ratu yang tersindir menunduk malu dan hanya diam tanpa berani menjawab Gavin.
Gavin mengangkat kedua sudut bibirnya ketika tahu Ratu sedang malu. Kemudian Gavin mengacak-ngacak rambut Ratu seraya berkata "Pacar siapa sih yang sok mau ngejaga diri sendiri ini?"
Ratu tidak menjawab pertanyaan Gavin.
Setelah Gavin meminta izin kepada pelatih untuk pulang lebih awal.
Gavin berjalan dengan cepat, tangannya menarik tangan Ratu kuat-kuat. Mungkin Gavin tidak sadar jika tangan yang ditariknya kuat-kuat ini adalah tangan yang tadi dia obati.
"Gavinnnn"
Ratu dan Gavin menghentikan langkahnya ketik mendengar teriakan itu. Ratu terus memandangi gadis itu sampai akhirnya gadis itu memeluk Gavin erat sama halnya dengan Gavin yang menerima pelukan itu dan mereka masih berpelukan.
__ADS_1
"Aku kangen" ucap gadis yang masih ada dipelukannya itu .
"Aku juga sayang" jawab Gavin dengan lembut kemudian melepaskan tanganya dan mulai menatap Ratu.